My Kenzo

My Kenzo
Musim Ketiga : Rambut Putih



Penerbangan yang lumayan menguras tenaga, Steven akhirnya sampai di area rumah sakit tempat sang pasien yang mengalami mati otak berada. Melangkah penuh harap dengan wajah pucatnya, ditemani Febria menggenggam jemari tangannya erat, ingin menguatkan suaminya.


Ferrell mengantar kedatangan mereka, satu persatu pemeriksaan dilakukan, menguji kecocokan pendonor. Hingga dengan penuh harap mereka menunggu kedatangan Ferrell di ruangan rawat inapnya.


"Bagaimana!?" tanya Victor yang baru datang antusias.


Ferrell tertunduk, menggeleng, seketika suasana yang nampak lebih bersemangat menjalani lemas."Aku ingin bicara sebentar dengan Steven. Tentang kondisinya..."


Dengan berat hati Febria melepaskan tangan suaminya, Victor membimbing menantunya untuk keluar dari ruang rawat. Hingga beberapa langkah, terlihat Ferrell berbicara dengan serius, kemudian pintu mulai mereka tutup.


Hanya beberapa menit, Ferrel kembali keluar,"Ayo masuk, aku hanya ingin menjelaskan sendiri padanya..." ucapnya kembali membukakan pintu.


"Menjelaskan apa!?" Febria mengenyitkan keningnya.


"Untuk membiarkanmu bahagia dengan orang lain nantinya. Aku tidak tau tapi yang pasti gagal jantung yang dialaminya dapat membuat dirinya mati kapanpun..." jawab Ferrell tertunduk memilin jemari tangannya.


Victor yang mendengar segalanya segera berlari menghampiri putranya. Air matanya mengalir hanya Eden dan Steven yang dimilikinya kini. Sering bersikap keras pada putranya? Memang, namun itu karena dirinya mengetahui, seberapa sulit menjadi keluarga mafia, ingin anak-anaknya dapat melindungi dirinya sendiri.


Dan kini anak paling baik hati, anak yang memiliki fisik paling lemah harus mati? Dirinya tidak dapat menerima ini. Tubuh putranya dipeluk olehnya,"Steven..." ucapnya terisak.


"Ayah, apa ayah bisa memaafkan apapun kesalahan yang pernah aku lakukan..." tanyanya membalas pelukan Victor dengan bibirnya yang pucat pasi.


"Ka...kamu tidak memiliki kesalahan, ayah yang salah maaf sudah sering membentak dan memukulmu. Ayah mohon bertahanlah hidup," pintanya, mengingat entah berapa luka lebam di tubuh Steven akibat perbuatannya.


Steven menggeleng,"Jika ini saat-saat terakhir hidupku, aku ingin menemani Febria dan Ayah,"


Victor mengepalkan tangannya, terlihat sama dengan almarhum istrinya. Hal yang sama? Memang, ingin menghabiskan waktu bersama keluarganya.


"Ka...kamu tidak akan mati, ayah akan mencarikan jantung untukmu. Jangan katakan soal kematian lagi," ucapnya menggeleng dalam tangisannya.


"Ayah, aku mencintaimu..." kata-kata dengan nada lemah dari bibir Steven.


"Ayah juga, tetaplah hidup ayah mencintaimu. Sangat..." Victor mendekap erat tubuh putranya.


"Ayah aku ingin sesuatu, bisa ayah kabulkan?" tanyanya lirih.


"Katakan apa, ayah akan mengabulkannya," jawab Victor.


"Aku ingin action figur Ultraman lengkap..." kata-kata yang keluar dari mulut Steven seketika membuat tangisan Febria yang berada di samping Ferrell terhenti. Sedikit melirik pada saudara kembarnya yang tengah menipiskan bibir menahan tawanya.


"Steven tidak apa-apa kan? Dan donor jantungnya sebenarnya cocok kan?" bisiknya pada Ferrel.


Ferrel mengangguk membenarkan,"Tapi kapan lagi kita bisa mengerjai mantan ketua mafia, melihat adegan romantis ayah dan anak,"


"Steven mengetahuinya?" tanya Febria, dijawab dengan anggukan kepala oleh Ferrell pertanda dirinya dan Steven memang tengah bekerja sama.


Febria memijit pelipisnya sendiri sempat terfikirkan olehnya, dirinya akan menjadi janda tidak akan menikah seumur hidupnya, seperti Amel yang hanya sendiri ketika Kenzo menghilang. Namun pemuda tidak tau malu itu tetap berpura-pura menangis, mendekap Victor yang masih sesegukan erat.


Febria mulai berjalan mendekati ayah mertua dan suaminya, menghela napas kasar,"Steven, kamu akan mati kan? Karena itu sebelum terlambat aku akan menerima perjodohan paman Frans?? dengan Hitoshi..." dustanya.


"Ja... jangan!! Aku akan segera sembuh!! Tanya saja Ferrell!! Donornya cocok kan!?" teriaknya cepat, tidak ingin istrinya direbut.


"Jadi kamu membohongi ayah!?" geram Victor kesal.


"Ayah sendiri yang membohongiku!! Hampir satu tahun pura-pura mengalami koma!!" ucapnya ketakutan.


"Ayah mertua jangan, dia belum dioperasi. Nanti setelah mendapatkan jantung baru terserah kita," gumam Febria tersenyum.


Bagaimana nasibku setelah ini? Aku hanya ingin bercanda... batinnya.


"Ferrell..." Steven bagaikan meminta bantuan.


"Maaf kakak, tugasku hanya membedah tubuh manusia. Bukan menghadapi wanita kasar dan ketua mafia," ucapnya tersenyum tanpa dosa.


"Hukum karma akan berlaku, suatu saat kamu akan terjerat wanita!!" kesalnya yang bekerja sama untuk menipu dua orang ini. Namun, yang terkena sangsinya hanya Steven.


***


Bulan demi bulan berlalu...


"Tidak, aku akan memuaskanmu," bisiknya tersenyum.


"Tidak ingat kata-kata dokter? Tri semester pertama, karena anak kita tidak diperbolehkan terlalu sering," ucap Febria, mendorong kepala suaminya.


"Maaf..." Steven tersenyum, kembali memeluk tubuh istrinya erat.


Pasangan yang menikmati dinginnya udara malam, menatap ke arah jendela. Bintang terlihat disana, indah benar-benar indah.


"Steven..." Febria memulai pembicaraan.


"Em?"


"Aku ingin tau, apa benar kamu menyukaiku dari dulu?" tanyanya.


Steven mengangguk,"Aku menunggumu berharap yang terlahir anak perempuan. Agar papa (Kenzo) akan melindungiku sebagai menantu dari ayah (Victor),"


"Tapi papa tiba-tiba menghilang, mama melahirkanmu dan Ferrell. Mama kesulitan untuk menjaga kalian. Semenjak itu aku yang selalu ada disanpingmu,"


"Pernah ada masanya, aku tertidur di dekatmu ketika bermain. Pernah juga, kamu terjatuh saat aku mengajarimu berjalan. Aku menyayangimu..." lanjutnya.


"Bukan itu yang aku tanyakan, sejak kapan kamu menjadi brother complex?" tanya Febria kembali, menonggakkan kepalanya menatap wajah suaminya.


"Saat melihatmu tenggelam, kamu mungkin tidak ingat. Anak bodoh yang terjatuh ke dalam kolam, hampir membuatku mati untuknya..."


***


17 tahun yang lalu...


Seorang anak berusia 4 tahun dengan rambut diikat duanya melangkah, memeluk boneka beruangnya, menggeser pintu menuju kolam yang tidak terbuka sempurna. Seekor kupu-kupu dikejarnya, hingga menjatuhkan Teddy bearnya ke dalam sana.


Berusaha meraihnya terlalu sulit hingga...


Byur...


Sang anak terjatuh ke area kolam renang dewasa,"Hup ...hup...hup..." berteriak minta tolong juga sulit. Berusaha keras mendapatkan napas mempertahankan hidupnya. Seorang anak yang berjuang sendiri untuk tetap hidup.


Gerakannya membawa dirinya menjauhi area tepi kolam. Bergerak ke area tengah.


Steven yang baru keluar dari homeschooling-nya melompat ke dalam kolam tidak memikirkan apapun lagi, hanya bunga kecil yang dijaganya tidak boleh layu, tidak boleh mati, jemari tangan kecil yang membuat hatinya hangat.


Berenang dengan cepat, mengayuh, menarik, tapi tetap kesulitan dirinya tidak memiliki tenaga yang cukup untuk berenang sembari membawa Febria.


Hingga anak itu terlihat lebih pucat masih berusaha meronta-ronta.


Bernapaslah yang banyak... gumamnya dalam hati, berenang ke bawah tubuh Febria, berusaha menjadikan dirinya tumpuan agar anak itu dapat mencapai permukaan.


Aku sudah gila, aku sendiri kekurangan udara... batinnya, menatap sinar yang memasuki dasar kolam... Apa kami akan mati bersama, Febria tidak boleh mati...


Tidak boleh mati, dirinya terlalu menyayanginya, anak dengan prilaku buruk namun selalu ingin dijaganya.


Aku mohon bertahanlah... gelembung-gelembung udara keluar dari mulut Steven, mengapung, kemudian menghilang. Mungkin ini detik-detik akhir hidupnya.


Hingga tubuhnya dan Febria ditarik seseorang. Amel datang menyelamatkan mereka...


Matanya kembali terbuka, terbatuk-batuk mengeluarkan air dari hidung dan mulutnya. Wajah pertama yang dilihatnya adalah Febria kecil, memeluk tubuhnya erat,"Steven..." teriaknya.


"Dia mencemaskanmu, terimakasih..." Amel menitikkan air matanya dengan rambut yang basah.


Perlahan tangannya terangkat mendekap tubuh Febria.


Kini aku menyadari, makhluk kecil sepertimu bahkan lebih berharga dari nyawaku sendiri. Aku mencintaimu...


"Jangan menangis, mama akan segera mengatur pertunangan kita," ucapnya tersenyum.


"Steven!!" bentak Febria kecil memukul punggung Steven, masih menangis sembari memeluknya, mengira akan kehilangannya. Si rambut putih yang menyebalkan...