
🍀🍀🍀🍀Mau dilanjutkan cerita Febria dewasa atau tidak? Tuliskan di kolom komentar 🤭🤭🤭🍀🍀🍀🍀
Ada guratan kerinduan disana benar-benar terasa dalam. Hingga pada akhirnya gerakan bibir itu terlepas.
"Maaf..." Aika tertunduk.
"Kenapa? Kamu tidak menyukaiku?" tanya Frans dengan deru napas memburu.
"A...aku..." bibir itu kembali dibungkamnya, melupakan segalanya. Seakan Aika hanya miliknya, tangannya mulai berusaha membuka kancing kemeja wanita itu.
Brak...
Pintu yang tidak dikunci tiba-tiba terbuka, dua orang yang sama-sama saling menoleh menatap kedatangan seorang anak berkulit putih dengan mata tajam namun tidak sipit.
Mungkin perpaduan dari ayah dan ibunya yang berasal dari negara berbeda.
"Mama..." ucapnya berlari dengan cepat, memeluk Aika posesif.
"Mama!?" Frans mengenyitkan keningnya tidak mengerti. Menatap seorang anak yang mungkin berusia sekitar 8 tahun.
"I...ini anakmu?" tanya Frans memastikan.
Aika mengalihkan pandangannya sejenak,"Juga anakmu..."
Bug...
Pria itu berlutut di lantai, entah mimpi apa dirinya semalam hingga tiba-tiba telah memiliki seorang anak yang sudah hampir besar. Namun, ini adalah sebuah keberuntungan, dirinya akhirnya memiliki keturunan.
"A... anak papa... kemari," pintanya.
Sang anak melangkah dengan ragu, hingga Aika berkata, Frans adalah papa yang selama ini ditunggunya.
Perlahan sang anak dipeluknya, air matanya mengalir,"Aku akan menikahi ibumu..." gumamnya.
Aika menghela napas kasar, "Ayah mengijinkan kita bersama dengan syarat, bantu aku memimpin perusahaan. Tinggalkan W&G Company, karena aku tau kamu begitu setia pada Kenzo... jadi dulu aku ragu mengatakan..." kata-katanya terhenti, kala Frans menyelanya.
"Dulu aku mungkin akan ragu, tapi sekarang Kenzo sudah memiliki 7 anak yang memiliki kecerdasan diatas rata-rata. W&G Company akan tetap berdiri kokoh, walau tanpa kehadiranku disana..." jawabnya tersenyum.
Aika melompat memeluknya, bersama dengan Hitoshi. Ibu dan ayah yang berlutut memeluk putra mereka.
"Benarkan pisang yang lebih tua lebih enak? Bahkan sekali mencoba langsung menghasilkan anak," ucapnya berbisik pada Aika.
"Aku lupa rasanya, stelah kita menikah bagaimana jika mencobanya lagi..." bisiknya di telinga Frans.
"Pisang apa?" Hitoshi bertanya dengan nada polos. Membuat kedua orang tuanya kehabisan kata-kata.
***
Saat ini Singapura...
"Jadi kamu sudah menikah dan akan mengundurkan diri?" Amel memastikan, dijawab dengan anggukan oleh Frans.
"Aku dan Kenzo akan tetap berteman, seperti adik dan kakak. Bisa tolong untuk menjaganya nanti?" tanyanya.
Wanita itu menghela napasnya,"Aku harus mencari asisten pengganti karenamu,"
"Buka lowongan kerja di koran maka akan ada ratusan pelamar kerja baru. Tinggal pilih saja," ucap Frans dengan sang anak yang masih ada di sampingnya.
"Hitoshi, perkenalkan dirimu pada Febria. Dia anak dari bibi Amel..." lanjutnya.
"Namaku Hitoshi..." Hitoshi mengulurkan tangannya.
"Febria," Febria tidak membalas uluran tangannya, menonggakkan kepalanya menatap ibunya,"Boleh aku ke tempat dimana Steven tinggal?" tanyanya, memegangi tangan Amel.
"Tidak, jika kalian tinggal bersama kamu akan melahirkan anak di usia muda..." Amel berusaha tersenyum, memendam kekesalannya.
Hingga Hitoshi, menarik tangan Febria,"Kamu bisa bermain piano, kita bermain bersama ya?" ucapnya tersenyum.
"Aku tidak bisa!! Jangan menarikku!!" teriakan Febria, namun akhirnya menyerah. Duduk di samping Hitoshi, mempelajari cara memainkan benda dengan suara indah.
"Anakmu bisa bermain piano?" tanya Amel mengenyitkan keningnya.
Amel kembali menghela napas,"Jika Febria bertanya padamu tentang keberadaan Steven. Katakan dia berada di negara lain, tidak boleh bertemu dengannya sementara waktu..."
"Kenapa? Dimana Steven? Biasanya anak aneh itu selalu menempel pada Febria?" tanya Frans tidak mengerti.
"Steven menghilang di bandara beberapa minggu yang lalu. Kamu tau bagaimana Febria, jika mengetahui Steven menghilang? Dia akan panik, bahkan tidak bersedia makan,"
"Rahasiakan sementara, sampai Steven kembali atau Febria sudah cukup dapat menerima Steven menghilang," lanjutnya.
"Kalian sudah mencari informasi pada tempat Kenzo membelinya dulu?" Frans kembali bertanya.
Amel menggeleng,"Kenzo tidak mengingat dimana dirinya menemukan Steven dahulu. Tapi satuhal yang pasti, Steven pergi atas keinginannya sendiri, semuanya terekam dalam CCTV bandara,"
Frans hanya terdiam, bahkan Kenzo yang pastinya sudah mengerahkan jaringan informannya tidak dapat menemukan Steven. Mungkin memang ada sesuatu yang tidak biasa dari anak itu.
Matanya menatap putranya yang kini tengah berusia 8 tahun. Bahagia? Tentu saja, jadi begini rasanya memiliki seorang anak. Terasa bangga kala mendengar jemari tangannya menari di atas tuts piano.
"Mereka seperti malaikat..." bisik Frans dengan suara kecil, menatap dua orang anak rupawan yang masih duduk di depan piano putih besar.
"Sulit untuk mengakuinya, putriku adalah iblis berwajah malaikat," Amel menghela napas kasar.
Hingga...
Bug...
Febria menendang betis Hitoshi, "Sudah aku bilang tidak bisa!! Ya tidak bisa!! Dasar kesatria baja hitam!!" bentaknya komat-kamit pergi, meninggalkan ruangan.
Amel mengusap wajahnya sendiri,"Benarkan? Hanya Steven yang terlalu sabar untuk menjaganya,"
Sedangkan Hitoshi, ikut turun dari panggung, ballroom yang kosong. "Bibi Amel, aku dan Febria akan akrab dimasa depan. Boleh kami berteman?"
"Anak sopan yang menggemaskan..." Amel mencubit pipi Hitoshi.
***
Sedangkan di tempat lain, cat rambut hitamnya sudah mulai kembali. Rambut putihnya, yang sedikit telah berubah warna menjadi coklat terlihat.
Memegangi senjata laras panjang, memakai pakaian hitam lengkap dengan sarung tangan dan kacamata khusus untuk latihan tembak, membidik sasaran yang bergerak.
Dor...dor...dor ...
Sudah sekitar 18 tembakan yang dilayangkannya. Hingga akhirnya menurunkan tangannya.
"Periksa..." perintah seorang pria pada bawahannya.
Dengan cepat beberapa bawahannya memeriksa, beberapa sasaran bergerak disana.
"15 tepat sasaran, tiga lainnya beranda di wilayah sasaran tembak dua," kata-kata yang keluar dari salah satu bawahan.
Plak...
Satu tamparan mendarat di pipinya, sang remaja tertunduk, mengepalkan tangannya.
"Jika sasaran itu adalah manusia bersenjata, tiga diantaranya hanya terluka tapi tidak mati. Maka kamu yang akan mati ditembak mereka, mengerti!?" bentaknya pada Steven.
"Maaf, aku mengerti," Steven kembali memasukkan peluru pada senjata jarak jauh. Membidik sasaran berupa papan berbentuk manusia yang bergerak, membidiknya tepat di bagian kepala.
Harus tepat sasaran... harus tepat sasaran...aku akan merubah usaha ayahku suatu saat nanti, agar tidak perlu membunuh, sampai saat itu, aku harus tetap hidup, agar dapat bertemu denganmu... gumamnya dalam hati, tidak ingin menerima kekerasan fisik lagi.
Eden, satu-satunya saudara kandungnya yang bertahan hidup mendekatinya, seorang remaja berusia 18 tahun, menggerakkan kursi rodanya sendiri."Tenang dan fokus, tanganmu tidak boleh gemetaran. Atau aku sendiri yang akan membunuhmu..."
Steven menghirup napasnya dalam-dalam, kemudian memejamkan matanya sejenak. Mata biru itu kembali terbuka.
Dor...dor...dor...
Sasaran kembali ditembaknya, berusaha tetap fokus. Semua masih dirindukannya, mama, papa, saudara-saudaranya dan Febria.
Aku adalah Ultraman, Ultraman tidak pernah kalah. Aku akan menemuimu saat dewasa nanti...
Bersambung