My Kenzo

My Kenzo
Musim Ketiga : Tes Kesehatan



Jantung Febria berdegup cepat, dirinya benar-benar ketakutan kali ini. Akan dilecehkan oleh pemuda yang baru masuk. Dilihat dari tempatnya ini adalah kamar hotel, apa dirinya akan dipaksa berhubungan layaknya suami-istri?


Meronta-ronta bahkan membuat gaun laknat yang menutupi tubuhnya tersingkap. Pemuda yang tetap diam dengan wajah dinginnya. Mulai menghubungi seseorang menggunakan bahasa Prancis.


Pemuda itu kembali duduk, belum juga beranjak ke tempat tidur. Diam di sofa seorang diri, tatapan mata tajam yang bagaikan dapat menyihir wanita manapun.


Steven, tolong aku ... gumamnya dalam hati, mengingat tempat berlindung terdekatnya di masa kecil.


Perlahan pemuda itu bangkit, membuka jasnya, berjalan mendekati tempat tidur. Ikatan mulut Febria dilepaskannya, membuat gadis itu dapat bicara dengan jelas, namun tetap kesulitan bergerak,"Br*ngsek!! Aku akan mengatakan ini pada ayahku!! Ayahku adalah Kenzo pemilik W&G Company, kakak-kakakku akan menghancurkanmu!!" teriaknya.


Sementara Steven menipiskan bibir menahan tawanya. Semakin tertarik untuk menggoda gadis di hadapannya,"Ayahmu Kenzo? Sayangnya aku anggota mafia..." ucapnya tersenyum.


Sudah aku duga, aku akan mati, dilecehkan olehnya, kemudian digiliri teman-temannya. Berakhir di buang dalam keadaan sudah tidak bernyawa... batinnya, dengan sekujur tubuh yang gemetar.


"Le... lepas, ayahku akan memberikan tebusan berapapun yang kamu inginkan," ucapnya gelagapan.


"Aku tidak ingin tebusan," mata Steven menatap wajah Febria,"Kamu melupakanku?"


"Aku tidak kenal, pria mesum... salah! Tuan baik hati, lepaskan aku ya? Aku dapat bekerja padamu sebagai profesional hacker..." pintanya memelas, memasang wajah selimut mungkin.


"Aku akan melepaskanmu tapi setelah aku puas," jawaban dari bibir Steven membuatnya bertambah ketakutan.


Hingga puas? Dalam novel, pria dari kalangan mafia akan cenderung berbuat kekerasan ketika berhubungan, bahkan melakukannya berkali-kali hingga si wanita pingsan. Apa orang ini juga? Ini pengalaman pertama seorang Febria. Kenapa jadi seperti ini?


"Tuan aku mohon, lepaskan gadis imut sepertiku ya?" pintanya memasang pesona yang lebih mengundang rasa iba lagi.


Steven menahan tawanya, memegangi tengkuk Febria, wanita yang awalnya melawan sekuat tenaganya. Berakhir memejamkan mata, menikmati aroma mint yang dari mulut yang terus bergerak menggoda bibirnya. Perlahan lidahnya masuk, menggoda Febria untuk membalas.


Tidak menjijikkan, namun terasa nyaman, kala tumbuh pria ini ada diatas tubuhnya. Pada akhirnya napas itu menyapu wajahnya,"Apa kamu masih belum mengingatku?" tanyanya.


Febria tidak menjawab jantungnya berdegup cepat, menatap wajah pemuda yang ada diatasnya.


Apa dia akan melakukannya? Apa rasanya sakit? Apa aku akan didekap kemudian dipaksa untuk melayaninya? Tapi bibir itu.... batinnya ketakutan. Konsentrasi? Tidak, dirinya bahkan tidak mendengar dengan jelas kata-kata dari sang pemuda. Febria hanya menelan ludahnya, membayangkan keperawanannya dipermainkan pemuda rupawan yang ada diatasnya. Bagaikan video 21+ yang pernah ditontonnya.


"Sudah, besok akan aku jelaskan, tidurlah!" ucapnya mulai melepaskan ikatan tangan dan kaki Febria.


Bersamaan dengan itu Febria melawan, hendak menendang titik terlemah dari sang pemuda. Namun dengan sigap pemuda itu mengunci pergerakannya. Bahkan memegangi kedua tangan Febria diatas kepala, membuatnya tidak bisa bergerak sama sekali.


Posisi yang bagaikan, jika Steven menginginkannya, tinggal mencumbui paksa tubuhnya. Melepaskan pakaiannya, dan mulai merenggut mahkotanya.


Namun, pemuda itu hanya tersenyum."Ingin menendang pisangku? Ini alat untuk membuat anak-anak kita nanti..." bisiknya, membuat Febria berdidik ngeri.


Namun lehernya tiba-tiba dicium dengan kuat hingga meninggalkan bekas."Akh..." suara laknat lolos dari bibir Febria.


"Aku gemas, makanya menurut! Jangan menguji kesabaranku, di luar ada penjaga. Jika mendengar teriakanku mereka akan menembak tepat di jantung dan kepalamu..." ucapnya melepaskan tangan Febria.


"Jangan..." ucapnya meringkuk gemetar.


Steven tersenyum, kemudian memeluknya, menghapus air matanya."Malam ini aku ingin bersenang-senang denganmu, berbaringlah..." perintahnya.


Febria hanya berbaring pasrah tidak ingin nyawanya melayang. Memejamkan matanya, menunggu dengan ketakutan mahkota yang dijaganya akan dipermainkan kemudian direnggut.


Tapi aneh, tubuhnya tiba-tiba diselimuti. Apa pemuda ini akan melakukannya di dalam selimut? Entahlah...


Perlahan matanya terpejam, tidak dapat dibuka olehnya. Pemuda ini bagaikan benar-benar mengetahui cara membuat dirinya nyaman. Menidurkannya hanya dalam waktu 15 menit.


Anak rambut yang menutupi wajah Febria disingkirkannya. Steven mengecup keningnya,"Ternyata aku benar-benar hanya berakhir sebagai seorang kakak yang menghilang di masa kecilmu. Steven yang kamu lupakan..." ucapnya, memeluk tubuh Febria dari belakang, tertidur lelap bersamanya.


***


Hari sudah mulai siang, gadis itu tersenyum, tidurnya benar-benar nyenyak semalam. Matanya mulai terbuka, meloading otaknya yang baru direstart. Hingga akhirnya tiba-tiba bangkit. Duduk, menyadari tempat itu bukan apartemennya.


"Semalam bukan mimpi? Aku diculik oleh anggota mafia?" gumamnya, mengamati pakaiannya. Setelan piama pria yang tertutup, berbeda dengan pakaian laknat yang semalam dikenakannya. Bahkan ada pakaian ganti terlipat rapi diatas meja. Dengan sebuah catatan kecil.


'Maaf, tidak dapat mengabulkan imajinasi liarmu. Setelah kita menikah, aku akan memuaskanmu hingga bangunpun akan sulit. Memberi benih-benih kecil pada rahimmu, tapi lain kali saja...'


"Br*ngsek!!" Febria membuang catatan dengan isi tidak senonoh itu.


Kemudian mulai bangkit, berharap pangkal pahanya tidak terasa perih atau menyakitkan. Tapi dirinya benar-benar dapat bergerak normal, pertanda memang tidak terjadi apa-apa. Selimut disingkapnya, berharap tidak ada bercak darah. Dan hasilnya nihil.


Cemas begitulah Febria saat ini, mengamati handphonenya yang terletak di atas baju ganti. Mulai menghubungi temannya yang berprofesi sebagai dokter kandungan.


"Halo, Dwi, aku ingin buat janji, tes kesehatan," ucapnya pada orang di seberang sana, sembari berjalan ke kamar mandi,"Tepatnya tes keperawanan,"


***


Beberapa jam berlalu, setelah dirinya menunggu hasil tes kesehatan. Bukan hanya tes keperawanan secara fisik, namun juga USG kandungan, mamastikan tidak ada janin disana. Satu lagi yang tidak tertinggal, tes darah memastikan dirinya tidak tertular penyakit menular dari pria yang ditemuinya semalam.


Dan hasilnya, bahkan dirinya masih perawan. Pemuda itu benar-benar tidak melakukan apapun padanya.


"Kenapa kamu tiba-tiba meminta di tes?" tanya teman Febria menatap curiga.


"Ti... tidak hanya ingin memastikannya sa...saja," jawabnya gugup,"Aku pulang dulu,"


Dengan cepat Febria berjalan, melarikan diri, setelah mengurus administrasi.


Berjalan hingga ke tempat parkir rumah sakit, memastikan tidak ada satu orangpun di sana."Aku masih perawan!!" teriaknya sembari melompat, memeluk hasil tes, rumah sakit.


Kejadian itu masih terbayang hingga kini, sentuhan bibir dari pria berambut cokelat, dengan mata hitamnya. Saat-saat paling mendebarkan di hidupnya, berusaha mempertahankan hidup dan mahkotanya.


Sejenak Febria menghela napasnya,"Andai Steven pulang, aku akan membujuk ibu agar dapat menikah dengannya. Tidak ada pria yang lebih baik darinya..." gumamnya, merindukan remaja yang menemani masa kecilnya. Pacar sekaligus calon suami paling ideal menurutnya.


***


Sementara itu, di tempat lain...


"Kamu tidak melakukannya!?" Eden mengepalkan tangannya kesal.


"Tidak, karena aku mencintainya... sudah ada pria lain yang lebih baik dariku, mendampinginya..."jawabnya tersenyum.


"Bocah tidak tau diuntung!! Kamu ingin keturunan keluarga kita berakhir!? Aku akan membunuhmu saja! Jika tidak bisa menghasilkan belasan bayi!" bentak Eden, menarik rambut adiknya.


"Ti... tidak, kenapa tidak kakak saja yang kawin!!" teriakan Steven, berusaha melepaskan tangan Eden.


Bersambung