
Beberapa hari berlalu, Ferrell kembali konsentrasi bekerja bahkan lebih gila lagi. Tidur hanya beberapa jam sehari, ingin menghapus bayangan Glory, gadis manis dan lucu yang dirindukannya.
Dan sebagai aksi demonstrasinya agar Damian bergerak lebih cepat mencari informasi. Phoncellnya baru selesai diperbaiki, dan benar saja, 372 pesan serta 256 panggilan tidak terjawab terlihat di phoncellnya.
Sama bucinnya? Mungkin begitulah mereka, Ferrell membalas semua pesannya walaupun sudah terlambat. Aku sudah makan, sedang merindukanmu, aku juga mencintaimu, dan ratusan pesan balasan lainnya. Walaupun hanya tanda centang satu yang tertera, pertanda pesannya tidak terkirim, nomor handphone itu tidak aktif.
Hingga pesan balasan terakhir yang dikirimkannya, balasan untuk pesan Glory yang mengatakan ingin memutuskan hubungan dengannya, kemudian menerima perjodohannya.
'Aku tidak setuju untuk putus, jika kamu berani menikahinya, aku akan mengadu pada keluargaku untuk memisahkan kalian. Aku mencintaimu...' itulah isi balasan yang tidak mungkin diterima Glory mengingat memori dan kartu phoncellnya yang sudah diganti.
***
Sedangkan di tempat lain, gadis itu mengendap-endap ke sekolahnya. Tidak mengetahui alamat Ken, hanya ingin melihatnya dari jauh, itu saja. Mencari informasi tentang pemuda itu menjadi tujuannya, setelah turun dari ojek online.
Bahkan hari pengumuman kelulusan, Kamila tidak mengijinkan putrinya untuk datang. Namun, gadis centil itu tetap merindukan Ken, mengetahui tidak dapat kembali bersama. Namun, melihat wajahnya sekilas saja, sudah cukup. Setidaknya itulah yang ada di fikirannya.
Semua siswa sudah bubar saat itu, dirinya baru saja sampai. Berharap Ken ada disana, tidak dipungkiri Glory masih merindukannya. Melanggar perintah sang ibu, bahkan dengan sengaja menukar jadwal kerjanya dari pagi menjadi sore.
Tapi tidak banyak siswa yang masih berada disana. Hanya beberapa orang yang tengah mencoret-coret pakaian mereka serta beberapa guru dan penjaga sekolah.
Kecewa? Tentu saja, namun entah bagaimana, Glory masih ingin berharap. Untuk menatap wajah pemuda itu sekali saja. Satu persatu lorong ditelusurinya. Mencari di setiap sudut sekolah, benar-benar remaja yang labil, mengatakan ingin putus, namun tetap ingin bertemu setelahnya.
***
Sedangkan di tempat lain, Ferrell menghela napas kasar menatap para siswa yang pergi meninggalkan sekolah dengan pakaian dipenuhi coretan dari dalam mobilnya. Untuk apa dirinya disini? Tentu saja, berharap Glory akan hadir. Namun hingga hampir semua siswa pergi, gadis itu belum terlihat juga.
Merindukan? Sangat, ingin bertemu dengannya. Perlahan Ferrell yang tidak memakai tata rias efek khususnya, mengenakan topi dan masker. Berjalan mendekati area sekolah, berkeliling, hanya itulah tujuannya. Setidaknya ini akan mengobati kerinduannya...
Satu persatu ruangan ditelusuri olehnya, sedikit menunduk setiap berpapasan dengan siswa, mengingat dirinya saat ini tidak menggunakan identitas Ken.
Hingga sampai di dekat ruang kelasnya, pemuda itu membulatkan matanya. Seorang gadis duduk di sana, menangis terisak, di bangku yang sama dengan tempat Glory biasa duduk.
Matanya memerah, bibir di balik masker hitam itu tersenyum. Glory datang...
Pemuda yang terlanjur merindukannya, tidak ada yang difikirkannya saat ini. Selain membawa gadis itu pergi.
Glory masih terdiam di bangku tempatnya biasa duduk, tidak menyadari bahaya yang mengintai.
"Ikut aku..." ucap seorang pemuda memakai pakaian kasual, kulit tangan terlihat putih, mengenakan topi dan masker hitam. Sosok yang benar-benar dikenalinya.
"Ferrell..." ucapnya, berusaha melepaskan tangan pemuda yang menarik paksa dirinya.
"Diam, atau aku akan melaporkanmu pada kepolisian atas tuduhan pencurian," ancamannya, tersenyum tidak akan pernah melepaskan gadis ini lagi.
"Pencurian!? Aku tidak pernah mencuri!" bentak Glory.
"Aku tau, tapi sayangnya untuk seorang anak SMU yang memiliki rekening tabungan 200.000 dolar. Anak SMU yang pernah memasuki kamarku, bukan hal yang sulit untuk menuduhmu sebagai pencuri..." jawaban darinya menatap mata itu lebih dekat. Ini benar-benar Glory.
"Uangnya belum aku sentuh! Aku bisa mengembalikannya!!" teriaknya, kesal. Bukankah Ferrell sendiri yang memasukkan uang ke dalam tasnya? Kenapa jadi mencuri?
"Karena itu ikut aku ke bank!!" kata-kata dari mulut Ferrell, sembari tersenyum.
Pada akhirnya Glory tidak melawan lagi, membiarkan tangannya di tarik ke dalam mobil. Bahkan pemuda itu memakaikan savety belt padanya. Mengembalikan uang itu memang menjadi tujuannya, walaupun sebenarnya ingin dilakukannya setelah bekerja nanti. Namun, tiba-tiba uang yang sudah diberikan diminta kembali? Mungkin inilah hasil uang dari pesugihan, tidak akan bertahan lama.
***
Tapi apa benar akan diantar ke bank? Tidak sama sekali, gadis ini adalah miliknya, logikanya bagaikan menghilang. Melajukan mobilnya kembali pada kediaman milik Damian.
"Ke ... kenapa kita kemari!?" Glory mulai ketakutan, mengetahui ada hal yang tidak beres.
"Aku harus membawa beberapa dokumen ke bank agar lebih mudah mengalihkan rekeningmu atas namaku..." alasannya.
Gadis itu menghela napas kasar, berusaha untuk percaya."Aku akan tunggu di mobil..."
Sebelumnya, Glory tidak menyadari mungkin karena datang larut malam. Rumah yang terlihat lebih megah lagi saat siang hari. Bahkan pelayan memiliki seragam sendiri bagaikan pegawai hotel. Benar-benar keluarga konglomerat yang mengerikan.
Tempat yang bagaikan ladang ranjau medan perang jika memasuki rumah ini sebagai menantu. Dirinya lebih berfikir realistis, mertua yang pastinya mengharapkan hal yang luar biasa dari menantunya. Para saudara yang bersaing memperebutkan kekuasaan.
Ibu mertua yang tidak puas akan membenci sang menantu, mengerahkan berbagai hal licik, mulai dari pelakor yang lebih cantik dan kaya, hingga pembunuh bayaran, bahkan jika tidak bisa juga jampi-jampi mbah dukun pun dapat berlaku.
Ipar? Jika memiliki saudara ipar pastinya juga dari kalangan atas, memamerkan kekayaan mereka. Berakhir saling bertikai memperebutkan warisan.
Syukurlah, ini bukan miliknya, bukan takdirnya. Tapi mungkin takdir Grisella, dirinya kemari hanya untuk mengembalikan uang.
Setelah ini, membatalkan perjodohan dengan Gin, meminta maaf pada ibunya tidak dapat berhenti memikirkan Ken.
Hingga pada akhirnya, kuliah sambil bekerja, menjadi gadis mandiri. Menemukan seorang pria sederhana yang mencintainya, entah itu Ken atau bukan.
Tapi sayangnya pria yang mencintainya tidak sederhana. Harapan hanya tinggal angan, Ferrell, masih menarik tangannya menaiki tangga menuju lantai dua.
"Ferrell, kamu sudah menemukan..." kata-kata Vanya terhenti, menatap senyuman dari wajah cucunya.
"Spreinya akan kotor, sebaiknya nenek pesankan sprei baru untuk kamarku," kata-kata yang keluar dari mulutnya.
Vanya diam tertegun wajahnya pucat pasi. Cucunya bisa bertindak sejauh itu? Anak itu baru lulus SMU, masih terlalu muda, mereka bahkan belum menikah, bagaimana ini? Apa akan ada pekikan kesakitan, bahkan racauan dari mulut cucunya, hingga pertumpahan darah di tempat tidur yang berderit?
***
Dan pada akhirnya ruangan eksekusi itu terlihat, pintu dibuka oleh Ferrell.
"Aku tunggu di luar..." ucap Glory berjaga-jaga.
"Masuk ke dalam, atau aku akan membawa ini ke jalur hukum..." lagi-lagi mulutnya mulai mengancam.
Dengan ragu, Glory mulai masuk...
Dengan cepat Ferrell mengunci pintu kamar, berjalan mendekati sang gadis yang memiliki tingkat kewaspadaan rendah.
Pandai bela diri? Tidak, tapi dengan satu gerakan tubuh Glory di jatuhkan di atas tempat tidur. Mengunci pergerakan kedua tangannya.
"Ferrell lepas..." pintanya ketakutan, situasi yang benar-benar berbahaya baginya.
Pemuda itu tersenyum, mencium bibirnya, walaupun Glory tidak bersedia membuka mulutnya. Bahkan mengalihkan pandangannya.
"Balas ciumanku, buka mulutmu, katakan kamu mencintaiku... jika tidak, aku akan menanam benih di rahimmu. Kamu tau pelajaran tentang cara manusia berkembang biak? Saat sel telur dibuahi, perlahan pria memasukan, menerobos kedalamnya..." bisiknya.
"Aku akan membalas!! Tapi jangan lakukan apapun..." pintanya hampir menangis.
Ferrell tersenyum."Bagus, katakan kamu mencintaiku..." ucapnya, kembali mencium bibir gadis itu menerima asupan nutrisinya. Dengan posisi yang cukup sulit untuk menahan diri, gadis yang tengah berada di bawah tubuhnya.
"Hah...hh...aku mencintaimu," Glory menuruti keinginannya. Napas keduanya perlahan terdengar memburu. Ini sungguh menakutkan bagi Glory, tapi pemuda ini benar-benar pandai membimbingnya untuk lebih nyaman.
"Sudah?" ucap Glory, mengumpulkan kesadarannya, kala pangutannya terlepas sesaat.
"Belum..." pemuda berwajah rupawan itu melepaskan jaket jeans hitam yang dipakainya, dilemparkan asal ke lantai. Kembali membungkam bibir sang gadis memilin lidah itu membuainya tanpa henti. Lilitan lidah yang bahkan terlihat di luar mulut.
Hanya ciuman... hanya ciuman... agar dia tidak berbuat nekat... itulah yang ada di fikiran Glory tidak ingin kehilangan kesuciannya.
Tidak menyadari ciuman pemuda itu yang terasa janggal tidak seperti biasanya... Haruskah aku mengikatmu dengan kehadiran anak kita... batinnya.
Mungkin kali ini Hasan benar, semakin dilarang, semakin ditentang, Ferrell akan semakin nekat.
Bersambung