My Kenzo

My Kenzo
Mengherankan



Istri kalangan atas? Bagaimana cara mereka menikmati hidup sesungguhnya? Suara lenguhan terdengar, tiga tubuh putih mulus itu kini tidak mengenakan busana, berbalut sehelai selimut.


Belaian demi belaian terasa, jemari tangan yang seakan membuat mereka melayang.


"Egghhggkkk..." Frea (istri Tomy) bersendawa."Maaf, aku sedang hamil, entah kenapa terlalu sering bersendawa..."


"Tidak apa-apa, tiga hari ini kedua anakku menginap di rumah neneknya. Membiarkan ibunya menghapus lelah...tapi aku tetap merindukan mereka..." Jeny (istri Farel) tersenyum, menghela napas kasar, menikmati pijatan di spa tempat mereka berada saat ini.


"Omong-ngomong namamu siapa?" tanya Frea, menyadari mereka bahkan tidak mengetahui nama Amel, namun menyeretnya kemana-mana.


"Amel...aku bukan pacarnya Kenzo. Aku..." kata-katanya terhenti,


Jeny menyelanya."Belum, nanti dia akan mengejarmu hingga membuatmu tidak berkutik. Tidak memiliki pilihan lain selain menerimanya..." ucapnya memakan satu irisan timun yang sebenarnya diperuntukkan untuk menutupi kelopak mata.


"Benar!! Dari tatapannya padamu, mereka sama saja. Jika sudah menemukan target, mereka tidak akan pernah berhenti..." Frea membenarkan, menurut pengalaman pribadinya.


"Setelah ini, kita harus berkeliling mencoba jajanan pinggir jalan!! Kamu harus ikut!!" Jeny kembali memakan irisan timun di atas piring.


"Iya..."Amel mengenyitkan keningnya tidak mengerti, menatap dua orang yang sama dengannya menikmati perawatan Spa. Dalam fikiran Amel mereka adalah istri dari pengusaha besar, seharusnya menjalani hidup foya-foya dengan akun Instagramnya yang memperlihatkan kemewahan, bukan?


Tapi makan jajanan pinggir jalan? Setidaknya Amel tenang tidak terjebak dengan wanita yang mengajaknya arisan berlian.


"Jeny, aku ingin membuka restauran keluarga. Bisa bekerja sama dengan EO (Event Organizer)-mu," tanya Frea tersenyum tanpa dosa. Meminum juice melon disampingnya.


"Iya, asalkan makanannya enak..." Jeny menghela napas kasar.


"Ka...kalian memiliki usaha sendiri?" tanyanya tidak mengerti. Sebagian besar istri milyader yang diliput di televisi menampakkan kemewahan. Hidup hanya untuk bersenang-senang, tapi mereka? Amel benar-benar menatap kagum.


Kedua orang itu serentak mengangguk,"Suami ku memberi uang bulanan berlebih, tapi memintaku mengelolanya dengan baik. Supaya berkembang sedikit demi sedikit..." Frea menjelaskan.


"Kalau aku, Farel tidak pernah memberiku uang, tapi membuat beberapa aset bergerak atas namaku dan anak kami. Sedangkan bisnis EO sudah aku miliki dari sebelum menikah," jawab Jeny dengan mulut penuh.


"Kamu juga harus memiliki usaha sendiri!!" ucap Frea antusias.


"Benar!! Agar suami tidak berani macam-macam!! Jika mereka macam-macam, kita masih bisa hidup tanpa mereka!! Tunjukkan kekuasaan sebagai wanita!!" Jeny berkata penuh semangat yang menggebu-gebu.


"Iya!! Aku setuju!! Sebagai wanita aku juga akan harus menunjukkan kekuasaan pada Kenzo..." kata-kata Amel terhenti, memukul bibirnya sendiri yang berucap refleks tentang Kenzo.


"Tidak usah malu-malu jika sudah menjadi pacar!!" Frea mengenyitkan keningnya.


"Dengar, ujian paling berat dalam pernikahan adalah pelakor!! Hal yang harus dilakukan jika bertemu wanita rubah adalah angkat kepalamu di hadapannya, tunjukkan kekuasaanmu!! Satu lagi, merajuk pada malam hari, kemudian berakhir memanaskan ranjang suamimu..." saran dari Jeny.


Memanaskan ranjang? Aku dan Kenzo? Kenapa harus... Merajuk padanya, kemudian berakhir... otak polos Amel menunjukan mode mesumnya, setelah berbicara beberapa jam dengan dua orang wanita berpengalaman.


Hingga treatment berakhir dengan mereka telah mengenakan busana lengkap. Berjalan mencari pakaian untuk acara esok hari. Masih membawa makanan yang dibeli mereka di pinggir jalan.


Sosialita yang aneh, berjalan mengenakan pakaian orang biasa. Memasuki butik ternama, memilih pakaian mendapatkan pandangan sinis dari manager butik. Tidak melayani mereka, membiarkan mereka memilih seorang diri.


Hingga...


Seseorang datang menggunakan mobil berharga fantastis, seorang wanita yang membuat wajah Amel seketika pucat pasi.


Keyla, itulah dia. Usai hubungannya dan Gilang kandas, dirinya kini memiliki hubungan dengan pria gemuk beristri, seorang pengusaha batubara. Dengan status menjadi istri simpanannya.


Tujuannya membujuk suaminya ke Singapura? Tentu saja untuk kembali menggoda Gilang. Merebut hatinya yang dahulu hanya tertuju pada Keyla.


Mobil Lamborghini terparkir, pengusaha batubara tersebut membukakan pintu mobil untuknya. Bergandengan tangan berdua, dengan perhiasan, aksesoris serta pakaian bermerek melekat di sekujur tubuh mereka.


Dia tidak melihatku...dia tidak melihatku... gumam Amel dalam hati, yang memang merupakan pengecut, menghindari segala masalah.


Keyla berjalan berlalu, tidak mengenali Amel lagi, rupa dan cara berpakaian gadis itu sudah jauh berbeda.


Manager butik sendiri yang melayani kedua customer yang terlihat berdompet tebal. Bahkan membuat para pegawainya kelabakan membatu Keyla menggati pakaian memperlakukannya layaknya tuan putri.


Tidak peduli? Itulah sifat Jeny dan Frea, mendapatkan perlakuan VIP harus merogoh saku lebih dalam bukan? Mungkin mirip dengan Amel yang jauh lebih lega.


Satu persatu pakaian dicoba mereka, pada ruang ganti. Tertawa bersama layaknya teman.


"Ini cocok untukmu, simpel dan elegan..." Frea yang telah memilih dan membayar gaunnya, menilai gaun yang dikenakan Amel.


"Benar!! Ini cocok...." Jeny yang juga sudah menentukan pilihannya, namun belum membayar memiliki pendapat serupa.


"Aku menyukainya," Amel tersenyum, hendak kembali menggati pakaiannya. Akan membawa gaun tersebut ke kasir.


"I... itu tidak begitu bagus, kami akan mengambilkan yang lebih..." kata-kata manager terhenti.


"Aku akan membayar dua kali lipat untuk gaun itu...." ucap Keyla melihat gaun nampak sempurna pada tubuh Amel.


Uang? Uang dapat bicara dan dipercaya seperti kata tuan Crab pada serial animasi Spongebob Squarepants. Wajah manager toko berubah arogan mendekati ketiga orang wanita tersebut.


"Gaun ini tidak dijual, cepat ganti sebelum kotor atau rusak...." ucapnya pada Amel.


"Kalau tidak dijual jangan dipajang!! Aku mempunyai beberapa toko kecil, memperlakukan orang kaya dan miskin sama rata. Tidak disangka butik elite seperti ini hanya menerima pelanggan kaya..." Frea mengenyitkan keningnya, berucap sinis.


"Aku akan melaporkan kalian pada kepolisian, dengan tuduhan pencemaran nama baik butik ini..." ucap sang manager yang emosi meninggikan intonasi suaranya.


Jeny tertunduk,"Turuti perintahnya dan ganti!!" ucapnya, mulai tersenyum. Amel menurut, menggati kembali pakaiannya.


Sementara Jeny yang telah menentukan pilihan gaunnya meletakkan kembali. Tidak jadi membeli pada butik tersebut.


"Kenapa ditaruh kembali!? Tidak sanggup bayar..." tawa terdengar dari Keyla yang menyaksikan semuanya.


"Lebih baik, memberi uang pada butik yang lebih bermartabat..." ucap Jeny.


Beberapa menit kemudian, Amel keluar dari ruang ganti yang sempit dan kecil. Berbeda dengan tempat Keyla menggati pakaian bagaikan panggung, dengan tirai krem di hadapannya. Serta sofa besar dibawanya, tempat suaminya yang merupakan pengusaha batubara duduk.


"Tidak sanggup beli harusnya sadar diri..." cibir Keyla kembali.


Tidak dapat menahan emosinya lagi, seperti kata Kenzo. Jika ingin menjadi antagonis sejati, harus mempunyai rasa percaya diri mengangkat kepalanya,"Wanita murahan!! Wanita yang membuka lebar-lebar pahanya untuk semua pria..." cibir Amel.


"Ka...kamu bilang apa!?" Keyla membentak, menitikan air matanya, berlari ke hadapan suami yang memberinya status istri simpanan. Pria yang memiliki postur tubuh tinggi besar.


"Wanita murahan, membuka pahanya, untuk setiap pria yang singgah..." ucap Amel tersenyum. Sementara Frea dan Jeny mati-matian menahan tawanya.


"Sayang, dia menghinaku..." tangisannya dengan nada manja.


Pria berperawakan tinggi besar itu mendekat, mencengkram pipi Amel. "Wajahmu cantik, sayangnya mulutmu busuk. Jika bersedia menemaniku sekali atau dua kali di ranjang, aku akan membelikanmu mobil atau gaun manapun yang kamu inginkan..." rayuannya menatap rupa Amel.


"Majikanku adalah antagonis. Dan kamu hanya pria tidak tau diri, mata keranjang..." ucap Amel berusaha tetap tenang sembari tersenyum.


Tidak menyadari sedari tadi Frea mengambil gambar pria itu melalui handphonenya. Bahkan merekam kata-kata sang manager butik serta pria tersebut.


Puh...


Pria itu meludahi wajah Amel, namun dengan cepat Amel menendang tepat pada mesin pencetak anaknya. Menciptakan rasa sakit yang amat sangat, semoga saja telurnya tidak pecah....


Hingga ketiga wanita aneh berhasil berjalan cepat berhasil melarikan diri, keluar dari butik.


***


Amel mencuci wajahnya berkali-kali pada wastafel toilet umum. Menghela napas kasar,"Aku benar-benar berani..." gumamnya, menatap cermin.


Sementara Frea dan Jeny kini duduk di bangku taman. Menunggu kedatangan Amel, membersihkan wajahnya.


Kenapa mereka tidak membela Amel, padahal kedua wanita itu sejatinya cukup mahir dalam bela diri? Ini lah alasannya.


"Sudah terkirim... Tomy akan memperlihatkannya pada Kenzo dan Farel..." Frea tersenyum menahan tawanya.


"Butik sebesar itu harus diambil alih, aku bertaruh Farel akan memberikannya padaku, untuk persiapan pembukaan EO baruku di Singapura..." gumam Jeny.


"Entahlah, mungkin..." Frea membuka bungkus keripik kentang, mengemil satu berdua dengan Jeny.


Menanti hal mengerikan yang akan terjadi pada butik pilih kasih dan pengusaha batubara sombong yang berani meludahi wajah Amel bahkan menawarkan uang padanya. Benar-benar berani menantang pacar Imposter.


Mereka menggelengkan kepalanya, heran dengan keberanian tiga orang itu, yang menganggu tiga orang wanita cantik polos.


***


Sementara itu di tempat lain, suasana jauh lebih hangat, entah apa yang mereka perbincangkan. Hingga sebuah pesan, serta foto dan rekaman suara masuk di handphone Tomy.


Raut wajah Tomy berubah, melirik ke arah Kenzo dan Farel.


Bersambung