
Harnum kembali menghentikan langkahnya, jemari tangan Leon semakin erat saja, seakan takut akan kehilangannya.
Wanita itu berbalik kemudian tersenyum,"Sudah aku katakan, aku tidak bisa menunggumu lagi. Bukan karena aku tidak pernah mencintaimu, tapi perasaan itu sudah tidak ada,"
"Apa maksudnya!? Pasti dia yang..." kata-kata yang ingin menghardik Leon terhenti, kala tangan wanita itu mencengkram nya. Menatap tajam padanya.
"Dia yang melindungiku!! Kamu ada dimana saat itu!? Kesabaranku juga ada batasnya..." bentak Harnum, untuk pertama kalinya wanita itu marah.
Marah? Tentu saja, dirinya menitikkan air mata, "Ini bukan karena ada dia diantara kita. Tapi aku yang sudah lelah, mengetahui hubunganmu dengan banyak wanita. Kemarin adalah yang terakhir, aku juga punya harga diri..."
"Ibu dan ayahku bahkan tidak pernah rela memukulku, tapi kamu tidak pernah menghargai anak mereka. Tidak pernah mendengarkan kata-katanya. Tiga tahun ini aku sudah lelah..." lanjutnya masih terisak.
Mata Roman berkaca-kaca menahan tangisnya. Menyakitkan? Dirinya baru menyadari segalanya, bagaimana jika dirinya berada di posisi kekasihnya. Jemari tangannya, hendak menghapus air mata yang terlanjur menetes di pipi Harnum. Namun, tangan wanita itu menepisnya.
"Dia suamiku saat ini ... " kata-kata yang keluar dari mulutnya saat itu.
"Dia!? Dia bahkan tidak punya rumah!! Kendaraannya hanya sepeda tua!! Dia tidak bisa membahagiakanmu!!" bentaknya dengan nada tinggi.
Leon hendak bicara, namun tanpa diduga Harnum menyelanya. "Kamu tidak tau tentang kebahagiaanku. Betapa bahagianya melihat wajah pria yang mengangkatku dari dasar jurang, betapa bahagianya aku tidak harus mengemis untuk dicintai,"
"Harnum, aku berjanji akan lebih baik kali ini, aku..." ucapnya, meraih jemari tangan kekasihnya. Namun, wanita itu menepis tangannya.
"Aku menemukan tempatku berlindung, itulah Leon bagiku..." ucapnya, menggengam jemari tangan suaminya.
Bukan harta yang membuat Harnum mencintainya. Mereka berjalan beriringan saling melengkapi, itulah yang terpenting.
***
Sekian tahun berlalu, Leon membawanya ke kota asalnya. Memperkenalkannya pada Suki, wanita yang tertegun, bukan rumah di desa terpencil seperti bayangannya.
Tapi tidaklah mengapa, asalkan Leon ada bersamanya sudah cukup untuknya, bertahun-tahun Harnum menjadi menantu terbaik yang dimiliki Suki. Menantu yang paling disayangi, bertanggung jawab mengelola seluruh kebutuhan rumah.
Hingga akhirnya hidupnya menjadi sempurna setelah kehadiran Gilang, malaikat mungil yang dilahirkan dari rahimnya. Pengeluaran termasuk kebutuhan baby sitter Kenzo dan Mona (anak Nila) diatur olehnya, sedangkan Gilang dibesarkannya tanpa bantuan baby sitter.
Alasannya? Kenzo tidak memiliki orang tua jadi setidaknya harus memiliki seorang baby sitter untuk membesarkannya, sesuai arahan Suki. Sedangkan Mona, Nila terlalu sering meninggalkannya, bahkan terkadang lalai, mengikuti pertemuan sosialita, melupakan putrinya yang berada di kereta dorong belum mendapatkan makanan atau minuman.
Pandai mengelola rumah tangga, semua orang di rumah itu mengelu-elukannya. Memiliki uang bulanan paling besar, namun tanggung jawabnya juga besar. Istri yang dibanggakan oleh Leon.
Tidak pernah ingin digantikan atau ditinggalkan olehnya. Namun, kala Tuhan sudah berucap, tidak akan ada hamba-Nya yang dapat menentang.
Hidup Leon yang sempurna, wajahnya semakin rupawan saja, tentunya dirinya ingin sang istri hanya menatap dirinya. Istri yang mencintai dan setia padanya, bukan wanita yang sempurna. Namun rasa kasihnya pada semua orang-lah yang sempurna.
Gilang kecil tengah tertidur siang itu, Harnum tertawa kala suaminya mulai menggagahinya. Perlahan berubah menjadi lenguhan hingga akhirnya melupakan waktu.
Beberapa puluh menit berlalu, sepasang tubuh tanpa busana itu telah membersihkan dirinya. Memakai pakaian lengkap, sudah 8 tahun pernikahan mereka, namun rasa kasih bukannya berkurang tapi semakin dalam saja.
Wajah yang tengah memakaikan dasi padanya itu ditatapnya dalam-dalam. Istri yang tersenyum padanya, wajah yang lebih putih dan cerah, bersinar entah kenapa. Karena sinar matahari? Atau mungkin karena Tuhan hendak mengambilnya.
"Sudah..." ucapnya pada Leon. Saling bertatap dalam senyuman."Dimanapun, apapun yang kamu lakukan, asalkan kamu bahagia. Aku sudah cukup senang..."
"Benarkah? Aku bahagia jika berada denganmu," Leon mengecup kening istrinya, tersenyum padanya.
Tawa dari mereka, siapa yang akan mengetahui semua akan berubah menjadi duka. Kala mobil yang dikendarai Harnum tidak dapat dikendalikan, kala tubuh itu berlumuran darah, terhimpit mobilnya yang telah remuk, bahkan salah satu jemari tangannya terlepas.
Kesadaran terakhirnya masih ada, menatap ke arah mentari yang bersinar terik. Aku bahagia... terimakasih untuk semuanya, Leon... aku mencintaimu...
Sepasang mata itu akhirnya tertutup sempurna, nyambut Tuhan yang telah memanggilnya. Tubuh berlumuran darah segar, seorang mahasiswi miskin yang berakhir menjadi menjadi nyonya di rumah megah, mengasihi secara adil anak-anak yang berada di sana.
Entah, apa yang akan terjadi selanjutnya dirinya hanya dapat memejamkan mata. Tertidur tenang dalam malam gelap yang panjang, meninggalkan suami yang mencintainya, anak yang membutuhkan kasih sayangnya.
Tubuh tanpa nyawa yang sulit dikeluarkan dari kendaraan yang menjepit tubuhnya. Kondisi jenasah yang kurang baik, bahkan rusak, dengan beberapa anggota tubuh yang terlepas, Leon tidak membiarkan Gilang sepenuhnya menatap jenasah ibunya.
Pria itu hanya dapat menitikkan air matanya tanpa henti, menyambut kepergian, wanita baik hati yang mencintainya dengan tulus.
Tangan kecil Gilang, mengusap batu nisan ibunya. Ditemani Leon yang berlutut memeluk putranya dari belakang."Dengar, carilah wanita seperti ibumu kelak ..." ucapnya, menitikkan air matanya mengenakan setelan hitam.
Gilang mengangguk, memeluk tubuh ayahnya erat sembari terisak... Aku akan mencari wanita yang cantik, secantik ibuku...
Satu tahun berlalu setelah kematian Harnum, Leon menjadi gila kerja, bahkan hanya tidur dua sampai tiga jam perhari nya. Tidak ingin ketika pulang melihat kamarnya yang sepi, tidak ingin merasakan sakit yang menghujam dadanya kala merindukan istrinya yang telah menghadap-Nya.
Namun, perlahan kesehatannya memburuk, hingga tiba saatnya dirinya jatuh sakit. Gilang kecil naik ke atas tempat tidurnya, memeluk erat sang ayah.
"Aku ingin ibu baru... agar ayah tidak sakit..." tangisannya menjerit.
"Tidak ada yang dapat menggantikan posisi ibumu," jawab Leon, dengan nada lemah.
"Tapi a...aku..." kata-kata Gilang disela. Leon akhirnya mengangguk, kemudian tersenyum.
"Ayah tidak akan meninggalkanmu. Sebelum kamu bahagia..." ucapnya lirih.
Pilihan hidupnya? Leon tidak pernah menikah kembali, memelihara gundik hanya untuk menghibur dirinya menjadi pilihannya. Menjalani hidup yang sepi, membimbing Gilang hanya itu prioritasnya.
Gundik? Tidak ada yang pernah dicintainya. Jangan berharap melangkah lebih jauh, menikahi Leon menjadi nyonya di rumah besar. Karena itu hanya milik Harnum. Wanita-wanita itu hanya sebagai penghibur, kala dirinya telah lelah, tenggelam merindukan almarhum istrinya.
Tidak ingin Gilang melakukan kesalahan yang akan disesalinya. Hingga Leon tidak membiarkan putranya terlihat rupawan, agar dapat lebih memahami isi hati manusia yang sesungguhnya.
Namun, itu tidak terjadi, Gilang terpaku dengan kecantikan, hingga membuang hati yang tulus padanya. Menyadari kesalahannya? Mungkin, memang benar setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua. Tapi jika bersedia diberikan kesempatan.
***
Saat ini, kantor Bold Company...
Pria paruh baya itu menghela napas kasar, masih mendengar pembicaraan dua orang yang duduk di sofa.
"Kenzo tidak akan dapat membahagiakan Amel. Dia, sifatnya..." ucapan Gilang tiba-tiba disela.
"Apa kamu bisa? Bagaimana sifat dan perilakumu saat dua tahun mengenal kakakku?" mata Nindy menatap tajam padanya.
Bersambung