
Pemuda dengan luka bakar yang tidak dapat dianggap ringan. Mengagumi Roy? Itu pernah terjadi di masa kuliahnya, kala pemuda rupawan cerdas itu menuntut ilmu di satu fakultas yang sama dengannya.
Namun, Roy adalah sosok tenang yang cenderung menghindarinya, entah kenapa. Saat peristiwa kebakaran terjadi, Roy memang berada disana. Pemuda pekerja keras yang diam-diam dikaguminya di masa mudanya.
Jadi sepasang kaki yang menghampirinya di tengah kobaran api adalah miliknya? Dirinya benar-benar bodoh. Pemuda itu sempat tidak kuliah beberapa minggu, kemudian kembali dengan wajahnya yang telah rusak.
Menghindar? Karena hubungannya dengan George, belajar menerima perasaan orang yang menyelamatkan nyawanya, Cindy menghindari semua pria yang mendekatinya. Termasuk Roy yang tertunduk dengan wajahnya yang telah rusak.
Air matanya mengalir, hidup pemuda itu hancur karenanya. Bahkan kata terimakasih tidak pernah diucapkannya.
"Dahlan, tuntut perusahaan, minta ganti rugi sebesar-besarnya. Aku akan membantu kalian ikut memberikan dana menyewa lebih banyak pengacara..." jemari tangannya mengepal, egonya tidak dapat membiarkan George lolos begitu saja. Dia tidak berhak atas apapun.
Hingga Cindy memejamkan mata sejenak, jauh lebih tenang. "Aku pulang dulu, jika ada masalah hubungi aku, ini nomorku..." ucapnya memberikan kartu namanya.
Dahlan mengangguk,"Terimakasih..."
***
Air mata Cindy tidak ada hentinya mengalir. Sempat mengirimkan pesan pada Roy tentang menanyakan keberadaannya. Pemuda itu mengirim alamat sebuah rumah yang terletak dekat dengan sanatorium.
Agler dari pagi memang dititipkannya pada pengasuh. Hanya hari ini, untuk mengurus sidang perceraiannya. Sedangkan, Agam dijaga oleh perawat khusus. Sudah berencana menenangkan dirinya dengan hanya sendiri hari ini, namun siapa sangka sebuah kenyataan ditemukannya.
Roy? Orang itulah yang mengorbankan dirinya, tanpa menuntut rasa terimakasih.
Cindy mengepalkan tangannya, memberanikan dirinya turun dari mobil. Menatap rumah sepi di hadapannya. Dengan ragu menekan bel ...
Pintu mulai terbuka, pemuda dengan wajah berhiaskan bekas luka bakar terlihat, "Cindy...?"
Wanita itu meneteskan air matanya,"Roy br*ngsek!!" teriaknya, memukuli pemuda itu dengan membabi buta.
Dengan cepat berjinjit, menjambak rambutnya,"Sakit!!" Roy menjerit.
"Sakit!? Pria kurang ajar!!" bentaknya, merobohkan tubuh pemuda itu kemudian menindih nya.
"Apa kesalahanku?" tanya Roy mendapatkan tamparan yang lumayan kencang.
"Belum mengaku juga?" tidak menjawab, Cindy malah balik bertanya.
Dengan satu gerakan, Roy membalik tubuh mereka, kini Cindy yang berada di bawahnya tidak dapat bergerak. "Sebenarnya ada apa?" tanyanya.
Cindy meneteskan air matanya, terisak, mengangkat jemari tangannya. "Apakah sakit?" ucapnya menyentuh pipi Roy.
"Ini bekas luka lama, tidak akan terasa sakit," jawabnya, bangkit dari tubuh Cindy. Membantu wanita itu berdiri.
Cindy diam tertegun duduk di sofa, menatap Roy, tidak tau harus berkata apa. Mengepalkan tangannya,"Aku ingin minum, kamu punya wine atau wiski?" tanyanya berharap jika dalam kondisi mabuk akan lebih mudah berkata maaf dan terimakasih.
"Sebenarnya ada apa?" Roy berjalan meraih minuman berakohol di rak atas dapurnya."Apa karena proses perceraian hari ini? Kamu masih mencintainya?"
Gelas berisikan es terlihat, minuman mulai dituangkannya, menyajikannya pada Cindy. Tanpa di duga dengan sekali teguk Cindy menghabiskannya. "Lagi!!" ucapnya yang memang tidak mudah mabuk.
"Lagi?" Roy mengenyitkan keningnya, kembali menuangkan minuman dalam gelas Cindy.
"Kamu tidak ikut minum?" tanyanya, menatap Roy.
"Tidak, aku tidak terbiasa minum. Minuman ini oleh-oleh dari salah satu pasienku," jawabnya menghela napas kasar.
"Tidak sopan!! Menyuguhkan minuman tapi tidak ikut minum..." Cindy menatap sinis, dirinya bingung bagaimana harus berkata maaf dan terimakasih padanya. Lebih baik mengulur-ulur waktu dahulu.
"Tapi..." kata-kata Roy terhenti, Cindy bangkit mengambil satu gelas kosong lagi, mengisinya dengan es. Kemudian menuangkan setengah gelas menyodorkan pada pemuda di hadapannya.
"Minum!!" bentaknya.
Entah kenapa, orang yang ingin minta maaf malah lebih galak. Roy menghela napas kasar, menutup matanya, meminum dengan cepat, sekali tegukan. Tidak tahan dengan rasa kuat dari alkohol yang memasuki tenggorokannya.
Cindy ikut menuang dalam gelasnya kembali minum, hendak menurunkan kesadarannya di tengah rasa bersalahnya. Namun, tetap juga tidak bisa, dirinya belum mabuk juga.
Mengalihkan perhatiannya pada Roy yang tertunduk, "Minum!!" bentaknya lagi, menuangkan dalam gelas Roy. Kali ini pemuda itu tidak membatah, meminum dengan cepat.
Cindy menghela napas dalam-dalam, ternyata kesadarannya memang tidak berkurang sama sekali. Akhirnya mengepalkan tangannya memberanikan dirinya bicara,"Aku tanya sekali lagi, apa yang terjadi pada wajahmu?" tanyanya.
Roy yang tertunduk mulai menonggakkan kepalanya, tertawa,"Karena CEO wanitaku yang arogan. Aku ingin melihat wajahnya terus cantik..."
Akhirnya bukanlah Cindy yang mabuk, namun pemuda dengan bekas luka di pipi, leher dan punggungnya itu yang mabuk.
"Kamu mabuk?" Cindy mengenyitkan keningnya.
Roy masih tertawa,"Kamu tau aku akan langsung melamarnya setelah menjadi dokter spesialis. CEO wanita yang cantik dengan dokter spesialis tampan..." racaunya sejenak kemudian menangis. Meraba pipi kanannya.
"Wajahku tidak seperti dulu lagi, dia mencintai pria lain. Aku hanya dapat melihat pesta pernikahan di televisi. Aku mencintainya... dengan bodohnya masih mencintainya..." air matanya terurai. Menyedihkan? Itulah kondisinya saat ini terisak seorang diri.
"Kenapa tidak mengatakannya?" Cindy memegang jemari tangannya.
Namun tidak mendapatkan jawaban, isakan tangisannya masih juga terdengar.
"Br*ngsek... karenamu aku berusaha mencintai pria yang salah..." wanita itu ikut menitikan air matanya. Mungkin jika Roy jujur akan lebih mudah baginya, belajar mencintai seseorang yang memang sudah lama dikaguminya dari jauh. Mengagumi pemuda pendiam yang bahkan tidak memiliki keberanian bicara padanya.
"Karena kamu tetap akan jijik padaku," racau Roy, entah keberanian dari mana, pengaruh alkohol? Atau terlalu lama memendam perasaannya. Tengkuk Cindy diraihnya, mencium bibirnya secara paksa.
Gerakan yang tiba-tiba, jemari tangan Cindy refleks mendorongnya.
Air mata pemuda itu kembali mengalir, "Benarkan? Bekas luka ini membuatmu ketakutan dan jijik..." kakinya mulai bangkit hendak meninggalkan Cindy. Sudah menduga semuanya, perasaannya tidak akan dapat diterima.
Cindy ikut bangkit, menarik bahu Roy, bagaikan tidak mempedulikan rupanya saat ini. Berjinjit mencium bibir itu perlahan, hingga bibir Roy mulai terbuka membalas gerakannya. Cindy mengalungkan tangannya pada leher sang pemuda, menikmati segalanya.
"Aku ingin belajar mencintaimu," ucapnya dengan deru napas tidak teratur.
Tengkuk Cindy kembali ditariknya, menikmati bibirnya. Perasaan yang telah lama tertahan, kancing kemeja miliknya dibuka dengan cepat olehnya. Alkohol benar-benar membuat Roy menjadi sosok yang berbeda, berbuat hanya mengikuti perasaannya. Tidak memikirkan apapun lagi.
Kemeja putih itu teronggok di lantai, memperlihatkan tubuh putih dengan bekas luka bakar yang cukup besar.
Bug...
Tubuh Cindy dijatuhkannya di atas sofa,"Aku akan segera menikahimu, apa kamu bersedia?" tanyanya terdengar sensual menjadi sosok yang benar-benar berbeda.
Mata yang tajam, mata yang dahulu hanya dilihatnya dari jauh, pemuda rupawan berdiam seorang diri di kantin kampus. Membuka beberapa buku, menjadi incaran beberapa wanita.
Termasuk dirinya, jangan kira Cindy yang semasa kuliahnya menjadi primadona kampus tidak tertarik pada pria manapun. Wanita itu hanya pandai menyembunyikan rasa ketertarikannya. Berharap suatu saat nanti Roy yang dingin, enggan bicara padanya, akan mendekatinya.
Tahu begini, mungkin dari dulu dia akan mencekoki Roy dengan alkohol di masa kuliah mereka.
Jantungnya berdegup cepat, perasaan yang sama saat pertama kali bertemu dengannya di masa perkuliahan. Wajahnya rusak? Tidak apa-apa hanya di bagian pipi kanan, masih tetap tampan bagi Cindy.
Masih tetap tampan? Apa aku sudah sama gilanya dengan Kenzo yang selalu menganggap Amel yang gemuk sempurna... Cindy tertegun diam, merutuki hal gila yang ada difikirkannya. Wanita yang baru saja menyandang status singgel parent.
Namun, tidak mendapatkan jawaban, bibirnya kembali dibungkam dengan ciuman pelan. Membuat Cindy terbuai, bagaikan dilumpuhkan, pasrah dengan apapun yang dilakukan Roy.
Setiap sentuhan yang membuat jantungnya berdegup cepat, sentuhan pelan yang membuai nya. Tangan nakal dokter muda itu turun melepaskan satu-persatu kancing kemeja Cindy.
"Aku mencintaimu..." bisiknya deru napas tidak teratur, menjelajahi leher wanita di bawah kungkungannya.
Benar-benar hilang, logika? Kesadaran Cindy benar-benar menghilang. Mengalungkan tangannya pada leher pemuda dengan banyak bekas luka. Tidak terasa kancing kemejanya sudah sepenuhnya terbuka.
Roy jangan... ingin rasanya Cindy mengatakannya namun perasaan berdebar ini tidak ingin dihentikannya.
Perlu waktu dua tahun baginya untuk belajar mencintai George. Satu tahun bertunangan, hingga akhirnya menikah, melewatkan malam pertama mereka.
Namun, Roy yang dikagumi ketika kuliah, pemuda dingin yang tidak pernah merayunya, hanya memerlukan waktu lima menit untuk melumpuhkan kesadarannya. Membimbingnya melakukan apapun kehendaknya.
"Emmgghhh..." gigitan pelan di lehernya, tubuh bagian atasnya dimainkan jemari tangan pemuda itu.
Hingga...
Semua terhenti, suara dengkuran halus terdengar dari pemuda yang tertidur di atas tubuhnya.
Cindy mengenyitkan keningnya, entah harus kecewa atau bersyukur semuanya terhenti.
"Minggir!!" ucapnya geram, menyingkirkan tubuh Roy dari atas tubuhnya. Hingga pemuda yang telah tertidur dalam kondisi mabuk itu jatuh dari sofa ke lantai dalam posisi tengkurap.
Pemuda yang bertelanjang dada, bekas luka di punggungnya ditatap Cindy. "Apa menyakitkan?" tanyanya iba dengan air mata mengalir, disekanya
Cindy mengambil phoncellnya, seusai merapikan kancing pakaian bagian atas yang terlanjur terbuka. Menghubungi seseorang, hingga pada akhirnya panggilannya diangkat.
"Sudah aku bilang, jangan hubungi Amel!! Hubungi saja asistenku!!" bentak seseorang dari seberang sana.
"Lebih cepat mendapatkan tanggapan jika mengubungi calon istri bos, dari pada asistennya..." Cindy tertawa kecil tanpa rasa bersalah.
"Apa maumu?" Kenzo mengenyitkan keningnya.
"Bantu aku, hancurkan George. Jangan biarkan satu cabang perusahaan pun, masih berdiri untuk berada di tangannya. Ambil semuanya..." ucapnya tertunduk, menyentuh bekas luka di punggung Roy. Pemuda yang tertidur di lantai dengan posisi tengkurap, wajah yang terlihat tenang.
Istri yang lembut tidak berdaya? Tidak, seorang wanita arogan telah kembali. Wanita yang dikagumi seorang Roy.
Ibu yang melindungi kedua putranya, wanita mandiri, sosok itulah yang akan terbentuk. Tidak akan tunduk pada seorang George lagi...
Bersambung