
Hari ini tidak begitu cerah, sama dengan perasaan dalam hati Glory. Dirinya belum juga terlepas dari seorang Ferrell. Sedikit melirik ke arah bangku belakangnya, Ken yang tengah tersenyum padanya.
Benar-benar sebuah dilema remaja. Glory membuka buku pelajaran mencoba melupakan sejenak masalahnya. Namun, entah ada angin apa, Grisella mendatangi bangku tempatnya dan Caca duduk.
Brak...
Suara gebrakan meja terdengar."Apa maksudmu, memposting foto gitar dengan tanda tangan Ferrell, dan mengatakan kamu berteman dengan wanita yang disukai Ferrell!? Kita tidak akrab sama sekali, entah di toko online mana kamu membelinya..." cibir Grisella kesal dengan Liliy dan Meka yang berdiri di belakangnya, mengikutinya.
Wanita yang disukai Ferrell? Grisella memang belum pernah bertemu langsung dengan Ferrell. Namun, setiap kali dirinya meminta pada ayahnya, Erlang mengatakan akan berusaha menjodohkan dirinya dengan Ferrell.
Dengan keyakinan, tidak ada yang kurang darinya, setiap pria di sekolah maupun club'malam, mengelu-elukan tentang kecantikannya. Kedua orang tuanya membanggakan tentang kecerdasannya. Cerdas? Tidak juga, kemampuan Grisella sesungguhnya tidak begitu menonjol, hanya saja sumbangsih ayahnya yang cukup besar pada yayasan sekolah, membuat para guru segan padanya.
Membeli jawaban soal ujian? Sudah biasa dilakukannya, yang mengetahuinya mungkin awalnya hanya Caca, Lily dan Meka, teman yang dulu selalu bersamanya.
Hanya ketika ayah Caca tersandung kasus prostitusi dan korupsi, Caca bagaikan dijauhi, bahkan menerima pembullyan. Mungkin karena itulah Caca beralih duduk di bangku paling belakang, berteman dengan si nomor dua (Glory), sepasang cumi-cumi (Budi dan Ira) serta satu lagi tambahan Superman dekil (Ferrell).
"Aku memang mendapatkan tandatangan eksklusif. Bahkan berfoto dengannya, ini semua karena aku mengenal wanita yang disukai Ferrell..." jawabnya sombong, sebagai sesama fans fanatik.
Sedangkan Glory tiba-tiba menginjak kakinya, menatap tajam pada Caca seolah tidak mengijinkan memberitahu tentang pesugihan yang selama ini dilakukannya. Caca mengangguk, menyanggupi mengerti dengan kode dari teman sebangkunya.
"Kamu menggunakan namaku untuk mendapatkan gitar darinya? Pecundang, ayahnya menyewa wanita penghibur, bahkan korupsi. Pantas saja putrinya sembarangan menggunakan nama orang..." Grisella tersenyum mengejek. Mengepalkan tangannya, iri? Tentu saja, entah kapan perjodohan yang dijanjikan ayahnya akan terlaksana. Mungkin saat itu terlaksana Grisella akan meminta Ferrell mengantar jemput dirinya di sekolah.
Dua orang yang bertengkar sengit, tidak menyadari, Ferrell yang duduk tenang di belakang mereka mulai membuka keripik singkong kusuka. Dengan ketela renyah dari singkong pilihan.
Pemuda yang menonton semuanya, sembari mengemil. Pertengkaran fans, dilema masa remaja... batinnya, kemudian menawarkan satu bungkus lagi pada Glory yang juga menonton.
"Mau?" tanyanya tersenyum dengan kulit sawo matangnya, kacamata yang bertengger, rambut Superman yang anti badai, ditambah dengan tahi lalat besar.
Namun dimata Glory berbeda,"Kripik singkong tanda cinta," gumamnya, merasakan debaran, kala tangannya dengan sengaja, menyentuh tangan Ken.
"Kamu bilang apa?" akibat suara pertengkaran, Ferrell tidak mendengar dengan jelas.
"Te... terimakasih keripik singkongnya," jawabnya gelagapan, hampir keceplosan. Takut akan ditolak oleh Ken, pasalnya dirinya yang sering dan masih melakukan pesugihan hingga kini.
Dua orang yang saling mencuri pandang sambil mendengarkan pertengkaran sengit...
"Aku tidak menggunakan namamu!!" tegas Caca benar-benar geram.
"Lalu? Darimana kamu mendapatkannya? Aku yakin itu tandatangan palsu," cibir Lily (sahabat Grisella) tertawa menghina.
Caca sedikit melirik ke arah Glory yang tengah tersenyum malu-malu pada Ken. Bahkan Ken tertunduk membalas senyumannya. Terlihat sangat jelas dua orang ini memiliki perasaan yang sama, mengatakan tentang perjanjian pesugihan antara Glory dan Ferrell? Maka takdir hubungan anata dua insan yang sedang kasmaran ini akan kandas sebelum berkembang.
"Berarti kamu mengakui, itu tandatangan palsu," Meka tersenyum puas.
"Kalau menurut kalian palsu ya sudah! Sana! Anggap saja aku pembohong," jawab Caca mengalah untuk sahabatnya. Lagipula gitar dengan tandatangan Ferrell juga didapatkan hasil pesugihan teman Glory bukan?
Dapat dibayangkan olehnya jika terus berteman dengan Glory dan berakhir mendorong sahabatnya ke ranjang Ferrell. Mungkin saja, Ferrell akan bernyanyi di aula sekolah, sebagai hadiah ulang tahun untuk seorang Caca.
Tapi tetap tidak boleh! Persahabatan yang utama. Dirinya melirik sejenak, betapa bahagianya Glory dapat bersama dengan Ken. Menjalani hubungan yang lambat, penuh perasaan sungkan dan malu-malu, bagaikan remaja tahun 90-an.
"Kalian dengar sendiri kan? Yang di-postingnya itu kebohongan?" Grisella tersenyum, bersamaan dengan seluruh kelas bersorak, mencibir perbuatan Caca yang menurut mereka memalukan.
Caca hanya terdiam. Namun, sejenak tersenyum, siapa yang sangka gitar itu memang asli. Foto yang di-postingnya tadi malam, memeluk gitar akustik yang didesain khusus dengan ukiran dari kayu cempaka asli. Gitar akustik kesayangan Ferrell yang memang dipesan dan didesain khusus olehnya, buatan tangan oleh seorang seniman pembuat gitar ukir.
Memberikan gitar itu pada Caca? Tidak masalah, asalkan tidak menggagu asupan nutrisinya. Empat sehat lima sempurna, itulah makna ciuman Glory untuk Ferrell yang tengah tersenyum malu-malu, duduk di bangku belakang Glory.
***
Hari kini sudah semakin sore, Kamila tengah mengangkat pakaian yang dijemurnya di halaman samping. Sembari mendengarkan celotehan Ratna yang tengah menyombongkan putri dan suaminya.
Kamila menghela napas kasar, memasukkan pakaian ke dalam keranjang,"Mungkin memang sebaiknya Glory dijodohkan sebelum salah pergaulan," gumamnya, menatap dari jauh putri tunggalnya yang tengah melambaikan tangan, menatap kepergian temannya yang dikenal dengan nama Ken.
"Iya, walaupun Glory tidak secantik Grisella, tapi Gin lumayan cocok untuk Glory," ucap Ratna yang ada di seberang tembok rumah antusias, hingga berjalan memutar memasuki rumah Kamila menunjukkan foto yang diunggah Samun di media sosial.
Kamila memang tidak memiliki handphone android. Bersahabat dengan Ratna tetangganya, sifat Ratna lumayan supel sebenarnya. Tidak memandang status sosial untuk bersahabat. Mengingat lingkungan sekitarnya juga enggan bergaul dengan dirinya yang sombong, ingin selalu menjadi yang lebih unggul.
Kamila yang sering merasa rendah diri, membuat persahabatan mereka semakin erat. Antara si kaya sombong, dan si miskin yang selalu mengangguk kagum padanya. Itulah persahabatan diantara mereka.
Kamila mengamati foto Gin yang di-posting Samun, baik-baik. Matanya membulat kagum, wajah rupawan, senyuman yang nampak cerah. Calon perawat yang berada di semester akhir. Mungkin hanya 6 bulan setelah putrinya lulus, pemuda itu akan wisuda. Biodata yang benar-benar lengkap di-posting oleh Samun. Membanggakan keponakannya, sekaligus bagaikan mempromosikan. Samun mungkin benar-benar menginginkan Glory yang cantik, sopan, lucu dan pintar menjadi bagian dari keluarga besarnya.
Gin bukan dari keluarga kaya, berasal dari perekonomian kelas menengah. Namun, dari foto-foto yang terlihat, memiliki orang tua dengan wajah yang cukup ramah. Ibunya seorang guru SD honorer, sedangkan ayahnya sendiri polisi dengan pangkat rendah.
Keluarga baik yang mungkin dapat menjaga putri tunggalnya nanti. Kamila tersenyum, membuat keputusan,"Aku akan memperkenalkan mereka. Menjodohkannya seperti kata Samun," gumamnya, ingin mendapatkan menantu sekaligus keluarga yang baik untuk menerima putrinya nanti.
Menantu seorang perawat? Mungkin sebuah impian baginya. Tidak ingin memiliki mimpi lebih tinggi lagi. Lagi pula tidak mungkin seorang Ken berubah menjadi Ferrell seorang dokter bedah diusia muda, sekaligus selebriti yang di idolakan para remaja bukan?
Ken menjadi Ferrell? itu hanya ilusi Kamila yang terlalu lelah saat membuat adonan kue saja...
Bersambung