My Kenzo

My Kenzo
Musim Ketiga : Jampi-jampi



"Dasar..." tangan Fransisca terangkat hendak menamparnya, namun dengan cepat Yessi memegang pergelangan tangannya. Menepisnya asal.


"Dulu aku mengalah demi Zen dan Aqila tapi sekarang tidak lagi. Suami dan anak yang kamu buang, aku akan memungut mereka. Menjadikan mereka sebagai keluargaku," ucapnya penuh senyuman.


"Silahkan saja!! Ambil kedua benalu itu!!" bentaknya dengan intonasi tinggi.


"Ayo Aqila, kita pergi, jangan menangis lagi ya? Kita makan ice cream besar bersama-sama," Yessi mulai mengangkat tubuh mungil sang anak, menghapus air matanya. Anak yang menganggukkan kepalanya, mendekap tubuh Yessi erat.


***


Dua orang yang kini duduk di gazebo kediaman Hudson. dua orang yang makan berhadapan dengan tenang.


"Apa kamu sudah menemukan donor yang cocok untuk Steven?" tanya seorang pria memotong daging di hadapannya.


"Belum, tapi dengan kekuatan uang, namanya ada di list utama untuk pencarian donor organ di beberapa negara," Kenzo menghela napas kasar, masih mengunyah potongan kentang.


"Masalah Doom, mungkin cepat atau lambat dia akan mengincar nyawaku dan Eden, jadi..." kata-kata Viktor terhenti, beralih pada Kenzo yang menatap sinis padanya.


"Apa yang terjadi pada istrimu?" tanyanya, menghentikan aktivitas makannya.


"Dia mati, karena aku tidak pernah membawanya ke rumah sakit. Bahkan aku membawa banyak wanita muda ke rumah..." Victor tersenyum dengan air mata yang mengalir.


22 tahun yang lalu...


Saling mencintai? Memang benar, wanita yang melahirkan sebelas orang anak untuk suaminya. Bahkan ada kejadian langka, melahirkan anak kembar 4, mereka cukup bahagia.


Walaupun Victor sudah mulai membuka beberapa bisnis ilegal. Rumah yang cukup besar menjadi tempat mereka tinggal, anak-anak yang bermain berlarian.


"Ini," ucapnya tersenyum, memberikan kotak bekal pada suaminya.


Victor tertawa kecil,"Aku orang yang paling dihormati, tapi kenapa harus membawa kotak bekal berwarna pink?"


"Sudah berangkat sana!! Supaya semua orang tau! Kamu sudah menikah!" ucap wanita berdarah Asia itu, mengecup bibir suaminya yang berdarah Eropa.


"Aku jadi tidak ingin berangkat, haruskah Steven memilki adik lagi ..." ucapnya memeluk tubuh istrinya, berbisik menggoda.


"Tidak! Karenamu yang memiliki gen kembar, empat kali melahirkan, kita sudah memiliki 11 anak. Kamu fikir mudah mengurus mereka," geram Viona, memukul pelan kepala suaminya.


"Masih ada pengasuh," Victor mengenyitkan keningnya, mengusap-usap kepalanya yang sejatinya tidak sakit.


"Tidak mau... aku ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan mereka, agar semua anak-anakku menyayangiku," gumamnya, menatap anak-anaknya dari jendela kamar, tengah bermain bersama.


Namun, siapa yang tau usia dan keinginan manusia. Saat itu Viona beberapa kali mengeluh mengalami sakit kepala hebat. Hingga, pemeriksaan menyeluruh mereka lakukan di rumah sakit. Hasilnya? Kanker otak...


Air matanya mengalir tiada henti, sudah ada pada stadium lanjut. Operasi? Tidak dapat dilakukan, jika dipaksakan mungkin Viona akan mati di meja operasi atau mengalami koma seumur hidupnya.


Kemoterapi? Sudah cukup lelah, dirinya tidak memiliki jalan kembali. Hingga memutuskan untuk hanya mengkonsumsi obat-obatan pereda sakit. Yang terpenting saat ini baginya menghabiskan waktu dengan keluarganya sebisa mungkin dan mencarikan pasangan pengganti untuk Victor. Tidak ingin pria itu terlalu sedih saat kepergiannya nanti.


Hingga bahkan terjadi pertengkaran...


"Jika kamu mencintai kami!! Lakukan kemoterapi!"


"Viona menggeleng, aku lelah menjalani pengobatan!! Aku tidak ingin rambutku yang sudah sedikit ini rontok. Pada akhirnya kemoterapi tidak juga dapat memperpanjang hidupku kan!?" bentaknya, memukul-mukul dada bidang suaminya dalam tangisan.


Victor mencoba mendekapnya, namun Viona mendorong suaminya dengan cepat."Kamu mencintaiku kan? Karena itu ini permintaan terakhirku. Cobalah menjalani hubungan dengan wanita lain..."


Victor terdiam, kemudian menggeleng, air mata mengalir di wajahnya menatap wajah pucat istrinya.


"Kamu tidak mencintaiku!?" tanya Viona, berurai air mata.


"Mulai besok, aku akan tidur di kamar berbeda. Tunjukkan kamu mencintaiku, dengan membawa wanita lain ke kamar ini," Viona berusaha tersenyum mengepalkan tangannya. Tidak rela jika suaminya memiliki hubungan dengan wanita lain. Namun, tidak juga ingin Victor terpuruk saat kematiannya nanti.


Barang-barang mulai dikemasi Viona, Victor berusaha menghentikannya."Jika kamu tidak membawa perempuan lain, maka aku akan meninggalkan rumah ini, membawa anak-anak kita..."


Pada akhirnya tangan pria itu lemas, tertunduk menyesali takdir buruknya. Menatap punggung istrinya yang meninggalkan kamar dengan sebuah koper berjalan menuju kamar lain.


Dan disanalah semuanya dimulai, Viona memecat semua pengasuh di rumah itu. Sibuk merawat anak-anaknya seorang diri. Tujuannya, menghabiskan seluruh waktunya yang tersisa dengan baik.


Sesekali menatap suaminya dengan wajah pucat, merangkul seorang wanita muda bertubuh menggoda ke dalam kamar mereka.


Menyakitkan? Tentu saja, bagaikan pisau belati yang menghujam hatinya berkali-kali. Namun, semua perasaan itu ditepisnya, dengan anggapan ingin menatap senyuman bahagia Victor. Kala dirinya pergi, senyuman dari pria yang dicintainya. Jemari tangannya kembali menghapus air matanya, menyuapi Steven kecil, anak bungsu dengan kondisi kesehatan paling buruk.


Tidak menyadari hal yang terjadi di kamar Victor. Tubuhnya dipeluk dari belakang oleh sang wanita muda. Namun dengan cepat dilepaskannya.


"Berbaringlah di sofa, tidur atau lakukan apapun. Tapi jangan coba-coba mengganggu ku..." perintahnya.


"Tapi..." kata-katanya disela.


"Aku bilang, berbaring di sofa!!" bentaknya pada sang wanita muda dengan nada tinggi.


Sang wanita menurut, tidur di atas sofa. Sedangkan Victor berbaring di tempat tidurnya menatap langit-langit kamar. Merindukan harum aroma tubuh istrinya, merindukan dengkuran halus Viona dalam dekapannya.


"Aku selalu mencintaimu, jangan pernah meninggalkanku..." gumamnya menutup matanya dengan setetes air mata yang mengalir.


Hanya obat pereda rasa sakit, tidak ingin menjalani pengobatan apapun lagi. Tubuh wanita itu semakin kurus saja, mencoba menjaga anak-anaknya. Hingga pada akhirnya rubuh.


Matanya masih sedikit terbuka terlihat samar-samar sepasang sepatu kulit pria berlari menghampirinya. Mengangkat tubuhnya, "Viona bodoh!! Aku mencintaimu!! Jangan mati!!"


Teriakan dari Victor, pria itu masih saja mencintainya. Hingga akhirnya wanita itu menutup mata untuk terakhir kalinya dalam dekapan suaminya. Air matanya mengalir, kala matanya tertutup, namun bibir Viona tersenyum.


Bahagia, mengetahui Victor yang tidak pernah dapat melupakannya. Sekaligus hatinya terluka, mengetahui betapa Victor akan terpuruk nantinya...


Maaf, tidak menjadi istri yang baik, aku pergi... senyuman yang indah, napas yang terhenti, tangan yang lemas. Bibir memutih, tanpa dapat mengucapkan satu katapun...


Viona benar-benar pergi, dalam dekapan suami yang dicintainya...


Seorang suami, yang mengelus batu nisan istrinya. Meminta maaf, tidak dapat mencari pengganti Viona, lebih memilih menghabiskan hidupnya seorang diri.


Saat ini, kediaman Hudson...


"Tidak membantah, tapi menangis?" tanya Kenzo, mulai kembali makan."Saranku, jelaskan semuanya pada Doom,"


"Kenapa harus menjelaskan padanya?" Victor mengenyitkan keningnya tidak mengerti, mulai meminum segelas air dingin.


"Dia menyukai istrimu..." jawaban dari Kenzo masih makan tanpa rasa bersalah.


Prrrthhh....


Air menyembur bagaikan mbah dukun dari bibir Victor, terbatuk-batuk mendengar kata-kata Kenzo.


"Sial!!" geramnya, mengelap air di wajahnya dengan sapu tangan. Dirinya tidak meminta jampi-jampi tapi entah kenapa mbah dukun ini menyemburnya.


"Dia menyukai Viona!?"


Bersambung