My Kenzo

My Kenzo
Musim Kedua : Cakaran



πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€Ini bukan visual Kenzo, hanya contoh bentuk kostum Hatake Kakashi yang menggunakan pakaian Anbu. Aku minta maaf, jika ada pihak yang merasa dirugikan, gambar akan aku hapus πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€



36 D menempel padanya... Sial ... gumam Dava dalam hatinya yang dipeluk oleh istri orang. Jantungnya berdegup cepat, dia juga pria walaupun tidak pernah menyukai atau bereaksi pada wanita manapun setelah dirinya jatuh dari kapal Ferry.


Seiring desiran darahnya, bagian bawahnya yang mulai bereaksi, ingin mendekapnya balik, namun tetap satu kalimat itu istri orang. Tubuh wanita itu mulai sedikit didorongnya. Tidak ingin terus dipeluk oleh istri orang.


"Ke... kenapa jadi memelukku? Aku akan menggantinya aku janji! Walaupun harus mencicil seumur hidupku..." ucapnya meninggikan intonasi suaranya dalam kepanikan.


Ferrell mulai menarik tangan Febria, membimbingnya untuk mundur. Mengenyitkan keningnya, menyadari tidak ada bekas luka tembakan di bahu dan bekas luka memanjang di dahi yang sejatinya, tertutup tata rias efek khusus.


Ferrell menggeleng pada saudara kembarnya pertanda dirinya tidak yakin itu ayah mereka.


Amel juga mulai menyadarinya, namun perasaan menyebalkan dan pelukan ini, benar-benar seperti Kenzo. Jemari tangannya mengepal bibirnya tiba-tiba tersenyum.


"Harganya mahal!! Kamu tidak akan bisa menggantinya!!" bentaknya memprovokasi pertengkaran.


"Aku sudah bilang aku akan berusaha!!" Dava tidak mau kalah.


"Baik..." wanita itu tersenyum, dengan cepat, menarik rambut palsu berwarna putih yang dikenakan Dava.


"Dasar penipu! Sudah membuatku rugi besar masih saja menyebalkan..." rambut pemuda itu dijambaknya tanpa ampun, lehernya pun tidak luput dari cakaran.


"Aku minta maaf!! Dasar wanita tidak waras!! Sakit!!" Dava berusaha melepaskan jambakannya. Tidak ingin menyerang Amel balik? Tentu saja, terkena masalah dengan hukum, berarti menyia-nyiakan waktu, tidak ada yang menjaga kedua orang tuanya. Jika dirinya mendekam di penjara.


Sesaat kemudian wanita aneh itu kembali tersenyum. Kemudian raut wajah itu kembali normal."Maaf sebelumnya, aku emosional. Kalian tidak perlu menggantinya, ini salahku..."


Wanita gila ini kenapa? Kenapa berubah seperti bunglon... Dava mengenyitkan keningnya, meraba bekas cakaran yang sedikit mengeluarkan darah.


"Scott, ambilkan uang tunai 4 juta rupiah di laci samping tempat tidur, kamar mama..." perintahnya, mulai berjalan mengambil tissue, bagaikan mengelap kuku tangannya. Dengan cepat memasukkan tissuenya ke dalam laci samping dapur.


"I...iya..." Scott terlihat gugup, pandangan matanya tidak beralih dari Dava, hingga naik ke lantai dua menuju kamar Amel guna mengambil uang.


"Kamu, kemari!! Bungkus makanan yang ada diatas meja. Packing yang rapi..." perintahnya pada sang pelayan.


"Baik nyonya..." pelayan segera bergerak cepat membungkus semua hidangan dalam beberapa kotak.


"Oh iya aku lupa bertanya, namamu siapa?" tanyanya pada Dava.


"Dava..." ucapnya ragu, tidak mengerti dengan perubahan sikap semua makhluk yang ada di villa luas tersebut.


"Aku Amel Anggraini!! Amel Anggraini, Anggraini yang berarti Anggrek..." tegasnya menunggu reaksi Dava. Namun, pemuda itu hanya terdiam.


"Aku Tata..." Tata mengulurkan tangannya hendak berkenalan.


"Tatakrama sebaiknya kamu diam dan nikmati hidangan. Sebentar lagi bayaran kalian akan sampai..." kesal Amel, merasa waktunya untuk menatap mata berbalut softlens itu terganggu.


Hingga sang pelayan telah selesai membungkus makanan dan Scott turun dari lantai dua.


"Terimakasih..." Dava meraihnya merasa tidak mengerti. Seharusnya dirinya diminta ganti rugi karena memecahkan guci seharga ratusan ribu dolar, bukan? Tapi kenapa prilaku mereka tiba-tiba berubah. Bahkan wanita ini memberikan bayaran dua kali lipat.


Kedua orang pemuda itu masih berjalan hendak pergi tidak mengerti, hingga pertanyaan Amel membuat Dava menghentikan langkahnya."Dava apa kamu sudah menikah atau memiliki istri?" tanyanya.


"Belum...tapi itu bukan urusanmu..." jawabnya masih saja ketus. Berjalan cepat menarik tangan temannya.


"Baguslah berarti tidak perlu ada pertumpahan darah!" ucap Amel berteriak, menatap pemuda itu telah menjauh, tiba-tiba wanita itu tersenyum ganjil.


Aku tidak perlu memeluk tubuh maduku, pura-pura mengasihinya, menyayanginya. Sedikit demi sedikit membuat hidupnya lebih buruk daripada kematian hingga dia memutuskan untuk bunuh diri... aku tidak perlu melakukannya, karena kamu tetap setia, belum menikah kembali hingga sekarang... gumam Amel dalam hatinya, dengan senyuman ganjil yang terus menyungging.


"Mama, apa dia papa?" Ferrell mendekati ibunya.


"Bekas luka dapat menghilang atau tertutupi riasan. Tapi darah dan rambut tidak..." Amel mengambil sebuah jarum jahit.


"Maaf...ini akan sedikit sakit. Kamu ingin tau dia papa atau tidak, bukan?" Ferrell mengangguk, membiarkan sang ibu menusukkan sedikit jarum pada jarinya, hingga mengeluarkan sedikit darah. Kemudian Amel mengelapnya menggunakan tissue.


"Febria, berikan dua helai rambutmu..." pinta Amel tersenyum, Febria segera mencabut dua helai rambutnya diberikan pada sang ibu.


Amel berjalan perlahan, membuka laci tempatnya menyimpan rambut Dava yang sempat rontok karena jambakannya. Serta sedikit darah hasil dibersihkan dari kukunya melekat pada sehelai tissue akibat cakarannya pada belakang leher Dava.


"Mama, jika memiliki kemungkinan dia papa, kenapa membiarkannya pergi?" tanya Scott tidak mengerti.


"Ada sebuah pendapat di dunia ini ada 7 orang yang memiliki wajah serupa. Tapi DNA tidak pernah dapat berbohong, walaupun mulut manusia bisa berbohong..." jawab Amel penuh senyuman.


"Maaf, membuat pesta ulang tahun kalian rusak. Kita harus berbagi tugas malam ini, Scott dan Steven pergi selidiki orang yang menyewa banyak wanita malam menggunakan nama Kenzo. Pastikan dia papa kalian atau bukan..."


"Mama akan kerumah sakit, melakukan tes DNA. Jangan khawatir, jika cosplayer itu papa kalian yang asli, dia harus ada kembali di genggaman tangan kita," lanjutnya dengan senyuman picik menyungging di wajahnya.


Dapat merasakan sensasi sentuhan tubuh dan sifat menyebalkan, penindas, tidak mau kalah yang sama. Tapi tes DNA akan membuatnya tidak dapat mengelak.


"Mama, tapi mama kejam juga yang mencakar belakang lehernya?" Scott mengenyitkan kening, menahan tawanya.


"Jika dia papa kalian, mama pernah mencakarnya lebih banyak lagi. Dia bahkan sempat meringis ketika mandi..." ucap Amel tersenyum tanpa dosa mengigit bagian bawah bibirnya sendiri, mengingat malam pertamanya.


***


Sementara itu di dalam taksi online yang dipesan Dava, pemuda itu meraba area belakang lehernya. Merasakan hal yang aneh, punggungnya pernah dicakar seseorang?


"Tolong temani hingga aku mati..." kata-kata yang terlintas dalam ingatan singkatnya. Kala mencicipi tubuh seorang wanita, entah siapa itu. Wanita yang terus melenguh dalam dekapannya.


"Kiki? Aku pernah meminta Kiki menemani hingga aku mati!? Aku benar-benar sudah gila saat itu..." gumamnya dengan wajah pucat. Menyangka wanita dalam ingatan singkatnya adalah Kiki. Pasalnya semua orang mengatakan dirinya, sebelum melupakan semua memorinya, hanya menjalin hubungan dengan Kiki, mantan tunangan Dava yang asli.


Namun entah kenapa ingatan ini terasa lebih intens. Tubuh seseorang yang dikuasainya dalam air mata yang mengalir, seakan satu-satunya harta berharga yang dimilikinya.


Itu bukan Kiki... hatinya berkata demikian.


Bersambung