
Hanya deretan pedagang yang ada di otak seorang Amel. Rangkaian patung es yang bersinar dengan nyala lampu yang indah bagaikan tidak dipedulikannya.
Berjalan membeli banyak makanan yang menggiurkan baginya. Namun, secara ajaib, gadis itu menyimpan setengah kue ikannya untuk Kenzo, bagaikan kebiasaan untuknya.
Makanan yang lain, semua dibelinya tapi tidak dapat dimakannya, memberikannya pada Tatewaki,'Untuk keluargamu,' ucap Amel kala memberikan makanan yang terlanjur dibeli namun tidak disentuhnya. Entah kenapa mungkin karena porsi makan yang selalu dikendalikan, dirinya kenyang dengan cepat, perutnya terasa penuh.
"Tunggu sebentar, aku belikan kopi hangat..." Tatewaki berlari kecil, menuju mesin penjual kopi hangat, meninggalkan Amel seorang diri.
Gadis itu menghela napas kasar, menatap keramaian. Tidak terasa, jemari tangannya ditarik seseorang mengenakan topeng Inari.
Bentuk topeng Inari...
"Ka...kamu siapa? Lepas!!" terjemahan dari ucapnya menggunakan bahasa Jepang.
Pemuda itu hanya terdiam sembari terus menariknya hingga sebuah gang sempit yang gelap dan sepi.
Tubuhnya disudutkan oleh pemuda yang lebih tinggi darinya itu. Topeng Inari yang hanya menutupi bagian mata hingga hidung. Sedangkan bibir sang pemuda terlihat jelas.
Kenzo? Tidak mungkin kan dia disini... Amel mengeluarkan keringat dingin ketakutan, bagaikan seekor kelinci dalam mulut serigala.
"Tunggu..." ucap Amel menggunakan bahasa Jepang.
Wanita itu berjongkok dari kungkungan sang pemuda. Agar lebih leluasa menggunakan handphonenya menghubungi seseorang.
Suara dering handphone terdengar, pemuda yang tadinya berdiri kini ikut berjongkok di belakang Amel.
Suara dering handphone milik sang pemuda, pertanda orang yang dihubungi Amel melalui phoncell adalah orang yang berada di belakangnya.
"Kabur dari rumah!?" tanyanya kesal.
"He...he...he... Kenzo maaf..." Amel tersenyum menampakan gigi putih ala Pepsodent nya.
"Maaf?" Kenzo mengenyitkan keningnya.
"Ini kue ikanmu..." ucap Amel merogoh paperbagnya, menyodorkan kue ikan yang tersisa setengah pada Kenzo.
"Kue ikan? Aku ingin yang lain..." pemuda itu tersenyum, masih mengenakan topengnya.
Keduanya masih berjongkok berhadapan, mata saling berpandangan bertemu. Lari? Amel ingin rasanya berdiri, kemudian melarikan diri. Namun, mata tajam yang menatapnya penuh harap. Bibir yang semakin mendekat, bagaikan melumpuhkannya. Tidak dapat melarikan diri dari hukuman pangeran Antagonis.
Mata Amel perlahan sayu, jantungnya berdegup cepat, memejamkan matanya menikmati gerakan bibir dingin yang memabukkan. Perlahan membalasnya, membelit lidahnya.
Otaknya menolak, dirinya merasa bagaikan seorang wanita murahan. Berpangut mesra tanpa status, namun perasaan ini benar-benar nyaman baginya.
Dingin suhu udara tidak terasa. Amel yang semula berjongkok, kehilangan keseimbangan hingga duduk di atas salju. Namun tautan bibir mereka belum jua terlepas, seakan tidak pernah menemukan titik kepuasan.
Kenzo, bertumpu pada tangan dan lututnya, berada di atas tubuh Amel yang kini menyender pada dinding. Tangan gadis itu, menjatuhkan kue ikan yang tersisa setengah, menggengamnya hingga hancur. Kesadarannya benar-benar dilumpuhkan, mereka bagaikan semakin lihai dalam hal berciuman.
Hanya berciuman dengan posisi yang terlihat fulgar. Napas keduanya terengah-engah, kala ciuman panas itu terlepas.
"Menikahlah denganku..." bisik Kenzo, dengan udara hangat keluar dari setiap hembusan napasnya. Menyapu wajah Amel.
"Ja... jangan bercanda. Aku sudah dihukum kan? A...aku boleh pergi!!" Amel mendorong Kenzo dengan debaran di hatinya semakin cepat saja, wajahnya memerah. Hatinya berteriak ingin berkata 'iya'.
Tapi sayangnya logikanya tidak, orang gila, tampan, super kaya seperti Kenzo mengatakan ingin menikahinya? Tidak mungkin, Kenzo hanya ingin bermain-main dengannya. Berjanji akan menikahi, kemudian menidurinya, seperti yang terjadi pada Marina ditiduri pria rupawan dengan janji manis, kemudian ditinggalkan.
Kenzo mungkin melakukan hal yang sama. Meniduri dirinya, dengan janji dari mulut manisnya. Tapi tidak kunjung menikah, hingga akhirnya menikahi gadis kaya, cantik, pintar lainnya.
Sedangkan dirinya menangis seorang diri karena mempercayai kata-kata dari playboy. Jatuh cinta pada kalangan atas dengan wajah rupawan? Pengalaman hidup mengharapkan Gilang selama dua tahun sudah cukup untuknya. Pemberi harapan palsu, itulah yang ada dalam pandangan Amel mengenai kalangan atas.
Perasaan yang sejatinya semakin dalam saja, detik demi detik kebersamaan mereka. Pemuda berwajah rupawan yang tertutup topeng Inari. Mulai bangkit, mengibaskan salju yang menempel pada celana panjang yang dikenakannya.
Tangan yang terulur, menunggu dengan sabar hati Amel luluh perlahan untuk menerima perasaannya yang tulus. Amel menyabut uluran tangannya, bangkit dari jalanan bersalju tempatnya duduk.
Senyuman terlihat dari wajah Kenzo. Pemuda itu, melepaskan syal yang melilit pada lehernya. Mengenakannya pada Amel,"Keluar tidak memakai syal, aku tidak mengerti dimana otakmu. Berpura-pura sakit? Jika keluar tidak memakai syal seperti ini, bagaimana kalau benar-benar sakit..."
"Aku tidak tau bagaimana lagi harus menghukummu. Jangan sakit, dasar..." lanjutnya, melepaskan sarung tangannya, mengenakan pada jemari Amel.
"Tapi tanganmu?" Amel mengenyitkan keningnya.
Kenzo memasukkan salah satu tangannya ke dalam kantung jaket yang tebal. Sedangkan satu tangan lainnya bergandengan dengan Amel, menggengam erat, bagaikan kedua jemari tangan itu berbagi kehangatan.
Berjalan bersama, melewati gang sepi minim penerangan. Menuju tempat ramainya festival, Amel sesekali menatap wajah pemuda yang berjalan bersamanya.
Pemuda rupawan yang menatap lurus ke depan. Jemari tangan yang dingin, semakin mengerat pada dirinya. Seakan tidak akan membiarkannya pergi.
"Playboy penipu..." gumamnya dengan suara kecil, mengalihkan pandangannya, menahan perasaannya.
Jangan jatuh cinta padanya, dia seperti pemain cinta profesional... tapi... Amel mengenyitkan keningnya lebih memperhatikan Kenzo lagi. Tidak ada satupun wanita yang berada didekatnya selama ini.
Dalam satu tahun ini, Kenzo hanya berbicara pada wanita lain seperlunya. Tidak ada hubungan yang intens. Apa benar dia playboy? Namun debaran dalam setiap gerakan bibirnya yang menuntut, tidak dapat dilupakan Amel.
Entah itu hukuman atau apapun. Namun, Amel hanya pernah berciuman dengannya. Ciuman pertama di parkir gedung pengadilan, setahun yang lalu.
Bingung dengan perasaan dan fikirannya yang bertentangan.
***
Langkah mereka terhenti, Tatewaki yang mencari Amel berdiri di hadapan mereka.
"Amel dia siapa?" tanyanya menggunakan bahasa Jepang.
"Rubah putih berekor sembilan..." jawab Kenzo tersenyum, dengan tidak tau malunya mengambil dua gelas minuman hangat, menyodorkan salah satunya pada Amel.
Selembar uang kertas 5000 yen diberikan pada Tatewaki,"Kembaliannya adalah upah, karena menemani Amel berkeliling..." lanjutnya, menarik tangan Amel agar segera pergi bersamanya.
Tokoh Antagonis? Itulah seorang Kenzo. Prilaku seperti ini tidak masalah bukan? Dialah pangeran Antagonis.
Sedangkan Amel, mengikuti Kenzo sembari melihat kebelakang, sedikit membungkuk,"Maaf..." ucapnya pada Tatewaki yang tertegun seorang diri.
Pemuda itu hanya tersenyum ramah, membalas senyuman Amel seakan tidak apa-apa. Menatap kepergiannya dengan Kenzo.
"Kenzo, bisa lebih sopan..." Amel berucap, mensejajarkan langkahnya.
"Bisa, tapi padanya, khusus tidak..." jawabnya tersenyum, meminum kopi hangat.
"Kenapa tidak!?" Amel mengenyitkan keningnya.
Cemburu mungkin iya, pemuda yang melangkah penuh senyuman itu menjawab.
"Ada beberapa jenis manusia, menyembunyikan sosok mereka yang sesungguhnya. Dalam topeng wajah tidak bersalah..." ucapnya, melangkah membimbing Amel. Menggenggam jemari tangannya lebih erat lagi.
***
Menyembunyikan rupa sebenarnya? Tatewaki mengepalkan tangannya menggengam uang yang diberikan Kenzo. Tersenyum ganjil, penuh kekesalan.
Bersambung