
Tidak ada yang tidak dapat dilakukannya, semua keinginannya harus didapatkannya. Itulah Amel, saat ini. Orang yang mendidiknya kini tengah tersenyum menghibur anak-anak. Memakai kostum yang bahkan lebih aneh lagi.
Senyuman menyungging di wajah wanita itu, mengambil foto, kemudian mulai menghubungi Frans.
"Ada apa?" tanya seorang pria diseberang sana dengan suara malas khas orang baru bangun tidur. Pasalnya negara tempat Frans berada saat ini masih tengah malam.
"Kamu merindukan Kenzo?" Amel tersenyum, menggunakan earphonenya.
"Dia sudah tenang disana, sebagai jandanya. Dari lima tahun yang lalu, aku sudah menyuruhmu menikah lagi saja. Ikhlaskan dia, maka dia akan merelakanmu dengan yang lain..." gumamnya dengan nada malas.
"Aku ingin punya pria simpanan. Apa boleh?" Amel tersenyum menggigit bagian bawah bibirnya, menatap Dava kembali memakai cost player, kali ini rambut putih panjang, khas sebangsa siluman. Lengkap dengan baju putihnya, berfoto dengan pengunjung taman hiburan.
"Boleh, tapi untuk psikis anak-anak sebaiknya kamu menikah lagi. Carilah pria yang baik, anak pejabat atau semacamnya. Pengusaha juga lumayan, perlu aku kenalkan satu atau dua calon? Ingin darah barat? Eropa? Arab? Atau Asia?" tanyanya, mulai membuka matanya, antusias.
Pasalnya Frans cukup iba pada Amel, baru beberapa bulan menikah, Kenzo sudah meninggalkannya. Membesarkan dua orang anak kembar, tinggal berpindah-pindah bersama para anak asuhnya, membantu mengurus perusahaan, merupakan hal yang sulit, bagi seorang singgel parent.
Bahkan saat baru melahirkan, Amel sempat mengalami baby blues syndrome, tidak bersedia makan, menangis tiada henti menginginkan keberadaan suaminya yang telah tiada. Bahkan ASI-nya pun sulit keluar, akibat tidak mendapatkan asupan makanan yang cukup. Walau hanya beberapa hari, namun Frans yang ada disana untuk menjaganya.
Wanita yang tidak membuka hatinya untuk pria maupun. Hanya menginginkan keberadaan suaminya, itu sudah cukup untuknya. Membohongi diri sendiri seolah Kenzo masih hidup dan hanya marah padanya hingga tidak pernah muncul.
Namun kali ini simpanan? Amel benar-benar mengatakannya?
"Frans, jika Kenzo tau kamu selalu ingin menikahkanku dengan pria lain bagaimana?" Amel duduk di bangku taman, meminum sekaleng soda berwarna merah.
"Dia akan berterimakasih padaku dari sisi-Nya. Istrinya tidak kesepian lagi di tempat tidur..." jawab Frans yakin.
"Kenzo sedang ada di dekatku saat ini, dia tidak akan senang..." kata-kata ambigu keluar dari mulut Amel.
Pengalaman adalah guru, wajah Frans yang masih memakai piamanya seketika pucat pasi. Mungkin the Javu, kejadian yang hampir sama kala Kenzo menghubunginya untuk terakhir kalinya.
"Amel!! Kamu jangan macam-macam!! Ingat anak-anakmu!! Jangan menyusul Kenzo!! Kamu dimana sekarang? Aku akan berangkat menyusulmu!! Tidak sebaiknya aku menghubungi Scott!!" Frans terdengar panik, Amel yang sudah bagaikan adik iparnya, memutuskan untuk mengakhiri hidupnya menyusul Kenzo? Tidak, dia tidak akan membiarkannya.
Hingga sebuah pesan foto masuk, Amel tengah duduk, dengan wajah Kenzo tersorot dari jauh.
"Kamu sudah lihat fotonya?" tanya Amel pada Frans, usai mengirimkan foto yang diambilnya.
"Kenzo!?" Frans meninggikan intonasi bicaranya, usai melihat foto yang dikirimkan Amel."Mampus!!" lanjutnya tidak terdengar bahagia. Pasalnya sudah sering mendorong Amel untuk bersedia menikah kembali.
"Kamu mendoakan dia mati!?" Amel mengenyitkan keningnya kesal.
"Ti ... tidak, hanya saja jangan ceritakan aku sering memperkenalkanmu pada pengusaha muda..." jawab Frans gelagapan.
"Dia tidak mengingatku, mengatakannya juga percuma. Dia mengunci seluruh memory menyakitkan, tidak mengingat tentang kita sama sekali..." Amel menghela napas kasar.
Nada suara Frans tiba-tiba bergetar,"Amel setelah urusanku disini selesai, aku akan menemuimu disana. Jangan biarkan dia pergi lagi, berikan obat jika..." kata-kata pemuda itu disela.
"Kenzo tidak memiliki gangguan kepribadian lagi, dia tidak memerlukanku atau obat-obatan lagi..." ucapnya, menatap ke arah cahaya matahari yang menembus pepohonan.
Tangan Amel menadah menangkap sehelai daun kering yang gugur... Terkadang aku berfikir, jika gangguan kepribadiannya menghilang, dia tidak memerlukanku lagi. Apa dia masih akan mencintaiku... batinnya.
"A... Amel a...aku..." kata-kata Frans kembali disela.
"Tutuplah jika ingin menangis," Amel tersenyum, bersamaan dengan Frans yang mematikan panggilannya.
Wanita itu terdiam sejenak memejamkan matanya, merasakan terpaan angin di bawah pohon yang rindang hingga suara itu terdengar.
"Kamu tadi mengubungi siapa?" tanya Dava menatap curiga.
Senyuman seketika menyungging di bibir Amel,"Pacarku..." jawabnya.
Fikiran mesum sialan, kembali terbayang... Ingat Dava itu istri orang... Ingat istri orang... gumamnya dalam hati menyingkirkan fikiran kotor tercelanya.
"Maka apa? Suamiku sedang mengunci dirinya sendiri, tidak ingin bertemu denganku..." Amel mulai bangkit dari bangku taman tempatnya duduk.
"Ta...tapi dia tetap saja suamimu..." ucapnya menatap tidak suka.
"Ada satu cara, aku akan memutuskan pacarku dan hanya setia pada suamiku," Amel tersenyum, menarik tangan Dava.
"Bagaimana caranya!? Jangan salah paham, aku hanya ingin membimbingmu ke jalan yang benar..." alasan aneh dari mulut Dava, yang sebenarnya hatinya terasa terbakar kala wanita itu dekat dengan pria lain. Ini bukan cemburu, sudah jelas bukan, karena Amel adalah istri orang.
"Sudah ikut aku saja," ucap Amel tersenyum. Hingga akhirnya sampai ke area toilet wanita yang kebetulan sepi.
Dava tetap ditariknya, masuk besama dalam salah satu bilik toilet.
"Kenapa?" kata-kata Dava disela.
"Sttt..." Amel menutup mulut pemuda itu menggunakan tangannya, menyadari ada orang yang masuk. "Jangan mengeluarkan suara sedikitpun, atau akan ada yang menyadari keberadaanmu,"
Dava mengangguk, perlahan Amel melepaskan tangannya. Hati mereka berdua berdebar cepat dalam ruangan sempit itu. Hingga akhirnya Amel mendekat dan berbisik,"Ada satu cara membimbingku ke jalan yang benar untuk setia pada suamiku..."
"Apa?" Dava ikut berbisik.
"Mengorbankan dirimu..." tanpa aba-aba bibir Dava dibungkamnya, bergerak bagaikan menarikan lidahnya. Menggoda pemuda itu untuk mengikuti.
Bodoh! Benar-benar bodoh, darahnya yang berdesir hebat tidak dapat dikendalikannya. Bukan mendorong, tengkuk Amel ditahannya, berubah menjadi agresif.
"Emmghh..." ucap mereka dalam deru napas yang memburu. Kembali menautkan bibirnya.
Hingga posisi kini berbalik, Amel yang disudutkan di dinding bilik kamar mandi."Ini hukuman karena memikirkan pria lain ..." bisik Dava dengan suara berat, kembali menyerang bibir Amel.
Setetes air mata wanita itu mengalir, kata-kata yang sama, tubuh yang sama, jiwa yang sama. Dia adalah Kenzo, hukuman? Tidak boleh memikirkan pria lain? Kata-kata yang pernah terucap dari bibir suaminya.
Aku mencintaimu, masih hingga saat ini... tidak dapat melupakanmu... because you're my Kenzo...
Beberapa menit berlalu, tidak terdengar lagi suara orang di dalam toilet. Begitu pula pangutan bibir yang terlepas, wajah dua orang itu saling menunduk.
Kenzo menciumku... wajah Amel memerah, seolah itu ciuman pertama mereka.
"A...aku minta maaf..." Dava segera pergi gelagapan melarikan diri dengan cepat. Mengingat kembali dua kata 'Istri orang'
Amel menghela napas kasar, perlahan berjalan mengikuti langkah Dava.
Hingga handphone pemuda itu berbunyi,"Gagal ginjal? Liver...?" air mata Dava mengalir menerima panggilan dari sang ibu.
Sayang maaf, tapi aku dan anak-anak kita tidak dapat menahan diri lagi.... Jangan menangis ya? Nanti aku akan membuatmu, tidak menangis lagi, berteriak, menjerit puas di tempat tidur.... Senyuman terlihat di wajah Amel, meninggalkan Dava seorang diri.
Bersambung
...Kapan aku dapat mengingatmu? Setiap saat aku mengingatmu, hingga tidak dapat menyentuh dan mencintai wanita lain......
...Fikiran ini melupakan segalanya, namun hati dan tubuhku tidak pernah. Kala darah ini berdesir hanya padamu, kala hati ini hanya dapat mengasihi hatimu......
...Karena, aku tidak mampu mencintai orang lain... Amel-ku......
Kenzo...