My Kenzo

My Kenzo
Musim Keempat : Ala Suami-istri



"Ke... kesurupan?" Glory mengenyitkan keningnya menatap ke arah Ferrell.


"Bukan ya? Lalu kenapa cuma diam?" tanyanya menghela napas kasar.


"Ibu, belum sepenuhnya setuju, ayah juga. Walaupun Gin yang memutuskan perjodohan ini, tapi apa sebaiknya kita mengulur waktu untuk menikah. Aku..." kata-kata Glory terhenti, Ferrell memegang erat jemari tangannya. Jari pemuda itu bergerak mengusap pelan punggung tangan kekasihnya.


.


"Mau berciuman?" tanya Ferrell padanya.


Glory mengangguk, perlahan Ferrell melepaskan safety belt yang mereka pakai. Menarik Glory dalam pangkuannya, dua pasang mata yang saling menatap. Pandangan mata yang berubah sayu, perlahan terpejam, takluk akan rasa yang membuat mereka kesulitan berkata-kata untuk mengungkapkannya.


Beberapa kecupan yang terasa dalam mengawalinya. Perlahan sepasang bibir itu bertaut, lidah yang membuai lebih dalam. Mencintai bisa seindah ini? Entahlah, perasaan berdebar yang mulai terbuai napsu.


Lidah yang bergerak mencari titik kepuasan yang tidak pernah mereka temukan disana. Pakaian Ferrell dicengkeramnya. Takut kehilangan, limbung tidak memiliki pijakan, atau ke tahap yang lebih sulit, tidak tau harus apa menghilangkan perasaan gelisah ini.


Pemuda itu memasukkan tangannya ke dalam kemeja yang dipakai Glory. Tangan pemuda yang berada di sekitar punggungnya, mengelus kulitnya terasa lebih memabukkan lagi. Ini sulit diungkapkan, perasaan yang hanya dialaminya pada Ferrell.


Bukan dalam mulut, sepasang lidah yang bahkan saling membelit, diluar mulut mereka. Kembali menyatukan bibirnya, lebih dalam. Bagaikan sebuah sihir yang menghipnotis mereka.


Tangan Ferrell keluar dari balik pakaian bagian punggung pakaian Glory. Beralih pada bagian depan pakaian sang gadis, satu-persatu kancing kemeja gadis itu dibukanya. Dilanjutkan dengan dirinya yang melepas kemeja hitam yang dipakainya.


Napas yang sama-sama saling memburu, entah apa yang mereka inginkan. Lidah yang semakin liar saja.


Hingga...


Kancing kemeja Glory yang telah terbuka sempurna menampakkan dua benda indah yang masih tertutup penyangganya, Glory mengetahuinya, tapi bagaikan sulit untuk mencegahnya, perasaan yang benar-benar membuatnya gila. Sedangkan Ferrell telah bertelanjang dada, dengan deru napas menyapu leher gadis yang dicintainya. Gadis yang berada di pangkuannya.


Ferrell mengecup leher itu pelan kemudian berbisik,"Kita hentikan, sebelum kita tidak bisa berhenti. Inilah alasan, kenapa aku ingin segera menikah. Setiap melihatmu, aku ingin menggodamu,"


"Dan kamu tidak akan dapat menolak godaanku. Jika aku berkata, bolehkah aku melakukannya, berhubungan, memilikimu seutuhnya? Setelah menggodamu lebih dalam, kamu akan mengangguk. Saat itulah aku akan lebih menggila lagi... menikmati tubuhmu tiada henti..." lanjutnya mengecup pipi Glory.


Wajah yang penuh napsu, berubah tersenyum lembut. Mengancingkan kembali kemeja yang dipakai Glory. Pasangan yang tersenyum, saling mengecup, hanya kecupan singkat penuh kasih sayang.


Glory kembali duduk di tempatnya, Ferrell benar jika terus seperti ini. Mereka hanya akan berakhir melakukan hubungan di luar nikah. Melakukan dosa besar yang entah bagaimana rasanya.


Apa rasanya enak? Tapi di video dewasa yang pernah ditontonnya kiriman dari Lily entah apa tujuan gadis itu mengirimkannya. Tapi tetap saja, Glory sempat menontonnya, menelan ludahnya sendiri. Menyaksikan seorang wanita menjerit, apa karena sakit? Tapi dia tidak melawan dan terus melanjutkannya.


Bahkan menuruti keinginan sang pria yang bahkan terlihat brutal. Apa Ferrell akan berubah menjadi brutal saat malam pertama nanti?


Glory melihat ke arahnya, sebelumnya dirinya tidak menyangka di balik kemeja sang dokter muda terdapat bentuk tubuh proporsional, bagaikan bintang iklan boxer pria.


Secara naluriah merupakan pemandangan indah, menatap Ferrell yang tengah kembali memakai kemeja hitamnya. Tapi jika teringat video dewasa ala barat itu lagi, dirinya benar-benar takut pada otot dan tenaga sang pemuda.


Video yang cukup kasar, menjambak, memukul, bahkan menggunakan beberapa alat aneh, salah satunya cambuk.


Wajah Glory pucat pasi, apa Ferrell akan kasar padanya? Berkembang biak harus mengikuti tutorial video? Jika iya, dirinya belum siap untuk ditiduri oleh pemuda ini.


Ferrell mengenyitkan keningnya, tidak menikah? Tidak bereproduksi, kejadian penuh kenikmatan ketika mencoba membuahi sel telur dalam rahim gadis ini tidak akan pernah terjadi.


Pemuda yang telah memakai pakaiannya dengan sempurna itu menghela napas kasar, menyandarkan punggungnya di kursi pengemudi. Kali ini dirinya yang terdiam tanpa ekspresi, sumpah demi apa dirinya tidak kesurupan.


"Kamu belum siap untuk menikah?" tanyanya, mengingat usia Glory. Gadis itu mengangguk tertunduk, membenarkan.


"Apa karena aku bukan Ken yang kamu sukai?" lanjut Ferrell menoleh pada Glory yang hanya menggeleng dengan cepat.


"Aku bisa berubah menjadi Ken! Sudah aku bilang aku bisa menjadi apapun yang kamu sukai..." ucapnya masih menyandarkan punggungnya di kursi pengemudi, dengan mudah Glory merencanakan masa depannya dengan Ken. Tapi kenapa tidak dengan Ferrell? Apa dirinya begitu buruk hingga tidak dapat dicintai gadis ini?


Glory menggeleng."Bukan begitu aku tidak mau berhubungan!!" jawabnya dengan cepat, tiba-tiba menutup mulutnya sendiri menahan malunya.


"Kamu tidak ingin anak dariku?" tanya Ferrell mengepalkan tangannya, menahan rasa sakit di hatinya.


Glory mengenyitkan keningnya, bingung. Inilah sebabnya hubungan yang terasa aneh walaupun usia yang tidak terpaut jauh. Ferrell berfikir terlalu dewasa dan Glory berfikir terlalu... terlalu... terlalu... sudahlah...


"Bukan begitu! Aku," kata-kata Glory di sela.


"Kamu tau cara pasangan suami-istri menyelesaikan masalah mereka?" tanya Ferrell, menatap ke arah Glory.


"Tidak tau..." jawabnya lugu.


"Mereka menyelesaikannya di ranjang. Itu yang selalu terjadi pada ayah dan ibuku setiap saat.," kata-kata yang keluar dari mulutnya tersenyum.


***


Menyelesaikannya di atas ranjang? Mereka memang benar-benar menyelesaikan masalahnya di atas ranjang. Hanya tempat tidur singgel yang kecil, jangan mengharapkan suara decitan.


Karena pada kenyataannya, tubuhnya dipeluk, dalam selimut hangat, masih berpakaian lengkap. Dalam tempat kost khusus putri. Sang selebriti idola yang masuk diam-diam bagaikan ninja di bantu kekasihnya.


"Jadi kamu takut pada video yang dikirimkan Lily?" tanya Ferrell, dengan cepat Glory mengangguk."Bagaimana jika kita menontonnya bersama agar tidak menakutkan...?"


"Tidak mau!" bentak Glory, memunggunginya.


Ferrell menghela napas kasar."Aku sudah sering melihat tubuh wanita tanpa sehelai benangpun. Bahkan melihat dengan sendiri organ reproduksinya, membantu mengangkat bayi mungil yang harus mengalami pembedahan sesar,"


"Pernah menjadi asisten temanku yang menangani bedah plastik. Bentuk tubuh wanita yang mungkin sering seorang dokter lihat. Berjuang untuk bertahan hidup, melahirkan anak-anak mereka. Karena itulah aku lebih menghargai wanita, menghargaimu yang akan mendampingi hidupku,"


"Melahirkan anak-anakku dari dalam rahimmu. Suatu hari nanti akan berjuang untuk tetap hidup demi aku. Jika bisa, aku ingin mati lebih dulu daripada Glory. Karena melihatmu pergi mungkin lebih menyakitkan dari kematian..." ucap Ferrell menatap langit-langit kamar.


Satu kecupan mendarat di pipinya. Glory tersenyum padanya, kini dirinya sudah lebih yakin. "Kamu memiliki hati selembut Ken, jadi tidak mungkin akan menyakitiku..."


Ferrell mengangguk, mendekap lebih erat tubuh Glory, mulai memejamkan matanya. Pasangan yang perlahan tertidur setelah menyelesaikan masalah mereka di ranjang.


Bersambung