My Kenzo

My Kenzo
Musim Kedua : Menggoda



Brandon menghela napas kasar, menjemput Nindy menjadi tujuannya. Berjalan mendekati pintu rumah di hadapannya.


"Cari siapa?" tanya ART yang berpapasan dengannya


"Desainer yang bernama Nindy..." jawabnya berusaha tersenyum ramah.


"Ada di ruangan keluarga, pintu sebelah kanan," sang ART menunjuk pintu coklat di dekat tangga, yang berhadapan langsung dengan taman.


Jantung Brandon tiba-tiba berdegup cepat, setelah satu tahun akhirnya mereka bertemu. Walaupun kini hanya bersetatus mantan, status yang menyakitkan baginya.


Napas dalam-dalam dihirupnya, bagaimana caranya mengikuti saran ayahnya? Cari tempat sepi, sergap, cium bibirnya, katakan akan bertanggung jawab untuk menikahinya, lalu lakukan ikuti keinginan tubuh. Tapi itu akan menyakiti Nindy, dirinya juga ingin melakukannya untuk pertama kali di malam pertama mereka.


"Bagaimana ini!?" gumam sang jelly nata de coco, mengacak-acak rambutnya sendiri. Lagipula saingan cintanya adalah tentara yang profesinya sebagian besar diidamkan untuk menjadi suami oleh wanita di negara ini.


Apa Nindy juga akan sama? Apa mereka seperti teman-temannya yang melakukan hubungan di luar nikah sebagai hal yang lumrah? Entahlah, tapi dirinya masih ingin bersama Nindy. Entah gadis yang dicintainya, sudah pernah ditiduri Bara atau tidak. Entah status Nindy dan Bara pacar, tunangan, ataupun sudah menikah. Perebut pasangan orang lain!? Jelly nata de coco akan melakukannya, untuk mendapatkan satu-satunya orang yang berharga di hatinya.


Kriet...


Pintu dibukanya, wajah itu akhirnya terlihat juga, gadis yang kini tengah duduk. Satu tahun ini terlihat semakin cantik dan dewasa.


"Brandon?" Nindy mengenyitkan keningnya, menatap kedatangan sang mantan.


"Apa menyenangkan meninggalkan butik terlalu lama?" hal yang menjadi alasan kemarahan sang mantan. Canggung jika berkata dirinya cemburu.


"A...aku baru akan kembali ke butik. Sensi!!" geram Nindy berpura-pura acuh, padahal ingin rasanya melompat kegirangan, melihat wajah halus jelly nata de coco. Seolah melupakan beberapa saat bagaimana dirinya dikecewakan.


"Maaf tante Nindy harus kembali ke butik. Pemilik setengah saham butik sudah datang," lanjutnya menunduk pada ibu Bara, berpura-pura menatap jengkel pada Brandon.


"Bara sedang membeli cemilan, kamu tidak mau menunggu berpamitan dengannya. Lagipula sudah hampir jam 5 sore, jangan terlalu banyak bekerja. Sesekali refreshing tidak apa-apa..." ucap sang wanita paruh baya hendak menghentikan Nindy, berharap mereka dapat berkumpul lebih lama.


Namun, tiba-tiba Brandon menarik tangannya posesif,"Aku selalu menghargai waktu, ini masih jam kerja. Jadi setelah mencatat pesanan, harus segera kembali ke butik..." tegasnya.


Ibu tua ini lagi, Nindy hanya milikku... kesalnya dalam hati menghela napas dalam-dalam.


"Jika begini, bagaimana Nindy mau menikah nanti!! Hubungan baik harus di pupuk, dia juga butuh waktu untuk menata masa depannya," ibu Bara memegang tangan Nindy yang satunya.


"Mudah!! Jika dia tidak memiliki pasangan aku akan menikahinya..." kesalnya menepis tangan wanita paruh baya itu. Berjalan pergi dengan cepat menarik Nindy untuk meninggalkan rumah yang baginya memiliki atmosfir menyesakan.


"Itu siapa? Pacarnya Nindy ya? Jadi Nindy bukan calonnya Bara?" tanya salah seorang kerabat Bara.


"Dia itu cuma pemilik setengah saham butik, waria... aslinya belok..." cibir wanita paruh baya itu tersenyum. Kembali minum dan berbincang.


***


Mobil pink itu melaju, berwarna kontras dengan pakaian Brandon yang mengenakan stelan hitam saat ini. Kesal? Tentu saja, bahkan keluarga besar pemuda yang bernama Bara, telah mengenal kekasihnya, maaf salah mantan...


"Kapan sampai?" tanya Nindy berpura-pura acuh, memasang ekspresi wajah sedatar mungkin.


"Aku mencintaimu..." tanpa sengaja dari mulut Brandon yang tengah melamun tercetus kalimat itu.


"Kamu bilang apa?" Nindy memastikan pendengarannya.


Bukannya tadi dia bilang aku mencintaimu ya? Apa aku salah dengar karena masih belum move on? Tidak boleh, kami hanya mantan, dia berselingkuh berciuman dengan wanita lain... batinnya meyakinkan dirinya sendiri.


Hingga mobil mulai terparkir di depan area butik. Jemari tangan Nindy ditariknya di hadapan semua karyawan. Melangkah dengan cepat, menuju ruangannya yang sudah satu tahun tidak ditempati pemiliknya.


"Duduk..." perintah Brandon tegas, Nindy hanya dapat menghela napas duduk di sofa. Mengingat dirinya juga salah, pengukuran sudah berakhir dari tiga jam yang lalu namun keluarga Bara bagaikan menahannya untuk tidak pergi.


Brug, cklek...


Suara pintu di tutup, kemudian di kunci dari dalam terdengar. Brandon memejamkan matanya sejenak, menenangkan diri dari jantungnya yang berdetak cepat tidak menentu. Menghirup napas dalam-dalam...


Ayah berkata, jika melakukannya... berhasil memuaskannya dengan urusan ranjang, dia akan menjadi milikku. Selepas dia punya pacar atau tidak. Tapi sulit, jika melakukannya sekarang, tidak akan ada keistimewaan malam pertama...tapi dari pada kehilangannya... pertimbangan Brandon dalam hati.


Matanya menatap kue yang sudah siap terhidang. Tinggal membuatnya pasrah mencicipi sedikit demi sedikit. Tapi tetap saja tidak tega, tanpa adanya janji yang mengikat. Bagaimana ini? Apa yang harus dilakukan olehnya?


Namun tetap saja, dirinya tidak ingin kehilangan Nindy. Gadis yang berusia sekitar 10 tahun lebih muda darinya.


"Nindy..." panggilnya sembari berjalan mendekat."Apa hubunganmu dengan Bara?" tanyanya duduk di sofa panjang, berdampingan dengan Nindy.


"Tidak perlu aku jawab, lagi pula itu masalah pribadi!!" tegasnya, masih emosi dengan kejadian satu tahun yang lalu.


"Benar tidak mau menjawab?" tanya Brandon menatap tajam. Dagu gadis itu disentuh oleh jarinya agar pandangan mereka bertemu.


Debaran di hati, terasa kian cepat, apalagi kala deru napas beraroma mint terasa menerpa kulitnya. Jantungnya berdegup cepat, darahnya berdesir hebat, hanya dengan sentuhan jari saja. Pemuda yang benar-benar membuatnya bagaikan sudah gila ...


"Iya!! Aku tidak akan menjawab, apa hakmu bertanya? Kita sudah tidak memiliki hubungan lagi!!" tegas Nindy kembali, tapi sayangnya mulutnya tidak sinkron dengan tubuh dan hatinya.


Sial, aku ingin memeluk pria br*ngsek ini!! Dasar jelly nata de coco!! Puding warna warni, kamu pakai pelet apa sampai aku jadi bimbang begini... gumamnya dalam hati, tidak ingin kehilangan moments berdebar yang bagaikan membuatnya menginginkan hal yang akan terjadi selanjutnya.


"Mau berselingkuh?" bisiknya mendekati telinga Nindy. Masih menyangka gadis itu memiliki hubungan dengan Bara.


"Mau..." responnya tanpa berfikir,"Salah!! Maksudku tidak mau ..." lanjutnya bertambah gelagapan.


Brandon menghela napas kasar, kembali menatap mata gadis yang dicintainya."Kamu mencintainya?" tanyanya.


Nindy terdiam, inilah saatnya dirinya menunjukkan pada Brandon. Pria dihadapannya ini telah menghilang dari hatinya, namun rasa ragu tetap ada, tidak diragukan perasaan berdebar itu masih ada.


Brandon ikut terdiam, seakan diamnya Nindy adalah jawaban gadis itu telah mencintai pria lain. Tatapannya berubah sendu, seakan tidak berdaya, tengkuk itu tiba-tiba ditahannya. Ingin mengetahui perasaan Nindy yang sebenarnya.


Bibir mereka bersentuhan, lidahnya menggoda untuk membalas. Namun, sang gadis tidak merespon dalam keterkejutannya.


Hingga tidak begitu lama, tengkuk itu dilepaskannya. Tatapan berurai air mata, dalam senyuman,"Kamu mencintainya... maaf aku kembali di waktu yang tidak tepat..."


Brandon bangkit, hendak melangkah keluar, menghilangkan rasa sesak dan kekecewaannya. Namun, jemari tangannya yang hendak memegang hendel pintu terhenti.


"Mau kabur kemana lagi!? Jelly nata de coco br*ngsek!!"


Bersambung