My Kenzo

My Kenzo
Musim Kedua : Istri Orang



Dengan cepat Dava mendorong Amel setelah kesadarannya kembali.


Apa yang aku lakukan? Kenapa aku membalas ciuman istri orang... tangannya masih gemetaran hingga sekarang. Menatap wanita dengan bibirnya yang memerah, belepotan karena bibir dirinya sendiri yang beroleskan riasan badut.


Sangat terlihat jelas dirinya telah mencium istri orang. Bekas lipstik merah murah ala badut yang dipakainya, masih melekat, belepotan di bibir Amel.


"Dava dia siapa?" Kiki yang meninggalkan kekasihnya dengan alasan ke toilet terlihat murka.


"Dia...dia..." kata-kata Dava terhenti.


Tidak mungkin aku jawab istri orang kan... kesalnya merutuki kesalahannya, menikmati bibir istri orang. Harga dirinya sebagai pria sejati juga kandas.


"Aku Amel Anggraini, pacarnya Dava," Amel yang lebih dahulu menjawab, merangkul bahu Dava, posesif.


Wanita menyebalkan!! Bagaimana jika suamimu melihat ini. Dia akan salah paham... geram Dava dalam hatinya, berusaha tersenyum.


"Kalian pacaran? Tapi dia badut, kamu tidak jijik dengan riasannya?" tanya Kiki tidak mengerti dengan wanita yang terlihat cantik berkelas, walaupun wajahnya belepotan sisa ciuman Dava.


"Dia bukan badut biasa, jika sudah berhasil aku bangunkan, dia adalah vampir antagonis pemilik kerajaan bisnis dan aku ratu jahatnya..." jawab Amel masih menggunakan istilah negeri dongeng yang dahulu, memang begitulah caranya berbicara dengan Kenzo. Berharap pemuda itu dapat mengingat sedikit saja.


"Apa wanita ini gila?" Kiki mengenyitkan keningnya, sementara Dava hanya dapat menghela napas kasar. Menjelaskan pun, untuk apa menjelaskannya? Dirinya tidak memiliki hubungan atau perasaan sedikitpun pada Kiki.


Selain itu bagaimana cara menjelaskannya?Seorang Dava yang mulai belajar menjadi anak yang baik, mencium istri orang di depan umum? Apa begitu cara menjelaskannya?


Jadi, nikmati saja dahulu, resiko fikirkan nanti...


"Iya dia pacarku, tidak jijik menciumku yang hanya seorang badut," ucapnya tersenyum, sudah tidak memiliki harga diri lagi.


"Kalian!! Kalian!!..." Kiki kehabisan kata-kata, berjalan pergi dengan cepat mencari keberadaan kekasihnya.


Amel tersenyum mengenyitkan keningnya,"Apa kamu menyukainya?" tanyanya.


"Tidak, tapi orang-orang berkata aku dulu menyukainya..." jawab Dava mulai kembali makan. Namun sejenak aktivitasnya terhenti,"Kenapa menciumku? Begini-begini aku tidak pernah mencium wanita dari kehilangan memoriku!! Bayar!!" bentaknya pada Amel menadahkan tangannya.


Sejak kapan suamiku yang arogan penindas jadi murahan dan pelit begini... gumamnya dalam hati kesal, merogoh sakunya mengeluarkan beberapa lembar uang bergambarkan tokoh proklamator.


"Cukup?" Amel mengenyitkan keningnya.


"Cukup..." Dava berucap penuh senyuman, kemudian mulai berdiri, entah dari mana sifat isengnya, kening Amel dikecupnya,"Aku kembali bekerja..." ucapnya.


Amel tertegun diam, me-restart otaknya sejenak bagaikan merasakan hujan di tengah kemarau panjang. Perasaan berdebar disayangi oleh suaminya. Tidak menyadari Dava yang jauh melangkah pergi.


"Wanita menyebalkan!! Tolong buang sisa makananku dan sisa kaleng sodanya!!" teriak Dava berlari pergi ada perasaan senang tersendiri menindas ibu dua anak itu.


"Woi!! Br*ngsek aku bukan pelayanmu..." kekesalan yang benar-benar diubun-ubun. Tapi itu memang ciri khas suaminya bukan? Makhluk penindas yang membuatnya kehabisan kata-kata.


Amel mulai berjalan mencari tempat sampah, hendak membuang kotak stereo foam yang dibawa Dava dengan makanan hanya tersisa seperempat porsi.


Wanita itu tertegun sejenak, nasi serta sisa lauk yang mungkin dihangatkan, sisa hidangan ulang tahun kedua anaknya semalam. Air matanya mengalir, diseka olehnya.


***


Amel terdiam dalam mobil yang terparkir di depan taman bermain. Hal yang dilakukannya? Nasi sisa dan lauk itu dimakannya sembari menangis, terasa asin karena air matanya yang mengalir sedikit melewati mulutnya, tertelan olehnya.


Tidak ada lagi pemuda yang mengiriskan steak, yang dagingnya cukup keras untuknya. Kini pemuda itu memakan makanan sisa ulang tahun anak kembarnya sendiri. Bahkan hidangan yang dihangatkan?


Wajah pemuda yang menemaninya selama dua tahun masih terbayang hingga kini. Kala orang itu tidak ragu untuk mencium Dugong buruk rupa sepertinya dalam kolam renang yang dingin.


Kala pemuda yang memakai topeng Inari itu menghukum dirinya, menyatukan bibir mereka di tengah musim dingin. Serta kala Kenzo dengan sabar menunggunya pulang dari tempat pemetikan anggur di tengah hujan salju, hanya untuk berbagi kue ikan hangat.


Benar, uang bukan nilai sebuah kebahagiaan, tapi dirinya tidak dapat menerima pemuda yang dicintainya melupakannya.


Hingga Amel sampai di depan lab, menunggu hasil yang beberapa jam lagi akan keluar.


Namun namanya tiba-tiba dipanggil."Ibu Amel, kami berusaha menyelesaikannya sedikit lebih awal..." ucap petugas lab memberikan hasil, sembari menahan tawanya.


Dokumen hasil pemeriksaan mulai dibukanya bersamaan dengan kata-kata keluar dari mulut petugas lab,"Mungkin anda harus mendatangi bagian kejiwaan juga, atau itu tata rias model baru?" tanyanya tidak mengerti.


Amel menatap hasil, yang menyatakan 99,9% sampel darah Dava dan Ferrell adalah ayah dan anak. Senyuman menungging di wajahnya, namun pandangan matanya sedikit teralih menatap cermin di dekat lab.


Dava tidak mengatakan tentang wajahnya yang belepotan dengan noda merah pada Amel.


Amel meraih tissue basah di tasnya, menghapus noda merah di bibir dan keningnya dengan kesal,"Dia benar-benar Kenzo!! Dia benar-benar Kenzo!! Suamiku si tukang penindas!!"


Bukan sosok hangat suaminya yang kini terbayang. Namun, penindasan yang dialaminya, kala pemuda acuh itu melempar kulit kacang ke kolam renang, sengaja menyuruhnya menaiki taksi saat baru sampai ke Malaysia.


Aku akan membalasmu tanpa ampun...di ranjang .... geramnya dengan kekesalan yang benar-benar di ubun-ubun.


***


Sementara itu seorang pemuda dengan bekas luka di dahinya yang tertutup model rambutnya tersenyum-senyum sendiri. Tengah menghapus make-upnya, alasan dirinya tersenyum? Tentu saja memikirkan istri orang...


Baru pertama kali perasaannya gelisah seperti ini. Bahkan saat sampai di rumah dan mencoba tidurpun, sulit. Wajah istri orang itu terus-menerus terbayang.


Namun pada akhirnya Dava mulai terlelap...


Menelusuri jalan panjang dalam mimpinya, mimpi yang cukup dalam terlelap di alam bawah sadarnya.


Seorang pemuda yang tidak terlihat wajahnya, berdiri menitikkan air matanya. Memegang sepucuk senjata api, menodongkan ke arah orang-orang yang juga bersenjata mengepungnya. Tempat bagaikan kapal ekspedisi di tengah laut.


"Aku iri pada semua orang. Termasuk padamu yang masih sempat menerima kasih sayang orang tua. Karena itu..." tubuh sang pemuda kembali mundur mendekati tralis.


Dor...


Tembakan mengenai area bahunya. Pemuda itu tersenyum, mulai memejamkan mata."Tolong katakan aku akan pulang pada Amel. Dan khusus untukmu kita adalah teman mulai saat ini..." ucapnya masih memegang phoncellnya.


Pemuda yang tidak terlihat jelas wajahnya itu menjatuhkan tubuhnya, memejamkan matanya sejenak, bagaikan sudah dapat menerima air laut menelan tubuhnya dalam kegelapan.


Pemuda yang menatap ke atas, lubang di hatinya terasa menganga. Tenggelam dalam gelapnya air laut, matanya mulai terpejam.


Namun anehnya Dava lah yang merasakan sesak, sensasi tenggelam karena kesulitan untuk bernapas.


Uhuk...uhuk ...


Pemuda itu terbatuk-batuk, menatap Vanya membawa sebuah gayung yang telah kosong setelah menyiram wajahnya.


"Ibuk..." ucap Dava kesal dibangunkan dari mimpi buruknya dengan cara di siram.


"Syukurlah kamu sadar!! Ibu kira kamu kejang-kejang atau kesurupan..." ucapnya menggengam jemari tangan Dava cemas.


Cara membangunkan orang yang salah, kalau aku mati karena air yang masuk ke dalam paru-paru bagaimana... Dava menghela napas kasar, enggan memberi nasehat ibunya. Menatap wajah renta yang mencemaskannya.


"Aku tidak apa-apa, hanya mimpi buruk..." ucapnya tersenyum.


Mimpi buruk? Tapi siapa pemuda yang menjatuhkan dirinya ke laut dan kenapa menyebutkan nama Amel?


Mungkin terlalu memikirkan istri orang, tidak boleh terus seperti ini...itu adalah istri orang... itulah anggapannya tentang mimpi buruk yang dialaminya.


Bersambung