
Beberapa hari sebelumnya...
Ferrell tersenyum menghela napas kasar, sudah beberapa kali dirinya tidak mendapatkan ciuman dari Glory. Namun tidaklah mengapa, sabar untuk menunggu saat menikahinya nanti.
Hingga sebuah pesan didapatkannya, dari dokter yang bertanggung jawab di rumah sakit miliknya. Dokter yang menangani adik sahabatnya, kondisi Fia saat ini memburuk.
"Undang dokter senior dari rumah sakit lain, kita lakukan persiapan operasi secepatnya..." jawaban darinya memajukan jadwal.
"Tapi kondisi pasien..." kata-kata orang di seberang sana di sela olehnya.
"Karena itu undang dokter Wiratama!! Bayar berapa pun!! Gunakan koneksi!! Adakan rapat, undang keluarga pasien!" bentaknya, berjalan cepat mendekati rumah kosong.
Memundurkan mobilnya, melajukan mobil dalam kecepatan tinggi menuju rumah sakit. Mengundang dokter dari rumah sakit lain? Mungkin di negara ini tidak lazim, mungkin juga jarang dilakukan kecuali untuk operasi besar dengan tingkat kesulitan tinggi.
Namun, ini juga sama, dirinya bukan termasuk dokter senior, pengalaman dokter senior lebih banyak darinya. Seberapapun jeniusnya, ini tidak mudah, banyak hal yang harus dipertimbangkan, seperti kondisi pasien saat ini, letak tumor, pembuluh darah, syaraf yang bersinggungan langsung, dan masih banyak lagi.
Pemilik rumah sakit besar? Dirinya tidak memikirkan untung rugi saat ini, yang terpenting keselamatan pasiennya. Remaja pucat penderita kanker otak.
Hingga mobilnya terhenti di depan area parkir rumah sakit. Berjalan dengan cepat menuju ruang rawat Fia, remaja yang tertidur berbaring lemah dengan lebih banyak alat medis lagi.
Sepasang suami istri yang menangis duduk di luar kamar. Menatap putri mereka yang akan dipindahkan dalam keadaan tidak sadarkan diri, guna mendapatkan pemeriksaan secara menyeluruh lagi.
"Kami akan menyelamatkannya..." ucapnya di hadapan sepasang suami istri.
"Kamu siapa?" tanya sang ibu tidak mengenali wajah Ferrell.
"Aku Ferrell..." jawabnya, mengambil tissue basah di sakunya melepaskan kacamatanya, sedikit membersihkan riasan wajahnya.
"Lily, dia pergi tidak tahan melihat adiknya seperti ini. Tolong yakinkan dia untuk kembali ke rumah sakit. Aku tau, besok adalah ujian akhir. Tapi mungkin akan menjadi penyesalan seumur hidup baginya, jika tidak dapat melihat Fia lagi..." Ayah dari dua orang putri itu tertunduk menitikan air matanya seakan sudah menyiapkan hatinya.
Jika pada akhirnya putri bungsunya harus di panggil oleh-Nya. Melihat dengan mata kepalanya sendiri putrinya menelan begitu banyak obat. Menjalani banyak pengobatan yang menyakitkan, bahkan menangis ketika rasa sakit di kepalanya tiba. Mungkin jika putrinya pergi di sisi-Nya tidak perlu mengalami penderitaan lagi.
Tapi pemuda ini menggeleng."Aku akan membawa Lily kembali ke rumah sakit. Dan berusaha sampai akhir, agar Fia selamat..." ucapnya meyakinkan.
Pria itu mengangguk, mengepalkan tangannya, berusaha meyakinkan hatinya untuk terus berjuang menunggu demi putri bungsunya.
***
Sedangkan di tempat lain Lily menangis, tepatnya di apartemen milik sepupunya tempatnya menginap. Teriakan kesakitan adiknya masih menggema di telinganya, tidak tega, di usia yang semuda itu Fia harus mengalami semuanya.
Perlakuan buruk dirinya pada sang adik selalu terbayang hingga kini. Takut untuk kembali ke rumah sakit, takut untuk mendengarkan teriakan kesakitan yang memilukan itu lagi.
Besok adalah ujian akhir, bahkan buku enggan disentuhnya. Otaknya kosong, sulit untuk berfikir saat ini dalam tangisan dan rasa bersalahnya.
Hingga pagi menjelang, dirinya kembali menuju sekolah mengikuti ujian. Semua orang hadir disana, namun tidak menemukan teman untuk bicara.
Budi dan Ira baru mencoba menjalani hubungan, Glory konsentrasi pada ujiannya untuk mendapatkan universitas terbaik. Sedangkan, Caca sendiri cukup sibuk dengan pernikahan kakak kandungnya. Ken? Dirinya masih tidak menyukai sosok itu, karenanya Glory menolak sosok sebaik Ferrell.
Hingga ujian berakhir, dirinya yang tengah berjalan dengan banyak beban, ditarik paksa oleh tangan seorang pemuda meninggalkan area sekolah.
"Apa muaumu!?" bentaknya mencoba melepaskan tarikan tangan Ferrell yang tengah memegang phoncell, menunggu kabar dari rumah sakit. Namun pemuda itu tidak bergeming, masih menarik tangannya sembari mengetikkan pesan.
Bug...
"Temui adikmu di rumah sakit!" ucapnya menatap tajam.
Tangan Lily mengepal air matanya mengalir."Kamu tau apa, aku merasa lebih kesakitan saat dia kesakitan! Kamu bahkan tidak mengenal adikku!!"
"Aku mengenalnya!! Aku Ferrell!!" ucapnya, mengeluarkan dompetnya, menunjukkan kartu identitasnya.
"Ada alasan kenapa aku harus menjadi anak SMU, selain juga karena aku ingin dekat dengan Glory..." lanjutnya.
Lily meraihnya tertegun diam, memang ada yang aneh selama ini dirasakannya pada sosok Ken. Cara duduk, kebiasaan mengigit bagian bawah bibir sesekali saat menatap Glory, sedikit menyerupai Ferrell yang hanya pernah ditemuinya dua kali. Semua anggapan yang ditepisnya dengan kata tidak mungkin.
Namun semua terbukti saat ini...
"Aku akan mendatangkan dokter ahli dari rumah sakit lain. Adikmu akan sembuh percayalah! Beri Fia semangat hidup..." ucapnya meyakinkan.
Lily mengepalkan tangannya, kemudian mengangguk. Menyakinkan hatinya agar tidak gemetar ketakutan penuh rasa bersalah lagi.
***
Keadaan kembali seperti sediakala, dirinya kembali disibukkan dengan kedatangan dokter rumah sakit lain, merekrut lebih banyak dokter ahli lagi, mengingat rumah sakit miliknya yang memang baru satu tahun dibuka, banyak hal yang harus diurusnya.
Phoncell? Masih rusak, dirinya tidak ingin menggantinya, tengah diperbaiki saat ini. Beberapa foto keluarga, foto dirinya dan Glory serta nomor-nomor penting ada disana. Terkadang dirinya menyandarkan diri di kursi putarnya masih memakai jas putih, menatap ke arah langit-langit ruangan.
Glory saat ini sedang apa? Apa juga merindukannya? Namun mungkin ini yang terbaik, gadis itu dapat lebih berkonsentrasi dengan ujiannya.
Sama seperti hari sebelumnya, dirinya hanya melihat Glory dari jauh, tengah mengikuti ujian menjawab soal penuh konsentrasi. Ingin rasanya menyapa dan memeluknya namun tidak pernah ada kesempatan.
Semua pertanyaan telah dijawabnya, matanya perlahan terpejam, merasa kelelahan dengan aktivitasnya di rumah sakit.
Pulang pun sama, hari ini calon perawat dengan motor bebeknya itu kembali terlihat. Komat-kamit mulut Ferrell ingin membaca mantra agar calon perawat itu celaka. Tapi sayangnya Glory ada dalam boncengannya saat ini. Mendoakannya tidak selamat? Sama dengan mendoakan pacarnya juga ikutan kecelakaan. Tidak, tidak boleh, Glory-nya harus baik-baik saja.
Sama seperti hari sebelumnya, dirinya kembali ke rumah sakit bersama lebih Lily menggunakan mobil miliknya yang terparkir di lapangan.
"Kapan kamu membongkar identitasmu di depan Glory?" tanyanya memulai pembicaraan.
"Secepatnya, segera setelah dia berulang tahun ke 19 tahun, aku akan melamarnya..." jawaban dari Ferrell tersenyum.
"A...aaa...aku senang akhirnya tidak ada drama percintaan film lawas..." gumamnya masih tidak menyangka Ken dan Ferrell adalah orang yang sama.
"Kamu bilang apa?" tanya Ferrell tidak mendengar dengan jelas.
"Bukan apa-apa, omong-ngomong apa orang tuamu akan setuju? Menikah di usia muda, Glory bahkan belum berkarir..." Lily mengenyitkan keningnya.
"Mereka akan setuju, saudara kembarku bahkan suaminya mantan pimpinan anggota mafia, tapi mereka setuju," ucap Ferrell masih konsentrasi pada jalan raya.
"Omong-omong apa saja profesi iparmu?" Gadis itu kembali bertanya.
"Elina, menikah dengan anak tertua pimpinan mafia, sedangkan adikku Febria menikah dengan anak bungsu pimpinan mafia, tapi tenang mereka sudah mendirikan perusahaan farmasi dan persenjataan legal. Elisha menikah dengan jaksa terkenal dan kompeten, Scott menikah dengan putri tunggal pemilik universitas ternama, sedangkan Joe menikahi dokter gigi yang telah memiliki beberapa klinik saat ini..." jelasnya.
Profesi terendah menantu keluarga mereka adalah dokter gigi? Glory yang masuk ke keluarga itu benar-benar seperti kelinci putih kecil polos, yang dibawa masuk ke dalam keluarga singa. Pantas saja dia menolak Ferrell... mengerikan... batin Lily.
Bersambung