
Glory mengalihkan pandangannya, menahan debaran di hatinya. Benar-benar aneh perasaan yang hampir serupa namun tertuju pada dua orang yang berada.
Namun, tetap saja hanya Ken yang dipilih olehnya. Bukan tipikal pria berbahaya, tidak perlu bersaing dengan wanita lain, bukan seorang playboy seperti Ferrell. Playboy? Itulah pemikirannya tentang pria yang memberikannya uang jajan untuk sebuah ciuman.
Ferrell menghela napas kasar, kembali duduk di kursi kosong samping Glory."Mau uang jajan tambahan? Apa yang kemarin kurang?" tanyanya berniat memberikan lebih, mengingat tujuan gadis ini mengumpulkan uang untuk biaya pendidikannya nanti.
Dengan cepat Glory menggeleng,"Aku, sudah ada orang yang aku sukai. Kamu memiliki banyak fans bisa meminta salah satu dari mereka untuk berciuman denganmu,"
"Aku menyukaimu, tidak ada yang lain, aku sudah terikat padamu," jawaban dari mulut sang pemuda yang tiba-tiba meraih gelas wine yang ada diatas meja.
Glory tertegun sejenak, jantungnya semakin tidak dapat dikondisikan mendengar kata-kata dari Ferrell. Sejenak kemudian kembali, menggeleng, ini hanya bujuk rayu seorang playboy.
"Tetap saja! Sudah ada orang yang aku sukai!!" kata-kata tegas itu kembali terucap.
Ferrell mengepalkan tangannya, masih berusaha tersenyum, ingin mengetahui anak sultan mana yang dapat menyaingi putra seorang Kenzo.
"Aku tidak akan mengganggu hubunganmu. Kita hanya berciuman, dengan imbalan uang jajan..." Ferrell menghela napas kasar, masih dengan segelas wine ditangannya.
"Tidak! Jika menjadi pacar pria yang aku sukai nanti, aku akan merasa bersalah seumur hidupku," Glory kali ini keras kepala.
Ferrell mulai tersenyum picik,"Aku akan melepaskanmu setelah mendapatkan ciuman perpisahan, sekaligus sebuah taruhan,"
"Ta... tapi," kata-kata Glory disela.
"Hanya satu ciuman terakhir. Fikirkan ini, kamu dapat terbebas dariku," tawarannya.
"Kamu ingin apa?" tanya Glory mengepalkan tangannya, ingin mengakhiri segalanya.
"Kita taruhan untuk berciuman terakhir kalinya. Jika saat berciuman kamu tidak membalasnya, aku menyerah untuk menyukaimu. Tidak akan mengancam untuk menyingkirkan pria yang kamu sukai atau akan melaporkan perbuatanmu yang menggeledah barang-barangku pada kepolisian,"
"Tapi jika kamu membalasnya, hubungan ini tetap berlanjut. Dan kamu tidak memiliki hak untuk mengakhirinya," ucapnya tersenyum.
Glory berfikir sejenak, hanya perlu tidak membuka mulutnya seperti tadi. Maka, dirinya akan terbebas dari Ferrell tanpa sedikitpun kecemasan. Lagipula Ferrell pada akhirnya akan dijodohkan dengan Grisella bukan? tetangganya yang akan membuat pesta besar-besaran.
"Aku setuju..." jawaban dari mulut Glory.
Ferrell mulai bangkit, berdiri berhadapan dengan Glory. Dua orang yang saling menatap, sesaat.
"Kamu tidak dengar?" bisiknya mendekap tubuh gadis itu,"Aku menyukaimu..." hembusan napas dingin terasa dekat area leher Glory.
Apa yang terjadi? Pemuda yang begitu pandai menggoda. Membuat Glory limbung sesaat. Namun mata tajam itu menatapnya lebih dalam, tanpa banyak bicara mendekatkan bibirnya. Bergerak untuk menggoda bibir Glory agar terbuka.
Gelisah? Itulah yang dirasakan Ferrell saat ini, tangannya bergerak tiada henti, meraba punggung gadis yang masih berbalut kaos putih. Ini benar-benar gila, perasaan yang membuatnya selalu menggila.
Glory berusaha mempertahankan kesadarannya, namun perlakuan lembut dari pemuda ini, membuatnya perlahan sedikit membuka mulutnya. Memejamkan matanya, menikmati setiap sensasi yang tiba-tiba hadir.
Otaknya benar-benar kelu bagaikan dikendalikan oleh debaran dan aliran darahnya yang berdesir cepat. Hingga lidah itu menerobos masuk, membelainya untuk membalas perlahan. Ini benar-benar memabukkan.
Kembali menahan tengkuk Glory yang masih limbung. Rasa menyengat dari wine melebur dalam ciuman mereka. Sensasi yang berbeda, lidah pemuda yang tiada hentinya membelainya.
Untuk pertama kalinya Glory mengetahui rasa dari wine. Dan benar saja, terasa memabukkan, menginginkannya lagi dan lagi dari bibir Ferrell, seolah melupakan tujuan awalnya.
Dokter muda itu? Sama saja, dirinya tidak pernah mengetahui rasa wine sebelumnya. Setiap gerakan bibir dan lidah yang dinikmatinya berbagi hanya seteguk minuman.
Cukup lama mereka melakukannya, seolah kesadarannya benar-benar menghilang. Tangan Ferrell masih ada di punggungnya, bergerilya mengusap punggung berbalut kaos putih, penuh kegelisahan.
Hingga akhirnya beberapa kecupan mengakhiri pangutan bibir mereka. Gadis yang benar-benar membuatnya gila.
Mabuk? Tidak ada satupun dari mereka yang mabuk oleh wine. Namun mabuk oleh sensasi perasaan yang timbul kala sepasang bibir itu bertemu.
"A...aku membalas!?," gumam Glory, menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya, menyadari kesalahannya. Kita anggap saja, lagi-lagi dirinya khilaf, sebenarnya inilah fungsi Caca berada di tempat ini. Menghentikannya, agar tidak terbawa suasana yang berbahaya, memacu adrenalinnya.
Ferrell tersenyum, kembali duduk menatap kearah Glory."Kamu menyukaiku, karena itulah kamu membalas ciumanku. You're loser (kamu pecundang),"
"Tadi aku tidak sengaja!! Tidak membuktikan apapun, jadi..." kata-kata Glory terhenti, tatapan pemuda itu tiba-tiba berubah menjadi dingin.
"Pria yang kamu sukai satu sekolah denganmu bukan? Tidak ada kegiatan yang kamu lakukan, kecuali sekolah, belajar dan menjual tahu. Jika kamu mengingkari janji, aku akan mencarinya ke sekolahmu, memastikan dia tidak akan mendekatimu lagi..." ancamannya, yang sebenarnya masih penasaran siapa saingannya.
Dari tim basket? Wakil ketua OSIS? Siswa tertampan di kelasnya? Anak anggota DPR kelas sebelah? Atau keponakan kepala sekolah? Tapi mungkin juga Budi, karena mereka mengenal dalam waktu yang cukup lama.
Glory tertunduk, remaja itu hampir menangis, takut jika Ken dilukai atau Ferrell melakukan sesuatu agar pria yang disukainya itu pindah sekolah.
Ferrell menghela napas kasar, kembali bangkit, menyentuh dagu Glory, mengangkat wajahnya yang tertunduk. Air mata yang hampir menetes itu dihapusnya, pipi dan kening sang gadis dikecupnya pelan, memberikan perasaan nyaman."Jangan menangisi pria lain..."
Pemuda itu kemudian berjalan mendekati ransel Glory kembali meletakkan uang jajan disana. Kali ini cetakan gambar tokoh proklamator berjumlah 20 lembar."Tabung untuk biaya kuliahmu nanti. Jangan gunakan untuk mencoba-coba pergi ke club'malam,"
Glory tertegun diam, tidak tahu harus apa dan bagaimana. Mungkin yang ada di serial film tentang pesugihan itu kenyataan, sekali melakukan pesugihan, sulit mencari jalan kembali untuk berhenti, karena pangeran siluman tidak akan pernah melepaskannya.
***
Suara tawa Caca terdengar, memeluk tas berisikan gitar akustik, hasil dari menjual temannya. Salah satu gitar koleksi Ferrell lengkap dengan tangan sang selebriti idola. Ditambah dengan foto bersama, rasanya tidak rugi memiliki Glory sebagai sahabatnya.
Bagaikan mimpi baginya, bahkan menyuap petugas keamanan belakang panggung pun, belum tentu dapat bertemu. Dan ini? Mendapatkan foto dan gitar bertandatangan secara eksklusif.
Mungkin jika gitar ini di lelangnya secara online di kalangan penggemar fanatiknya, dapat laku ratusan juta atau lebih. Tapi sekali lagi, Caca tidak akan pernah menjualnya.
Hingga langkahnya terhenti menatap sahabatnya yang tertunduk layu dalam perjalanan pulang mereka menuju rumah Glory."Glory kenapa sedih begitu?" tanyanya.
"Masih tanya kenapa!? Katanya mau membantuku untuk berhenti melakukan pesugihan!" bentaknya kesal.
"Sudah terima nasib saja, suatu hari nanti kamu akan menjadi tumbal di ranjangnya..." jawabnya tertawa.
Bersambung