My Kenzo

My Kenzo
Musim Kedua : Tembikar Bagian 2



...Apa cinta itu indah? Tidak, cinta bagaikan seperti tembikar untukku......


...Perlahan jemari tanganku membentuknya, menunggunya kering di bawah cahaya matahari......


...Membakar dengan suhu yang sesuai, hingga berakhir memoleskan cat indah untuk menghiasnya. Kala itulah aku tersenyum......


...Namun, semua hanya kepalsuan, tembikar yang pada akhirnya akan pecah. Jemari tanganku ingin memperbaikinya, berakhir terluka karena memunguti pecahannya......


...Aku mencintaimu...tapi tidak denganmu......


Dava...


Itulah saat terapuh baginya, dirinya menghabiskan semua tabungannya untuk Kiki. Hanya ingin membahagiakan hati yang dianggapnya tulus mencintainya.


Namun apakah cinta yang tulus itu ada untuknya? Tidak Kiki hanya ingin mengikatnya, menjeratnya dalam rantai menyakitkan. Hal yang disebut dengan cinta hanya sebuah ilusi.


Hingga tiba hari dimana Praba, bertemu dengannya. Satu kompleks perumahan dengan Kiki bekerja dahulu sebagai ART. Mengetahui bagaimana wanita itu menjerat majikannya.


Membenci Dava? Tentu saja, pemuda yang harus selalu dipujinya hanya untuk menaikkan jabatan sang ayah.


Praba lebih cerdas, dari pada seorang seniman tembikar yang memerlukan waktu beberapa tahun untuk lulus S1.


Jamari tangannya mengepal, bibirnya tersenyum. Inilah saatnya, membuktikan di mata orang-orang, hati yang baik tidaklah cukup, namun kecerdasan yang utama.


Tanpa sepengetahuan Dava, menemui Kiki di halaman belakang rumah. "Kamu mengingatku?" kalimat pertama yang terucap.


"Ti... tidak," Kiki berusaha tersenyum.


"Aku mengingatmu, sebagai wanita yang menggugurkan anak hasil hubungan gelapnya dengan majikannya. Setelah ketahuan, melarikan diri, dari kejaran istri majikanmu. Wanita yang usai membunuh suaminya..." ucap Praba tersenyum.


Kiki mengeluarkan keringat dingin, kehidupan nyamannya kali ini akan terusik. Tapi bagaimana?


"Jangan katakan pada siapapun..." pintanya.


"Baik, dengan satu syarat. Ajari Dava meminum minuman berakohol. Saat di lengah, campur ini ..." ucapnya memberikan bubuk dalam kantung plastik kecil.


"I...ini apa?" jemari tangan Kiki gemetar, terlihat ragu.


"Narkotika, tenang saja dalam beberapa tahun perusahaan keluarga ini akan hancur. Saat itu aku akan tetap menjaga rahasiamu, selain itu tidak tertarik menjadi model?" tawarannya, memberikan kartu nama agensi model majalah dewasa.


Kiki terdiam, jika perusahaan keluarga ini hancur bagaimana dengan dirinya. Plastik bening itu digenggamnya. Lagipula dari awal dirinya tidak mencintai Dava, apa yang membuatnya ragu?


Punggung Praba yang melangkah pergi ditatapnya, berpapasan dengan Dava yang datang. Membawa sebuah kain, "Aku punya trik sulap baru..." gumamannya.


Kain itu dimainkannya, tersenyum pada kekasihnya. Wanita yang selalu terlihat kagum, namun sejatinya membenci semua trik membosankan yang dimainkannya.


Pria bodoh yang tidak menyadari semua itu, tersenyum pada kekasihnya. Vanya mulai menyadari semuanya, menatap barang-barang yang diberikan untuk Kiki.


"Dava, apa kamu yakin dengan Kiki? Kita bahkan tidak mengenal orang tuanya,"


"Berapa puluh juta yang kamu habiskan untuknya. Mama tidak akan mempermasalahkan jika uang itu untuk kepentinganmu. Tapi Kiki semakin hari, semakin rakus menghabiskan uangmu,"


"Dava, ibu mencintaimu. Karena itu fikirkanlah bagaimana jika kalian menikah nanti. Harta kami habis, anak-anakmu nanti mau makan apa?"


Kata-kata yang terngiang dalam benaknya, masih juga mencintai Kiki ingin membuatnya selalu tersenyum. Hati dan fikiran yang bertentangan, rasa kasihnya benar, tapi kata-kata ibunya juga benar.


Hingga badai besar itu datang juga...


Semua terjadi begitu saja, sensasi yang bagaikan menghilangkan beban di hidupnya. Kehidupan normalnya tidak ada lagi, Kikilah yang mengantarnya pada kematian.


Emosional, begitulah Dava saat ini, tidak bisa jika tidak meminum minuman beralkohol. Penyebabnya? Tentu bukan minuman berakoholnya namun sesuatu yang dicampurkan Kiki di dalamnya.


Tubuhnya semakin kurus, terkadang gemetar jika tidak menyentuh alkohol. Rasa yang benar-benar tersiksa, benar-benar gelisah. Semua orang mulai menjauhinya yang sering terlihat dalam kondisi mabuk. Namun, kedua orang tuanya lah yang selalu mendekap tubuhnya.


"Dava... putuskan hubunganmu dengan Kiki ya?" pinta Vanya, berurai air mata.


"Tidak bisa... tidak bisa..." sang anak gemetar dengan wajah pucat, memeluk tubuh ibunya menggigil."A...aku mencintainya,"


Kiki menatap semuanya dari luar kamar. Apa perbuatannya ini salah? Namun, ini benar jika ingin hidup bebas penuh kesenangan, hidup dalam ketenangan.


Hingga tepat di tahun ke lima mereka saling mengenal, pemuda dengan wajah pucatnya itu, menyematkan cincin pertunangan padanya. Tersenyum, tidak melakukan sulap konyolnya lagi.


Kiki menatap cincin indah yang melingkar di jemarinya. Apa dirinya salah? Namun Dava hanyalah pria bodoh yang manja. Siapapun dapat melakukan ini padanya, walau bukan dirinya bukan?


"Aku mencintaimu..." kata-kata itu terulang lagi. Kata-kata yang tulus.


Dibalas oleh mulut tanpa hati,"Aku juga..."


***


Tahun ke 7 dari pertemuannya dengan Kiki...


Semakin hari permintaan Praba semakin aneh lagi. Dirinya ingin perusahaan keluarga itu hancur, nilai saham yang anjlok. Setelah ayahnya Virgo dipecat, usai berhasil menjual data perusahaan. Kini bekerja sebagai direktur pelaksana di perusahaan pesaing.


Caranya? Dirinya ingin Kiki membuat video adegan ranjang dengan Dava yang terpengaruh narkotika. Gambar wajah Kiki akan samarkan, yang terpenting adalah wajah Dava.


Sungguh, cinta lugu yang berbalas menyakitkan. Video itu tersebar luas, bersamaan dengan anjloknya harga saham. Perusahaan milik Damian dinyatakan hampir pailit.


Hal yang terjadi setelahnya? Dava berusaha bangkit, memberi semangat pada kedua orang tuanya. Tidak mempedulikan tubuhnya yang terasa menggigil akibat tidak mendapatkan minuman berakohol yang dicampur narkotika oleh Kiki.


Tapi malam itu api dalam sekam akhirnya diketahuinya juga. Kala ibunya diludahi oleh Kiki,"Jangan tinggalkan Dava di saat seperti ini, dia sedang sakit!!" ucapnya lirih tidak mengerti dengan kondisi tubuh putranya yang sejatinya kecanduan zat adiktif.


"Aku tidak peduli..." tangan renta itu ditepisnya. Ludah yang membasahi rambut Vanya masih terlihat.


Jemari tangan Dava gemetar, air matanya berurai. Hingga tetap memaksakan dirinya melangkah hanya untuk menemui Kiki, dalam kamar wanita itu. Duduk di tepi tempat tidur, menginginkannya untuk meminta maaf pada Vanya.


Namun, hal yang tidak diduga terdengar olehnya. Mode load speaker dipasang Kiki di phoncellnya yang tengah berendam dalam bathtub kamar mandi.


"Jadi apa yang akan kamu lakukan sekarang? Dava sudah dua hari minumannya tidak aku campurkan narkotika lagi, wajahnya bertambah pucat " tanyanya.


"Mereka tidak boleh kembali bangkit, masih ada aset yang mereka miliki, karena itu aku akan mengutus orang untuk membunuh mereka. Atau membakar rumah itu sekalian..." jawab seseorang di seberang sana.


"Tapi, jika mereka selamat?" Kiki kembali bertanya.


"Selama mereka masih memiliki harta untuk kembali mencegah perusahaan pailit. Mereka harus mati, karena aku tidak ingin suatu saat nanti mereka balas dendam kepadaku..." ucap pemuda yang dihubungi Kiki.


"Sudah, aku akan membasuh badanku dulu..." suara Kiki yang keluar dari bathtub terdengar, bersamaan dengan panggilan yang dimatikan.


Dava tertegun, tidak ada cinta yang tulus untuknya. Kiki tidak mencintainya, ingin meninggalkannya. Namun, hanya satu hal yang harus dilakukannya saat ini. Menyelamatkan hidup kedua orang tuanya.


Bersambung