
Jemari tangannya ditarik, bersamaan dengan tubuh mereka yang sejajar di dalam air. Sedikit udara dalam mulutnya diberikan Febria untuk Steven, dalam bibir yang menyatu. Sedikit udara, dapat membuatnya bertahan untuk bergerak, berusaha berenang naik ke permukaan, hanya dengan kedua tangan dan satu kakinya.
Hah...
Suara sepasang muda-mudi, yang baru mencapai permukaan, menghirup udara dengan serakah. Saling menatap, berusaha mencapai area pinggir danau.
Hingga akhirnya, sampai duduk di pinggir danau membaringkan tubuh mereka diatas batu krikil, kelelahan.
"Terimakasih," Steven tersenyum padanya.
Sial!! Kami berciuman lagi, tidak, ini hanya untuk kemanusiaan. Tapi tetap saja, kenapa aku menolongnya... gumamnya dalam hati, berbaring di samping Steven, menoleh padanya, dengan deru napas yang sama-sama tidak teratur.
Steven mulai duduk, menatap ke arah sekitarnya. "Kita harus pergi dari sini, jika tidak kita akan mati, sebelum bantuan datang..."
"Ki...kita harus kemana?" tanya Febria ketakutan, masih membenci seseorang yang dikenalnya sebagai tuan Hudson. Namun, juga hanya pria ini satu-satunya harapannya untuk tetap hidup. Di tengah situasi yang tidak diketahuinya.
Steven berusaha bangkit, mendekati Febria, membawa pisau yang sebelumnya direbut dari lawan saat perkelahian.
"Ka...kamu mau apa?" tanya Febria ketakutan.
Rok mini dress wanita itu dipegangnya. Febria benar-benar gemetar saat ini. Apa dirinya akan dilecehkan kemudian dibunuh? Atau tubuhnya akan berakhir disayat-sayat? Entahlah...
Krak ...
Rok Febria dirobeknya menggunakan pisau, sobekan yang memanjang.
Bayangan dalam imajinasi Febria, setelah roknya disobek. Maka pakaiannya juga, memaksa berhubungan badan di tempat yang terbuka.
"Ja... jangan..." lirihnya merangkak mundur ke belakang, memejamkan matanya ketakutan. Membayangkan dirinya akan dihujam menggunakan benda tumpul yang akan membuatnya mengandung. Pemuda yang akan menikmati tubuhnya di atas tidak nyamannya batu krikil.
Namun, tidak ada yang terjadi. Pisau itu dilemparkan Steven ke danau. Membalut luka tembakan di kakinya sendiri, menggunakan potongan rok mini dress Febria, tidak ingin meninggalkan jejak darah sedikit pun.
"Kenapa memejamkan mata? Otak mesummu ingin kita melakukannya disini? Tapi maaf...lain kali saja..." Steven tersenyum menahan tawanya.
"A... aku tidak berfikiran mesum!!" bentak Febria, kesal.
"Ayo kita pergi, sebelum mereka sampai kemari," ucapnya berusaha bangkit, berjalan dengan kaki pincang. Tanpa diduga dengan cepat Febria bergerak memapahnya..
"Kita akan kemana?" tanyanya pada Steven.
"Ada gudang kayu didekat sini. Aku menyembunyikan kotak P3K, makanan dan senjata disana..." jawab Steven tersenyum.
"Kamu tau akan diserang?" Febria mengenyitkan keningnya tidak mengerti, dijawab dengan anggukan oleh Steven.
"Aku sengaja memancing mereka kemari, untuk mengetahui siapa saja pembelot yang berpura-pura tunduk di hadapanku. Menghabisi mereka sekali langkah..." ucapnya.
"Lalu kenapa hanya meletakkan kotak obat dan senjata, tidak menyiapkan pengawal?" Febria kembali bertanya, sembari memapahnya.
"Saat ini kesetiaan semua orang diuji, tidak ada yang bisa dipercayai dalam jaringan mafia," jawabnya dengan wajah sedikit tergores, akibat menjatuhkan dirinya dari atas jurang.
Febria terdiam masih berjalan sembari menatap wajahnya. Cara bicara yang mirip dengan Steven, ketika tengah serius. Namun warna rambut dan bola mata yang berbeda. Pria dewasa yang rupawan, bagaimana wajah Steven saat ini? Mungkin remaja berusia 14 tahun yang pernah diciumnya akan tumbuh menjadi pria dewasa yang menyerupai pria ini.
Benar-benar tampan, tidak... tidak boleh, apa dirinya sudah gila? Pria ini anggota mafia, dapat berbuat kekerasan, menyingkirkannya jika sudah tidak menyukai dirinya lagi.
Namun, hanya pria ini yang pernah menyentuh dan menciumnya selain Steven. Febria menelan ludahnya, pemain harpa, berwajah cantik dengan prilaku dingin yang berjalan pun terlihat elegan itu menatap sang pria.
Untuk pertama kalinya otak mesumnya berfungsi. Jika sebelumnya, Febria dicium pria rupawan, seorang pramugara seperti Benjamin saja, dirinya tidak mau. Tapi berbeda dengan pemuda berbahaya yang memacu adrenalinnya ini.
Entah kenapa otaknya yang putih bersih, menjadi benar-benar kotor. Imajinasi mesumnya masih diingat olehnya. Kala membayangkan pria itu merobek seluruh pakaiannya di tepi danau. Melepaskan pakaiannya yang basah, menikmati tubuhnya ditengah tubuh mereka yang sama-sama basah. Memaksanya berhubungan dengan berbagai posisi.
Imajinasi yang tidak pernah terjadi sama sekali.
Febria menggeleng-gelengkan kepalanya, agar imajinasi liarnya menghilang. Kenapa aku jadi mesum begini... gumamnya dalam hati.
***
Beberapa ratus meter, gudang di tengah hutan akhirnya terlihat juga. Steven sedikit menggali tanah di belakang gudang. Mengambil kotak obat dan koper berisikan senjata api dengan beberapa peluru cadangan. Kotak makanan kecil disembunyikannya di dalam gudang terbengkalai itu.
Duduk berdua di belakang tumpukan kayu besar, Steven mulai membuka kotak P3K-nya. Hal yang tidak lazim, terdapat jarum jahit yang biasa digunakan dokter untuk menjahit luka disana, bahkan ada pinset, penjepit dan pisau operasi kecil yang telah steril.
Anastesi mulai disuntikkannya pada lukanya sendiri. mengambil penjepit, dan pisau kecil.
"Apa tidak sakit?" tanya Febria menatap iba padanya.
"Sangat," jawaban dari mulut Steven, yang sejatinya sudah terbiasa mengatasi luka tembakan seorang diri. Menangis, maka dirinya akan dipukuli oleh sang ayah, itulah kehidupan yang dijalaninya 14 tahun ini.
Sarung tangan karet dipakainya, mensterilkan luka, mulai mencungkil proyektil di kakinya. Darah mengalir semakin deras, hanya dengan peralatan seadanya, luka itu dijahit perlahan, hingga akhirnya dibalut dengan perban, agar sementara tidak terbuka lagi. Pil antibiotik ditelannya, diminum menggunakan air mineral.
Mengingat dirinya yang setelah istirahat harus tetap bergerak. Keringat dingin membasahi wajahnya, menahan rasa sakitnya, anastesi mungkin dapat meredakan rasa sakit sementara waktu. Namun tetap saja, rasa sakit itu akan kembali.
"A... aku bisa memanggilmu Hudson?" tanya Febria, dijawab dengan anggukan oleh Steven."Apa begitu sakit? Ada cara meredakannya?"
"Ada, tapi bukan meredakannya, mengalihkan rasa sakitnya..." jawaban dari bibirnya yang putih pucat.
"Bagaimana? Apa dengan tanaman herbal atau obat yang ada disini?" Febria kembali bertanya terlihat antusias.
"Yakin, ingin mengalihkan rasa sakitku?" Steven tersenyum mendekatkan wajahnya.
Febria mengangguk polos, sebuah kesalahan yang dilakukannya. Tengkuknya diraih, bibirnya disatukan, dinikmati sedikit demi sedikit. Menggoda Febria yang meronta-ronta untuk memainkan lidahnya.
Dan benar saja tangan Febria yang memukul dadanya mulai lemas, memegang erat sweater hitam Steven yang basah. Ikut membalas pangutannya. Ini benar-benar memabukkan bagi Febria. Jantungnya berdegup cepat dalam dekapan sang pemuda yang duduk di lantai gudang kayu yang kotor.
Balasan yang terasa berbeda, memberikan sensasi rasa nyaman baginya.
Hingga pangutan itu terlepas, napas keduanya tidak teratur.
"Kamu siapa...?" tanya Febria.
"Aku? Aku Ultraman..." Steven tersenyum, kembali menahan tengkuk Febria melanjutkan pangutan bibir mereka.
Bersambung