My Kenzo

My Kenzo
Musim Kedua : Sketsa



Belajar dari awal? Itulah yang dilakukannya, tidak ada ingatan yang tersisa, walaupun kepandaiannya masih ada. IQ yang sejak muda memang tinggi mempermudah dirinya.


Scott menghela napas kasar,"Papa sudah menyelesaikannya?" tanyanya, memberikan materi tugas perkuliahan yang sulit. Bahkan bukunya menggunakan bahasa Inggris.


"Sudah, hanya bisa mengingat sedikit. Bahasanya juga tidak tau kenapa, aku otomatis mengetahui artinya..." ucap Kenzo tersenyum.


Scott mengenyitkan keningnya, dirinya benar-benar iri pada ayahnya sendiri. Hingga pemuda itu mengeluarkan buku dasar-dasar belajar bahasa Jepang."Pelajari!! Ada huruf katakana, hiragana, dan kanji!!" ucapnya.


Mulai berjalan menuju dapur, hendak membuat juice dingin. Mendingan otaknya sendiri, materi yang dipelajarinya selama dua tahun dapat dikuasai Kenzo dalam waktu setengah hari? Orang ini bukan manusia, tapi monster.


15 menit berlalu...


"Sudah..." Kenzo tersenyum, mengembalikan buku tersebut pada Scott.


"Sudah?" Scott yang memang aslinya sebelum diadopsi Kenzo berkebangsaan Jepang mengenyitkan keningnya.


Tidak mungkin... gumamnya dalam hati, dengan cepat menulis puisi pendek dalam huruf kanji.


"Ini dibaca apa?" tanyanya, menyodorkan secarik kertas yang ditulisnya.


"Shizuka ya, hanasaki niwa no, haru no ame. Betapa sunyinya, halaman berbunga, hujan musim semi..." jawaban dari mulut Kenzo."Aku tidak tau dengan jelas, tapi dari cerita Frans, aku pernah tinggal satu tahun di Jepang dengan Amel. Mungkin karena itu rasanya tidak sulit untuk mengenali huruf dan arti katanya..."


"Satu tahun?" Scott berusaha tersenyum, dijawab dengan anggukan oleh Kenzo.


Aku lupa dia memang pantas menjadi ayah kami... monster... batinnya, menghela napas kasar. Tidak habis fikir dengan ayahnya.


"Papa, kemampuanku hanya sampai disini saja!! Jika ingin belajar lebih banyak, pelajari sendiri!!" Scott berusaha tersenyum, penuh rasa iri, meninggalkan ayah angkatnya yang terdiam di perpustakaan besar villa luas tersebut.


Kenzo mengenyitkan keningnya, mulai berjalan menelusuri ruangan besar, dengan beberapa jendela besar yang terbuka. Buku-buku tebal dengan berbagai bahasa terdapat di sana, satu persatu dibacanya.


Tidak semua halamannya? Alasannya? Ada beberapa keping memori yang seakan membuatnya ingat dan mengetahui isi buku yang mungkin pernah dibaca sebelum ingatannya menghilang.


Beberapa jam berlalu hari sudah mulai sore, entah berapa buku yang berada di atas meja usai dibacanya. Hingga langkahnya terhenti, mengamati rak buku paling kecil, di pojok ruangan. Banyak buku tua disana. Aneh? Tentu saja, beberapa buku tulis tua juga terdapat di tempat itu, bahkan warna putihnya sedikit menguning. Pertanda mungkin telah disimpan puluhan tahun.


Kenzo mulai duduk di lantai, menyenderkan tubuhnya pada rak buku kecil tersebut. Buku tulis yang mulai dibukanya.


Banyak catatan disana, materi yang seharusnya dipelajari mahasiswa, bahkan bahasa Inggris lengkap dengan grammar-nya. Ditulis rapi oleh seseorang, tanggal tertera di pojok buku tersebut.


Mungkin sekitar 23 tahun yang lalu. Artinya saat itu usianya masih 14 tahun. Samar-samar mengingat seseorang yang mengajarinya.


Jari seorang dosen muda yang menunjuk beberapa hal yang tidak dimengertinya. Siapa?


'Kenzo, sudah cukup hari ini ya. Tolong jaga toko...' suara pemuda itu samar-samar terdengar.


'Mau kemana? Apa berkencan dengan kak Dewi?' tanyanya.


Sang dosen muda yang tersipu, mengalihkan pandangannya,'Dewi menitipkan ini untukmu. Katanya jangan terlalu banyak belajar...' ucapnya memberikan pensil dan buku sketsa


'Terimakasih, kak Gama jangan malu-malu padanya! Segeralah menikah...'


Air mata Kenzo mengalir entah kenapa, serpihan memorinya kembali terbayang. Mencari dengan cepat, sebuah buku sketsa tua yang berada disana. Hingga buku itu benar-benar ditemukannya.


Perlahan dibuka olehnya, foto tua berada di bagian ujungnya. Dengan sketsa yang dulu di buat olehnya. Sepasang kekasih yang nampak tersenyum bahagia. Gama dan Dewi, dua orang yang dilupakannya.


Dua orang yang mungkin telah tenang di sisi-Nya. Pasangan yang bahkan belum sempat menikah, berakhir mati mengenaskan.


Kenzo terisak, menjerit seorang diri. Masih terbayang kala dirinya sendiri yang menatap Gama terpuruk, putus asa akan hidupnya. Kala tetesan darah itu mengalir dari tangan sang dosen muda yang pernah mencoba bunuh diri.


Rambutnya sendiri dijambak olehnya, ingatan yang paling menyakitkan terbayang. Petugas kepolisian yang mendatanginya, mengatakan kematian satu-satunya pemuda yang bersimpati pada anak jalanan sepertinya.


Tubuh yang mendingin, mati ketika mengendarai motor Vespa kesayangannya. Kenzo muda menatap makam Gama seorang diri, dengan wajah babak belur, kala menuntut keadilan atas kematian Dewi.


Berjanji akan menghancurkan perusahaan serupa, perusahaan yang menjual hidup karyawannya.


Diam tertunduk seorang diri dengan tatapan mata kosong."Gama..." lirihnya.


***


Perlahan wanita itu mulai melangkah, mencari keberadaan suaminya. Berjalan menelusuri beberapa lorong, menuju perpustakaan. Beberapa tumpukan buku terlihat di atas meja.


Keberadaan Kenzo? Entahlah...Amel berjalan mengendap-endap ingin mengejutkannya. Pemuda itu akhirnya terlihat juga, tertunduk seorang diri.


"Kenzo..." panggilnya tersenyum.


Pemuda yang perlahan menoleh menatapnya. Bangkit dari lantai, berjalan cepat memeluk tubuh Amel erat. Air mata pemuda itu terasa sedikit membasahi bahu kemeja yang dipakai Amel."Kenzo?" tanyanya tidak mengerti.


"Jangan mati seperti Dewi..." lirihnya.


"Dewi?" Amel mengenyitkan keningnya tidak mengerti.


Kenzo mengeratkan pelukannya,"Jangan keluar rumah, tanpa aku berada di sampingmu. Ketika tidur tetaplah bersamaku...aku..."


"Kamu kenapa?" tanya Amel tidak mengerti, sifat protektif mengikat suaminya seakan kembali. Pemuda yang bahkan menunggunya pulang bekerja ditengah hujan salju yang dingin, dengan membawa sepotong kue ikan hangat.


"Gama kehilangan Dewi, dia mati. Mereka mati..." ucapnya ambigu, mengeratkan pelukannya.


Amel melonggarkan pelukannya, menatap mata suaminya,"Lihat aku!! Aku masih hidup!! Aku akan tetap menemanimu..."


***


Amel duduk di lantai, menyenderkan punggungnya pada rak buku. Sedangkan suaminya berbaring di lantai, menjadikan pahanya sebagai bantal. Aneh? Namun terasa nyaman bagi pemuda itu.


Semua hal yang tiba-tiba diingatnya, diceritakan olehnya. Kala mayat Dewi berakhir ditemukan tanpa sehelai benangpun di tengah hutan. Gama yang terpuruk, menghabiskan waktu dan uangnya hanya untuk menuntut keadilan untuk kekasihnya yang telah tiada.


Bukan sebagai korban, citra almarhum Dewi malah dirusak oleh kebohongan rekan kerja dan atasannya. Mengatakan almarhum Dewi yang memiliki banyak kekasih, menjajakan tubuhnya, kebohongan mereka di pengadilan.


Gama hanya dapat tertunduk, kekasih yang bertahun-tahun tidak pernah disentuhnya. Wanita baik hati yang menjaga kesuciannya. Dilecehkan untuk sebuah proyek perusahaan? Berakhir dengan kematian? Kemudian kini dalam pengadilan pun, pelakunya tidak tertangkap?


Putus asa, Gama yang tidak memiliki keluarga ataupun teman, menyusul kekasihnya mungkin untuk meminta maaf tidak dapat memberikan keadilan.


Hal yang membuat Kenzo memiliki ambisi, mendirikan W&G Company, dari pondasi perusahaan yang telah menyebabkan kematian Dewi, menghancurkan perusahaan-perusahaan serupa. Berbuat keji, pada pemimpin yang menghancurkan hidup karyawannya.


"Apa karena itu kamu protektif padaku? Memintaku mengikuti kemanapun kamu pergi, bahkan hingga tidur juga harus denganmu," Amel mengenyitkan keningnya, mengingat awal pertemuan mereka.


"Apa dulu aku protektif?" tanyanya masih dengan kepala di pangkuan Amel.


"Menjemputku di tengah hujan salju. Marah besar saat aku pergi keluar dengan Tatewaki, salah satu kenalan kita di Jepang. Bahkan cemburu pada Glen, kakak tiriku," jawab Amel masih mengingat segalanya.


Kenzo mengenyitkan keningnya, merasa tidak ada yang salah dengan sifat protektifnya yang dulu,"Itu wajar, jika tidak menjemputmu bagaimana kalau ada orang jahat yang berniat buruk padamu? Tatewaki siapapun dia, tetap seorang pria kan?"


"Bagaimana jika dia diam-diam menyukaimu? Tentang Glen hanya kakak tiri, bagaimana jika dia memasukkan sesuatu ke minumanmu, lalu kalian berhubungan badan. Atau perlahan kamu menyukainya?" lanjutnya.


"Ta...tapi dia Glen..." Amel mengenyitkan keningnya kesal.


"Febria dan Steven? Kamu yakin Steven tidak memiliki maksud lain pada Febria..." Kenzo bersungut-sungut kesal.


"Karena itu aku menjauhkan mereka. Tapi mereka menempel seperti magnet. Febria akan menjadi pendiam, tidak pernah tersenyum jika tidak ada Steven. Steven tidak akan mau makan atau beraktivitas jika aku tinggalkan di luar negeri tanpa Febria..." wanita itu berusaha tersenyum dipaksakan, mengatakan alasan sejujurnya. Betapa sulitnya memisahkan dua makhluk itu.


"Mungkin ini kutukan, karena kamu menyukai anak pengasuhmu..." lanjut Amel.


"Anak pengasuh? Jadi kamu anak pengasuhku?" tanya Kenzo tersenyum, dijawab dengan anggukan oleh Amel.


"Iya, kak Kenzo..." Amel meniru kata-kata Febria.


"Jangan panggil aku kakak, katakan 'Suamiku, sayang'..." Kenzo mulai bangkit, menahan tengkuk Amel, mencium bibirnya pelan, hanya ciuman singkat, berakhir dengan senyuman.


"Brother Complex..." gerutu Amel, tertawa.


"Hanya anak pengasuh, kita tidak memiliki hubungan darah. Siapa peduli..." bisiknya di leher istrinya.


Bersambung