
Tidak ada lagi air mata yang tersisa, semuanya telah habis, kala dirinya menunggu di lorong hotel semalaman. Jemari tangannya mengepal, memukul sang pria muda? Tidak ada gunanya, ibunya sendiri yang menyewanya. Jika bukan dia akan ada yang lainnya.
"Apa kesalahan ayah!?" tanyanya dengan mata memerah, bulir air mata nampak tertahan di sana.
Sang pria yang tidak tau apapun, segera bangkit mengambil pakaiannya yang berceceran di lantai serta uang yang disiapkan Diah diatas meja. Memakainya dengan cepat, tidak peduli apapun, situasi seperti ini? Mungkin sudah pernah dihadapinya.
Diah segera memakai jubah mandinya, memaksakan dirinya bergerak di tengah kepalanya yang masih terasa sakit, memegang lengan pakaian putranya, "Praba, ini tidak seperti yang kamu fikir, ibu dijebak. Teman arisan ibu mungkin meletakkan sesuatu di minuman..." kata-katanya terpotong.
"Dijebak? Tapi masih melekatkan uang diatas meja!? Dijebak? Tapi masih bisa meracau untuk mengajakku ikut bersenang-senang!?"
"Ayah yang berselingkuh dengan pembantu lebih terhormat dari pada ibu yang menyewa gilolo!!" ucapnya menepis tangan Diah, tersenyum sinis.
"Ayahmu mungkin juga memiliki wanita lain di luar sana. Dia sering kasar pada ibu, bertahun-tahun ibu menunduk di hadapan Vanya hanya untuk..." kalimat Diah kembali dipotong.
"Ibu tidak ingat? Ibu sendiri yang menginginkannya, uang dan status sosial lebih tinggi. Aku dan ayah hanya mengikuti keinginan ibu!! Melakukan segala cara agar ibu senang, mewujudkan keinginan ibu untuk memiliki keluarga kalangan atas!!" Sudah tidak dapat menahannya lagi, betapa terluka dirinya, mengatakan semua pendapatnya sendiri kali ini.
"Dava, dia bodoh!! Sudah dari kecil aku diajarkan untuk iri padanya olehmu!! Apa kelebihannya? Hanya pandai melukis!? Aku di mendapatkan rangking pertama, tapi kamu malah merendahkanku. Sekarang aku tanya, jika aku sebagai seorang anak tidak punya kelebihan. Apa kelebihanmu sebagai seorang ibu!? Pandai bersenang-senang dengan menikmati tubuh pria muda...!?"
Plak...
Suara tamparan terdengar nyaring, warna merah itu membekas di pipinya. Air matanya kali ini benar-benar mengalir. Virgo yang emosional? Tidak, ayahnya dari dulu hanya ingin membahagiakan ibunya yang tidak pernah puas. Mengerjakan semua pekerjaan kantor yang menumpuk, bahkan mengkhianati Vanya, kerabatnya sendiri.
Dirinya? Bahkan seorang Praba telah menghancurkan hidup Dava, agar tidak ada lagi yang membuat sang ibu mengeluh. Tentang Dava yang memiliki segalanya, tentang Vanya dengan segala kebahagiaannya.
Tapi apa? Keluarga bahagia dalam bayangannya hanyalah sebuah kebohongan. Ambisi dari seorang wanita yang membuat anak dan suaminya berjuang untuknya. Tapi wanita itu juga yang mempersembahkan tubuhnya untuk pria muda, wanita itu juga yang menampar putranya sendiri.
"Ibu sudah bilang!! Ini kesalahan ayahmu!! Dan untuk kebaikanmu juga, ibu berteman dan mengikuti pergaulan mereka agar dapat beradaptasi dengan Amel nanti, setelah kalian menikah!!" teriaknya di hadapan sang anak yang tertegun dengan pipi yang memerah.
"Ibu memang berkorban, banyak sekali berkorban..." Praba melangkah mundur, "Aku tidak memerlukan pengorbanan ibu lagi. Aku akan menyerahkan diriku pada polisi..."
"Apa maksudmu!? Menyerahkan dirimu pada polisi!?" tangan Diah gemetar, hendak mendekati putranya.
"Dava mengetahui segalanya, dia masih dapat tersenyum. Sedangkan aku sendiri yang hancur disini. Amel? Itu bukan untuk kebahagiaanku kan!? Itu untuk kebahagiaan ibu sendiri," ucapnya mengepalkan tangannya mengambil keputusan. Entah kenapa 7 tahun ini kehidupannya tidak pernah tenang, takut akan Kiki melaporkan segalanya, menyerahkan dirinya pada petugas kepolisian.
Takut jika Damian dapat bangkit, kemudian menemukan bukti penghianatan ayahnya pada perusahaan. Tidak dapat hidup dengan tenang sedikit pun, namun hanya satu keyakinannya untuk membenarkan tindakannya.
Ini semua untuk ibunya, yang menyiapkan masa depannya sebagai ibu dan istri yang baik. Tidak akan ada yang salah...
Tapi kenyataan ini seakan bagai sebuah tamparan baginya. Tamparan? Dirinya benar-benar ditampar bukan?
Praba mulai melangkah pergi, hingga kalimat terakhir dari ibunya membuat hatinya bertambah terluka.
"Jika kamu berani menyerahkan diri pada kepolisian!! Kamu bukan putraku lagi! Aku tidak memerlukan putra seorang narapidana!!" bentaknya.
"Aku tau, tapi aku ingin terkurung di penjara. Hidup dengan tenang, tidak memiliki ketakutan lagi, semua perbuatanku akan terbongkar..." jawaban dari seorang putra yang tidak dianggap anak lagi oleh ibunya.
"Aaarrrghh....!! Praba!!" teriakan dari mulut Diah, menjambak rambutnya sendiri, merasa kehilangan segalanya.
***
Seorang wanita yang tengah menyewa sebuah villa kosong. Terdiam di dekat tungku perapian, mulai menjawab panggilannya.
"Ada apa?" tanyanya.
"A...aku akan menyerahkan diriku pada kepolisian. Aku hanya mengatakannya agar kamu dapat melarikan diri..." jawab Praba dari seberang sana.
Kiki tersenyum, menatap bara api dengan hawa dingin di sekitarnya,"Aku tidak akan melarikan diri. Karena Dava ada di sampingku saat ini,"
"Dava? Kamu bersamanya?" tanyanya.
Kiki menggeleng,"Tidak, tapi aku merasa bersamanya. Dia sudah meninggal, orang yang tinggal dengan Damian selama ini bernama Kenzo," air matanya mengalir, menatap dua buah tembikar di dalam tungku.
Villa yang dahulu telah dijual almarhum Dava kini disewa olehnya. Hanya untuk beberapa hari, entah untuk apa, mungkin hanya ingin...
"Ja... jadi Dava," kata-katanya terhenti, phoncellnya terjatuh dibiarkan olehnya. Rivalnya sudah mati 7 tahun lalu, mati ditangannya sendiri.
Kiki masih terdiam memutuskan sambungan phoncellnya, menikmati secangkir teh hangat. Tetap tersenyum, mengetahui mungkin esok dirinya akan dijemput pihak kepolisian.
"Sebentar lagi selesai..." wanita itu tersenyum, melirik ke arah sampingnya. Fatamorgana seorang pemuda terlihat disana tersenyum hangat.
Hal yang diinginkan Kiki? Tidak ada, dirinya sudah cukup jenuh memiliki ambisi untuk mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Tidak ada kebahagiaan di balik tumpukan uang itu. Namun, tanpa diduga kebahagiaan terbesar ada di villa kecil yang indah.
Duduk di dekat tungku tembikar menghangatkan diri.
"Apa kamu memaafkanku?" gumamnya seorang diri. Sedangkan, fatamorgana di sampingnya hanya terdiam, tidak berkata apapun.
Hingga dirinya bersandar pada bahu fatamorgana pemuda yang duduk di sampingnya. Kiki yang tersenyum tulus untuk pertama kalinya, air matanya mengalir di tengah mata yang terpejam.
Sang pemuda yang memakai kemeja putih hanya menatap lurus pada tungku. Hingga fatamorgana menghilang, yang sebenarnya terlihat. Kiki hanya seorang diri, menghangatkan dirinya disana tanpa kehadiran Dava yang telah lama pergi.
***
Udara pagi, memasuki celah tirai ruangan, sepasang cangkir yang tidak terbentuk sempurna itu kembali diwarnai olehnya.
Disempurnakan diberi glasir hingga suara sirene mobil kepolisian terdengar.
Hari itu dirinya benar-benar ditangkap, namun wajahnya tersenyum entah kenapa. Meninggalkan sepasang cangkir tidak berbentuk dengan baik, dengan lukisan yang tidak begitu bagus.
Cangkir dengan sebuah kata 'Maaf...' yang tertulis, sedangkan satu lagi...
Seekor kupu-kupu biru yang sayapnya telah rusak, hinggap diatas sebuah bunga. Seakan Dava yang terluka begitu banyak, telah bahagia entah dimana...
Bersambung