My Kenzo

My Kenzo
Musim Keempat : Inspeksi



Kamila menghela napas kasar menarik putrinya ke dalam rumah."Berbalik!!" perintahnya ketika memasuki ruang tamu, dengan cepat sang ibu menurunkan resleting mini dress yang dipakai putrinya, mengamati setiap tanda di tubuh bagian atasnya.


"Bersih!! Tapi tidak membuktikan apapun!!" dada yang berbalut penutupnya itu tidak luput dari pemeriksaan.


"Ibu mau apa!? Ini pelecehan!!" pekik putrinya, menepis tangan sang ibu.


"Hanya memeriksa," dengan cepat Kamila memakaikan kembali mini dress putrinya."Melompat kemudian berjalan!!" perintahnya.


Glory yang sudah merasa bersalah dari awal menuruti perintah ibunya. Berjalan dan melompat dengan normal.


Kamila menghela napas kasar,"Benar-benar masih perawan..." gumamnya, setelah memeriksa ukuran serta bentuk dada putrinya, mencari tanda keunguan yang tidak ada sama sekali.


"Tentu saja!! Masih!! Sudah aku bilang aku pergi dengan Ferrell kemudian tepat pukul 12 malam menghadiri ulang tahun adik Lily di rumah sakit," tegasnya, menunjukkan isi chat dirinya dengan Lily, tentang pesta kejutan ulang tahun sang adik."Caca juga hadir, kalau ibu tidak percaya, boleh menelfonnya,"


Kamila mulai tersenyum,"Masalah dengan Ferrell, ibu percaya itu hanya halusinasimu saja. Tapi masalah ulang tahun adik temanmu ada bukti nyatanya. Karena itu, seharusnya kamu jujur dari awal agar ibu tidak cemas," ucapnya memeluk tubuh putri tunggalnya, menghela napas lega.


"Aku sayang ibu," Glory tersenyum, membalas pelukan ibu galaknya.


Hingga...


"Tapi jangan keluar malam lagi tanpa ijin, kamu itu tidak seperti Grisella yang bisa diberi tanggung jawab. Dia hanya fokus belajar hingga terkadang menginap di rumah teman atau guru bimbelnya. Cantik, berprestasi, cerdas, memiliki pergaulan kalangan atas, mandiri, bahkan memiliki calon suami seorang dokter bedah muda, pemilik rumah sakit besar,"


"Ditambah lagi Grisella akan mengeluarkan singgel, jika laku keras menjadi selebriti idola remaja. Dan kamu masih saja berjualan tahu bulat, seharusnya kamu mencontoh Grisella. Kalian lahir di hari yang sama, bahkan besar di lingkungan yang sama. Tapi kenapa nasib dan bakat kalian berbeda, mungkin karena ibu yang banyak dosa sehingga putri ibu..." komat-kamit mulut itu berkicau, kembali membandingkan.


Glory yang awalnya terharu, melepaskan pelukannya, meraih tas jinjingnya, menutup kedua telinganya menggunakan tangan. Tidak ingin mendengarkan celotehan tentang dirinya yang tidak sebanding dengan anak tetangga.


Berjalan menuju kamarnya dengan cepat, menghela napas kasar merebahkan dirinya di tempat tidur. Matanya menatap langit-langit kamarnya. Merindukan Ferrell? Kenapa dirinya tiba-tiba mengingat ciumannya di kios terbengkalai tepi pantai. Namun memang sulit dijelaskan, untuk pertama kalinya keinginan aneh sebagai wanita normal terasa.


Tapi tidak boleh! Malam pertamanya hanya untuk Ken, hanya akan menikahi dan mencintainya nanti. Pada akhirnya Glory tertawa-tawa sendiri, merutuki kebodohannya, berguling-guling malu sendiri mengingat tentang sosok Ken.


Bug...


Tas yang ada di tepi tempat tidur seketika terjatuh, tidak sengaja terkena kakinya, seluruh isinya berhamburan keluar. Sebuah amplop coklat besar ada disana."Itu apa?" gumamnya, meraih amplop tersebut, kemudian mengeluarkan isinya.


Jemari tangannya gemetaran ketakutan, bukan tokoh proklamator, namun gambar tokoh revolusioner Amerika Serikat, Benjamin Franklin. Benar-benar gemetaran, bukan perasaan nasionalisme kali ini, namun ketakutan terhadap kekuatan satu lembar gambar tokoh revolusioner negara adidaya tersebut.


"Seratus ribu dolar, sama dengan sekitar 1,5 juta rupiah. I...ini..." jantungnya berdegup cepat tapi bukan karena jatuh cinta, keringat dingin keluar dari pelipisnya, jemari tangannya bergetar lebih hebat lagi. Pesan kertas yang ada di dalamnya dibaca olehnya.


'Tabung!! Untuk biaya kuliah!!' hanya itu pesan yang tertulis lada catatan kecil tersebut.


"Ta...tabung?" gumamnya tidak dapat memasukan ke dalam celengan lagi.


Dengan tangan gemetar lembar demi lembar uang dihitungnya, hingga pukul 5 pagi."Dua ratus ribu dolar? Sekitar 3 miliar!?"


Glory kembali menjatuhkan diri tempat tidur. Bingung harus diapakan uang ini, membeli rumah? Mobil? Tanah?


Tidak! Tidak boleh! Glory menggeleng, ini untuk biaya kuliahnya seperti pesan Ferrell. Namun, jika ada kesempatan bertemu dengan pemuda itu lagi, uang ini harus dikembalikan olehnya. Mungkin untuk sementara waktu akan disimpannya di bank. Itulah keputusan yang diambilnya.


Pagi ini, ada pembicaraan yang lebih heboh lagi. Pedagang sayur keliling di depan rumahnya sudah dikerumuni ibu-ibu sekitar rumah tersebut. Termasuk Ratna yang ada disana, yang memang gemar bergosip. Dengan sengaja, tidak membiarkan setiap pagi ART-nya membeli sayuran.


Pembicaraan yang terdengar heboh, membuat Kamila keluar lebih pagi untuk mendengarkan. Tangannya memilih sayur kangkung yang menumpuk, sambil mendengarkan pembicaraan mereka.


Ifa-lah yang paling heboh, pemilik warung kopi yang baru datang dari pasar, melihat sekilas wajah calon menantu dari Ratna. Dengan mobil yang melaju meninggalkan depan gang rumah tersebut.


"Ferrell!! Benar-benar Ferrell! Ratna tidak bohong. Ratna ingat undang-undang saya nanti kalau Grisella menikah!!" ucapnya antusias.


Kamila mendekat semakin tertarik,"Ferrell yang artis itu, benar-benar kemari?" tanyanya antusias.


Ifa mengambil sebungkus daging ayam yang sudah dipisahkan,"Iya, saya lihat sendiri tadi pagi, waktu saya pulang dari pasar. Mobil Ferrell sempat berhenti di depan gang, lalu pergi. Ratna apa Grisella menginap lalu diantar pulang?" tanyanya.


Ratna mengenyitkan keningnya, sebuah perjodohan baru hanya sekedar wacana dari keluarganya, belum ada kepastian. Karena Damian pun sulit untuk didekati, tapi kini Ferrell berada di dekat rumahnya pagi-pagi buta? Apa mungkin calon menantu sempurna itu menerima perjodohannya dan diam-diam mengawasi putrinya?


"Tadi pagi, jam berapa?" tanya Kamila mengenyitkan keningnya.


"Sekitar jam 3 pagi," jawaban dari Ifa.


Seketika Kamila terdiam, waktu yang sama saat putrinya pulang tadi pagi. Apa mungkin Glory tidak berimajinasi? Putrinya benar-benar memiliki hubungan dengan pewaris keluarga konglomerat?


Namun jawaban Ratna membantah asumsinya,"Iya, Ferrell memang datang tapi cuma mampir sebentar. Membawa oleh-oleh dari orang tuanya untuk Grisella," dustanya canggung, bingung harus menjelaskan apa. Sedangkan Grisella sendiri sedang ikut mendaki bersama temannya. Langsung ganti baju ke sekolah dan berangkat dari rumah temannya tersebut.


Mendaki? Mungkin mendaki puncak kenikmatan duniawi. Anak yang terlalu pandai mengelabui orang tuanya, sedangkan orang tua yang terlalu mengagungkan dan membanggakan putrinya tanpa peduli pada pergaulannya diluar.


Kamila menghela napas kasar, mungkin memang benar, hanya kata-kata omong kosong dari putrinya. Siang ini putrinya harus bertemu dengan Gin, agar imajinasi putrinya tidak terlalu tinggi lagi. Itu sudah menjadi tekadnya, memiliki menantu seorang perawat rupawan dari keluarga baik-baik yang akan menyayangi Glory nantinya.


Hingga wajah lemas akibat mengantuk itu melewatinya sudah lengkap mengenakan seragam SMU.


"Glory? Tidak ingin uang jajan?" tanya ibunya.


Putrinya menggeleng,"Aku bisa berangkat ke Singapura lalu belanja bersenang-senang disana sampai kaki sakit dengan uang hasil pesugihan yang ada di tas," celotehannya menepuk-nepuk tasnya.


Seketika para ibu-ibu itu tertawa menatap candaan Glory,"Glory ikut pesugihan dengan siluman mana?" tanya Samun yang memang menyukai tingkah lucu anak tetangganya itu.


"Pangeran dari siluman rubah putih dan raja iblis, yang menyebarkan uang dolar di atas tempat tidur..." jawabannya tersenyum, mengundang gelak tawa ibu-ibu itu, sementara Kamila memijit pelipisnya sendiri, menahan tawanya, menatap tingkah aneh putrinya.


Samun tiba-tiba berjalan mendekatinya,"Glory rencananya mau kuliah jurusan apa?"


"Hukum, nanti sambil bekerja, siapa tahu bisa menjadi pengacara atau hakim..." jawabannya tersenyum.


Wanita paruh baya itu menghela napas kasar ikut tersenyum, jika perjodohan dengan Gin, keponakannya berhasil. Anak ini akan menjadi anggota keluarga besarnya, anak yang sebenarnya lebih cerdas dari pada Grisella yang selalu dibanggakan Ratna.


Bersambung