My Kenzo

My Kenzo
Musim Ketiga : Kakak



Air mata membasahi pipinya, hari ini dirinya harus menikah setelah bertahun-tahun merasa tidak ada pria yang pantas untuknya. Nasib ibu dan adik angkatnya mungkin dipertaruhkan. Dirinya mencoba setegar mungkin, menjalani prosesi. Menghapus air matanya berkali-kali.


Hingga janji itu terikat dengan seorang pemuda yang baru sekali ditemuinya. Bukan acara pernikahan yang meriah, namun itu sudah cukup pada pernikahan tidak berdasar pada cinta ini.


"Dimana Febria!? Aku sudah menepati janjiku untuk menikah denganmu! Sekarang tunjukkan dimana adikku!!" bentaknya, dalam mobil yang melaju, usai acara pernikahan mereka.


Pria yang masih memakai tuxedo putihnya itu tersenyum, "Sudah malam mereka seharusnya sudah pulang dari kantor dari tadi," ucapnya, menatap ke arah jam tangannya.


"Kantor!?" Elina mengenyitkan keningnya tidak mengerti.


***


Sudah larut saat dirinya sampai dengan memakai gaun pernikahan putih panjang, dengan kerudung transparan yang terbuka. Jalanan sudah benar-benar gelap, hingga mobil berhenti di sebuah rumah yang tidak begitu besar. Namun, pengawal yang menyamar selalu berada di sekitar rumah.


"Adikku tinggal disini?" dirinya memastikan, dijawab dengan anggukan oleh Eden yang tengah dibantu naik ke kursi rodanya oleh supir.


Dengan cepat Elina masuk tanpa permisi meninggalkan Eden, semua ruangan digeledahnya hingga menemukan satu ruangan yang terkunci.


Pintu didobrak sekali hentakan olehnya, hingga pada akhirnya pintu itu terbuka. "Hentikan..." ucap Febria tertawa manja, kala selimut yang menutupi tubuhnya sedikit bergerak. Terlihat ada seseorang di bawah selimut rambut coklat pendek, hanya rambut pria yang terlihat.


"Kak Elina!!" teriak Febria gelagapan tidak mengenakan sehelai benangpun hanya ditutupi selimut. Usai melakukan kegiatan suami istri. Steven, pemuda itu menciumi tubuh istrinya di bawah selimut. Membuat Febria kegelian.


Keadaan Febria tidak seburuk pemikirannya, wanita itu terlihat baik-baik saja. Tapi ada satu kejanggalan, Febria tidak mengenakan pakaian, dan ada pria di balik selimut.


"Kamu!! Berani-beraninya meniduri adikku!!" teriaknya.


Mendengar suara yang dikenalnya, Steven segera berbalik, tubuhnya ditutupi selimut yang sama dengan Febria. "Kak Elina! Bisa aku jelaskan, kami..."


"Kak Elina?" gumamnya, tidak mengerti pria yang baru bertemu dengannya dapat mengenali namanya, Elina menatap mata biru itu dari jauh, dengan seksama.


"Tidak mungkin kamu Steven kan? Penggemar ultraman! Yang dulu selalu menggoda Febria!? Orang yang membuat adikku membanding-bandingkan pria lain dengan Steven?" lanjutnya.


"Kak Elina jangan begitu, aku jadi malukan..." ucap Febria genit, menyembunyikan wajahnya di dada bidang Steven.


"Ja... jadi?" tanyanya masih menduga-duga.


"Namanya Steven Hudson, adikku tersayang, pemimpin Dark Wild yang baru, sekaligus suami Febria..." Eden tiba-tiba datang dari belakang, dengan kursi rodanya.


"Kakak, lama tidak bertemu, kakak semakin galak saja..." ucap Steven pada Elina, menyembunyikan wajahnya kembali di bawah selimut, bersama Febria.


Kakak tertua yang galak? Itulah Elina mengatur semua kehidupan tentang adik-adiknya termasuk memisahkan kakak-adik yang terlalu lengket itu. Memisahkan? Pernah dirinya, membawa Steven ke Filipina saat Steven berusia 13 tahun dan Febria yang bersama Amel di Singapura berusia 6 tahun. Karena Steven yang sering menyelinap tengah malam ke kamar Febria, tidur besama dengannya.


Namun naas, Febria yang berada di Singapura merengek tidak mau makan, tidak ingin tinggal terpisah dengan Steven. Sedangkan Steven sendiri melarikan diri dari Filipina untuk menemui Febria di Singapura. Hingga dulu Amel menyerah untuk memisahkan mereka yang bagaikan bucin dari kecil.


"Brother complex!! Dasar rambut putih!! Sudah aku duga suatu hari nanti kamu akan meniduri adikmu sendiri!!" bentaknya ingin melangkah, memberi pelajaran pada kedua adiknya, namun tidak bisa karena dirinya dipegangi pengawal Eden.


"Kakak!! Ini bukan kesalahan Steven," kepala Febria keluar dari selimut,"Ini kesalahanku,"


Steven ikut-ikutan memunculkan kepalanya dari balik selimut,"Bukan, ini juga kesalahanku," ucapnya menatap wajah Febria, merapikan anak rambutnya.


"Ini kesalahan kalian berdua!!" teriak Elina penuh angkara murka menatap kebahagiaan kedua adiknya. Kesal tentu saja, dalam fikirannya sang adik digagahi, dicambuk mengalami banyak kekerasan dan pelecehan. Tapi ini? Dia menikah dengan Steven?


Brother complex yang memperlakukannya bagaikan tuan putri. Bucin sejak dini, astaga... mimpi apa dirinya semalam.


"Aku akan menghancurkan kalian!!" bentak Elina, masih dipegangi.


"Elina biarkan mereka ganti pakaian dulu!" Eden mengulangi kata-katanya penuh penekanan. Dan keajaiban terjadi, Elina menurut untuk keluar. Entah racun atau jampi-jampi apa yang digunakan Eden. Tapi memang aneh, Elina selalu dengan mudah mengikuti kata-katanya.


***


Pasangan itu telah membersihkan dirinya memakai pakaian lengkap, berjalan duduk di sofa saling memandang dan tersenyum, dengan wajah tanpa dosa. Tanpa rasa bersalah pada seorang Elina.


Duduk berhadapan dengan kakak tertuanya,"Jadi apa mama tau tentang pernikahan kalian?" tanya Elina.


"Aku sudah meminta restu dari mama, mama setuju bahkan hadir di acara pernikahan kami," jawab Steven, menggenggam jemari tangan Febria.


"Bagaimana dengan Benjamin? Atau Hitoshi?" Elina memijit pelipisnya sendiri.


"Papa tidak menyukai Benjamin, aku juga hanya pacaran agar tidak diolok-olok karena bahkan tidak pernah pacaran. Kami sudah putus dia tidur dengan wanita lain. Tentang Hitoshi, itu imajinasi kalian saja, dia sudah punya pacar..." Febria menghela napas kasar, menyandarkan dirinya di sofa.


"Jadi kalian sudah benar-benar menikah!? Sudah meminta ijin dari papa?" tanyanya Elina kembali.


Mereka menggeleng bersamaan,"Sulit untuk menghubungi papa," ucap Febria.


"Kamu mungkin tidak tau, aku terkadang menggunakan laptop milik papa. Papa sering berkirim e-mai dengan seseorang. Dia sudah merencanakan pernikahanmu dengan putra salah satu kelompok mafia. Kelompok dan informasi lainnya tidak begitu jelas. Tapi jika papa tau tentang pernikahan kalian, tamatlah sudah..." kata-kata yang keluar dari mulut Elina, membuat adiknya menoleh padanya.


"Mengatur pernikahanku?" tanya Febria memastikan.


"Benar, jika tau kamu menikah dengan Steven. Dark Wild akan dihancurkan olehnya," jawab Elina kembali, berjalan menuju lemari es mengambil air putih dingin untuk dirinya sendiri.


"Setahuku ayah kalian hanya seorang pengusaha. Apa yang perlu di takutkan?" tanya Eden tidak mengerti.


"Dia bukan pengusaha biasa, dia pengusaha jenius gila yang tidak takut mati. Mengendalikan orang bagaikan boneka mainannya. Karena itulah dia bisa menyusup ke markas Dark Wild di Afrika. Membantuku melarikan diri tanpa bisa dilacak oleh ayah. Itulah Kenzo papa angkatku..." jawab Steven, menghela napasnya berfikir langkah selanjutnya."Kak Elina, tau sedikit saja informasi tentang orang yang akan dijodohkan dengan Febria?"


Elina menggeleng,"Tapi yang jelas, aku pernah tidak sengaja membaca e-mail yang dikirimkan papa. Papa berjanji akan menyokong dana calon besannya,"


"Papa ada dimana sekarang? Dia akan mendengar permintaanku," tanya Febria, tidak rela jika pernikahannya yang baru beberapa minggu harus berakhir.


"Tidak tau," Elina kembali menghela napasnya.


"Omong-ngomong kenapa kalian kemari memakai pakaian pengantin?" Steven mengenyitkan keningnya curiga.


"A...aku, ini karena kalian!!" bentak Elina, menunjuk-nunjuk kedua adiknya.


"Kami sudah menikah pagi tadi, Elina sekarang istriku..." Eden berucap penuh keangkuhan, akhirnya dirinya sudah menikah. Menyombongkan diri pada Steven.


Suara tawa terdengar, dari mulut Steven,"Ini lelucon kan!? Elina yang perfeksionis dengan Eden? Katanya akan mencari pria seperti papa (Kenzo) karena dirinya sendiri seperti mama (Amel),"


Plak...


Kepala Steven dipukul, rambutnya lagi-lagi dijambak,"Rambut putih sialan!! Dasar brother complex!! Aku mengira kamu adalah ketua mafia keji yang mencambuk dan menyiksa Febria di tempat tidur!! Tapi kalian malah berbulan madu penuh tawa!!"


"Sakit!! Kakak!!" teriak Steven. Sebagai ketua dirinya bagaikan tidak memiliki kharisma di depan kakak-kakaknya. Itulah seorang adik bagi Steven, apapun jabatannya seberapapun dihormati. Tetap takluk oleh kakak-kakaknya.


Bersambung