
14 tahun lalu...
Bagaimana sifat Dava yang sebenarnya? Tidak begitu pintar di bidang akademik. Namun pemuda itu cukup ramah, perlahan memarkirkan mobilnya di depan toko brownies coklat langganan ibunya. Sekotak martabak asin juga telah berada di mobilnya untuk sang ayah.
Kuliah S1? Dirinya lebih menginginkan untuk menjadi seniman dari pada membantu ayahnya di perusahaan. Membuat kerajinan dari tembikar, namun dirinya juga tidak ingin mengecewakan sang ibu yang selalu dibicarakan keluarga besarnya, karena menjadi anak yang tidak dapat dibanggakan. Walaupun Vanya selalu bangga, apapun yang dilakukan putranya.
Damian yang menyayanginya, tidak pernah melarangnya untuk membuat kerajinan dari tembikar, sebagai hobi. Bahkan secara khusus, membuatkan villa kecil dengan fasilitas gudang dan tungku membakar tembikar di bagian belakangnya. Khusus untuk putra tunggalnya.
Hujan lebat melanda malam itu, mesin mobil yang dikendarainya tiba-tiba mati."Sial!!" umpatnya, meraih phonecellnya hendak menghubungi sang supir.
Namun tanpa diduga, seorang wanita dengan banyak luka dan tubuh yang basah, memasuki mobilnya,"Tolong sembunyikan aku..." pintanya lirih.
Dava terdiam, memalingkan wajahnya, belahan dada itu terlihat akibat pakaian sang wanita yang minim.
Bug...bug...bug...
Suara jendela mobilnya di gedor, dengan cepat sang wanita menarik Dava, mendekatkan dengan wajahnya. Membuat seolah-olah, mereka tengah berciuman. Tidak ingin wanita yang tengah emosi memegang pisau belatinya, menemukannya. Wanita gemuk berbadan besar yang tengah mengintip dari jendela.
"Sial!!" umpat sang wanita gemuk menyangka pasangan muda-mudi dalam mobil tengah melakukan perbuatan tidak senonoh. Kembali ke tempat lain mencari keberadaan Kiki.
"A...a... aku..." Dava gelagapan menjauhkan dirinya.
"Namaku Kiki, terimakasih..." wanita itu mengulurkan tangannya, matanya menelisik mengamati mobil berharga fantastis milik pemuda di hadapannya.
"Dava..." ucapnya tersenyum, menyambut jabat tangan sang wanita.
Teman biasa? Itulah dalam anggapan Dava. Namun, tidak dengan Kiki, dirinya menginginkannya mengingat dirinya sudah tidak memiliki tempat untuk pulang. Setelah prilaku buruknya terbongkar, menjadi selingkuhan majikannya sendiri.
Wanita yang mengejarnya? Wanita itu merupakan istri sah dari majikannya. Orang desa lulusan SMU yang bekerja sebagai ART berakhir menjadi selingkuhan majikannya? Itulah sosok Kiki yang sebenarnya. Wanita desa yang perlahan terbuai akan hingar-bingar perkotaan, mendapatkan uang dengan jalan yang mudah. Bersenang-senang dan menikmatinya.
"Orang tadi ibu tiriku, aku tidak memiliki tempat untuk pulang. Bisa kamu menampungku...aku mohon..." dustanya.
Dava yang memang memiliki perilaku polos tersenyum, mengetahui memang banyak kamar kosong di rumahnya,"Tentu saja, tapi lihat dulu sulapku...abra kadabra..." ucapnya mengeluarkan tongkat, kemudian menjadikannya bunga yang cantik.
"Jangan menagis..." Dava tersenyum tidak tega padanya.
Sedangkan Kiki hanya mengangguk,"Kamu hebat..." ucapnya berusaha terlihat kagum, isi hatinya? Tentu saja ingin mengetahui rumah pemuda yang akan menampungnya. Pemuda yang akan menjadi tempatnya menyandarkan hidupnya nanti.
***
Rumah yang cukup luas, Vanya yang sebenarnya juga berasal dari keluarga biasa memperlakukannya dengan baik, begitu juga dengan Dava.
Dava? Pemuda baik hati yang tidak dekat dengan wanita manapun. Membiayainya memasuki fakultas yang sama dengannya. Iba? Mungkin iya, mengingat cerita kebohongan Kiki tentang keluarganya yang tidak utuh dengan ibu tiri yang keji. Serta luka di tubuh Kiki saat pertama kali bertemu dengannya.
Bagaimana persahabatan dapat dirubah menjadi cinta? Dengan kepandaian dan tipu daya semua dapat berubah.
Seperti hari ini, Kiki yang memang memiliki wajah rupawan yang cantik. Sengaja meminta mahasiswi lainnya untuk membully-nya.
Wanita itu menangis, menemui Dava yang tengah berada di dekat parkiran gedung fakultas.
"Kiki..." ucapnya menatap tubuh wanita itu yang basah kuyup dengan tepung di sekujur tubuhnya.
"A...ada yang menyiramku," gumamannya, terisak.
"Tidak apa-apa, kita akan pulang. Jangan menangis ya..." jemari tangan Dava perlahan tersangkat menghapus air matanya.
Namun tanpa diduga, Kiki memeluknya erat,"Terimakasih..." ucapnya bagaikan menangis terisak.
"Jangan menagis..." Dava tersenyum, tanpa disadari refleks membalas pelukannya.
Bukan hanya ini alasan untuk mulai jatuh cinta padanya. Wanita itu memperhatikan Vanya, membuatkan teh dan sering berbincang dengannya.
Seiring langkahnya perasaan itu mulai tercipta. Menggagunya menjadi sebuah kebiasaan untuknya. Menghiburnya, senyuman yang setiap hari di lihat oleh Dava.
Hingga ada kala kondisi kesehatannya memburuk. Saat itulah Kiki datang, memberinya plester pereda demam, mengurus tambang uangnya dengan baik.
Namun tidak dengan Dava, hatinya benar-benar luluh kala itu. Berdebar tidak menentu, ingin menjaga dan melindunginya, merasa beruntung jika dapat memilikinya.
"Ini untukmu..." ucapnya kembali mengubah tongkat menjadi bunga, setelah keadaannya jauh lebih sehat. Tidak banyak hal yang dapat dilakukannya, hanya untuk membuat Kiki tersenyum.
"Terimakasih..." hanya senyuman palsu, tanpa perasaan yang ditujukan wanita itu.
Wajah Dava yang pucat, tersenyum tulus padanya. Tidak ingin dirawat di rumah sakit, lebih menyenangkan jika dapat bersama lebih lama wanita yang dicintainya.
Tidak menyadari itu hanya sebuah ilusi semu, mata air di padang pasir yang sejatinya tidak pernah ada.
***
Satu tahun sudah mereka saling mengenal, terjerat dalam status teman. Dava ingin mendapatkan hatinya perlahan...
Tembikar mulai dibakarnya, menghangatkan diri di tengah dinginnya udara perbukitan.
"Mau?" tanyanya, menyodorkan ubi rebus. Kiki hanya menggeleng, ikut menghangatkan dirinya.
Dava menghela napas kasar, untuk pertama kali dalam hidupnya, mencintai seorang wanita. Tanpa menyadari itu adalah sebuah kebohongan. Hatinya berdegup cepat, untuk mempererat statusnya, mengatakan,"Aku mencintaimu..."
Kiki menoleh padanya, sumber uangnya akhirnya mengatakan kata itu juga. Hingga jawaban dengan cepat keluar dari mulutnya,"Aku juga..."
Wanita itu tersenyum, kini saatnya mengikatnya. Memperjelas statusnya, tengkuk pemuda itu diraihnya, menjelajahi tanpa mendapatkan balasan,"Kenapa?"
Dava tertunduk,"Aku tidak pernah berciuman," menahan debaran cepat di hatinya.
"Aku akan mengajarimu, bahkan hal yang lebih menyenangkan dari sekadar berciuman..." bisiknya, meletakkan jemari tangan Dava di dadanya. Membimbingnya untuk memainkannya.
"Ini tidak benar... kita..." Dava menjauhkan tangannya. Tidak ingin berbuat hal yang akan disesali mereka.
"Kamu tidak mencintaiku? Ini cara untuk membuktikan segalanya..." Kiki kembali membungkam bibir Dava dengan ciuman. Seorang pemuda yang tidak memiliki pengalaman. Hatinya berdebar untuk mencintai, menginginkan untuk terus bersama.
"Katakan kamu mencintaiku..." wanita itu kembali berbisik.
"Aku mencintaimu..." Dava tahu ini salah, namun dirinya ingin terus besama wanita yang mungkin dapat menerimanya apa adanya, seorang Dava seniman tembikar, seorang Dava yang senang bermain trik sulap, seorang Dava yang terkadang jatuh sakit.
Hingga semua dilakukannya, membuktikan rasa kasihnya pada Kiki. Tidak perawan? Dirinya tahu dari cerita teman-temannya yang sudah pernah menghirup harum aroma tubuh wanita. Tidak terasa sempit sama sekali, darah itu juga tidak ada. Wanita itu menikmati segalanya, tanpa merasa sakit sama sekali.
Tidaklah mengapa, Kiki menjadi yang pertama untuknya. Namun dirinya bukan yang pertama untuk Kiki. Hanya dapat menerima apa adanya, karena mencintainya.
Api yang membakar tembikar masih menyala, pasangan yang terdiam hanya dengan beralaskan karpet dan berbalut selimut dalam gudang yang dipenuhi tembikar.
Kiki menonggakkan kepalanya, menatap wajah Dava. Apa pemuda ini akan kecewa padanya? Mungkin itulah yang ada di fikirannya.
Namun tidak Dava tersenyum, bahkan tidak bertanya,"Sekarang kamu percaya, aku mencintaimu?" tanyanya.
Bodoh... itu satu kata dalam hati Kiki. Namun dirinya hanya dapat tersenyum, memaikan pemuda itu bagaikan boneka.
"Aku bahagia..." kata-kata dari mulut Kiki, memeluk tubuh erat pemuda yang memberikan hati yang tulus padanya.
Bersambung