My Kenzo

My Kenzo
Musim Kedua : Keluarga



Amel menatap wajah suaminya, kini posisinya terbalik. Dirinyalah yang tertidur di lantai dengan menggunakan paha suaminya sebagai bantal. Entah sejak kapan...


Sinar matahari sore, telah berubah menjadi sinar tipis rembulan yang menembus jendela besar, perpustakaan.


Wajah rupawan itu, dengan tatapan mata yang tajam. Pemuda yang membangunkannya, kini bagaikan sosok Kenzo 7 tahun lalu.


"Kedua anak kita dihina, kali ini biar aku sendiri belajar untuk melindungi mereka..." kata-kata halus penuh senyuman, namun aura dingin mengerikan terasa.


"Ja...jangan membunuh ya?" pinta Amel, menyadari suaminya tengah murka.


"Tidak akan, tapi hibur aku dulu..." ucapnya berbisik tidak mengenal situasi. Tempat mereka berada saat ini? Rak paling belakang dari perpustakaan.


Amel menggigit bagian bawah bibirnya sendiri. Wanita mana yang bisa menolak suaminya. Tidak pernah kasar di tempat tidur, seakan terlalu pandai membuainya. Mendamba tumbuhnya perlahan, bahkan selalu menyesuaikan dirinya, tidak ingin Amel terlalu kelelahan.


Wajah rupawan? Kaya? Jika kasar pada anak dan istri tetap saja sampah. Namun, Kenzo berbeda, dari dulu sebelum kehilangan memorinya hingga sekarang. Amel diperlakukannya sebagai satu-satunya, seutas tali rapuh penopang hidupnya.


Bahkan hingga adanya Ferrell dan Febria kini, dua anak yang dicintainya.


Entah siapa yang memulai, kedua bibir itu bertaut dalam keadaan keduanya masih sama-sama duduk di lantai.


Suara decapan terdengar, hingga Amel yang sedikit membuka matanya memekik. Mendorong Kenzo, hingga tersungkur.


"Vampir!!" teriaknya.


Seorang remaja dengan rambut hitamnya, kulit putih pucat, softlens hitam ada dimatanya. Terlihat benar-benar berbeda, terkena cahaya bulan yang menembus jendela."Maaf..." ucap Steven cepat, menyadari menggagu perbuatan tidak senonoh kedua orang tuanya, yang tidak mengunci pintu perpustakaan.


Untung kami baru hanya berciuman, jika sudah membuka baju bagaimana... otak anak ini belum sepenuhnya tercemar kan... batin Amel menghela napas kasar, mensyukuri mereka belum melakukan hal lebih.


"Mama, bisa tolong percepat pertunanganku dengan Febria..." pintanya, kali ini bukan raut wajah ceria seperti biasanya.


"Kamu itu!! Kalian masih kecil, perasaan akan berubah seiring waktu... Febria juga menganggapmu sebagai kakak," Amel menghela napas, tidak mengerti dengan remaja di hadapannya.


"Begitu ya?" Steven tertunduk berusaha tersenyum, dirinya dalam memori Febria memang hanya berakhir sebagai seorang kakak. Kakak yang tiba-tiba menghilang, diusia remaja mungkin akan dilupakannya, bertemu pemuda lain yang dapat membahagiakannya.


Melupakan seseorang yang hanya dianggap kakak ini...


Kenzo berjalan mendekatinya,"Ada apa? Apa yang terjadi dengan rambutmu, kenapa tiba-tiba diwarnai...?"


"Papa... terimakasih, walau papa tidak mengingatnya..." ucapnya menangis terisak, mendekap tubuh Kenzo erat.


Kenzo tersenyum,"Jika ingin berterimakasih bagaimana dengan menjaga Febria suatu hari nanti?" tanyanya.


"Tidak ada yang tau masa depan, tapi aku akan selalu mencintai kalian..." ucapnya ambigu, tidak dipungkiri dirinya takut saat ini. Bahkan untuk melangkah meninggalkan villa.


***


Rumah Damian...


Cemas? Begitulah mereka, namun kedua anak itu tidak mengeluh sedikitpun, tidur tanpa AC, bahkan hanya dengan kipas angin tua yang mengeluarkan suara dengungan.


Tempat tidur kasur kapuk sempit, kedua cucu mereka malah ingin tidur dengan kakek dan neneknya. Tidur yang nyenyak walaupun tidak ada bau pengharum ruangan yang semerbak.


Udara masih terlalu dingin, Vanya menghela napasnya menatap suaminya yang baru usai membersihkan diri."Bagaimana ini?" gumamnya.


Tidak dapat membeli daging ayam yang terlalu mahal, hanya tahu yang digoreng dengan tepung, serta tempe dengan rendaman rempah kemudian digoreng kering. Sayur yang tersedia? Hanya sup tanpa daging di dalamnya.


Damian merogoh sakunya, mengeluarkan satu lembar uang terakhirnya. Yang hanya 20.000 rupiah, mengingat baru lusa dirinya mendapatkan gaji dari proyek borongan pembangunan rumah.


"Belikan mereka ayam, cukup untuk mereka. Kita makan ini saja, besok untuk makan, kita beli mie, hutang di warung..." ucapnya tersenyum.


Uang yang ditinggalkan Kenzo? Sama sekali belum mereka sentuh. Sadar diri selama ini telah berbuat kesalahan dengan berbohong padanya. Terlalu sungkan? Itulah perasaan mereka saat ini.


Namun tanpa diduga, kedua orang anak itu terbangun, mungkin karena mencium aroma rempah-rempah dari masakan neneknya yang baru matang.


"Wah...aku sudah lapar..." ucap Ferrell.


Plak...


Jemari tangan Ferrell yang hendak mengambil tempe, dipukul adiknya. "Mandi dulu!! Baru makan!!" komat-kamit mulut Febria, kesal.


"Kalian suka? Tidak ingin makan friend chicken? Jika ingin, nanti nenek buatkan," Vanya mengenyitkan keningnya tidak mengerti. Anak-anak kalangan atas biasanya lebih manja dan pemilih pada makanan.


Febria mengangguk,"Aku suka, kami tidak pemilih. Di semua negara friend chicken ada. Tapi tempe dan tahu? Di Jepang dan negara Eropa lumayan berkelas..."


"Aku dengar dari ibu, karena disini banyak sawah, ada escargot. Emmm ... maksudku keong..." Ferrell terlihat antusias.


"Kamu mau?" tanya Damian, dijawab dengan anggukan oleh cucunya."Nanti sore pulang kerja, kita cari bersama di sawah milik pak RT,"


"Iya..." Ferrell tersenyum, berlari mengambil handuk hendak ke kemar mandi.


Kedua anak itu sejatinya mendengar pembicaraan kakek dan nenek mereka, masih berpura-pura tertidur dalam kamar. Air mata mereka menetes, bukan karena sedih namun bahagia. Memiliki kakek dan nenek yang menyayangi mereka.


"Enak..." Ferrell tersenyum, mengambil kembali nasi yang masih hangat, mengingat piringnya yang telah kosong.


"Pelan-pelan..." Damian menertawakan cucunya, sedangkan Vanya hanya tersenyum mengambilkan air untuk kedua cucunya.


Sekarang aku tau kenapa ada yang bilang, masakan nenek yang terenak setelah masakan ibu...


Bukan karena harga makanannya, tapi hati yang sepenuh hati membuatnya. Demi, melihat kami hanya sekedar tersenyum...


Mereka sudah bahagia dengan senyuman kami. Tidak peduli dengan perutnya yang lapar esok hari...


Febria...


***


Seorang wanita masuk, menatap pintu yang terbuka. Membawa banyak belanjaan,"Ibu mertua..." ucapnya tersenyum.


"Mama..." Ferrell dan Febria berucap bersamaan memeluk ibu mereka.


"Apa kalian nakal?" tanyanya.


"Tidak mereka tidak nakal, malah kami yang harus minta maaf. Karena..." kalimat Damian dipotong.


"Aku sudah tau, tidak apa-apa mereka memiliki hati yang lebih tinggi dari gunung Everest. Tidak mungkin bisa tergerus oleh segelas air..." ucap Amel mengetahui kedua anaknya yang tidak akan semudah itu ditindas. Hanya kalah mental oleh keluarga berang-berang? Bahkan anak perdana menteri negara lain pernah mereka permalukan, karena mencibirnya tentang ketidak beradaan Kenzo.


"Kamu sendirian Dava... maksudku Kenzo ada dimana?" tanya Damian.


"Dia sedang berusaha menjadi anak yang berbakti..." jawab Amel ambigu, mulai mencuci peralatan masak yang kotor.


Menantu kalangan atas yang tidak pernah mengeluh, tidak pernah merendahkan mereka itulah Amel. Cucu-cucu yang mencintai mereka tanpa merengek, tersenyum pada apapun yang diberikan itulah Febria dan Ferrell.


Kenzo? Semua diberikan oleh pemuda itu, pemuda yang menyayangi mereka bahkan memberikan rasa kasih yang jauh melebihi Dava.


Apa ini keinginan almarhum putranya? Entahlah, namun jazad Dava-lah yang membimbingnya untuk menemukan Kenzo. Pemuda yang memberikan kebahagiaan di masa tua mereka.


***


Anak yang berbakti? Di tempat lain, seorang pemuda berjalan membawa surat rekomendasi dari salah satu perusahaan yang bekerja sama dengan W&G Company.


Tujuannya? Tentu saja ruangan HRD perusahaan tersebut. Memakai kacamata yang terkesan minimalis.


Tok...tok...tok...


Pintu diketuknya, "Masuk," suara seorang pria paruh baya terdengar.


"Duduk..." ucap sang manager HRD."Namamu Kenzo?" tanyanya memastikan, setelah membaca CV-nya.


"I...iya, maaf kalau namanya pasaran. Sa... saya dari desa. Jadi sedikit gugup," gumamnya.


Sang manager menghela napas kasar, membaca surat rekomendasinya dari perusahaan ternama,"Tugasmu di bagian pemeliharaan gedung. Ikuti instruksi seniormu. Besok mulailah bekerja..."


"Baik, terimakasih..." Kenzo tersenyum.


Berjalan keluar dari ruangan, bersamaan dengan tertutupnya pintu, senyuman di wajahnya mulai menghilang, setiap sudut tempat itu diamati olehnya.


Harimau yang tengah mengintai mangsanya, mengamati dari mana sebaiknya menerkam. Dan bagian daging mana yang paling enak untuk kunyahan terakhir.


Bersambung


Pernah aku menangis, kala itu juga kalian memelukku erat, menghapus air mataku...


Pernah aku tertawa, kala tubuh kecilku menjadikan punggung kalian sebagai tunggangan. Berlagak bagaikan koboi atau pangeran yang menunggang kuda putih...


Pernah aku marah, kala aku yang beranjak dewasa menepis kasih sayang kalian. Menyangka kalian hanya ingin menghalangi jalanku untuk bahagia...


Pernah aku ragu, kala kalian memberiku nasehat, berusaha mendidik untuk kebahagiaanku nanti. Apakah kalian benar-benar mencintaiku...


Pernah aku menyesal, kala Tuhan memanggil namaku. Tidak pernah dapat membalas budi kalian...


Hanya ini yang dapat ku lakukan...


Doa pada Tuhan agar kalian dapat bahagia menjalani masa tua... walaupun tanpa kehadiranku...


Anakmu yang tidak dapat memberi apapun...


Aku sudah dapat tersenyum kembali, melihat-Nya mengabulkan doaku...


Dava ...