My Kenzo

My Kenzo
Musim Kedua : 80 juta



Pemuda itu melangkah masuk menuju salah satu bangsal rumah sakit, menatap wajah ibunya yang sejatinya segar bugar.


Seorang dokter memeriksa keadaannya, Damian tertunduk berusaha agar tidak tertawa atau tersenyum.


"Ibu..." ucapnya lirih, berjalan menggenggam jemari tangan Vanya.


"Ibu tidak apa-apa..." Vanya meraba wajah pemuda yang 7 tahun ini dianggapnya seperti putranya sendiri, dengan selang infus di pergelangan tangannya, entah jarumnya tertancap atau tidak.


"Ba... bagaimana keadaan ibu saya?" tanyanya menatap sang pria berpakaian dokter, menyeka air matanya.


"Ibu anda mengalami gagal ginjal, juga mengalami komplikasi di hatinya. Perlu pengobatan yang panjang, cuci darah berkala serta obat-obatan khusus untuk organ hatinya. Permisi..." jelasnya, menyuntikkan sesuatu pada infus dan mengatur kecepatan laju cairannya, kemudian melangkah keluar.


Damian tertunduk mengeluarkan air matanya, tidak kuasa menahan tawanya. Sebelumnya, Damian mengira dokter palsu yang akan datang mirip seperti dokter sinetron kejar tayang, namun ternyata bagaikan penipu ulung, bukan artis yang berperan sebagai dokter lagi.


Entah darimana Amel mendapatkan pria berkacamata mengeluarkan aura kedokteran yang menyengat ini.


"Ibu... ibu pasti akan sembuh kan?" ucap Dava masih duduk di kursi samping tempat tidur. Vanya kali ini hanya mengangguk, terlihat lemah tidak berdaya.


Hingga Damian menepuk bahu Dava,"Ibumu harus cuci darah secara rutin. Ayah tidak..."


"Ayah tenang saja, aku masih punya tabungan yang cukup," ucapnya, menghela napas kasar.


Aku lupa anak yang terlalu berbakti ini, mempunyai tabungan untuk membangun rumah. Tidak, aku tidak boleh menyerah, jika anak dan istrinya tidak sabaran menganggap kami menjauhkan Kenzo dari mereka. Kenzo mungkin akan diambil secara paksa... gumam Damian dalam hati.


"Ta...tapi uang tabunganmu, tidak sengaja ayah pinjamkan pada teman ayah. Anaknya harus dioperasi, tiga hari yang lalu..." alasan sempurna, tanpa celah. Damian memejamkan matanya, takut dengan amukan Dava, mengingat jumlah uang yang tidak sedikit mencapai puluhan juta.


Amukan? Terkadang dirinya lupa yang ada di hadapannya saat ini bukanlah Dava putra kandungnya. Namun Kenzo yang merupakan putra angkatnya, diberi nama Dava yang sejatinya telah tiada.


"Tidak apa-apa, aku akan berusaha lebih banyak lagi...aku akan menjaga ibu, ayah pulanglah dan beristirahat dulu..." ucapnya masih menggenggam jemari tangan Vanya.


Air mata Damian kali ini benar-benar mengalir karena ketulusan pemuda itu. Tidak ingin kehilangannya, anak berbakti yang sejatinya bukan miliknya.


Siapapun orang tua kandungmu yang telah tiada, aku berterimakasih pada mereka, menitipkan putra mereka pada kami... untuk menemani masa tua kami yang sepi... gumamnya mengepalkan tangan, menghapus air matanya, tidak mendengar satupun makian dari mulut Kenzo yang kini diberinya nama Dava.


Uang tabunganku selama tujuh tahun... tidak ada yang menyadari pemuda materialistis itu memang tidak marah, hanya menangis dalam hatinya.


***


Malam menjelang, Vanya diijinkan pulang entah kenapa. Ditemani Dava berjalan menelusuri gang menuju rumah mereka, namun peristiwa yang lebih buruk terlihat.


Dua orang berbadan tegap berada disana melempar beberapa barang,"Bayar hutangmu!!" bentak salah satu orang yang sejatinya pengawal pribadi Kenzo. Kevin, itulah namanya, mantan tentara bayaran yang ikut dengannya di kapal expedisi, misi terakhir tuannya.


"Ada apa ini?" Dava melangkah cepat, menghalangi kedua orang itu agar tidak menyentuh ayahnya.


Tuan, anda masih hidup... ternyata memang benar orang jahat nyawanya lebih dari satu... gumam Kevin dalam hatinya menahan perasaan harunya masih berpura-pura datar, sebagai dept collector yang menagih hutang pada Damian.


"Kami kemari untuk menagih hutang, pak Aji melarikan diri. Damian menggunakan dirinya sebagai jaminan untuk meminjam uang..." ucap Kevin, sementara pengawal lain yang didampingi, hanya terdiam mengamati situasi.


"Be ... benar ayah?" tanya Dava pada Damian. Dijawab dengan anggukan oleh pria paruh baya itu.


Hutang? Sekarang hutang? Bagaimana aku akan melunasinya nanti... tangan Dava gemetar, masih berusaha tersenyum.


"Berapa?" tanyanya lagi.


"80...80 juta...?" Dava kembali memastikan, sedangkan Damian hanya kembali mengangguk.


Kenapa 80 juta? Bahkan harga setelah jas di lemari tuanku mencapai ratusan juta... tuan tidak akan merasa putus asa dengan 80 juta, hingga kembali pada nyonya... anggapan Kevin yang melupakan, Kenzo tidak memiliki memori tentang masa lalunya.


"Mampus! Aku menabung 7 tahun saja hanya mempunyai 76 juta, ini 80...?" Dava menghela napas kasar bingung harus bagaimana, wajahnya tertunduk.


Tuan? Itu tidak sampai satu tahun gajiku, anda bingung dengan uang 80 juta? Aku lupa ingatanmu sebagai antagonis menghilang entah kemana... Kevin menghela napas kasar, tidak tega rasanya berbohong. Jika bisa dirinya ingin langsung membawa Kenzo, mengatakan identitas aslinya.


Namun, seperti kata Amel, lebih baik pulih perlahan, karena tekanan mental sebelum Kenzo jatuh ke laut cukup besar. Tidak ingin kondisi psikologisnya memburuk, atau gangguan kepribadiannya kembali.


"Lusa, kami ingin hutang itu sudah lunas," ucap Kevin, mengancam Dava menggunakan pisaunya.


Lusa nyonya ingin suaminya sudah berada di ranjangnya... batinnya.


"Ingat itu," Kevin tersenyum, melempar sebuah pisau sengaja di arahkannya beberapa sentimeter dari wajah Dava. Membuat pemuda itu gemetar ketakutan dengan wajah pucat pasi.


Kapan lagi, aku bisa membully majikan sendiri... gumam Kevin dalam hatinya, melangkah pergi, menahan tawanya.


"Dava kamu tidak apa-apa?" tanya Damian pada putranya.


"Dua hari, aku harus berusaha mencarinya..." ucapnya memasang wajah tersenyum dipaksakan, berjalan meninggalkan rumah guna mencari pinjaman entah kemana.


"Vanya apa kita keterlaluan?" Damian menghela napas kasar merasa iba.


"Tidak, ini keinginan istrinya sendiri, kita yang bahkan tidak memiliki hubungan darah bisa berbuat apa? Menyatukan keluarga mereka yang terpenting saat ini..." jawab Vanya ikut menghela napasnya.


Dava saat ini duduk di pos ronda seorang diri, dari mana dirinya mendapatkan uang 80 juta dalam waktu dua hari. Ngepet? Pelihara tuyul? Pesugihan? Tidak, itu jalan sesat...


Hingga jalan yang lebih sesat lagi akan ditemuinya esok hari...


***


Sedangkan di tempat lain, seorang wanita memakai yukata, kuku-kukunya tengah dirawat saat ini. Untuk pertama kalinya dirinya perawatan total, cantik alami? Tentu saja, bahkan selama ini tanpa perawatan tetap menyaingi kecantikan selebriti.


Namun besok berbeda, suaminya akan pulang setelah 7 tahun menghukumnya, dengan pergi meninggalkannya sendiri. Bunga Hydragea menghiasi vas dikamarnya.


Kuku Amel tengah dihias oleh seorang profesional yang dipanggilnya. Di telinganya earphone masih menempel, berbicara dengan cepat menggunakan bahasa asing dengan salah satu pemegang saham W&G Company.


7 tahun sudah, dirinya berusaha tegar, memajukan perusahaan milik Kenzo hanya itu yang dilakukannya. Berharap suaminya tidak marah lagi padanya, tidak pergi darinya, menjadi wanita yang dapat dibanggakan Kenzo kelak.


Hingga kuku-kukunya sudah selesai dihias, sambungan telepon telah diputuskan pemegang saham perusahaan suaminya.


Namun, phoncell itu kembali berbunyi, terlihat nomor asing yang masuk di layar phonecellnya. Perlahan Amel mengangkatnya.


"Hallo, ini siapa?" tanyanya.


"Aku Kristin..." jawab seorang wanita di seberang sana.


"Kristin?" Amel mencoba mengingat nama itu, kemudian tersenyum.


Bersambung