
7 tahun kemudian, negara lain...
"Terimakasih..." Elina, gadis rupawan dengan tubuh menggoda mulai berjalan. Berpakaian ketat, menjadi sekretaris meraih salah satu dokumen.
Wanita yang memakai sepatu hak tinggi itu melewati Scott, pemuda yang terlihat bagaikan berkebangsaan Asia Timur, berpakaian office Boy. Membersihkan beberapa ruangan menggunakan earphone yang melekat di telinganya.
Dua orang partner yang tersenyum, mencari kelemahan perusahaan. Melumpuhkan atas nama papa mereka.
"Kak Scott, apa datanya sudah dikirim?" tanya seseorang diseberang sana, yang tengah dihubunginya melalui earphone.
"Sudah dasar cerewet..." Scott tersenyum, mematikan panggilannya.
Di tempat lain, tepat di kantor pusat gedung W&G Company. Dua orang memakai earphonenya, mengerjakan isi data yang baru dikirim. Mengelompokkannya dari yang penting dan tidak, Steven yang anak angkat yang termuda kini berusia 14 tahun dan Febria yang baru berusia 7 tahun.
"Sudah kalian kerjakan?" tanya Elisha remaja berusia 17 tahun yang duduk di kursi roda.
"Sudah!!" jawab Steven dan Febria bersamaan.
"It's so time!! Kita kirim virusnya sekarang!!" remaja itu tersenyum, memakan potongan buah yang ada di mangkuk dekat mejanya.
***
Kembali ke kantor perusahaan yang tengah mereka serang, seluruh layar komputer tiba-tiba berwarna merah.
Seorang wanita berjalan diikuti beberapa petinggi perusahaannya. Melangkah cepat menekan tombol lift menuju ruangan CEO.
Semua orang memperhatikan wanita dengan tubuh dan wajah menggoda tanpa celah itu. Bahkan bertambah cantik saja walaupun telah melahirkan dua orang anak.
Brak...
Pintu ruangan CEO dibukanya, sang CEO perusahaan itu tertegun.
"Ka...kamu siapa?" tanyanya ketakutan.
"Perkenalkan aku Amel Anggraini, aku mewakili suamiku Kenzo. Ingin mengakuisisi perusahaan ini..." wanita itu tersenyum, dengan riasan wajah naturalnya. Bagaikan iblis berwajah malaikat yang menerkam segalanya. Menggunakan nama suaminya, seolah-olah dirinya hanya boneka.
"Ka...kamu jangan macam-macam!! Pemegang saham..." kata-kata CEO perusahaan tersebut disela.
"Semua sudah menjual sahamnya pada kami pagi tadi, saat dimana harga saham kalian turun drastis karena video putra CEOnya yang melecehkan wanita..." wanita itu masih setia tersenyum.
Wajah sang CEO pucat pasi, meraih tab-nya dan benar saja gambar-gambar putranya yang seringkali sewenang-wenang di kampus tersebar luas,"Aku tidak akan menjual saham milikku!! Selama aku tidak menjualnya, perusahaan ini akan tetap menjadi milikku, bukan!?" bentaknya dengan wajah memerah.
"Baik jika itu keputusanmu," Amel tersenyum lebih dingin lagi, "Suamiku lebih suka menghancurkan perusahaan yang tidak dapat dimilikinya,"
"Pengolahan limbah pabrik yang salah, kecelakaan kerja karyawan tanpa tanggung jawab perusahaan, satu lagi dosa yang paling besar, menjual karyawan untuk mendapatkan tender dari klien..." lanjutnya.
Tangan sang pria paruh baya yang menjadi CEO perusahaan miliknya sendiri itu gemetar. Perusahaannya telah dikuasai seorang iblis bernama Kenzo. Menggerakkan istrinya sendiri? Mungkin sang suami lebih mengerikan lagi.
"A...aku akan menjual sahamku..." ucapnya gelagapan.
"Bagus...senang berbisnis dengan anda..." Amel menunduk kembali tersenyum tanpa dosa,"Frans, tolong urus pengalihan perusahaan. Kita akan mengadakan makan malam keluarga hari ini..."wanita itu merenggangkan otot-ototnya sembari berjalan pergi.
Frans menghela napas kasar, awalnya dia kira perusahaan akan hancur setelah Kenzo menghilang. Siapa sangka, 5 anak angkat yang manis berubah menjadi iblis. Bahkan si kembar yang baru berusia 7 tahun lebih mengerikan lagi, Febria yang pandai dalam IT dan Ferrell yang ahli dalam strategi bisnis.
Hal yang gila bukan, IQ mereka jauh di atas rata-rata. Bahkan berhasil lulus di ujian terbuka universitas ternama di Inggris. Andai saja, Amel tidak mencegahnya, tidak ingin kedua anaknya kehilangan masa kecilnya untuk bermain dengan tinggal jauh darinya.
***
Sedangkan di tempat lain Joe dan Ferrell menghela napas kasar, membawa dua orang bodyguard.
"Jadi kamu menggunakan nama papaku untuk menipu orang-orang..." Ferrell menendang wajahnya.
"Ma ... maaf..." pemuda berusia sekitar 40 tahun itu meringis kesakitan usai dipukuli tiada henti.
"Sudahlah, kita harus pulang, mama bilang akan mengadakan barbeque malam ini...." Joe menghentikannya.
Ferrell mengepalkan tangannya air matanya mengalir. Mencari informasi tentang ayah mereka yang sejatinya masih hidup atau sudah mati tidak diketahui olehnya.
Wajah yang hanya diketahuinya dari foto, dan ciri-ciri bekas luka. Dirinya juga ingin merasakan bagaimana seorang ayah memeluknya. Setiap ada orang yang menggunakan nama ayahnya, dengan penuh harapan dirinya atau saudara-saudaranya akan ke sana sesibuk apapun.
Dengan harapan, sang ayah yang tidak pernah ditemukan jasadnya, masih hidup.
***
Bau daging tercium, Amel menjadi juru masaknya kali ini. Satu persatu dihidangkannya.
"Ini hadiah untuk kalian..." ucap Amel penuh senyuman, memberikan satu persatu piring dibantu pelayan.
"Bayaran kalian, sudah mama transfer ke tabungan kalian masing-masing. Ok...?" lanjutnya mulai makan dengan mulut penuh.
"Mama, Apa mama tidak berniat menikah lagi...?" Elina yang tertua menatap ke arah ibu asuhnya. Iba? Tentu saja, sudah lebih dari 7 tahun ayah mereka menghilang. Amel juga berhak untuk bahagia.
Semua orang yang awalnya tertawa bergurau, menghentikan aktivitas makannya.
Amel berusaha tersenyum, dengan air mata yang mengalir,"Tidak..." wanita itu menggeleng,"Sudah aku katakan, papa kalian masih hidup,"
"Jika pun sudah mati, dia akan menemuiku ketika aku menua dan mati nanti..." lanjutnya.
Steven yang berambut putih dengan mata birunya, menghela napas kasar, ingin mencairkan suasana."Jadi kapan mama akan mempersiapkan pertunanganku dengan Febria?"
"Kakak!!" Febria mengenyitkan keningnya kesal.
"Jangan panggil aku kakak!! Mereka kakakmu!! Tapi aku bukan!!" ucapnya penuh keseriusan.
Joe menarik telinga Steven, "Dasar anak kecil!! Selesaikan dulu tugas homeschooling-mu!!"
"I ...iya!! Sakit..."
Amel mulai dapat tertawa. Walau sejatinya masih merindukan sosok suaminya. Menutup hatinya untuk semua pria, menunggu pemuda itu tidak marah lagi padanya dan bersedia menemui dirinya. Walau hanya dalam mimpipun tidaklah mengapa...
***
Seorang pemuda rupawan membawa alat untuk berubah di tangannya, dengan monster berada di hadapannya."1...!!2...!!3...!!" tombol ditekan dan sebuah kapsul dimasukkannya," Ultraman, Ultraman Belial... Ultraman Geed..."
Efek khusus berupa asap memenuhi panggung terlihat, dengan cepat dirinya berlari turun, digantikan oleh seseorang yang berkostum Ultraman, berkelahi seru di panggung melawan monster.
Anak-anak yang menyaksikan terlihat kagum, menyaksikan pertarungan. Sementara Dava tersenyum, kini berada di belakang panggung.
"Tugasmu untuk pertunjukan hari ini sudah selesai," salah satu karyawan taman hiburan menghela napasnya. Menatap Dava mulai melepaskan atributnya.
"Kalau begitu saatnya jadi Donald Duck..." pemuda itu tersenyum, mulai meraih kostum bebeknya. Berjalan penuh rasa optimis mengenakan kostum di bantu sang pegawai lainnya.
Donald Duck yang berjalan di area taman bermain, beberapa orang berfoto dengannya. Hingga malam menjelang, tiba saat dirinya pulang.
Menelusuri jalanan dengan berjalan kaki terkadang pemuda itu menonggakkan kepalanya ke arah langit. Merindukan sesuatu, tapi entah itu apa, hingga daun berwarna merah gugur walaupun hanya sehelai.
Kenangan seseorang bersandar di punggungnya yang tengah mengayuh sepeda terlintas. Berat, gadis yang benar-benar berat. Tapi siapa?
Bukan hanya kali ini, dirinya juga pernah, ketika berenang dengan teman-temannya, sesama pegawai taman hiburan. Merasa pernah mencium wanita gemuk yang sama di kolam. Potongan ingatan yang terkadang membuat air matanya mengalir entah kenapa. Namun segera diseka olehnya.
Hingga akhirnya berjalan cepat, sampai di rumah yang dikontrak mereka selama beberapa tahun ini. Rumah yang tidak begitu besar, harum aroma sup yang hanya berisikan ceker ayam dan aroma tempe goreng menyeruak.
Dengan cepat pemuda itu segera meletakkan tas yang talinya hampir putus. Berjalan menuju meja makan mengambil sendok dan piring.
"Tunggu ayahmu dulu!!" Vanya menatap tajam pada Dava.
"Maaf..." pemuda itu kembali duduk, menunggu kepulangan ayahnya yang kini berprofesi sebagai kuli bangunan.
Dan benar saja, seperti sudah diduga, Damian sang ayah membawa martabak yang paling disukai Dava. Harum aroma martabak manis tercium menyengat, menyebar dengan cepat.
"Kita makan nanti setelah makan nasi..." ucapnya mencuci tangan kemudian duduk di kursi meja makan.
Keluarga kecil yang hangat baginya. Walaupun di rumah kecil, makanan sederhana, namun kedua orang tuanya begitu mencintainya.
Hingga pemuda itu menghela napas kasar, memikirkan sesuatu,"Apa aku dulu pernah memiliki teman wanita yang gemuk? Pacar mungkin?" tanyanya.
Pasangan suami-istri itu saling melirik, Damian bahkan terbatuk-batuk.
Bersambung