
...Tidak membuktikan apapun, karena aku mengetahui semuanya. Tidak membuktikan apapun, karena aku egois....
...Keinginanku tidak akan berubah, karena aku mencintaimu......
...Mempertaruhkan hidupku, menebus segalanya, agar merasa pantas untuk menggengam tanganmu......
Kenzo...
Pemuda itu terdiam, menatap segalanya, bukanlah kecelakaan fatal. Semua anggota keluarga mencemaskannya, Suki yang duduk di kursi roda bahkan datang ke rumah sakit. Menatap pemuda yang terbaring dengan selang infus di tangannya, serta memar di bagian dahi dan lengannya.
Gilang memiliki segalanya, teman, keluarga, sedang dirinya hanya memiliki Amel. Gadis yang menatap di luar ruang rawat VVIP.
"Kenzo, apa aku boleh masuk?" tanyanya.
Satu pertanyaan yang cukup menyakitkan, kala tangan yang digenggamnya ingin ikut masuk ke dalam sana. Iri? Tidak ingin kehilangan? Mungkin iya, satu-satunya miliknya. Kenapa harus menjadi milik adiknya? Dirinya juga ingin bahagia. Ingin dicemaskan, ingin dirindukan.
"Masuklah, aku akan menunggumu di luar..." ucapnya masih memasang senyuman palsunya.
Ini kesalahan siapa? Apa kesalahannya yang memaksakan Amel untuk mencintainya dari awal? Mungkin iya, tapi dia adalah istrinya, ibu dari anak-anaknya kelak.
Wanita itu masuk, tangan yang ingin dicegah olehnya, melangkah tidak menoleh. Kemudian tersenyum bergurau di dalam sana, entah apa yang mereka semua bicarakan. Gilang memiliki segalanya, mungkin termasuk hati Amel salah satunya...
Tidaklah mengapa, wanita itu masih istrinya, cincin di jari manis mereka menjadi bukti.
Kenzo terdiam duduk seorang diri di kursi depan ruang rawat, tepatnya di koridor. Hingga seorang wanita tidak dikenalnya menghampirinya.
"Kamu Kenzo kan? Suaminya Amel, perkenalkan namaku Marina. Ibu kandung Sany, sahabat Amel dan Gilang..." wanita itu mengulurkan tangannya.
Namun Kenzo hanya terdiam, tidak menyukainya? Tentu saja, seorang ibu yang menyerahkan anaknya pada orang lain.
Wanita itu menurunkan tangannya, duduk di samping Kenzo,"Mereka cukup dekat ya?" Marina menghela napas kasar.
Kenzo tidak menggubris kata-katanya, terdiam menyenderkan punggungnya, memejamkan matanya. Hanya mendengarkan hal yang menyakitkan saja, tidak akan menjawab.
"Kamu tau rasanya mencintai seseorang selama dua tahun? Perasaan yang tidak berbalas. Dulu aku adalah penghalang diantara mereka. Hingga tiba saatnya aku menyerah, Amel terlalu baik, dan Gilang...dulu dia memang belum cukup dewasa. Tidak mengenali perasaannya sendiri,"
"Waktu yang lama. Tidak akan menghapus perasaan tulus mereka..." lanjutnya.
Waktu yang lama, tidak akan menghapus perasaan tulus?.... Aku mencintainya dan tidak akan pernah berubah... Kenzo masih terdiam memejamkan matanya, berniat menghapus lelahnya.
"Amel mengatakan kamu memiliki gangguan kepribadian bukan? Apa kamu dapat menjadi ayah yang baik? Bagaimana jika, kamu tidak sengaja menyakiti Sany atau Amel?"
"Gilang dan Amel saling menyukai, kamu ..." kata-kata Marina terhenti Kenzo tiba-tiba membuka matanya.
"Aku tau, tidak perlu kamu jelaskan. Gilang sudah banyak mendikteku! Wanita rendah sepertimu, jika tidak becus menjadi ibu yang baik. Sebaiknya jangan pernah ikut mendikte peranku sebagai seorang ayah..." Kenzo menatap tajam padanya, wajah rupawan yang mengeluarkan aura dingin.
Marina mulai bangkit, pemuda rupawan yang hanya dengan beberapa kata-katanya saja membuatnya ketakutan,"Aku hanya ingin memberimu nasehat!! Lebih baik melepaskannya, daripada menahannya dalam ketidak bahagiaan..." ucapnya berlalu pergi dengan cepat, kembali masuk ke dalam ruang rawat Gilang.
Tangan Kenzo mengepal, fikirannya benar-benar kacau. Seharusnya melepaskan Amel untuk kebahagiaannya, bukan? Namun, tidak dapat melepaskannya wanita itu adalah hidupnya.
Hingga tangan seseorang menepuk bahunya. Seorang pria paruh baya,"Bagaimana bisnismu?" tanyanya, memberikan segelas kopi kemasan.
"Lumayan, maaf aku yang dulu membiayai Simon (mantan karyawan Bold Company) untuk mencelakai kalian," ucapnya meminum seteguk kopi yang diberikan Leon.
"Kamu sudah meminum kopinya? Aku meletakkan sianida di dalamnya," gurau Leon. Sedangkan Kenzo mengenyitkan keningnya, tidak dapat tertawa dengan leluconnya yang tidak lucu.
Leon menghela napas kasar,"Terimakasih, sudah menjadikan tubuhmu sebagai perisai untuk melindungi Gilang dari peluru yang ditembakan Simon,"
"Itu juga kesalahanku, aku yang membiayai Simon untuk membalas keluarga kalian. Hanya saja, saat itu aku tidak mengetahui Gilang akan ikut dicelakai. Jadi anggap saja, itu tidak pernah terjadi..." Kenzo kembali meminum kopi, tersenyum pada Leon.
"Gilang memang terkadang kekanak-kanakan. Tapi kali ini, menginginkan istri orang lain?" Leon duduk di samping Kenzo, menyenderkan punggungnya di kursi.
"Jika Amel belum menikah, aku akan membelanya. Cukup sulit menemukan wanita yang tepat untuk menjaga Gilang. Tapi kalian sudah menikah, janji pada Tuhan yang tidak dapat diingkari..." ucapnya.
"Aku pernah hampir membuat paman dan Gilang mati..." cibir Kenzo.
"Ayahku (Suki) menjadi penyebab kematian kedua orang tuamu..." Leon membalas cibirannya.
Mereka sama-sama tertunduk dan tersenyum, tertawa kecil. Seakan semua dendam diantara mereka telah impas.
Hingga Kenzo menghela napasnya, mulai bangkit,"Paman satu-satunya orang yang tidak menyalahkanku. Karena itu, aku akan memberimu hadiah kecil,"
"Nila, saat ini masih berada di rumah sakit jiwa. Itu semua perbuatanku, menyewa gigolo untuk membuatnya jatuh hati, bercerai dari paman Agra. Gigolo yang pada akhirnya melarikan semua uangnya. Menahannya di rumah sakit jiwa, terus-menerus mendapatkan siksaan, hingga tidak pernah kembali sembuh,"
"Tau kenapa aku melakukannya? Dia selalu ingin membunuhku dahulu, membiarkanku kelaparan. Tapi bukan itu yang utama, dia memiliki alasan melakukannya padaku..."
"Bibi Harnum, dialah yang merencanakan kematiannya. Aku satu-satunya saksi kunci perbuatannya..." lanjutnya, berjalan pergi meninggalkan Leon yang tertegun.
Tangannya mengepal, bibirnya tersenyum, perlahan berubah menjadi sebuah tawa dalam tangisannya. Akhirnya bukan dirinya yang membalas kematian Harnum. Namun, salah satu anak yang diperlakukan dengan adil oleh almarhum istrinya.
Mungkin jika Harnum masih hidup, tidak meninggal dalam kecelakaan. Kenzo tidak akan mendapatkan perlakuan yang buruk. Tidak perlu menerima trauma psikologis, anak yang membalas dendam seorang diri. Antagonis, keji dengan banyak luka di hatinya.
***
Malam semakin larut, Amel tertidur di sofa, berdampingan dengan Marina. Sedangkan, Leon pulang mengambil pakaian ganti.
Perlahan Kenzo masuk, hendak membawa Amel pulang.
"Kakak, aku benar bukan!? Dia tidak mencintaimu..." ucap Gilang dari tempat tidur pasien.
"Aku tau, tapi dia adalah milikku," Kenzo tersenyum, merapikan anak rambut yang menutupi wajah istrinya. Kemudian mengangkat tubuhnya, hendak membawanya pulang.
"Kenzo!! Aku akan berhenti mengejarnya, tapi jika kamu dapat membuktikan, kamu pantas untuknya," ucapnya.
"Dengan apa?"Kenzo menghentikan langkahnya.
"Tebus semua dosamu. Aku tidak peduli jika itu dengan nyawamu..." jawab Gilang, yang benar-benar tidak dapat menerima segalanya. Emosi, anggaplah ini kata-kata gegabah darinya.
Namun, berapa banyak perusahaan yang diakuisisi kakaknya, berapa nyawa petinggi Bold Company yang melayang karena Kenzo membebaskan Simon dari penjara, mendanai setiap pembunuhan yang dilakukan Simon. Penebusan dosa? Bagaimana caranya? Hal yang sulit, kecuali Tuhan memanggilnya, meminta dirinya mempertanggungjawabkan segalanya di hadapan-Nya.
"Akan aku lakukan, aku akan menebus semua dosaku. Agar merasa pantas untuk mendapatkannya..." Kenzo melangkah pergi, masih mengangkat tubuh Amel, berjalan meninggalkan ruang rawat Gilang.
Air mata Gilang mengalir,"Tidak bisakah kamu mengalah kali ini saja!?" bentaknya, melempar vas bunga hingga pecah berkeping-keping.
***
Perlahan tubuh Amel diletakkannya di dalam mobil. Melajukan mobilnya dalam kecepatan sedang menuju villa. Menebus dosa? Banyak hal yang ada dalam fikirannya.
"Aku akan melakukannya..." Kenzo berusaha tersenyum, tangannya memasang earphone di telinganya, hendak menghubungi seseorang.
"Tuan?" ucap seorang di seberang sana.
"Phill, kamu ingat Blood Cargo? Aku akan mengatasi segalanya. Pastikan Frans tidak tau tentang keberangkatanku..." ucap Kenzo menghela napas kasar.
"Tu... Tuan Blood Cargo berkaitan langsung dengan dunia bawah (jaringan Mafia). Kesana sama dengan mengantar nyawa sendiri, lebih baik..." kata-katanya terpotong.
"Aku memang tidak ingin hidup lagi...ini mungkin tugas terakhirku..." Kenzo melepaskan earphonenya, air matanya mengalir.
Memang terlalu banyak dosa yang dilakukannya. Untuk bersanding dengan istrinya kini. Mungkin ini penebusan dosa yang sepadan.
Bersambung