
Hari ini pria itu melakukan misi terakhirnya, mendatangi villa milik Doom. Tujuannya? Menyampaikan pesan dari Victor, ada alasan tersendiri mengapa bukan Victor yang yang bertemu Doom.
Alasannya hanya satu, sebelum satu katapun terucap mereka akan saling menodongkan senjata. Kenapa harus pakai pena jika ada basoka... benar-benar dua orang yang menyusahkan baginya.
Perlahan dirinya melangkah, matanya menelisik mengamati setiap sudut villa dengan orang-orang bersenjata yang ada disana. Sumber dana mereka hanya masih mengandalkan bisnis obat-obatan terlarang, walaupun beberapa peneliti telah mengikuti Steven. Sedangkan pabrik senjata telah di ambil alih oleh sepenuhnya oleh keluarga Hudson.
Tidak semua orang setuju dengan restorasi yang dilakukan Steven. Mereka sebagian besar mengikuti Doom atau bergabung pada kelompok lain.
Kenzo menghela napasnya kala di hadapkan pada pintu besar ini lagi. Pintu dibukakan oleh seorang pengawal. Doom terlihat disana, tengah berciuman dengan Fransisca.
Wanita yang segera turun dari pangkuannya, menaikan dress dengan bagian dadanya yang sempat diturunkan.
"Kenapa supir ini disini!?" tanya Fransisca merasa terganggu.
"Dia Kenzo, pemilik W&G Company. Aku ingin bicara dengannya. Kamu keluar dulu, tunggu aku di kamar," ucapnya mengecup bibir Fransisca sekilas.
Wanita itu sedikit melirik ke arah Kenzo, wajahnya tersenyum berjalan meninggalkan ruangan. Ayah dari Febria semuda ini? Suatu kejutan baginya.
Pintu tertutup, Doom segera berjalan duduk di sofa. Berhadapan dengan Kenzo.
"Apa maksud kedatanganmu kemari? Apa tertarik ingin ikut bergabung mendanaiku?" tanyanya.
Kenzo menggeleng,"Aku ingin berbicara atas nama Victor. Victor menyerah kamulah ketua Dark Wild saat ini..."
Suara tawa terdengar, sejenak tawanya terhenti,"Jangan mencoba menipuku, aku..." kata-katanya disela.
"Aku adalah ayah angkat Steven. Putri kandungku menyukainya, tapi aku tidak ingin memiliki menantu yang terlibat dengan mafia. Karena itu Steven merestorasi bisnisnya, selain itu Eden juga menikahi putri angkatku baru-baru ini. Aku pastikan Victor tidak akan mengganggumu dan Dark Wild milikmu lagi," ucapnya menghela napas kasar.
"Kamu dapat mengendalikan Victor tidak mungkin!?" cibirnya, tertawa kecil tidak percaya.
"Salah satu menantuku berprofesi sebagai seorang jaksa. Tentunya aku tidak ingin anggota keluargaku bertentangan. Selain itu jika Victor atau anak-anaknya kembali pada Dark Wild dan mengecewakan putriku. Maka aku sendiri yang akan menginjak leher mereka..." jawabnya.
Doom terdiam sejenak, pria di hadapannya memiliki banyak relasi dan anak-anaknya yang tidak bisa dianggap remeh. Mungkin menghentikan Victor dengan kemampuannya sekarang tidak akan sulit baginya.
"Aku percaya padamu, tapi Steven sudah mati di tangan kekasihnya. Kamu seharusnya sudah mengetahuinya kan?" Doom mulai meraih cerutu dan korek apinya.
"Steven masih hidup, dia sedang sakit saat ini. Tentang Viona, terserah kamu ingin percaya atau tidak. Victor mencintainya hingga akhir..." jawab Kenzo mulai bangkit hendak pergi, namun sejenak langkahnya terhenti.
Pria itu sedikit berbalik kemudian berucap,"Bedakan antara dendam dan ambisi. Anak-anak Victor mati karenamu, menggunakan Viona sebagai alasan? Keinginan terbesarmu menjadi pemimpin Dark Wild kan?"
"Cepat atau terlambat satu perbuatan akan menuai hasil. Seperti Victor yang kehilangan istri dan anak-anaknya. Anak yang tersisa? Eden mengalami cacat permanen, sedangkan Steven menderita gagal jantung. Tidak ada yang tersisa dari hidupnya, tapi dia bersedia memperbaiki,"
"Saranku hanya satu, perbaiki segalanya, hidup tenang sebagai orang biasa," lanjutnya.
"Dan meninggalkan Dark Wild? Aku tidak bodoh..." ucapnya mengeluarkan asap dari mulutnya.
"Terserah padamu... itu adalah hidupmu..." Kenzo tersenyum, melangkah pergi, merasa tidak ada yang perlu disampaikannya lagi.
***
Bagaikan menuduh seorang pencuri sebagai pembunuh, lalu membenarkan tindakan untuk beramai-ramai memukulinya hingga mati. Itu tindakan yang salah, tangan seseorang yang kotor, tidak selalu melakukan perbuatan kotor.
Hingga yang tersisa sebuah penyesalan setelahnya...
Beberapa bulan berlalu, semenjak Dark Wild jatuh ke tangan Doom. Kelompok Dragon telah berdiri kembali dengan pimpinannya yang baru. Berambisi membalaskan dendam mereka, atas perangkap yang dulu dipasang Doom ketika hendak membunuh Victor dan beberapa anggota mereka. Sekaligus karena dua kelompok yang memang sering bersinggungan dari dahulu.
Doom saat tengah memakai yukata pria yang cukup panjang, menghubungi seseorang, dengan segelas anggur seharga ratusan ribu dolar per botolnya di tangannya, wajahnya tersenyum menatap pemandangan kolam renang di villa miliknya.
Hingga akhirnya panggilannya tersambung.
"Ini siapa?" jawab seseorang dari seberang sana.
"Ini aku Doom, apa kamu dulu benar-benar mencintai Viona?" tanyanya to the points.
"Kamu fikir kenapa aku tidak menikah lagi hingga sekarang!?" geramnya berusaha menahan emosi ingin mengetahui alasan sebenarnya Doom menghubunginya.
Doom tertawa kecil,"Lalu kenapa tidak mengobatinya!? Malah membawa wanita muda ke kamar kalian!! Munafik!!" maki Doom dengan mata memerah, berusaha menahan air mata di pelupuk matanya.
"Itu permintaan Viona, dia tidak dapat menjalani operasi dan sudah jenuh dengan kemoterapi," jawab Victor yang tengah berada di depan ruang rawat putranya.
"Aku tidak akan minta maaf, karena tidak memiliki kesalahan padamu. Tapi aku memiliki kesalahan pada Viona, karena itu setelah ini aku akan meminta maaf padanya," Doom masih tersenyum, meminum seteguk anggurnya.
"Terserah padamu saja, egomu selalu saja terlalu tinggi..." cibir Victor.
"Aku hanya ingin mengatakannya padamu, kita dulu adalah sahabat. Walaupun kamu menolak, aku ingin kembali menjadi sahabatmu," tidak menunggu jawaban panggilan terakhirnya dimatikan oleh Doom. Tangannya lemas, berbalik kini memunggungi kolam renang.
Belasan senjata api ada dihadapannya. Wajahnya tersenyum, menghabiskan sisa wine di gelasnya.
"Dengan kamatianmu, maka Dark Wild akan hancur..." orang dari kelompok Dragon tersenyum. Bersamaan dengan belasan peluru menghujam tubuh Doom.
Para pengawalnya di luar sana telah mati. Dirinya sudah mengetahui, itulah panggilan terakhir yang dapat dilakukannya. Tubuh pria yang terjatuh ke kolam renang di belakangnya, matanya masih terbuka. Melihat air kolam renang yang jernih memerah akibat darahnya sendiri.
Pria itu masih saja berusaha tersenyum, mengingat segalanya. Kala dirinya diam-diam mencintai Viona, kala Viona lebih memilih sahabatnya Victor.
Pilihanmu tidak pernah salah, setelah kematianmu entah berapa wanita yang pernah aku tiduri. Sedangkan Victor? Dia hanya mencintaimu hingga akhir...
Ini sudah berakhir baginya, bahkan tubuhnya masih saja ditembaki di dalam kolam renang. Napasnya telah menghilang, air yang bening benar-benar memerah di penuhi darah segar dari tubuhnya.
***
Jemari tangan seorang wanita gemetar, mendengar suara tembakan berkali-kali. Masih memakai pakaian tipis menggoda, hendak memuaskan Doom. Sedikit celah di lemari ganti dekat kolam renang diintipnya. Kolam itu telah dipenuhi darah segar, samar-samar seseorang dengan pakaian terakhir yang dipakai Doom terlihat, mengapung tidak bernyawa.
Ketakutan? Tentu saja, tidak ingin mati. Untuk pertama kalinya, Fransisca gemetar menangis, tangannya menutup mulutnya sendiri. Agar tangisannya tidak terdengar, berharap dirinya tidak ditemukan. Saat itulah manusia-manusia yang terbuai kehidupan nyaman dengan cara mudah, mengingat-Nya. Berdoa untuk keselamatannya sendiri. Apa doa yang tulus? Atau karena hanya takut akan kematian, entahlah...
Bersambung