
Samun mengetahui segalanya? Tentu saja, salah satu anggota keluarga besarnya merupakan guru di SMU tempat Glory dan Grisella bersekolah. Acara arisan keluarga rutin diadakan setiap bulannya, tempat dirinya berkumpul dengan anggota keluarga besarnya.
Di saat itulah salah satu anggota keluarga besarnya yang berprofesi sebagai guru di sekolah tempat Glory belajar membanggakan anak itu. Cantik dan cerdas berprilaku baik walaupun tidak begitu menonjol.
Samun sempat menanyakan tentang Grisella, dari sanalah dirinya tau. Jabatan ketua OSIS yang diberikan pada Grisella hanya karena sang kepala sekolah menghormati Erlang (ayah Grisella) yang telah memberikan donasi besar pada yayasan. Begitu juga dengan juara satu umum, Grisella selalu membeli jawaban saat ujian. Bodoh? Tidak, kemampuan Grisella termasuk biasa-biasa saja.
Samun mulai mengetahui segalanya, sedangkan ibu dari Gin juga tertarik dengan cerita kerabat mereka untuk menjodohkan putranya. Cantik, pintar, sopan, berprilaku baik, dan lucu, itulah Glory yang dibicarakan keluaga besarnya. Karena itu juga, Samun begitu antusias untuk memasukan anak lucu ini menjadi istri dari keponakannya, tentunya ini juga permintaan dari ibunya Gin.
Glory yang kembali berjalan hendak bersekolah ditatapnya dari jauh, menghela napas kasar.
"Kalau Glory menikah, kita juga menjadi kerabat jauh..." ucap Samun, memilih beberapa jenis sayuran.
"Iya..." Kamila tersenyum canggung, putrinya yang sulit diatur itu menyukai teman sekolahnya yang dekil, belum memiliki masa depan yang jelas. Mungkin dirinya hanya dapat berharap, suatu keajaiban akan terjadi, Gin akan menaklukkan Glory.
***
Pagi menjelang empat makhluk hidup di bangku belakang mereka kelihatan tidak bersemangat. Budi dan Ifa menoleh bersamaan.
"Kenapa pagi-pagi sudah ngantuk?" tanya Ira, tidak mengerti.
"Semalaman Caca, aku dan Glory menyiapkan kejutan ulang tahun adikku," jawaban Lily menguap beberapa kali.
"Kalau kamu Ken, kenapa ikut-ikutan mengantuk?" Budi mengenyitkan keningnya.
"Mau aku jawab dengan puitis?" tanya Ken, masih menjadikan tangannya sebagai bantal diatas meja.
"Boleh..." Budi terlihat antusias.
"Saat siang, aku bahagia bagaikan dapat melayang ke surga. Tapi ketika malam, aku ketakutan hal ini akan berakhir, ketika hari berganti pagi. Ketakutan tidak dapat merasakan hari kemarin yang memabukkan lagi," gumamnya tersenyum lalu tertidur.
"Astaga orang-orang ini! Glory kamu tidak mengadakan ritual pesugihan lagi?" tanya Ira memulai bahan pembicaraan lainnya.
Glory menggeleng, menunjukkan amplop besar berwarna coklat yang dikeluarkannya dari tasnya. Dengan cepat Budi meraihnya, membulatkan matanya, menutup mulutnya sendiri dengan tangan gemetar."Ini asli? Bukan kertas atau uang mainan?"
Glory mengangguk,"Aku berencana akan mengembalikan saat bertemu dengannya lagi. Akan aku simpan sementara untuk biaya kuliah di bank. Setelah bekerja nanti akan aku kembalikan pada pangeran pesugihan dalam keadaan utuh,"
"Ini berapa?" Budi yang ketakutan mengembalikan uangnya.
"Dua ratus ribu dolar," jawaban dari mulut Glory.
"Glory, jujur saja aku pernah membuka situs penjualan service wanita malam. Bahkan seorang yang menjual keperawanannya, tidak sampai seharga 3 miliar. Kamu hanya tinggal berciuman mendapatkan 3 miliar? Jika Ferrell mendapatkan keperawananmu akan diberikan berapa ya olehnya?" tanya Ira heran.
"Mungkin pulau pribadi," khayalan tingkat tinggi dari Caca.
"Sudahlah, terima Ferrell, lupakan pria ngorok yang kamu sukai," Lily menimpali, mendengarkan dengkuran Ferrell yang tengah tertidur dengan rupa kusamnya.
Ifa dan Budi saling melirik, terdiam sejenak.
"Glory menyukai Ken? Tidak mungkin..." gumam Budi tidak mengerti.
"Cinta itu buta, dan membuat orang berubah. Dulu kamu selalu iri pada Grisella, setelah memiliki kesempatan merebut Ferrell, malah lebih memilih Superman berwajah dekil," ucap Budi menghela napas kasar, heran pada sahabatnya.
"Ferrell itu bintang yang tidak tergapai, sedangkan Ken bintang indah yang selalu dekat," ucapnya tersipu-sipu, sedikit merapikan rambut Ken yang masih nyenyak tertidur. Memimpikan dirinya datang bersama Kenzo dam Amel melamar gadis genitnya.
***
Tidak banyak yang terjadi, beberapa jam pelajaran kosong, hanya mendapatkan tugas saja. Karena para guru tengah mengadakan rapat. Hingga empat orang itu tertidur nyenyak di kelas usai mengerjakan tugas dari guru dengan cepat. Bahkan jam makan siangpun keempat orang itu masih saja tertidur.
Suara bel listrik, tanda saatnya untuk pulang telah berbunyi. Empat orang yang terlihat lebih segar, berjalan bersama Budi dan Ira, lengkaplah sudah menjadi 6 orang sahabat.
Grisella dan Meka terlihat di depan sekolah seperti biasanya, anak-anak populer yang memiliki banyak teman. Sedangkan 6 orang sahabat itu berjalan tidak peduli sama sekali.
Hingga sebuah motor bebek berhenti di depan tempat parkir area sekolah. Seorang pemuda membuka helmnya. Kenapa dirinya harus berurusan dengan anak SMU lagi? Tapi ini keinginan ibunya, yang bagaikan sudah diberi banyak bisikan oleh bibinya Samun dan kerabat-kerabatnya yang lain.
Matanya menelisik, mendapati keberadaan Grisella disana. Menghela napas kasar, sudah benar-benar melupakan perasaannya. Pernah benar-benar bersungguh-sungguh padanya. Tapi kenyataannya? Grisella menduakannya, bocah yang ingin mempermainkannya.
Cinta beruban menjadi benci, perlahan terlalu membenci menjadi mati rasa, setelah itu memasuki tahap bagaikan orang asing. Itulah perasaannya saat ini pada Grisella, hanya orang asing tidak lebih.
Pura-pura tidak mengenal, itu juga yang dilakukan Grisella. Imagenya di sekolah ini sebagai gadis cantik, ketua OSIS, juara umum yang akan dijodohkan dengan Ferrell tidak ingin direndahkan dengan kehadiran Gin. Tidak mencintainya? Memang benar, Grisella hanya tertarik dengan wajah rupawannya saja, yang mungkin menyaingi Ferrell.
Pemuda itu hanya terdiam mengeluarkan phonecell androidnya, membandingkan satu persatu wajah siswi SMU dengan foto yang dikirim ibunya. Hingga, pemuda berjaket hitam mengenakan ranselnya itu, menemukan sosok Glory.
"Glory!!" panggilnya melambaikan tangan.
Glory tertunduk, bagaimanapun ini suruhan ibunya. Tidak ingin dikutuk menjadi batu berakhir seperti Sangkuriang, maaf salah Malin Kundang.
Gadis itu berjalan hendak menuju sang pemuda rupawan yang baru pertama kali ditemuinya. Hingga tiba-tiba lengannya dicengkeram Ferrell yang masih memakai rupa kucelnya."Dia siapa?" tanyanya.
"Dia..." Glory terdiam sejenak terlihat ragu-ragu, hingga jemari tangannya mengepal ini harus dijelaskan olehnya."Ibuku menjodohkanku dengan mahasiswa, calon perawat. Tapi tenang saja, a...aku tidak akan menerimanya."
Ferrell menghela napas kasar, kesal? Tentu saja, berani-beraninya calon mertuanya ingin menggantikan dirinya dengan calon perawat. Putra dari seorang Kenzo dikalahkan oleh calon perawat? Dirinya akan menjadi lelucon, saat keluarganya berkumpul nanti.
Tangan Glory dipegangnya erat mendekati sang pemuda yang terlihat berusia satu atau dua tahun lebih tua dari dirinya,"Ada apa? Kenapa memanggil pacarku?" tanyanya posesif.
Seketika bunga musim semi dalam hati Glory mekar. Pacar? Ken adalah pacarnya? Ken menyatakan perasaannya?
Gin tersenyum menghela napas kasar."Aku kemari karena suruhan ibuku yang ingin menjodohkanku dengan pacarmu. Kamu tau? Salah satu yang dapat membuat hubungan bocah sepertimu berakhir adalah orang tua. Selain itu, kita tidak selevel!" cibirnya tersenyum.
"Glory, ayo naik!!" lanjut Gin menyodorkan helm dengan rasa percaya diri tingkat tinggi.
"Aku pulang jalan kaki saja dengan pacarku saja!" ucap sang gadis centil memeluk lengan Ferrell.
Dia benar-benar menyukaiku yang kucel dan miskin... batin Ferrell, mengenyitkan keningnya antara bahagia dan ironi.
Sedangkan Gin tertegun, menjatuhkan helm yang disodorkan pada Glory. Dirinya dikalahkan oleh Superman berwajah dekil? Kenapa bisa? Tidak menyadari bahkan pesona Superman berwajah dekil, mengalahkan seorang Ferrell, lengkap dengan uang pesugihannya.
Bersambung