
"Sial!!" umpat Scott, menghela napas kasar. Menuruti perintah ibunya.
Gedung universitas ternama terlihat, perlahan dirinya melangkah menelusuri satu persatu lorong. Kampus? Belajar secara formal? Itu bukanlah gayanya. Sekolah formal yang diikutinya hanya sampai Secondary High School (SMP), selebihnya menjalani home schooling hingga sekarang telah memiliki gelar bachelor (S1). Penyebabnya? Ibunya yang tidak dapat tinggal tetap di satu negara.
Cemas dan trauma? Begitulah mereka setelah Kenzo menghilang. Tidak ingin ibu mereka sewaktu-waktu bertindak gegabah dalam kesendiriannya. Tidak ingin Amel melakukan tindakan fatal seperti yang terjadi pada Kenzo.
Perlahan Scott melangkah, beberapa mahasiswi tertegun menatapnya. Mengira pemuda rupawan berdarah Jepang itu merupakan mahasiswa baru.
Hingga pada akhirnya ruangan rektor terlihat, menghela napas kasar mulai mengetuk pintu.
"Masuk..." suara seorang pria paruh baya terdengar.
Pintu itu dibukanya, seorang pria botak terlihat, tersenyum padanya,"Kamu yang menghubungiku, mengatakan tentang keluarga yang bertunangan dengan putriku?"
Scott membungkuk 90 derajat, mengingat status pria yang bagaimanapun seorang pengajar,"Nama saya Scott, salam kenal,"
"Duduklah..." sang rektor tetap tersenyum. Senyuman yang aneh bagi Scott, hingga pemuda itu duduk dengan ragu."Mau teh atau kopi?" tanyanya lagi.
"Tidak perlu saya ..." kata-kata Scott terpotong.
"Tolong buatkan dua cangkir teh hijau untuk kami..." perintahnya, pada pegawai tata usaha, yang kebetulan ada disana."Sebentar, aku simpan data di komputerku dulu ..." gumamnya.
Biksu tong ini kenapa? Apa dia tidak marah dengan hal yang aku katakan tentang keluarga Praba... gumamnya dalam hati tidak mengerti.
***
Dua cangkir teh hijau terhidang, pria paruh baya tanpa rambut di kepalanya mulai duduk, kembali tersenyum menatap Scott.
"Tentang yang aku katakan..." kata-kata Scott tiba-tiba disela.
"Kamu masih terlalu muda untuk putriku," ucap Suwandi (Rektor) salah sangka, mengganggap Praba calon menantunya dijelek-jelekkan karena persaingan cinta.
"Ter... terlalu muda?" pemuda berdarah Jepang itu mengenyitkan keningnya.
"Aku tau, putriku Selly sangat cantik, seorang dosen muda, pintar, menjadi incaran setiap pria. Tapi dia tipikal wanita yang setia..." ucapnya dengan kepercayaan diri setinggi langit, membanggakan putri tunggalnya."Omong-ngomong kamu dari keluarga mana? Apa pendidikan terakhirmu?" tanyanya bagaikan akan mewawancarai kandidat calon menantunya.
Scott terdiam sejenak,"Aku tau putri anda pasti cantik. Karena itu keluarga Praba yang bisa mengkhianati kerabatnya, akan..."
Rektor itu kembali mengoceh,"Benarkan dia cantik? Tidak heran kamu tergila-gila padanya... omong-ngomong berapa umurmu?"
"Tergila-gila? Bapak mungkin salah sangka. Usiaku 21 tahun aku..." lagi dan lagi, kata-kata pemuda itu disela.
"21 ya? Usia Selly 31 tahun. Cinta jaman sekarang memang tidak memandang usia ya? Bahkan selisih umur 10 tahun kamu rela menghadapi Praba yang lebih dewasa..." komat-kamit mulut sang rektor itu cepat.
Cinta? Aku bahkan tidak mengenal anaknya. Bagaimana bisa dibilang cinta. Biksu tong ini...apa dia punya hubungan kerabat dekat Boboho... kesalnya menahan amarah.
"Bukan begitu, aku hanya tidak ingin keluarga anda suatu hari nanti..." kalimat yang terucap dari bibir Scott terhenti.
"Aku tau bagaimana watak sebenarnya dari Praba dan orang tuanya. Tapi Selly tersenyum saat bercerita tentangnya. Apa aku bisa menghancurkan kebahagiaannya?"
"Aku sudah cukup tua, yang bisa aku lakukan hanya menjaga semua peninggalanku untuknya kelak. Selepas akan berakhir seperti apa nantinya. Keluarga penjilat itu akan berubah, atau putriku yang berakhir pergi dengan memiliki pengalaman hidup yang menyakitkan. Saat itu terjadi, setidaknya dia masih memiliki karier yang cemerlang dan peninggalanku, nanti..." ucapnya tersenyum, akhirnya jaringan kabel terkoneksi, sang rektor menjelaskan segalanya.
Scott menghela napas kasar, menatap pria penyebar di hadapannya. Dengan beberapa kalimat dapat membuat dirinya kagum. Hingga ...
"Jadi gelar apa yang kamu punya!? Dari keluarga mana?" tanya sang rektor itu kembali meminum teh hijau di hadapannya.
"Bachelor, aku seorang anak angkat dari 8 bersaudara. Ibuku bernama Amel Anggraini, ayahku bernama Kenzo..." jelasnya, menganggap pertanyaan itu hal yang wajar.
"Jadi ibuku alumni kampus ini?" Scott menyakinkan.
"Iya, selepas dari itu dia orang yang cukup baik. Aku setujui hubungan kalian, jadi kapan kamu akan melamar Selly?" tanyanya.
Aku dimana? Aku siapa? Aku sedang apa? Bukannya tadi dia hanya menanyakan tentang pendidikan terakhir dan keluarga? Kenapa jadi melamar putrinya... wajah Scott seketika pucat pasi.
"Pak, maaf saya kemari hanya ingin memperingatkan tentang..." entah berapa kali, kalimat Scott kembali disela.
"Pak? Kamu panggil saya bapak. Sudah pasti kamu ingin melamar putri saya..." ucapnya kembali tersenyum.
Scott menghela napas kasar berusaha bersabar,"Semua mahasiswa dan dosen di kampus ini pasti memanggil bapak karena anda rektor. Apa mereka semua ingin menikahi putri anda?"
Dengan penuh percaya diri Suwardi berucap,"Tentu saja, dosen muda, cantik, berkepribadian lembut, berbakti pada mertua, rajin menabung, lancar berbahasa Inggris, juara satu lomba makan kerupuk ketika sekolah dasar, juara dua lomba lari se kabupaten ketika SMP, salah satu anggota tim paduan suara ketika taman kanak-kanak, pernah ikut parade di istana negara sebagai perayaan 17 Agustus, putri tunggal pemilik kampus, siapa yang tidak menginginkannya..." deretan kata bagaikan rel kereta api.
Membuat Scott tidak bisa berkata-kata, mengetahui betapa mengerikan orang tua dapat membanggakan anaknya sendiri.
Adikku Steven yang seorang Ultraman saja, masih kalah narsis... gumamnya dalam hati menghela napas kasar.
***
Harum aroma makanan tercium, Kenzo mulai duduk berdampingan dengan Damian. Sementara Steven yang baru datang tersenyum, "Perkenalkan, aku Steven anak angkat papa Kenzo. Sekaligus calon suami Febria..." ucapnya.
Amel menipiskan bibir menahan tawanya, sementara Kenzo yang sudah mulai terbiasa hanya menghela napas kasar.
"Steven jangan mempermalukanku di depan kakek dan nenek..." Febria menarik ujung pakaiannya.
"Mereka cepat atau lambat harus tau... hubungan seperti Romeo dan Juliet ini. Walau, keluarga menentang, walaupun nyawa ini berakhir menghilang. Aku akan tetap menikahimu..." ucapnya berlutut memberikan setangkai bunga yang diambilnya asal dari dalam vas.
"Berdiri atau aku buat kamu menjadi mandul ..." kekesalan Febria benar-benar diubun-ubun saat ini.
"Jangan, ini modal kita untuk membuat anak nanti..." ucapnya segera duduk di kursi meja makan.
Damian hanya dapat tersenyum, suasana yang terasa hangat baginya. Mirip ketika putra tunggalnya masih hidup, saat Kiki belum hadir dalam kehidupan Dava.
Anak yang menyombongkan tembikar miliknya.
'Aku membuatnya sendiri, cangkir dengan gambar ibu, ayah dan aku...' ucap almarhum putranya kala itu. Menunjukkan tiga buah cangkir buatannya sendiri. Dengan lukisan detail wajah yang indah.
Sesuatu yang masih disimpannya hingga kini, tidaklah mengapa putranya tidak begitu tertarik pada perusahaan. Tidaklah mengapa rekan-rekan bisnis, atau anggota keluarga besarnya meremehkan Dava. Namun, tembikar indah dari jeri payah putranya membuat hatinya terasa hangat.
Anak yang selalu akan menjadi kebanggaannya, mendukungnya? Tentu saja, seniman tembikar bukan profesi yang buruk. Jika saja perusahaannya tidak hancur, jika saja Kiki tidak hadir dalam kehidupan Dava. Mungkin Damian akan melaksanakan niatnya, mengirimnya ke negara lain untuk belajar seni lebih banyak sesuai impian almarhum putranya.
Air matanya tiba-tiba mengalir, diseka olehnya.
"Ayah..." Kenzo tersenyum padanya, mengambilkan lauk ikan panggang, meletakkan pada piringnya. Makanan yang disukai Damian, namun jarang dikonsumsinya, mengingat perekonomiannya 7 tahun ini.
Tuhan terlalu baik padanya, mengirimkan Kenzo kini padanya. Beserta menantu dengan cucu-cucunya.
Air matanya kembali mengalir... Ayah dan ibu bahagia, tetaplah tenang di sisi-Nya. Hingga suatu hari, kala umur kami berakhir, kita akan kembali bertemu dan memelukmu... menceritakan betapa indahnya masa tua kami, agar kamu iri... kami tetap tersenyum, namun masih mencintaimu... batinnya.
"Kakek, jangan menangis..." jemari tangan Ferrell menghapus air mata Damian. Wajah seorang anak yang tersenyum tulus padanya.
Bersambung