My Kenzo

My Kenzo
Musim Ketiga : Ice Cream Corn



Seorang anak menonggakkan kepalanya, tersenyum menatap cahaya matahari. Menunggu ayahnya dengan sabar, di depan area taman kanak-kanak.


"Kamu mau?" guru barunya menyodorkan ice cream corn padanya.


Aqila menggangguk,"Terimakasih..." ucapnya meraih ice cream corn.


Wanita berkacamata, dengan rambut dikepang satu ke belakang, giginya terpasang kawat gigi. Jemarinya mengelus rambut Aqila,"Aqila kedua orang tuamu berpisah. Apa Aqila sedih?" tanyanya.


Sang anak menggeleng,"Aqila sayang mama, tapi mama selalu marah-marah. Papa sulit tersenyum dulu sebelum tinggal terpisah dengan mama. Sekarang papa bisa tersenyum, tidak dibentak mama lagi, Aqila bahagia bersama papa,"


Sang guru menghela napasnya,"Kenapa mama selalu marah pada papamu?" tanyanya, berusaha tersenyum, menggigit bagian bawah bibirnya sendiri berusaha menahan air matanya.


"Tidak tau, terkadang Aqila dicubit kalau membangunkan mama. Sekarang Aqila, di jaga nek Wi (pengasuh Aqila). Nek Wi, suka mendongeng dan main dengan Aqila..." jawabnya mulai memakai ice cream yang diberikan gurunya.


Sang guru menangis, menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak. Jika saja dirinya ibu anak ini, dirinya akan mencintainya, memperlakukan Zen dengan baik. Cincin pertunangan masih melekat di jari manisnya, hubungan yang diputuskan sepihak olehnya dahulu. Meninggalkan Zen dalam keadaan terpuruk.


Yessi, itulah namanya tunangan Zen yang gagal menikah hanya karena Fransisca yang datang dalam keadaan hamil dua hari sebelum hari pernikahan mereka.


Zen menikahi Fransisca, ikhlas hanya itulah yang dapat dilakukannya. Hanya ingin anak yang ada dalam kandungan Fransisca bahagia dapat hidup dengan orang tua yang lengkap.


Tapi kenyataannya? Anak kecil polos ini bahkan tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. Anak yang selalu mengikuti kemanapun dirinya pergi, beberapa minggu ini. Menunggu jemputan dari pengasuhnya yang sudah berusia tua.


Tidak ada cinta yang abadi, seperti itulah dirinya dan Zen...


Masih teringat di benaknya kejadian enam tahun yang lalu. Ketika hubungan persahabatannya dan Zen berubah menjadi cinta. Perempuan jelek yang saling mencintai dengan seorang pengusaha muda.


Pesta pertunangan yang meriah, cincin telah tersemat di jemari tangannya. Kala itu meyakinkan dirinya sendiri jika akan menjadi istri yang baik bagi Zen nantinya, setelah dirinya menikah.


Menjaga kesuciannya selama bertahun-tahun hubungan mereka. Zen tidak pernah mengeluh memiliki kekasih yang tidak pandai menjaga penampilan. Karena cinta apa adanya itulah mereka.


Hingga, hari itu tiba, dirinya mendatangi kantor milik Zen setelah dari semalaman sang kekasih tidak dapat dihubungi, bahkan di apartemennya pun tidak ada. Entah kenapa dirinya benar-benar cemas. Tepat pukul 8 pagi dirinya sampai, dan benar saja mobil milik Zen masih terparkir disana, perlahan mengintip ruangan kekasinya. Mencari keberadaannya disana.


Mengendap-endap bagaikan tikus, jika menemukannya akan mengejutkannya. Kemudian berpura-pura merajuk, itulah rencananya.


Tapi rencana tinggal rencana. Pintu yang dihalangi sisi sandaran sofa membuatnya tidak dapat melihat dengan jelas orang yang ada di sofa. Perlahan dirinya mendekat, namun senyuman di wajahnya menghilang. Botol minuman dan gelas masih berada di lantai.


Sedangkan ceceran baju berada diatas meja, dan bagian bawah sofa. Jemari tangannya gemetar, menutup mulutnya sendiri, air matanya mengalir tidak dapat dikendalikan.


Tubuh polos dua insan berada disana. Saling mendekap terlihat samar namun dua tubuh itu masih tertidur dalam keadaan menyatu. Tubuh indah wanita itu terlihat tanpa sehelai benangpun, wajah yang cantik jauh lebih cantik darinya. Bahkan lekuk tubuh indah yang bagaikan diinginkan pria manapun.


Sakit, ini benar-benar terasa menyakitkan. Air matanya mengalir tiada henti."Emm...engg...Emm..." suara yang keluar dari mulutnya dengan mulut yang ditutup paksa jemari tangannya. Tidak ingin Zen memutuskan hubungan yang mereka jalin bertahun-tahun.


Benar, dirinya hanya perlu pergi dan berpura-pura tidak tau dengan apa yang disaksikannya saat ini. Semua akan baik-baik saja, pernikahannya yang hanya tinggal dua bulan akan tetap terlaksana.


Pintu kembali ditutupnya, menahan perasaan sakitnya. Menghapus air matanya sendiri.


***


Persiapan pernikahan? Zen yang tidak mengetahui apapun tetap tersenyum di hadapan tunangannya, seperti biasanya. Mereka bahkan memilih gaun dan cincin untuk pernikahan mereka.


Sedangkan Yessi memendam segalanya, berpura-pura tersenyum. Mungkin dirinya egois atau bodoh, namun tetap saja ingin memiliki dan dimiliki oleh Zen.


Selalu begitu, dirinya mulai menangis kala Zen telah pergi. Bayangan itu masih terlintas mengingat tubuh kekasihnya yang tertidur tanpa busana dalam keadaan masih menyatu dengan wanita berwajah rupawan.


Wanita yang mengatakan tengah mengandung dua bulan. Wanita yang bersikeras ingin menikah dengan Zen, mengancam akan membunuh janin dalam kandungannya.


Wanita cantik bernama Fransisca...


"Yessi, bisa aku jelaskan, aku mohon jangan batalkan pernikahan kita," ucapnya berurai air mata setelah menunggu Yessi keluar dari rumahnya sekitar dua jam. Ingin menjelaskan segalanya, tidak ingin kehilangan wanita yang dicintainya.


Gadis itu membuka kacamatanya, menghapus air mata yang mengalir dari mata hingga membasahi pipinya. "Aku mencintaimu..." ucapnya mengangkat tangannya, menghapus air mata yang mengalir di pipi Zen.


"Karena itu, karena itu...aku akan mencari cara, jika perlu aku akan memberikan semua uang yang aku miliki pada Fransisca. Meminta anak dalam kandungannya untuk kita besarkan bersama. Aku akan mencari pekerjaan memulai semuanya dari awal... tolong jangan katakan untuk berpisah..." pintanya, masih tidak dapat menghentikan air matanya, menggenggam jemari tangan kekasihnya.


Sepasang mata yang saling menatap, Yessi tau ada kesungguhan di dalam sana. Tapi tetap saja, memisahkan seorang ibu dari anak yang dilahirkannya?


Plak ...


Satu tamparan dilayangkannya pada wajah Zen. Jemari tangannya mengepal, hatinya terasa sakit kala tangannya menampar wajah pria yang dicintainya. Namun ini harus dilakukannya, mendorong Zen untuk pergi, menjadi ayah yang baik menikah dan bertanggung jawab pada Fransisca.


"Aku membencimu dari sekarang...aku tidak ingin melihatmu lagi..." ucapnya tertunduk, terisak lirih.


Aku mencintaimu, tidak ingin kamu melakukan dosa besar dengan memisahkan seorang ibu dari anaknya... batinnya.


Tangan Zen terulur,"Yessi aku minta maaf, jangan menangis..." pintanya dengan tangan gemetar, hendak menghapus air matanya.


Namun jemari tangannya ditepis."Anak itu membutuhkanmu, begitu juga dengan Fransisca sebagai ibunya. Jika kamu memang mencintaiku, tolong cintai anakmu yang akan akan terlahir dari rahimnya. Nikahi Fransisca,"


"Aku mencintaimu, sudah bertahun-tahun...aku..." kata-kata Zen terhenti.


"Pergi!! Kamu menjijikkan!! Memuakkan!!" teriaknya, mendorong Zen, membanting pintu rumahnya dengan kasar.


Samar-samar dirinya menatap dari jendela, pria yang dicintainya pergi penuh kekecewaan. Sedangkan Yessi hanya dapat bersandar pada dinding, tidak dapat menghentikan air matanya, air mata bodoh yang terus mengalir.


Dua hari telah berlalu, hari ini seharusnya dapat menjadi hari pernikahannya. Yessi mengenakan gaun putih yang indah, merias dirinya terlihat sebagai pengantin yang cantik.


Namun tidak berjalan menuju altar. Beberapa lilin dengan aroma terapi beraroma bunga penenang, dinyalakannya dekat bathtub. Memasukkan dirinya ke dalam air.


Pandangan matanya kosong, air matanya mengalir. Silet diraihnya mendekatkan pada urat nadinya. Air jernih dalam bathtub mulai berubah menjadi merah, begitu juga dengan gaun pengantinnya yang basah.


"Zen..." ucapnya memejamkan mata, tidak tahan lagi dengan perasaan rindu dan sakit yang selama dua hari ini dirasakannya.


Tubuhnya mulai lemas, kesadarannya menipis.


"Yessi... Yessi!! Bangun, jika kamu tidak bangun ibu akan mati bersamamu..." ucap ibunya yang telah renta menjerit terisak lirih. Dirinya telah berada si lorong rumah sakit, masih memakai gaun basah berlumuran darah segar. Wajah keriput ibunya terlihat. Dirinya adalah anak tunggal dari seorang janda tua.


"Ibu..." ucapnya yang hanya memiliki sedikit kesadaran, setetes air matanya mengalir. Sebelum tubuhnya memasuki UGD.


Benar, hanya sang ibu semangat hidupnya kini. Untuk mulai bangkit dari keterpurukan, menjalani hidupnya yang sepi.


Hingga saat ini, setelah lima tahun dirinya menjadi guru taman kanak-kanak. Seorang anak kesepian yang baru pindah sekolah ditemuinya. Menghibur sang anak, disela waktu menunggu pengasuhnya datang.


Tapi ada kalanya dirinya mengetahui sang anak adalah putri dari Zen. Pria yang masih dicintainya hingga kini.


Bersambung