
Suara serangga musim panas terdengar nyaring, empat sahabat yang berkemah bersama memainkan gitar. Menghabiskan waktu bersama, menyalakan api unggun.
Mata Aiko tidak lepas mengamati wajah Tatewaki, yang hanya berada di samping kekasihnya. Cantik? Seina memang cantik, namun dirinya juga cantik, bahkan ditambah dengan kecerdasan di bidang akademik dan kesenian. Apa yang kurang?
Jemari tangannya mengepal, sudah tidak tahan lagi selama tiga tahun hidup dibawah bayang-bayang gadis bodoh itu. Hanya memiliki wajah yang cantik, namun otaknya entah dimana.
Hingga tengah malam menjelang, sayup-sayup suara pertengkaran dari pasangan itu terdengar. Bukan pertengkaran biasa, entah keributan karena apa. Namun, saat Aiko membuka sedikit tendanya, terlihat Tatewaki menepis tangan Seina yang hendak menghentikan kepergiannya.
Gadis bodoh yang biasa ceria itu menitikan air matanya, kembali ke dalam tendanya seorang diri.
***
Udara pagi terasa dingin menusuk. Sejak pagi Aiko telah bangun, membawa phonecell dan alat lukisnya.
"Mau kemana?" Aika yang satu tenda dengannya menguap beberapa kali.
"Mencari objek untuk melukis, kakak tidurlah dulu. Diluar masih dingin..." jawabnya tersenyum.
"Jangan jauh-jauh," Aika menggeliat, kembali tertidur.
Tidak menyadari ekspresi wajah saudarinya yang berubah. Perlahan bangkit berjalan, membuka tenda Seina, membangunkannya.
"Emggh...ada apa?" tanyanya yang baru membuka mata.
"Aku harus menghubungi seorang teman, ini darurat. Bisa antar aku mencari sinyal?" pinta Aiko.
Seina menghela napas, menganggukkan kepalanya. Mengikuti langkah kaki sahabatnya, menembus kabut hutan tempat perkemahan mereka.
Tatewaki belum kembali hingga sekarang, menenangkan diri setelah pertengkaran mereka, entah dimana.
Langkah demi langkah, dedaunan kering serta ranting diinjak mereka. Seina menunduk memikirkan sesuatu,"Aiko, aku dan Tatewaki bertengkar..."
"Aku tau," semakin dalam memasuki hutan, semakin berubah pula nada bicara Aiko, terasa lebih dingin.
"Aku sudah berfikir sejak lama, apa kamu menyukai Tatewaki?" tanyanya, air matanya mengalir mengepalkan tangannya. Menunggu jawaban Aiko.
"Tidak, kamu salah paham, aku sering melihatnya bukan berarti menyukainya," Aiko sudah jenuh dengan wajah tidak bersalah itu. Wajah yang selalu dielu-elukan pria yang dicintainya. Wanita yang merebut Tatewaki, mereka mengenal Tatewaki di waktu yang sama. Tapi kenapa harus berakhir mencintai Seina?
Menyukainya? Aku menyukainya....Sudah terlihat jelas bukan... geram Aiko dalam hatinya.
"Begitu ya? Kamu tidak berbohong, kan?" tanyanya meyakinkan.
Aiko mengamati situasi, mereka masih berada dalam area yang sering dilalui penduduk desa. Kemudian mulai tersenyum, menghapus air mata Seina,"Tentu saja, aku tidak menyukainya. Kita hanya sahabat..."
"Syukurlah..." Seina memeluk Aiko menangis sesenggukan.
Pertengkarannya semalam dengan Tatewaki? Entah bagaimana Seina merasa Aiko menyukai kekasihnya. Berusaha memutuskan hubungannya dengan Tatewaki dilakukannya, dengan menyulut pertengkaran mengatakan dirinya memiliki hubungan dengan pria lain.
Mengorbankan diri untuk sahabat? Bukan sekedar sahabat, ibu Seina yang merupakan janda satu anak, bekerja di perusahaan milik Hiasi. Bahkan karena persahabatannya sedari kecil dengan Aika dan Aiko, dirinya disekolahkan ditempat yang sama. Diperlukan layaknya putrinya oleh Hiasi, walaupun tidak selalu bertemu.
Bagaikan Ayah? Mungkin itulah sosok Hiasi bagi Seina yang tidak pernah merasakan kasih sayang ayah kandungnya yang telah lama tiada.
Tidak ingin Aiko atau Aika terluka karenanya. Mengorbankan perasaannya mungkin lebih baik. Namun, dirinya salah sangka Aiko tidak menyukai Tatewaki. Perasaan lega yang menjalar, mendekap tubuh Aiko erat.
Namun, Seina tidak menyadari senyuman di wajah Aiko menghilang, menahan kekesalannya.
***
"Apa masih jauh?" Seina menghela napas kasar, sudah satu jam lebih perjalanan. Namun belum sampai juga pada area yang dituju.
"Sedikit lagi, disana perbukitan pasti ada sinyal," ucapnya tersenyum.
Hingga sebuah jurang yang tidak begitu dalam terlihat. Aiko merogoh sakunya, mengambil phoncell.
"Seina tolong angkat ke dekat tebing, aku akan mengambil kamera kita berfoto bersama pemandangan di sini cukup bagus..." ucapnya menyerahkan phonecellnya pada Seina.
Seina menurut, mengangkat phonecell di area pinggir tebing. "Aiko sudah ada sedikit sinyal..." kata-katanya terhenti. Tubuhnya di dorong, oleh jemari tangan sahabatnya sendiri.
Gravitasi menariknya beberapa saat, sebelum mendarat di tanah, berguling dengan banyak luka goresan. Hingga terhenti di area landai. Tubuhnya terasa remuk, bergerak pun sulit.
"Aiko, tolong aku ..." ucapnya lirih dari area bawah jurang. Tidak dapat menggerakkan anggota tubuhnya, namun masih dalam kondisi sadar.
Wajah itu ditatapnya berdiri dari pinggir jurang mengamatinya dengan ekspresi wajah datar. Seperti tidak ada niatan untuk menolong.
Kesalahan terbesar Seina, meminta pertolongan pada orang yang mendorongnya. Lebih baik berpura-pura mati bukan? Seperti yang dilakukan Amel saat teman-teman Keyla ingin memukulinya.
Hal yang terjadi selanjutnya, melalui area pinggir jurang Aiko yang menyadari Seina masih hidup turun.
"Aiko, tolong aku..." pintanya lirih, mungkin hanya salah satu tangannya yang patah. Namun luka di sekujur tubuhnya membuatnya sulit bergerak untuk sementara waktu.
"Merepotkan..." gadis itu tersenyum, mengambil batu yang cukup besar. Menghantam kepala Seina.
"Aiko, ke... kenapa?" tanya Seina lirih dengan kesadaran mulai menghilang.
"Aku tidak memerlukan belas kasihmu untuk mendapatkan hal yang aku inginkan. Wajahmu membuatku muak..." batu keras itu kembali diharamkannya pada kepala seina, darah sedikit terciprat mengenai rambutnya.
Ibu, tuan Hiasi...aku pergi... Tatewaki, maaf ....
Mata Seina tidak terpejam, namun napasnya telah terhenti. Aiko memastikan semuanya, mengambil phoncellnya dari tangan Seina. Membersihkan darah pada phonecell miliknya menggunakan kain pakaian gadis itu.
Perlahan naik, melanjutkan sketsa lukisannya dengan cepat. Banyak rahasia yang disembunyikan gadis itu. Merapikan alat lukisnya, menatap jazad Seina di bawah jurang.
***
Aika dan Tatewaki terdiam disana terlihat cemas. Menunggu kedatangan Aiko, berharap Seina akan pergi bersamanya.
Pasalnya, Seina pergi tanpa meninggalkan pesan pada siapapun. Berbeda dengan Aiko yang beralasan akan melukis.
"Aiko?" Tatewaki yang baru sampai satu jam yang lalu, segera berdiri menghampirinya, meminta maaf pada Seina adalah tujuannya.
Seina mengatakan memiliki kekasih lain? Semalaman Tatewaki menyetir mobilnya meninggalkan area perkemahan setelah emosi memutuskan hubungannya dengan Seina tanpa menyelidiki apapun terlebih dahulu. Duduk merenung seorang diri mengingat kebersamaan mereka tiga tahun ini.
"Pria lain? Pasti bohong bukan?" gumamnya kala itu bertamu menjelang fajar di rumah, nama pria yang disebutkan Seina.
Tapi nihil, pemuda itu mengatakan sudah memiliki kekasih. Selain itu Seina merupakan saudari sepupunya.
Dari sanalah Tatewaki menyadari kekasihnya berbohong. Entah apa alasannya, namun membentak Seina untuk pertama kali dilakukannya. Bahkan, saat Seina hendak menghentikannya pergi, Tatewaki menepisnya dengan kasar.
Bukan pembohong yang ulung, itulah Seina, wanita bodoh, ceria, dengan hati yang terlalu baik. Air mata mengalir membasahi pelupuk matanya. Kata-kata akan perpisahan sempat terucap. Tidak, dirinya tidak ingin kehilangan Seina. Wanita yang telah meramaikan hari-harinya selama tiga tahun ini.
Hingga mobilnya sampai di dekat area perkemahan, berlari dengan cepat membuka tenda kekasihnya. Berharap dapat menarik kata-katanya tidak ingin ada perpisahan diantara mereka, menemukan wajah cantik kekasihnya serta penjelasan kenapa Seina berbohong.
Namun, harapan hanya tinggal harapan, tenda itu kosong. Aika yang baru terbangun pun tidak tau apa-apa. Hanya Aiko harapannya, berharap Seina pergi bersamanya.
***
Aiko hanya datang seorang diri,"Apa kamu melihat Seina?"
"Dia berkata ingin menenangkan fikiran setelah kalian bertengkar semalam. Aku melihatnya pergi ke area hutan sebelah timur..." dustanya, ikut terlihat cemas."Seina belum datang hingga sekarang?" lanjut Aiko.
Tatewaki tidak menjawab, berlari sembari menangis memasuki hutan seperti orang tidak waras, penuh kecemasan dalam dirinya,"Seina!!" teriaknya berulang-ulang.
Air matanya mengalir entah kenapa, mungkin hatinya menyambut kepergian kekasihnya. "Seina!!" panggilnya kembali.
Napasnya melambat, akibat terus berlari tanpa tujuan, hingga kelelahan dan berlutut,"Seina..." lirihnya.
Satu hari berlalu, Tatewaki mencari bersama polisi hutan. Tanpa henti, hingga jazad itu ditemukan di area bawah jurang, dengan wajah dan tubuh yang rusak. Mungkin ada hewan liar yang sempat menemukannya.
Tatewaki menuruni melalui area tepi jurang, jemari tangannya gemetar, mendekap tubuh yang telah rusak itu erat.
"Seina...a...aku hanya asal bicara, aku salah...aku salah... maaf..." ucapnya pada jazad yang telah mendingin.
"Ji...jika kamu bangun, aku berjanji akan melakukan apapun keinginanmu. Jangan bercanda!! Bangunlah!! Tertawa seperti biasanya!" sang pemuda mengguncang-guncan tubuh itu, berharap tubuh kaku Seina dapat bangun.
Psikis Tatewaki benar-benar terganggu saat itu, tubuh Seina dipisahkan secara paksa dari dekapannya oleh polisi hutan.
"Aaaakh..." teriaknya mulai lemas kehilangan kesadaran.
Impian indahnya menghilang, jika bisa dirinya ingin menghentikan waktu saat natal terakhir yang dilewatinya bersama Seina. Meniup lilin, menginginkan Seina tetap hidup untuknya.
Gadis bodoh, ceroboh yang dicintai seorang Tatewaki.
Kupu-kupu putih kecil terbang mengepakkan sayapnya. Hinggap pada tubuh pemuda yang tidak sadarkan diri dengan air mata mengalir.
Bagaikan menemaninya, tidak pernah pergi kemanapun.
Beberapa hari setelah pemakaman Seina, Aika menatap ayahnya yang membelikan phonecell baru untuk Aiko. Sementara phoncell lama dengan layar yang telah retak dibuang.
Aika mengenyitkan keningnya, mengambil phoncell dari tempat sampah, samar-samar terlihat sesuatu yang aneh. Seperti kotoran yang menempel pada sela retakan layar phonecell.
Perlahan gadis itu memungutnya, menggunakan kuku, mengungkit sisa kotoran berwarna merah tua.
"Cat minyak kering?" sangkaannya, mengingat sang adik yang memang senang melukis.
Dengan cepat Aiko yang tiba-tiba datang merebut phonecell dari saudarinya."Aku merusaknya saat berkemah! Buat apa diambil lagi!?" bentaknya, kembali melempar dalam tempat sampah, meninggalkan Aika yang tertegun tidak mengerti.
Aiko tidak membawa cat minyak ke perkemahan dirinya ingat dengan pasti. Lukisan yang dibuat adiknya saat di tempat itu hanya berupa sketsa.
Sejenak bayangan tubuh Seina yang berlumuran darah terlintas di benaknya. "Tidak mungkin..." gumamnya, tidak ingin mencurigai saudarinya.
***
Saat ini, rumah yang ditempati Kenzo dan Amel...
Pemuda itu tengah konsentrasi, membersihkan riasan Amel yang berantakan. Memakai jubah mandi dengan rambut setengah kering.
"Sudah..." ucap Kenzo tersenyum.
"Kenzo, menurutmu apa kecantikan dan kekayaan penting?" tanyanya tiba-tiba.
"Uang diperlukan untuk hidup, tapi terlalu berlebihan juga tidak baik, jadi uang lumayan penting. Kecantikan? Itu tidak penting, kamu tau kenapa bidadari tidak terlihat turun di zaman ini?" tanyanya Kenzo tersenyum, memasukan kapas kotor ke tempat sampah.
"Karena mereka hanya mitologi?" Amel mengenyitkan keningnya.
Kenzo menggeleng,"Dengan uang manusia bisa cantik. Sejelek apapun terlahir, berbaring beberapa kali di meja operasi akan membuat mereka menyaingi bidadari"
"Hingga hanya satu yang membedakan dari bidadari dan manusia biasa...hati yang tulus hanya mereka yang memilikinya..." lanjutnya, mencium kening Amel.
Bersambung