My Kenzo

My Kenzo
Pekerjaan



Amel meraba jendela kaca pesawat, meninggalkan Malaysia. Banyak kenangan yang ada disana, kesedihan dan penderitaan. Dirinya hanya terpaku, tidak merasa kehilangan sama sekali, karena sumber penderitaannya kini tengah tertidur menyender pada dirinya.


Makhluk sial, bernama Kenzo yang membawanya meninggalkan Malaysia. Siapa bilang liburan ke negara lain itu menyenangkan? Bahasa dan kebudayaan baru yang tidak dimengertinya.


Tumpukan buku, sebelumnya telah diberikan makhluk penindas tersebut. Kamus, buku tata bahasa, serta rekaman tutorial bahasa Jepang. Benar-benar makhluk penindas yang menyebalkan baginya.


Dengan mengenakan kaos pria berukuran XL yang kini longgar Amel menyeret kopernya. Mengikuti langkah kaki Kenzo yang cepat di area kedatangan penumpang, melangkah bagaikan orang lokal telah mengetahui situasi.


"Kenzo dimana tour guide kita?" Amel mengenyitkan keningnya.


"Jika ada aku, tidak perlu tour guide..." Kenzo melangkah lebih cepat, di depan Amel.


Kagum, tentu saja perasaan itu ada sejenak."Benar-benar jenius sejati, bahasa Jepang pun bisa..." Amel menghela napas kasar.


Namun, semua kekaguman itu menghilang seketika, kala pangeran Antagonis mengeluarkan senjata terampuhnya di depan seorang supir taksi. Benar, sebuah smartphone, menggunakan geogle translate, menunjukkan handphonenya.


Wanita itu kehilangan kata-kata. Nekat ke luar negeri, tanpa menyewa tour guide padahal tidak bisa berbahasa Jepang... "Orang gila yang nekat...." cibirnya heran.


Mobil taksi kembali melaju membelah jalanan perkotaan. Kenzo terlihat tenang mendengarkan musik dari headsetnya, salah satu tangannya memegang buku kecil pelajaran percakapan bahasa Jepang.


Sementara Amel tidak henti-hentinya melihat ke arah jendela. Orang-orang berlalu lalang berjalan di area perkotaan yang ramai. Video di papan reklame besar, berbahasa Jepang yang tidak dimengertinya. Serta, lebih banyak orang menggunakan sepeda daripada kendaraan bermotor.


Ini adalah negara ke dua yang dikunjunginya bersama makhluk penindas, matanya melirik ke arah Kenzo yang mulai tertidur. Wajah tenang yang terlihat tidak bersalah, namun ketika bangun bagaikan iblis.


"Apa masih jauh?" Amel bergumam sendiri, mulai menguap, ikut tertidur.


***


Villa? Apartemen? Hotel? Tidak, Amel mengenyitkan keningnya. Menatap pemandangan pedesaan tempat taksi itu berhenti. Sebuah rumah kecil, berasitektur Jepang...


"Kita dimana?" tanyanya dengan mata menelisik, tempat tersebut.


"Rumah kita beberapa bulan ini," Kenzo tersenyum penuh arti. Mengeluarkan syal yang cukup tebal. Mengenakannya pada Amel.


Mata gadis itu ditatapnya, hatinya kembali terasa hangat. Kenapa harus tempat terpencil? Semua karena dirinya ingin membuat Amel perlahan hanya melihat dirinya.


Hingga, mereka mulai memasuki rumah. Ruang tamu yang kecil dengan meja kayu pendek, lebar berbentuk persegi serta TV analog disana. Kamar? Hanya memiliki satu kamar, bukan menggunakan kasur seperti pada umumnya, namun hanya dua buah Futon (tempat tidur lipat khas Jepang).


Penghangat ruangan yang kecil, serta beberapa tempat lagi ditelusurinya. Bagian belakang terdapat dapur dengan kitchen set modern. Satu-satunya yang membuat Amel lega, dirinya masih bisa makan tanpa menggunakan tungku.


Namun, jemari tangan Kenzo terulur dari belakang memeluk perutnya,"Kita lanjutkan pelajaran kita kemarin..."ucapnya.


Perasaan apa ini? Kami seperti pengantin baru... gumam Amel dalam hati, merasa hatinya berdebar cepat, melepaskan tangan sang pemuda rupawan.


"I...iya tapi aku lapar!! Boleh makan mie instan?" Amel menatapnya penuh harap.


"Hanya kali ini..." Kenzo tersenyum mengecup pipi chubby nya kemudian pergi ke ruang tamu.


***


Dua cup mie instan terlihat tandas. Sepasang muda-mudi duduk di hadapan sebuah meja kayu, tubuh mereka berselimutkan sebuah selimut biru tebal guna menghangatkan diri ditengah terpaaan dinginnya musim gugur.


Dua cangkir teh dan sebuah laptop berada di depan mereka. Saling tertawa, perlahan mengajari Amel lebih banyak lagi, untuk menjadi gadis yang lebih pintar.


Malam berlalu, mereka tertidur usai membersihkan diri. Meringkuk di bawah selimut dengan berpelukan erat. Kenzo tersenyum, kebahagiaan kecil dari pilihan yang diambilnya.


Dirinya hanya bersetatus pemegang saham terbesar W&G Company. Komisaris? Posisi komisaris, dan CEO semua dibawah kendali dan pengawasan orang-orangnya. Hidup tenang hanya menjadi Imposter jika ingin.


Hingga dirinya memiliki kesempatan membuat Amel mencintainya. Hotel? Kenapa tidak menginap di hotel atau villa dengan menyewa seorang tour leader? Alasannya, disini Amel akan membutuhkannya, dirinya juga membutuhkan Amel. Belajar perlahan beradaptasi bersama bagaikan pengantin baru.


Senyuman menyungging di wajahnya, menambah erat pelukannya dengan sengaja hanya menyediakan penghangat ruangan, kecil.


Pagi menjelang, beberapa jenis makanan telah terhidang, terdiri dari telur gulung dan berbagai macam sayuran. Pemuda itu menyiapkannya seorang diri mengingat Amel tidak akan terbiasa memasak dengan bahan makanan yang berbeda, sembari menunggu Amel membersihkan diri.


"Kamu masak sendiri?" Amel duduk mengenyitkan keningnya. Dijawab dengan anggukan oleh Kenzo.


Hidangan yang terlihat menggoda, berbagai macam sayuran serta olahan jamur. Dengan ragu Amel mencobanya, mengunyahnya perlahan-lahan,"Enak, kamu pandai memasak..." ucapnya tersenyum.


"Baguslah, aku belajar masakan Jepang dari tutorial di internet," Kenzo mulai ikut makan.


Jenius memang berbeda... Amel menghela napas kasar penuh rasa iri.


"Milikmu, aku akan bekerja seharian melalui e-mail dan fax. Karena itu aku juga mencarikan pekerjaan untukmu agar tidak bosan..." pemuda itu tersenyum bagaikan tidak berdosa.


"Bekerja!? Kita sedang liburan..." Amel meletakkan alat makannya.


Namun pangeran Antagonis itu hanya tersenyum acuh,"Jika menentang perintah dengan bolos bekerja. Aku akan menghukummu..." ucapnya mengigit bagian bawah bibirnya sendiri.


"A... aku akan bekerja!!" Amel bersungut-sungut. Mengetahui hukuman hangat apa yang akan didapatkannya.


Orang gila, super kaya tidak waras, hidup di desa terpencil menjadikan pelayan pribadinya sebagai budak... menyebalkan... gerutu Amel dalam hatinya, menusuk telur gulung di hadapannya.


Mobil? Motor? Tidak, sebuah sepeda gunung ada disana, terlihat tersiksa. Kenzo membonceng Amel menggunakan sang sepeda. Melewati beberapa jalanan asri yang dingin, daun musim gugur memerah bagaikan menghujani perjalanan mereka. Pasangan bulan madu yang indah bukan? Andai saja mereka sudah menikah, andai saja Amel sudah mencintai Kenzo.


Perkebunan anggur menjadi tempat Amel bekerja, sembari beradaptasi dengan bahasa yang tidak dimengertinya. Visa yang dipegang Kenzo sejatinya bukan visa liburan, namun visa kerja. Mengapa Amel harus bekerja? Pemuda itu tidak ingin sang gadis gemuk mengalami penyumbatan pembuluh darah lebih banyak lagi. Dengan hanya berbaring di rumah seharian. Atau berwisata kuliner tiada henti, memiliki kegiatan akan lebih baik.


"Aku pulang, jangan bolos kerja. Atau aku akan memberikan hukuman yang lebih buruk..." ancaman Kenzo, mulai melajukan sepedanya.


"Makhluk penindas!! Orang kaya sinting!!" teriak Amel penuh kekesalan, melemparkan sepatunya ke arah Kenzo yang telah jauh melaju menggunakan sepeda.


Pemuda itu hanya tersenyum...


Hari-hari yang hangat terus berlalu. Setiap malam gadis itu selalu mempelajari banyak hal dari Kenzo, menghangatkan diri mereka dengan duduk di balik sebuah selimut, mempelajari berbagai hal.


Malam semakin larut, kemudian tertidur bersama, mengeratkan pelukannya pada tubuh sang pemuda mencari kehangatan di tengah hujan salju pertama yang turun.


Tidak ada yang istimewa, hanya seorang pemuda tidak waras yang menyeretnya kemanapun. Melakukan semua hal sekehendak hatinya.


Hingga akhir musim dingin hampir berlalu, salju masih turun kala itu. Pasangan pangeran Antagonis dan Teddy bear-nya, sudah mulai lancar berbahasa Jepang.


Hari yang dingin, Amel belum juga kembali, dengan penuh kecemasan Kenzo menunggunya di depan gudang anggur. Menghangatkan dirinya dengan memakai syal serta dua lapisan jaket tebal. Menggosok-gosokkan tangannya menahan rasa dingin.


Hingga akhirnya, Amel keluar, setelah membantu menghitung stok anggur serta membersihkan gudang.


"Ini untukmu..." Kenzo menyodorkan kue ikan yang masih hangat. Tersenyum padanya.


Seorang wanita cantik, yang kini terlihat lebih kurus. Pipi chubby-nya hampir menghilang, memakai syal berwarna senada dengan pakaiannya. Kulitnya jauh lebih putih dan bersih, mungkin karena perubahan suhu serta jenis pekerjaan. Mengingat pekerjaan serta jadwal kuliah Amel dahulu sering menyebabkannya terkena polisi udara serta sengatan sinar matahari.


Wanita yang cantik, siapa yang akan menyangka dialah wanita yang paling dihindari semua pria.


"Kenapa cuma beli satu?" Amel mengenyitkan keningnya. Mulai menggigit kue ikan hangat.


"Setengahnya milikku, jadi jangan serakah, sisakan setengahnya untukku ..." jawab Kenzo berjalan bersamanya, ditengah hujan salju yang tidak terlalu lebat.


"Sudah aku duga, kamu tidak akan ikhlas..." Amel mencibir penuh kekesalan, dengan mulut penuh, berjalan bersama Kenzo.


Anggaplah sisa kue ikan adalah ciuman tidak langsung darimu untukku... Kenzo menahan senyumnya.


Sinar lampu yang remang-remang, perlahan jemari tangan yang berjalan beriringan berbalut sarung tangan semakin mendekat. Saling bertaut, bergandengan di tengah hujan salju. Seiring langkah sepasang muda-mudi, seorang wanita baik hati yang terus menggerutu tentang kekejaman pemuda di sampingnya.


Namun, setiap malam selalu mendekap tubuh sang pemuda erat di bawah selimut. Bagaikan pasangan yang ditakdirkan. Tapi apakah benar?


Dugong telah perlahan menjadi berparas bagaikan seorang putri. Seorang pangeran Antagonis seharusnya tidak ditakdirkan dengan tokoh utama bukan?


Seorang antagonis yang perlahan merasakan kehangatan di tengah hidupnya yang tidak mudah. Menginginkan menghentikan waktu, merasakan kebahagiaannya lebih banyak lagi.


Bersambung


...Aku mencintaimu bagaikan salju terakhir yang turun di musim dingin......


...Menyambut musim semi yang akan segera hadir, meninggalkan kerinduan pada jejak salju yang perlahan menghilang......


...Jika bisa aku tidak ingin menghilang, melihatmu tersenyum dengan mulut dipenuhi kue ikan......


...Kita akan menghabiskan hari tua besama, membesarkan anak-anak kita. Melihat kaki kecil cucu-cucu kita berlarian, itulah harapanku......


...Tolong cintai aku, walaupun aku hanya......


...Salju yang turun terakhir pada musim dingin......


Kenzo...