My Kenzo

My Kenzo
Design Baru



Gilang menghela napas kasar, tersenyum mengingat semua kenangannya. Perasaan yang terlambat disadari? Anggaplah benar, satu tamparan dari Marina masih terasa hingga saat ini. Kala dirinya yang telah mengetahui keburukan Keyla, mencari keberadaan Amel berharap Marina mengetahuinya.


Perasaan yang dipendam Amel selama dua tahun akhirnya diketahui olehnya. Mencintai dalam diam, berpura-pura tersenyum di hadapannya. Mungkin terlalu dalam rasa sakit yang diberikannya.


Alamat? Gilang sudah berusaha mencarinya hingga ke luar kota. Namun nihil, tanpa hasil sama sekali. Ayah tirinya mati di tangan sang kakak, mungkin karena itulah Amel meminta pertolongan padanya untuk membebaskan kakaknya.


Pengadilan? Penjara? Semua sudah dikunjungi olehnya. Namun Glen telah bebas, tanpa terjerat hukum sedikitpun. Ada seseorang yang menolongnya, entah siapa. Amel dan keluarganya menghilang tanpa jejak. Seseorang menyembunyikan mereka.


Mungkin hanya meminta bantuan Kenzo melalui Frans, satu-satunya harapannya saat ini untuk mendapatkan informasi tentang keberadaan Amel.


Gilang meneteskan air matanya, menghirup napasnya dalam-dalam. Dirinya tidak peduli lagi, siapa pun yang akan menghalangi mereka nanti."Aku akan memperbaiki segalanya, aku berjanji akan benar-benar egois kali ini. Agar kamu tetap bersamaku..."


Memperbaiki rasa sakit yang ditorehkannya selama 2 tahun. Tidak boleh jatuh cinta? Hanya sebatas sahabat? Orang yang pertama mengingkarinya adalah Amel. Kini Gilang mengerti, dirinya juga sejatinya juga telah ingkar dengan persahabatan mereka.


Suara bel apartemen terdengar, perlahan Gilang membukanya, tanpa melihat siapa yang datang melalui CCTV terlebih dahulu.


"Mau apa!?" tanyanya pada Keyla, menatap tajam.


"Gilang, aku akan meminta maaf pada Amel, karena sudah kasar padanya. Aku mencintaimu, kata-kata yang tidak sengaja aku ucapkan, karena..." ucapan penuh deru air mata terhenti, Gilang menatap tajam padanya.


"Kamu bersusah payah menyusulku ke Singapura hanya untuk ini? Buka pakaianmu, maka akan aku pertimbangkan permintaan maafmu...." ucapnya.


Membuka pakaian? Apa mungkin Gilang sudah menerimanya. Mungkin begitulah dalam anggapan Keyla.


"Aku akan membukanya di dalam apartemenmu, boleh aku masuk?" tanya Keyla, menatap Gilang dengan ekspresi mendamba, bergerak mendekatinya.


"Tidak...buka disini, atau tidak akan aku maafkan...." pemuda itu tersenyum.


Dengan ragu, Keyla menanggalkan seluruh pakaiannya. Tanpa sehelai benangpun, tubuh putihnya, terlihat memar bahkan lecet, perbuatan yang semalam dilakukan suaminya.


Perlahan berjalan mendekati Gilang,"Aku mencintaimu..." bisiknya.


Gilang melangkah, memunguti semua pakaian Keyla, termasuk segi tiga bermuda berharga fantastis dengan tali dan renda. Kemudian melemparkannya ke bawah, melalui jendela di lorong apartemen.


"A...apa yang kamu lakukan!?" Keyla terlihat tidak mengerti, memeluk Gilang dari belakang tanpa sehelai benangpun di tubuhnya. Dua bagian lembut tanpa penghalang menempel sesak di punggung Gilang. Tangannya merayap ke depan, hendak membuka ikat pinggang pemuda itu. Guna menuntunnya masuk ke dalam apartemen.


"Aku memaafkanmu. Tapi jika bukan karena kepercayaan butaku padamu, Amel tidak mungkin pergi. Jadi, jangan pernah berharap memasuki keluargaku dengan status, nyonya besar. Itu bukan milikmu..." bisiknya, berbalik mendorong tubuh Keyla yang memiliki bentuk sempurna.


Tidak terpengaruh sedikitpun? Tentu saja, mengingat entah berapa pria yang telah menyesap seluruh tubuhnya. Entah berapa pria yang mengguncangnya di tempat tidur.


Bentuk tubuh indah? Percuma saja, tidak ada cinta disana, hanya menginginkan materi.


Brug...


Pintu Apartemen dibanting Gilang dengan kencang. Tidak membiarkan Keyla memasukinya, menyisakan wanita itu tanpa busana di lorong apartemen.


"Gilang!! Buka!! Jangan bercanda!!" teriaknya.


Gilang tersenyum, menghela napas kasar, selama memiliki hubungan dengan Keyla, Amel selalu menjaganya. Tidak membiarkan dirinya melakukan hubungan di luar nikah, kesalahan yang akan disesalinya. Kini dirinya sudah mengerti, seseorang yang mencintainya dengan tulus tanpa mengharapkan balasan. Menahan rasa sakit seorang diri.


***


Hari sudah menjelang sore, lebih dari 12 jam perjalanan mereka tempuh. Langsung melaju menuju hotel. Entah ada apa, Frans bagaikan orang kesetanan, membangunkan mereka dini hari. Bahkan tidak membiarkan mereka mandi.


"Aku ingin tidur..." Amel memasukkan dirinya ke dalam selimut di hotel tempatnya menginap, setelah check in.


"Mandi dulu..." Kenzo menarik kakinya dari tempat tidur.


"Tidak mau," gadis itu keras kepala, kembali memasukkan dirinya ke dalam selimut.


"Bath tub disini cukup besar. Mau mandi sendiri atau mandi bersamaku!?" tanyanya, mulai mengangkat tubuh Amel beserta selimutnya ala bridal style.


"Turunkan aku!! Aku bisa mandi sendiri!!" bentak Amel meronta-ronta bagaikan ulat.


"Tidak mau, kita mandi bersama? Memakai pakaian petani? Bercocok tanam?" tanyanya dengan nada sensual.


Amel membulatkan matanya, mengenyitkan keningnya,"Ka ...kamu mengetahui tentang pakaian petani!" tanya Amel gelagapan, di dalam kopernya pakaian maksiat dari Nindy masih tersimpan. Walaupun saat ini tidak mungkin dapat digunakannya mengingat ukuran tubuhnya yang jauh menyusut.


"Tentu saja, kita tinggal bersama dalam waktu yang cukup lama. Merah, renda hitam, saringan tahu biru muda, bahkan..." kata-kata Kenzo terpotong.


"Cukup!! Mesum!! Memalukan, turunkan aku!!" kesal Amel, hingga akhirnya Kenzo menurunkannya di depan pintu kamar mandi.


Menatap matanya, kemudian mengacak-acak rambut Amel,"Aku mencintaimu, jadi sayangilah dirimu. Hingga kita dapat menua bersama, rajin membersihkan diri, berolahraga dan makan-makanan sehat..." bibir Amel dikecupnya sekilas kemudian tersenyum.


"Jangan pernah mati mendahuluiku," lanjutnya, keluar meninggalkan kamar hotel.


Amel tertegun diam, dengan detakan jantung tidak dapat dikondisikan. Baru menyadari satu hal, Kenzo tidak pernah bermaksud menindasnya. Hanya terlalu protektif padanya, ingin bersama lebih lama dengannya. Menggunakan gagasan gila dalam dirinya.


Pintu yang telah tertutup sempurna itu, dilihatnya tanpa berkedip. Menemukan pria baik? Bukan harus kang cilok, kang ojek, atau kang parkir. Tidak harus dokter, pilot, CEO, anak konglomerat, bahkan pejabat. Tapi ini harus... harus menemukan orang yang sempurna.


Sempurna? Bukan rupa atau sifatnya, tidak ada manusia yang sempurna atau berhati sebersih malaikat. Tapi seseorang yang dapat mencintai dengan sempurna, apapun statusnya, bagaimana pun rupanya, jika dapat mencintai dan dicintai dengan sempurna, mungkin itulah kebahagiaan.


***


Kedua orang itu menguap bersamaan, keluar dari mobil di depan sebuah universitas ternama. Menanti kedatangan Nindy, setelah berkirim pesan sebelumnya.


Rupawan? Orang Prancis terkenal dengan rupanya yang bisa dibilang menggoda, fashionable, tubuh yang indah. Tidak semua, namun sebagian besar.


Nindy akhirnya terlihat juga, menggandeng seorang pria asing. Bercengkrama, entah apa yang mereka bicarakan. Hingga pada akhirnya, mencium pipi kanan, pipi kiri Nindy. Sang pria berwajah rupawan melirik ke arah Amel. Melintas pergi mengedipkan sebelah matanya.


Perhatian Nindy mulai teralih, berjalan mendekati mereka dengan raut wajah datar.


Amel tersenyum, ikut berjalan mendekat hendak memeluk adik yang dirindukannya, penuh rasa haru.


Namun, pelukan tidak bersambut, Nindy menghindari Amel berjalan cepat mendekati Kenzo.


Plak...


Satu tamparan di layangkannya pada pemuda yang menyokong biaya kuliahnya.


"Siapa wanita jal*ng ini!! Dimana kakakku!! Aku tau dia gemuk, jelek, dekil seperti Dugong. Tapi jangan menyakitinya dengan membawa wanita sialan ini..." tangisannya Nindy pecah, tidak dapat mengenali kakaknya sendiri.


Tidak menyadari, dirinya harus mulai membuat design pakaian petani baru. Mungkin pakaian maksiat yang lebih gila lagi, untuk tubuh kakaknya.


Bersambung