
Hugo, itulah namanya pemuda yang sempat mencoba dikenalkan Frans pada Amel. Agar ibu dua anak itu bersedia menerima kematian suaminya. Pemuda yang paling antusias dan ambisius mengejarnya. Memiliki darah campuran keturunan Asia dan Eropa.
Amel mempunyai banyak anak? Tidak masalah, mereka anak-anak yang mandiri, Hugo cukup mengetahuinya. Berjalan mendekati Ferrell,"Kalian mau kemana? Mama kalian dimana?" tanyanya.
"A....aku teman Amel, jadi tidak sengaja memakai pakaianmu, pakaianku kotor. Aku baru datang pagi tadi..." alasannya gelagapan masih mengira pemuda di hadapannya adalah ayah dari Ferrell dan Febria.
Hugo mengenyitkan keningnya seakan tidak peduli, "Febria kemari!! Ada set make up anak untukmu. Paman membelinya di Singapura jadi..."
"Kami akan pergi ke taman bermain. Kalau paman, menunggu mama, masuk saja nanti sore mama akan pulang, tapi maaf di dalam cuma ada pelayan..." Febria berusaha tersenyum, menarik Dava ke dalam taksi online.
Paman? Jadi bukan ayah mereka? Hanya ingin mendekati ibu mereka? Aku boleh membully-nya sesuka hati... Dava tersenyum menghentikan langkahnya yang hendak masuk.
"Maaf, aku Dava pengasuh dua anak ini. Nyonya (Amel) sangat menyukai ikan hias di halaman belakang, beliau pecinta hewan, dan menyukai pria pekerja keras. Karena itu, jika ingin mendekati nyonya saya sarankan, bersihkan kolam ikan, nyonya akan mulai memiliki kesan pada anda..." ucapnya sedikit tertunduk bagaikan pelayan.
"Bukan tadi kamu bilang temannya Amel?" tanya Hugo curiga.
Entah kenapa otak Dava dapat berbohong dengan cepat kali ini,"Saya kerabat jauhnya, dipekerjakan untuk menjaga anaknya..."
"Owh, pantas saja wajahmu mirip dengan Ferrell dan Febria..." Hugo tersenyum, mulai berjalan masuk hendak menjalankan tugasnya.
Sementara ayah dan dua anaknya itu memasuki taksi online. Perlahan melaju meninggalkan villa.
Febria mengenyitkan keningnya menatap ayahnya. Hal yang diketahuinya? Kenzo sempat berfoto dengan Ferrell di kolam ikan belakang rumah, ketika masih memakai pakaian costplayer Hatake Kakashi, pada hari pertama mereka bertemu.
Jadi ayahnya pasti tau di kolam ikan luas belakang rumah terdapat berbagai makhluk eksotis. Ikan-ikan predator seperti Tiger Dazt, dan Oscar, bahkan terdapat lintah dan anakan buaya disana.
Membersihkannya? Jangan bercanda, ibu mereka sendiri biasa menyewa orang-orang profesional untuk membersihkannya. Koleksi hewan eksotis yang dititipkan Frans di sana.
"Paman sengaja? Nyawanya bisa terancam?" tanya Febria.
"Tenang saja, aku hanya membantu kalian, menjaga ibu kalian dari pria perusak rumah tangga orang lain..." jawab Dava penuh senyuman.
Inilah bayanganku tentang sosok papa, awalnya aku kecewa karena aku fikir cupu... ternyata seperti psikopat... Benar -benar papa ... Ferrell memegang jemari tangan ayahnya.
Kemudian memeluknya erat,"Jika sudah besar nanti, aku ingin sepertimu..."
"Aku hanya cosplayer, kalian harus menjadi pengusaha seperti ayah kalian nanti..." Dava menghela napas kasar.
Kamulah ayah kami ... batin kedua orang anak yang mencintai ayah mereka. Seseorang yang tidak pernah mereka temui.
Ferrell dengan sengaja menyender di lengan Dava, sementara Febria, menaruh kepalanya dalam pangkuan sang ayah. Berpura-pura tertidur menikmati setiap detik kebersamaan mereka.
Tidak memiliki ingatan? Tapi rasa kasih masih ada, mungkin bagaikan insting seorang ayah. Mengasihi kedua anak itu, rasa kasih yang terasa dalam.
"Pak anaknya ya?" tanya driver taksi online.
"Iya ..." Dava menjawab tanpa ragu, entah kenapa begitu mengasihi dua anak ini, membuat kedua anak yang berpura-pura tertidur tersenyum.
***
Hari ini taman bermain mengambil tema Tinkerbell, semua pegawai mengenakan kostum peri, termasuk Dava. Memakai kostum peri pekerja yang serba hijau, berkeliling membagikan permen gratis, sebagai bonus pembelian tiket.
Sementara Ferrell dan Febria hanya duduk di bangku taman, menikmati gulali yang dibelikan ayah mereka.
Tidak ada permainan yang mereka naiki, namun menatap ayah mereka saja sudah cukup baginya. Hingga seorang anak yang bertubuh lebih besar datang.
"Kita tukar!!" ucapnya mengambil gulali milik Febria yang masih utuh dengan cepat, memaksa anak itu menerima gulali yang hampir habis dengan warna pink serupa.
"Ini punyaku sekarang..." sang anak yang bertubuh lebih besar tersenyum berjalan pergi.
Ferrell hendak bangkit menghentikannya, namun Febria mencegahnya,"Ini urusanku..." gumamnya benar-benar kesal.
Anak lain mungkin akan menangis, tapi tidak dengan anak manis cantik bertubuh bersih ini. Febria berjalan dengan cepat, hingga dirinya berdiri di hadapan anak bertumbuh besar itu saat ini.
"Ambil gulalimu!!" bentaknya, menyodorkan gulali milik anak itu yang hampir habis.
"Tidak mau, jelek..." sang anak bertumbuh besar tersenyum.
Bug...
Tulang kering anak itu ditendang dengan kencang, hingga sang anak menagis memegangi betisnya. Bersamaan dengan Febria mengambil kembali gulali miliknya yang masih utuh.
"Pemberian pertama dari papa, enak saja mau mengambilnya. Untung yang aku tendang betismu, bukan burungmu..." cibirnya komat-kamit.
"Sadis ..." Ferrell berusaha untuk tidak tertawa, membayangkan bagaimana jika adiknya sudah dewasa nanti. Pasti bukan betis yang akan ditendangnya.
Mereka kembali duduk berdua menikmati gulalinya selama beberapa menit. Namun siapa sangka sang anak akan datang membawa ayahnya, pria berbadan besar berotot, dengan banyak tato.
Anak itu menangis mengadu gulalinya yang direbut, lalu ditendang di bagian betis, menunjuk pada Ferrell dan Febria.
Sang ayah yang terlihat murka menghampiri sepasang anak kembar,"Kalian yang mengambil gulali anak saya!?" bentaknya.
"Tidak, dia yang mengambil gulali saya, jadi saya mengambilnya kembali," ucap Febria tersenyum sopan.
"Jodi (si anak berbadan besar) yang menangis!! Jadi dia yang jujur!! Kalian yang salah!! Kalian yang berbohong!! Dimana orang tua kalian!?" bentaknya, menarik lengan Ferrell dengan kencang yang diyakininya melukai putranya."Anak tidak berpendidikan!! Saya tidak pernah mengajari anak saya berbohong!! Jadi pasti kalian yang berbohong!! Ayah dan ibu kalian harus tau!!"
"Sakit!! Lepas!!" Ferrell melawan,"Febria, hubungi kak Scott dan pengawal..." perintahnya pada sang adik.
Tidak menangis? Situasi yang sudah biasa, karena inilah mereka tidak ingin sekolah di sekolah umum. Tidak memiliki ayah untuk mengadu, dan membelanya. Membuat mereka lebih impulsif, untuk melindungi diri sendiri. Terbiasa mengandalkan kelima kakak dan ibunya, jika tidak bisa mengatasi sendiri.
"Iya..." tangan Febria bergerak cepat, mengambil phoncellnya.
Karena inilah aku tidak ingin memiliki teman, mereka hanya akan mengadu pada orang tua mereka. Bahkan berbohong, menyalahkan kami...apa kami harus menangis agar menjadi yang benar? Apa jika kami menangis orang tua mereka akan mempercayai kata-kata kami? Tidak kan? Jika kami yang menangis terbukti tidak melakukan apapun, mereka hanya akan mengusap kepala anak mereka dan berkata,' Jangan melakukannya lagi'... Febria menitikan air matanya, menghubungi kakaknya.
Namun, telfon belum tersambung, tangan sang pria berbadan kekar yang mencengkram lengan Ferrell di pegang seorang pemuda.
"Apa yang kamu lakukan?" tanyanya tersenyum, bagaikan iblis yang sanggup menelannya.
Peri? Itulah kostumnya, membiarkan permen yang akan dibagikannya jatuh berceceran. Menatap tajam pada orang berbadan kekar bak binaragawan di hadapannya.
"Anak ini sudah merebut gulali putraku!! Menendang tulang keringnya hingga menangis!!" ucap sang pria berbadan besar.
Dava melirik lengan Ferrell yang membiru, mengambil tempat sampah berbentuk tabung dari aluminium. Memukul kepala pria itu tanpa ampun.
"Ka... kamu!!" sang pria tersungkur dengan pelipis mengeluarkan sedikit darah.
Jari tangan pria berotot yang tadinya mencengkram lengan Ferrell diinjaknya, menatap tajam tanpa perasaan iba sedikit pun.
"A...aaa...ka... kamu jangan berani..." kata-kata terpotong.
"Berani melukai putraku, hingga lengannya membiru?"Dava tersenyum tanpa belas kasih, menginjak lebih kencang lagi."Nyawamu ada berapa?"
Bersambung