
Tidak ada yang terjadi setelahnya, semua seperti biasanya. Dua orang itu saling berbagi bekal makanan, duduk di bawah pohon beringin yang rindang.
Ingin memisahkan? Itulah niat dari dua orang remaja. Namun semua niat itu hanya dapat disimpan dalam hatinya. Membawa sebotol minuman buah yang dibelinya di kantin.
Duduk berdua di kursi taman, memakan kentang goreng mengamati pemandangan itu dari jauh.
"Kenapa kamu ikut duduk di kursi paling belakang? Grisella akan segera menggantikanmu jika kamu terus berbicara bersama kami," Caca menghela napas kasar meminum minumannya.
"Gitar yang kamu miliki asli bukan? Karena semakin banyak yang menawar. Karena itu juga aku memintamu menghapus postingan tentang gitar itu, sebelum viral. Tidak disangka selera Ferrell adalah si nomor dua..." suara tawa Lily terdengar.
"Ka...kamu tau tentang Ferrell?" tanya Caca.
Lily mengangguk,"Aku mengikuti kalian, bahkan menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri Glory berciuman,"
Gadis itu mengenyitkan keningnya, duduk semakin mendekati Lily,"Lalu?"
"Aku menemui Ferrell, meminta bantuannya untuk menyanyikan lagu selamat ulang tahun pada adikku Fia, tapi dia tidak mau, dan memberikanku sebuah tawaran. Jika aku bisa membawa Glory untuk berkencan dengannya seharian, Ferrell sendiri yang akan datang menemui adikku, memberikan kado padanya," ucapnya menatap ke arah celah pepohonan menampakkan sinar matahari yang menembusnya.
"Tumor otak, operasi yang cukup berbahaya. Jika ada sedikit saja kesalahan, mungkin adikku tidak akan bisa bangun lagi. Aku kakak yang buruk bukan..." gumamnya, berusaha tersenyum. Namun nada suaranya mulai bergetar.
"Aku selalu menjadi anak kebanggaan, tidak ingin dia mendapatkan perhatian dari orang tuaku. Bahkan aku selalu menepis tangannya, memarahinya jika satu saja barang di kamarku dirusak olehnya,"
"8 bulan yang lalu dia tidak sadarkan diri saat sedang membawakan kue ulang tahunku. Kami membawanya ke rumah sakit, hasilnya adikku yang baru berusia 16 tahun menderita tumor otak..." tetesan air mata mulai mengalir membasahi pipi Lily, tangannya mengepal, terisak dalam tangisannya.
"Dia mulai kurus, kehilangan napsu makannya, memintaku menjaga ayah dan ibu seakan dirinya tidak akan selamat lagi. Tidak akan pernah bangun dari meja operasi. Karena itu... karena itu, aku ingin memberikan hadiah untuknya,"
"Hampir setiap hari adikku mendengarkan suara Ferrell menggunakan earphone. Mungkin dengan hadiah barang pribadi miliknya, adikku akan memiliki semangat untuk dapat bertahan menjalani operasinya. Tapi kalian memberikan harapan baru, aku ingin Ferrell hadir pada ulang tahun adikku. Membuatnya bahagia, hingga tetap bisa bertahan hidup..." lirihnya tertunduk, penuh rasa bersalah dan penyesalan. Tidak pernah memberikan perhatian pada adiknya sama sekali. Bahkan selalu berusaha merebut perhatian kedua orang tuanya, sedari kecil.
Tidak ingin ditinggalkan oleh satu-satunya saudara yang dimilikinya.
Caca menghela napas kasar,"Katakan saja langsung pada Glory. Dia akan setuju..."
"Tapi Ferrell mengatakan Glory tidak menyukainya!?" tanyanya menghapus air matanya.
"Memang, tapi itulah perbedaan persahabatan kami dengan kalian. Katakan padanya, maka Glory akan bersedia jika hanya untuk berkencan," jawab Caca, menatap ke arah sahabatnya yang mulai lebih bucin lagi. Menyenderkan kepalanya pada bahu Ken.
"Akan aku coba, tapi omong-omong mereka benar-benar bodoh atau pura-pura bodoh!?" Lily mulai membuka bungkus kripik kentang yang baru.
"Tepatnya pandai di bidang akademis. Tapi memiliki rasa peka yang rendah. Syukurlah, mereka sama-sama tidak peka, jika mereka berdua peka mungkin sekarang sudah mulai pacaran. Impianku untuk memiliki teman istri dari seorang selebriti akan kandas," ucapnya menghela napas kasar, memakan kripik kentang milik Lily.
***
Rasa nasionalisme, kemanusiaan, persahabatan bercampur menjadi satu, membuat dirinya menurut begitu saja. Membiarkan dua orang ini mengubrak-abrik penampilannya. Bagaikan agen penjualan wanita profesional.
Caca dan Lily yang sebenarnya juga curiga dan tidak mengerti dengan istilah kencan mengangguk bersamaan.
Jika benar-benar ditiduri Ferrell, anggap saja berkah. Banyak wanita yang rela membayar berapapun untuk makan malam bersamanya, tapi tidak mendapatkan kesempatan... batin Lily, sembari tersenyum. Kata-kata Ferrell yang mengatakan menyukai Glory terlihat tulus menurutnya. Mungkin saja Ferrell benar-benar serius pada Glory.
Sedangkan Caca tersenyum, penuh harap dua orang yang katanya hanya berkencan ini akan khilaf, untuk melakukan adegan ranjang. Hingga akhirnya dirinya memiliki sahabat kekasih atau bahkan istri dari seorang Ferrell.
Tepat setelah dihubungi, Ferrell menghentikan kendaraannya di depan area sebuah butik. Masih mengenakan masker dan topinya, menggunakan celana jeans hitam panjang, kaos dan blazer berpenampilan semaksimal mungkin, mengingat ini adalah kencan pertama untuknya.
Hingga pada akhirnya Glory keluar diantar kedua mucikari. Maaf salah kedua sahabat baiknya, mata Ferrell menatap gadis genitnya lekat. Benar-benar cantik, bahkan dengan hanya mini dress yang tidak begitu mahal, riasan wajah tipis terkesan natural.
Senyuman menyungging pada wajah di balik masker itu. Sudah dibayangkan olehnya tentang bagaimana sosok Glory jika dipoles sedikit saja. Remaja yang membuat seorang Ferrell berbuat banyak hal gila.
"Ayo!!" ucap Lily mendorong Glory ke hadapan Ferrell, dua orang yang saling berhadapan dengan jarak sekitar dua langkah. Saling menatap canggung, namun sejenak perhatian Glory teralih, mata dan bentuk alis yang hampir sama dengan Ken. Entah ini perasaannya saja, atau karena rasa bersalah, mata pemuda ini hampir sama persis menurutnya, tatapan mata tajam dengan alis yang tegas. Kacamata? Mungkin hanya itulah perbedaannya.
Sepasang hati yang berdebar cepat bingung harus apa. Glory yang juga memiliki perasaan pada Ferrell, menganggap dirinya murahan, karena sejatinya hatinya telah memilih Ken. Perasaan yang hampir serupa pada pria dengan wajah dan karakter yang berbeda.
Sedangkan Ferrell yang ingin membuat gadis ini mencintai dirinya, tidak tau harus berbuat apa. Hingga bukanlah sifat hangat yang keluar, pemuda yang terlihat berbahaya itu mendekatinya, membuka masker yang dikenakan olehnya. Wajah rupawan dingin, sulit tersentuh itu terlihat.
"Seharian ini kamu adalah milikku," bisik Ferrell tersenyum, menarik tangan Glory ke dalam mobilnya. Meninggalkan Caca dan Lily yang terpaku diam sejenak.
"Lily...dia keren," ucap Caca berteriak, melompat-lompat kecil bagaikan cacing kepanasan, menepuk-nepuk lengan Lily.
"Karena itulah aku heran, apa Glory menderita rabun atau katarak hingga lebih menyukai Superman dekil yang aneh?" gumamnya menghela napas kasar menatap mobil Ferrell telah jauh melaju.
***
Jendela sedikit terbuka, membuat angin masuk leluasa dalam mobil hitam yang cukup besar dengan kapasitas maksimal sekitar 7 orang.
Namun hanya dua orang yang ada disana, dengan deru napas yang sulit diatur, terasa sesak. Sesekali saling melirik satu sama lain.
"Kita akan kemana?" tanya Glory memulai pembicaraan.
"Tempat yang menyenangkan," Ferrell melepaskan salah satu tangannya dari stir mobil, meraih jemari tangan gadis tengilnya. Mencium tangan itu tidak terlihat canggung sedikitpun.
Sumpah demi apa, udara terasa semakin sesak, bagi mereka. Kesulitan mengatur ritme jantungnya yang berdegup semakin cepat.
Aku mencintaimu... batin Ferrell tersenyum, kembali konsentrasi pada jalan raya
Aku hanya boleh mencintai Ken... tidak boleh serakah, ini hanya perasaan semu... fikirnya memiliki perasaan serupa pada dua orang pria yang berbeda.
Bersambung