My Kenzo

My Kenzo
Akhir Semuanya



Tidak akan mengeluh lagi? Bukan hanya itu, Amel bagaikan menghindarinya. Bertemu di rumah yang Keyla tempati pun, Amel akan terdiam bagaikan manekin, hanya menjawab seperlunya saja. Mulut cerewetnya penuh tawa telah menghilang.


Gilang hanya dapat melirik dari jauh kepulangannya. Tanpa ada niatan untuk bicara, memendam rasa sakitnya, setidaknya dapat melihat Amel setiap hari, sahabat yang tanpa disadarinya memberikannya rasa kasih yang tulus, tanpa mengharapkan imbalan.


Hingga hari itu tiba juga, hari persalinan Marina. Bayi perempuan yang manis, bernama Sany Ameliani dilahirkannya. Penanda akhir segalanya, Amel harus sepenuhnya menyerah, membesarkan putri asuhnya di kota lain, agar aib seorang Marina tidak ada yang mengetahuinya.


Malam semakin larut, hari itu Keyla menginginkan untuk mulai tinggal di kediaman utama. Sebagai calon istri seorang Gilang.


"Tuan..." ucap Amel tertunduk, membawa sebuah paperbag.


"Kenapa tidak memberikannya sendiri saja? Kalian cukup dekat..." Leon menghela napas kasar.


"Dia tidak akan suka jika aku memberikannya secara langsung. Lagipula, belakangan ini kami jarang bicara. Saya sudah senang melihat dia tersenyum, mau memakannya..." ucap Amel, memberikan paperbag yang dibawanya pada Leon.


Isinya? Hanya beberapa kotak kue kering buatan rumah, seperti biasanya diletakkan Leon dalam kamar putranya.


Pria paruh baya itu meraihnya,"Kamu menyukai Gilang? Jika menyukai katakan saja..."


Wanita bertubuh gempal itu menggeleng, sembari tersenyum, "Jika mengatakannya, hanya akan terasa canggung. Menggangu kebahagiaannya..."


"Dimanapun, apapun yang dilakukannya, asalkan dia bahagia. Aku sudah sudah cukup senang..." wanita gemuk itu menunduk pamit, berjalan pergi meninggalkan Leon.


'Dimanapun, apapun yang kamu lakukan, asalkan kamu bahagia. Aku sudah cukup senang...'


Kata-kata terakhir yang didengar Leon saat wanita berambut pendek sebahu dengan poni di dahinya, memakaikannya dasi. Kata-kata penuh senyuman saat dirinya harus pergi meninggalkan almarhum istrinya dalam perjalanan bisnis.


Sudah cukup senang? Wajah itu berlumuran darah, mengalami kecelakaan mobil. Saat Leon pulang dari perjalanan bisnis, tubuh itu telah bersih, dimakamkan meninggalkannya dengan putra mereka yang berusia tiga tahun.


"Sayang..." ucapnya seolah berbicara pada almarhum istrinya,"Gilang, akan melewatkan kesempatan sekali seumur hidupnya..." Leon, melepaskan kacamatanya, menyeka air matanya. Menyadari perasaan tulus yang dimiliki Amel pada putranya. Mungkin setulus almarhum istrinya pada dirinya.


Menatap kepergian seorang gadis gemuk yang kembali duduk di bangku taman, menunggu Keyla pulang selaku asistennya. Wanita gemuk, yang dibayar Gilang, dengan bayaran tidak seberapa untuk mengurus keperluan wanita rupawan yang dipujanya.


Mungkin cukup sulit untukmu melihatku sedikit saja. Memendam semuanya, menyaksikan kisah cinta yang aku tau akhirnya akan seperti apa...


Apa begitu menyakitkan? Benar ini menyakitkan, tapi dengan bodohnya aku masih ingin melihatmu. Walaupun, melihatmu bahagia dengan orang lain...


Wanita dengan tubuh indah, wajah yang tidak ada apa-apanya dibandingkan denganku.


Mungkin cinta dimatamu ada padanya, bukan ada padaku yang hanya tertunduk melihatmu dari jauh. Hanya menunggumu kesepian untuk sekedar bicara dan tertawa menghiburmu...


Tidak akan lama, aku berjanji...


Hingga, aku sudah siap untuk pergi, sebagai gajah buruk rupa. Gajah besar yang tidak pernah terlihat di matamu...


***


Beberapa minggu kemudian...


"Kamu yakin?" Marina mengenyitkan keningnya, seusai menandatangani surat kesepakatan.


Surat kesepakatan? Hanya sementara, untuk melegalkan dirinya membawa bayi mungil dalam pelukannya. Amel masih mencari informasi, prosedur untuk mengangkat Sany sebagai putrinya.


Wanita bertubuh gemuk itu mengangguk penuh keyakinan, tersenyum pada bayi dalam dekapannya.


"Kasihan jika bayi semanis ini harus berakhir di panti asuhan. Sany sayang, bunda akan membesarkanmu dengan baik..." ucapnya penuh semangat. Setelah Marina benar-benar melewati periode nifas-nya.


Amel telah siap mengemasi barang-barangnya, menitipkan Sany pada Marina yang telah dipindahkannya pada tempat kost lain. Sementara dirinya menemui Gilang untuk berpamitan, sekaligus mengundurkan diri dari pekerjaannya.


Berat memang rasanya, namun ini harus dilakukan. Gemuk, jelek, tidak memiliki sesuatu yang dibanggakan, bahkan saat ini menjadi orang tua tunggal dari seorang bayi mungil. Tidak ada harapan lagi untuknya...


***


"Ini, surat pengunduran diriku," wanita gemuk itu tersenyum.


"Ndut, kenapa kamu mengundurkan diri? Apa karena gaji atau pekerjaan? Jika tidak suka akan aku carikan pekerjaan baru di perusahaan keluargaku..." ucapnya memegang jemari tangan sahabat, yang belakangan ini jarang bicara padanya.


Wanita bertubuh gempal itu masih setia tersenyum,"Tidak, adikku ingin kuliah di luar kota. Aku tidak bisa membiarkannya tinggal sendiri, jadi aku mencari pekerjaan disana," alasannya.


"Tapi..." Gilang mengenyitkan keningnya.


"Kapan-kapan kamu bisa menghubungiku," hanya itu kata-kata terakhir yang diucapkan sahabatnya.


Sahabat? Tanpa disadari dua tahun terakhir hanya wanita gemuk itu yang menjadi teman bicaranya. Orang yang hanya mengangguk dengan semua kata-katanya, tersenyum, mendengarkan semua celotehannya.


Namun gajah gemuk itu telah pergi, memalingkan wajah darinya.


"Ndut," panggilan ejekannya, berusaha menghentikan langkah Amel.


"Apa?" tanya wanita itu dengan langkah yang terhenti, tanpa menoleh sedikitpun.


"Ganti wajahmu, agar mendapatkan pacar, kamu terlalu jelek..." entah kenapa malah kata-kata menusuk yang keluar dari mulutnya. Mata Gilang memerah, menahan rasa sakit yang tiba-tiba menjalar dalam hatinya.


"Emm..." hanya itu jawaban yang terdengar dari mulut sang wanita, tidak melihat ke belakang sama sekali. Enggan menatap wajah Gilang untuk yang terakhir kalinya, berjalan hingga depan gerbang rumah besar. Menaiki taksi online yang dipesannya menuju tempat tinggal Marina yang baru, guna menjemput Sany, membawanya pergi bersamanya.


Gilang mulai menitikkan air matanya, perpisahan yang menyakitkan dengan sahabatnya. Tapi apa benar hanya sahabat? Ini terasa terlalu menyakitkan baginya.


Leon menghela napas kasar, menatap dari balkon kamar yang ditempati Gilang. Sebuah paperbag terakhir yang dititipkan masih di genggaman tangannya.


Sebuah kesempatan yang dilewati putranya...


Hal yang terjadi setelahnya? Gilang melangkah naik ke lantai dua tempat kamarnya berada. Berpapasan dengan sang ayah.


"Amel hanya menitipkan makanan untukmu pada ayah. Sebagai imbalannya, ayah memintanya untuk menjagamu agar tidak melakukan hubungan di luar nikah dengan Keyla..." ucapnya menepuk bahu putra tunggalnya, memberikan paperbag secara langsung pada Gilang, kembali berjalan menuju lantai satu.


Sementara Gilang tertegun, dirinya menuduh Amel sengaja memisahkannya dengan Keyla hanya karena uang? Apa karena itu Amel membencinya, dan meninggalkannya?


Banyak fikiran berkecamuk dalam dirinya. Hingga pada akhirnya melangkah menuju kamarnya. Sakelar lampu tidak ditekannya membiarkan kamar gelap gulita. Hanya cahaya bulan dari balkon yang memasukinya...


"Ndut, kenapa kamu jadi mudah tersinggung? Maaf..." ucapnya tertunduk menitikkan air matanya. Hingga pandangannya teralih mencoba menghubungi nomor Amel. Namun tidak dapat tersambung sama sekali.


'Nomor yang anda hubungi tidak aktif, atau berada di luar jangkauan. Mohon hubungi beberapa menit lagi... The number your calling is not active or...'


Telpon diputuskannya, mencoba menghubungi lagi namun memang hanya operator yang menjawab. Pada akhirnya Gilang mengepalkan tangannya, kembali turun, meraih kunci mobilnya tidak memperdulikan apapun lagi, dalam keadaan kacau.


Melajukan mobil sportnya, menyalip beberapa kendaraan, dalam kondisi emosional. Segera turun di depan kost-kostan putri tempat sahabatnya tinggal.


Namun, kamar itu telah terkunci, mengetuk-ngetuk pun tidak ada gunanya. Amel benar-benar telah menghilang, tanpa sempat dirinya meminta maaf, atau memohon padanya untuk tetap tinggal...


***


Beberapa bulan kemudian...


Salah satu rumah sakit internasional yang terletak di kota lain...


"Geledah semua tempat!!" bentak seorang pria berusia diatas 35 tahun.


Seisi rumah sakit benar-benar digeledah tidak menyisakan satu tempat pun.


Tidak ada yang menyadari, seorang pemuda tidur dengan baju pasien beralaskan koran, wajah dan tubuhnya juga berselimutkan koran. Di area dekat rumah sakit, tepatnya di atas trotoar. Bagaikan korban tabrak lari. Angin menyingkapkan koran yang menutupi wajahnya. Pemuda rupawan terlihat, tersenyum berusaha kembali tertidur, sembari menutup wajahnya dengan koran yang sempat tersingkap.


Bersambung