
Sekarang, butik milik Nindy...
"Brandon mengurus cabang butik yang lain. Ini demi kebaikan bersama..." ucapnya menghela napas kasar.
"Terlalu melelahkan dan terlalu sering?" Amel menipiskan bibir menahan tawanya.
Nindy mengangguk kembali menghela napas, mengingat dirinya yang harus mengurus putrinya yang baru berusia 2 tahun sepulang kerja. Kemudian setelah sang anak tertidur, harus mengurus Jelly nata de coco. Mengurus? Maksudnya saling memanjakan... suaminya jika sudah dirayu terlalu agresif sulit dihentikan. Jika tidak dirayu, tangan Nindy bagaikan gatal ingin menggoda pemuda yang memiliki senyuman termanis baginya.
"Marina mengirim undangan pernikahannya untukmu. Dia menikah dengan mantan pacarnya yang baru keluar dari penjara. Sany yang sudah menempel pada ibu masih saja tidak dipedulikan oleh orang tuanya yang akan menikah. Benar-benar dua orang yang tidak bertanggung jawab..." cibirnya, memberikan undangan atas nama Marina dan Andreas.
"Buang saja..." Amel meraihnya, memasukkan ke dalam tempat sampah.
"Omong-ngomong ini siapa?" tanya Nindy menatap Amel yang membawa seseorang di belakangnya.
"Saya Diah, panggil saja tante Diah. Kamu adiknya Amel, butik ini milikmu? Bagus ya? Bisa temani tante berkeliling?" ucap Diah tanpa sungkan. Nindy mengenyitkan keningnya, bagaikan mesin pendeteksi karakter manusia.
"Kakak dia siapa?" bisiknya pada Amel.
"Perlakuan tante Diah dengan baik, tunjukkan barang-barang yang paling berkelas," jawab Amel tersenyum.
"Iya..." Nindy hanya menurut, mulai mengantar Diah berkeliling. Sementara Amel hanya duduk di sofa singgel.
Hal yang akan dilakukan Diah? Tentu saja berkeliling mengamati design-design yang ada disana. Kagum dengan benda-benda bernilai ratusan juta, bahkan gaun bertahtakan kristal yang memiliki harga lebih dari satu miliar.
Secara logika, Diah yang baru mengenal Amel akan mengambil benda dengan harga sedang. Mengingat dirinya yang tengah mencari perhatian Amel. Berjaga-jaga jika harus membayar sendiri.
Dan benar saja, Amel yang mentraktirnya. Apa yang kurang dengan hari ini? Mungkin begitulah anggapannya.
Bersenang-senang ala sosialita, menjadi pusat perhatian wanita-wanita kalangan atas, bahkan dapat merasakan lebih muda, dengan sentuhan...
Amel harus menjadi menantunya. Hanya satu itulah yang diinginkannya.
Persis bagaikan siluman rubah putih, yang menggoda memanjakan dengan bulu-bulu dekornya. Perlahan membuatnya menyerah untuk memberikan jantung dan hatinya.
Spa, lapangan golf, menjadi tujuan mereka. Hingga berakhir kembali ke villa, mengambil kopernya. Mengingat Virgo yang mencoba menghubunginya berulang kali. Hidup yang benar-benar menyenangkan, harus berakhir kala matahari tenggelam.
Belum puas rasanya...
***
Tapi tidak dengan Amel yang baru usai mengantar Diah pulang, tersenyum telah menanamkan bibit keburukan padanya.
Mobilnya kembali melaju membelah jalanan perkotaan. Mulai menghubungi seseorang,"Kenzo kamu dimana?" tanyanya.
"Aku? Di hotel Bea nomor kamar 235 besama seorang wanita. Datanglah kemari..." ucapnya mematikan panggilan sepihak.
Amel mengenyitkan keningnya kesal, menginjak pedal gasnya dalam-dalam. Tidak terima dengan kata-kata yang keluar dari mulut Kenzo.
"Beraninya membawa wanita ke hotel!!" teriaknya kesal.
***
Rambutnya terlihat basah, wajahnya tersenyum usai mematikan panggilan dari istrinya. Hingga perlahan seorang wanita keluar dari kamar mandi, memakai pakaian hitam, namun benar-benar tipis. Memperlihatkan dengan jelas lekukan tubuhnya.
"Jadi Dava, kapan kita akan menikah?" tanyanya naik ke atas pangkuan Kenzo, menghirup dalam-dalam aroma maskulin di tubuhnya yang hanya berbalut jubah mandi.
Kenzo tersenyum, menyentuh dagu Kiki,"Lihat mataku, apa kamu mencintaiku?" tanyanya.
"Tentu saja, kita bisa seperti dulu lalu..." kata-kata Kiki terpotong, membulatkan matanya mendengar pernyataan dari mulut seseorang yang masih dianggapnya sebagai Dava.
Seketika wajah Kiki pucat pasi, turun dari pangkuannya, berjalan mundur beberapa langkah. "Maaf..." hanya itulah kata yang keluar dari mulutnya dalam isakan tangisnya.
"Untuk apa? Apa karena memberi narkotika di minumanku?" tanya Kenzo, menatap tajam padanya.
"Maaf..." tidak ada penjelasan lagi, dirinya memang telah mencelakai kekasihnya.
"Maaf? Aku tidak bisa membuat tembikar lagi karenamu..." ucap Kenzo, melempar sebuah vas bunga, nyaris menyentuh tubuh Kiki.
Jemari tangan Kiki gemetar. Dava pemuda bodoh itu begitu mencintainya. Jika bersungguh-sungguh minta maaf mungkin Dava akan kembali seperti dulu, pemuda yang begitu memanjakannya.
"Dava, aku salah tapi aku mencintaimu. A...aku hanya panik, tidak ingin jika kamu mengetahui aibku. Jadi aku mengikuti keinginan Praba..." ucapnya bersimpuh, mengepalkan tangannya.
Entah kenapa dirinya merindukan sosok Dava yang dulu. Pemuda baik hati yang menunjukkan trik sulapnya. Tapi, apa jika dirinya berlutut Dava akan kembali?
Pria yang begitu mencintainya akan muncul? Tapi tidak...
Prang...
Sebuah meja kaca ditendangnya, pecahan yang hancur berantakan, tepat di hadapan Kiki.
Dava? Apa kamu berubah karena perbuatanku? Aku mohon kembalilah... harapannya.
Dirinya terdiam, mulutnya tiba-tiba dicekoki wine,"Aku membencimu!!" Kenzo tersenyum padanya tidak peduli pada napasnya yang terengah-engah.
"Da... Dava aku yang telah mendorongmu, aku salah. Praba berkata perusahaan keluargamu akan hancur jadi..." ucap Kiki terbatuk-batuk, kala tubuhnya telah dipenuhi wine, saat Kenzo menghentikan tindakannya.
"Tolong kembalilah seperti dulu, setelah aku mengambil semua uang Baron dan kamu mengeruk uang Amel. Kita akan tinggal di villa, kita membuat villa kecil seperti milikmu dulu, dengan tempat pembakaran dan gudang tembikar disana..." kata-kata tulus dari mulutnya.
Entah sejak kapan dirinya mulai mencintai Dava yang baik hati. Namun, perasaan yang mulai disadarinya ketika telah kehilangannya. Pemuda yang telah didorongnya hingga terjatuh dari kapal Ferry.
"Jadi kamu yang mendorong Dava? Dan dalang kehancurannya adalah Praba?" raut wajah Kenzo perlahan berubah.
Dava? Dava menyebut namanya sendiri? Bagai tidak ingat apapun? Apa yang sebenarnya terjadi?
Pintu kamar hotel tiba-tiba terbuka, seorang wanita datang melangkah terlihat murka."Kenzo!! Sudah aku bilang jangan berselingkuh!!" bentak Amel dengan nada tinggi.
"Ke... Kenzo?" tanya Kiki tidak mengerti, menatap ke arah Amel.
"Kemari! Jangan cemburu..." ucapnya tersenyum lembut, membuka tangannya seolah menyambut Amel agar berjalan ke pelukannya.
Jemari tangan Kiki kembali gemetar,"Kamu bukan Dava!? Dava hanya mencintaiku. Tidak mungkin..."
"Aku memang bukan Dava. Semua adalah kebohongan orang tua Dava, menginginkan anaknya hidup kembali. Menyelamatkanku dari laut agar hidup menggatikan Dava..." ucapnya tersenyum, merangkul pinggang istrinya.
"Tidak mungkin!! Jadi dimana Dava!? Kalian menyembunyikannya!?" Kiki yang emosional mulai membentak, air matanya mengalir tidak terkendali.
"Dava sudah meninggal, karena perbuatanmu," Kenzo berjalan, mengambil dokumen sebagian hasil penyelidikan yang didapatkannya.
Kiki terdiam, pemuda polos yang mencintainya, bagaimanpun buruknya dirinya sudah meninggal?
"Dia menderita kompilasi pada jantung dan hatinya, serta kerusakan saraf. Tanpa kamu dorong pun, dia akan tetap mati perlahan karenamu," jelasnya.
Kiki terdiam dunianya terasa runtuh, orang yang paling mencintainya ternyata sudah mati..."Da... Dava..." lirihnya.
Bersambung