My Kenzo

My Kenzo
Kembali Ke Dasar



Sebulan sudah dirinya tinggal di France, menjalin hubungan sebagai kekasih. Tidak ada yang kurang dari hidupnya. Kekasih rupawan yang mencintainya, mungkin kaya menjadi nilai tambah Kenzo, walaupun bukan itulah yang utama menurut Amel.


Bukan yang utama? Tentu saja, Amel bukan tipikal orang yang senang menghamburkan uang. Cukup mempunyai pakaian sederhana, tempat tinggal, dan perut kenyang, apapun isinya.


Amel tidak berubah sama sekali, sifatnya masih sama, garpu kecil ditancapkannya pada potongan buah. Duduk berdampingan dengan Lorenzo dan beberapa ahli IT lainnya dalam salah satu cabang perusahaan W&G Company. Dirinya tidak bekerja, namun hanya belajar lebih banyak dari departemen baru yang dibuat kekasihnya.


Data W&G Company memang seringkali dibobol. Penyebabnya? Kenzo paling membenci Heaker dan ahli IT, mereka mencuri data, mengutak-atik informasi menggunakan cara licik. Hingga W&G Company hanya menyewa kemampuan ahli IT jika terjadi pembobolan data saja.


Tapi hoby baru kekasihnya merubah pandangan Kenzo. Jangan terlalu idealis, jika diserang harus serang balik. Hari ini semua kembali kacau, data kantor cabang perusahaan W&G Company, kembali dibobol.


"Keparat!!" Amel tersenyum masih menggunakan earphonenya, mengunyah potongan buah apel.


"Mereka masih bocah, jangan bermain terlalu keras..." tangan Lorenzo masih sibuk diatas keyboardnya.


"Bocah atau bukan, kita telan bulat-bulat saja ..." umpatnya masih menyerang balik, bersama Tim IT.


***


Bocah? Beberapa orang ahli IT perusahaan pesaing, bahkan ada yang memiliki gelar profesor. Dalam hal meretas pendidikan bukan jaminan...


"Kita diserang balik!!" salah satu ahli IT perusahaan yang menyerang W&G Company berucap, terlihat panik.


"Belajar dari mana tikus-tikus ini!! Beberapa bulan yang lalu mudah mengambil alih data-data mereka!!" kesal sang pimpinan departemen IT perusahaan penyerang.


Hingga...


Layar semua komputer berwarna merah, keyboard dan mouse tidak berfungsi. Seluruh komputer di kantor mereka dikendalikan. Tim milik Lorenzo bermain keras kali ini.


"I...ini...?" tangan salah satu anggota tim IT perusahaan pesaing gemetar.


"Sial!!" sang pimpinan tim IT membanting mouse di tangannya. Menjambak rambutnya sendiri, tidak menyangka W&G Company dengan yang memiliki sistem pengamanan terlemah. Kini tidak dapat dianggap enteng lagi.


Semua komputer dalam jaringan star di perusahaan tersebut dibobol balik, bahkan dikendalikan.


***


Sementara itu kembali di kantor pusat W&G Company, Amel tersenyum,"Bocah..." cibirnya, masih menekan beberapa tombol di keyboard.


"Setelah, ini copy data!!" Lorenzo memberi instruksi."Amel!! Jangan coba-coba masukkan virus..." lanjut Lorenzo mengenyitkan keningnya, menatap curiga, pada murid satu bulannya.


"Sedikit saja..." antagonis itu tersenyum, bagaikan penyihir laut cantik yang tengah memberikan racun agar putri duyung kehilangan suaranya. Jemarinya tetap bergerak menekan enter,"Upps...maaf,"


"Sudahlah, dasar wanita keji..." cibirnya, menghela napas kasar. Menyunggingkan senyuman di bibirnya, sebulan ini perkembangan Amel bisa dibilang cukup cepat. Membuat virus? Itulah keahliannya.


Wanita cantik, mandiri dengan kepribadian yang tidak mudah ditindas. Itulah Amel saat ini, kekasih dari antagonis, yang perlahan berevolusi.


Siapa yang menyangka dahulu Amel adalah wanita yang paling tidak diinginkan, bagaikan monster dimata orang lain. Rupa yang standar, bentuk tubuh yang besar, mengunyah banyak makanan. Tidak memiliki prestasi apapun di kampus, dicibir dan digunjingkan semua orang.Kini wanita itu tidak akan diam saja jika ditindas.


Makhluk penindas yang mengajarinya perlahan penyebabnya. Memberikan dukungan untuk menjadi lebih baik. Bahkan memberikan hati yang tulus dari seorang antagonis.


Sungguh Dugong benar-benar telah keluar dari dasar laut. Pria mana yang dapat menolaknya sekarang? Amel mengemasi barang-barangnya, mengingat sudah saatnya untuk pulang.


"Amel, mau makan malam denganku? Kebetulan aku baru membuka restauran..." kata-kata salah satu anggota tim mereka terpotong.


"Tidak, hari ini aku sudah ada janji kencan," Amel tersenyum, mengambil tas ranselnya, berjalan meninggalkan ruangan.


"A...aku ditolak?" Edgar mengenyitkan keningnya. Rupawan? Pria Prancis dominan memiliki wajah rupawan dengan penampilan yang stylish, termasuk pemuda itu. Mapan? Tentu saja, lalu apa yang kurang? Wanita itu menolak ajakannya mentah-mentah?


Lorenzo menghela napas kasar, menepuk bahu Edgar."Kamu lumayan berani mendekatinya..."


"Memangnya kenapa? Dia masih singgel kan?" tanyanya.


"Iya, tapi wanita iblis, pacarnya pastinya juga iblis..." Lorenzo mengenyitkan keningnya, kemudian tersenyum.


"Iblis?" Edgar tertegun tidak mengerti.


***


Pemuda itu tersenyum, melirik layar komputer yang berwarna merah di kantor tempatnya bekerja saat ini.


Perusahaan pesaing yang membobol data perusahaannya? Itulah tempatnya berada saat ini. Mencari celah, untuk menghancurkannya dari dalam, dengan menyamar sebagai pegawai biasa.


Iblis yang tersenyum, usai mempengaruhi karyawan untuk menuntut dana kesejahteraan mereka. Menjadi pegawai polos, tugas Kenzo lebih ringan semenjak memiliki tim IT, dirinya tinggal menggerakkan karyawan perusahaan pesaing bagaikan boneka. Sedangkan data, CCTV semuanya tentang perusahaan itu, sudah dibobol balik.


Berjalan meninggalkan kantor, menaiki bis. Kemudian langsung menuju lobby depan hotel.


"Kenzo..." Amel yang baru saja datang melompat ke pelukannya.


"Kita makan malam?" Kenzo tersenyum melonggarkan pelukannya. Dijawab dengan anggukan oleh Amel, sembari mengecup bibirnya singkat.


"Aku akan memasak kali ini..." ucap Amel tersenyum.


"Besok kita akan ke Afrika menemui anak-anakku. Setelah itu, kita kembali pulang, meminta restu untuk menikah..." Kenzo tersenyum, berjalan bergandengan tangan menelusuri lorong.


"Lalu masalah disini?" Amel mengenyitkan keningnya.


"Frans akan mengurusnya. Lagipula semua perencanaan sudah aku buat, tinggal eksekusi..." jawabnya.


Satu ciuman mendarat di pipi Kenzo. Pemuda itu mengenyitkan keningnya, tersenyum gemas.


"Aku tidak menyangka akan memiliki pacar yang keji..." Amel berjinjit, kemudian berbisik,"Aku mencintaimu..."


"Aku juga..."


***


Hal yang sederhana, tidak menginginkan milik orang lain. Tidak memiliki rasa iri, dua antagonis yang tengah memasak bersama, keduanya terlihat fokus. Bercanda seperti pasangan lainnya? Tidak, mungkin hubungan yang lebih dewasa.


Pasangan yang menawan, memakai celemek, memotong bahan dengan cepat. Memasukkan bahan, memastikan rasanya.


"Enak..." Amel tersenyum.


"Memang," ucap Kenzo mengeluarkan hidangan lain dari oven.


Tidak ada adegan ranjang, suasana romantis yang menyengat seperti pasangan lain. Bahkan melakukan hubungan suami-istri di dapur? Tidak, mereka tipikal orang yang fokus jika sudah mengerjakan sesuatu.


Lilin, dengan penerangan minim yang romantis? Bukan, tidak terdapat lilin disana, hanya berpegangan tangan, menikmati hidangan. Mencuri pandang, tertawa, membicarakan banyak hal.


Bertengkar? Mungkin hal kecil saling memahami, saling mempercayai, hingga pertengkaran hanya akan menjadi lelucon.


Tersenyum bersama, memangku, bahkan merasakan rasa kasih mereka, dengan mendekatkan bibir saling memangut. Merasakan kehangatan hati, tanpa penyatuan tubuh.


Tidak ada pria menyedihkan yang makan seorang diri lagi, memakan makanan dingin dengan tatapan kosong. Atau seorang wanita gemuk yang menangis sembari makan sepiring nasi seorang diri di tempat kostnya.


Dua orang itu hanya tersenyum, menjalani kehidupan mereka. Meja makan hangat, antagonis juga berhak bahagia bukan? Mereka tidak iri pada kebahagiaan orang lain, mencari kebahagiaannya sendiri. Hingga akhirnya dapat lepas dari rasa sepi.


Malam semakin larut, dua orang yang terlelap dalam mimpinya di atas tempat tidur, dengan sprei putih diatasnya...


"Maaf..." seorang pemuda mengenakan tuxedo putih, mundur selangkah, sembari tersenyum menitikan air matanya.


"Ja... jangan..." Amel mencoba menghentikannya, tapi langkahnya terasa sulit. Bibirnya bagaikan tercekat.


Pemuda itu menggeleng,"Temui dia, dan bahagialah bersamanya..." mata sang pemuda terpejam, membiarkan tetesan air matanya terjatuh bersamanya. Angin laut menyapu rambutnya, menyambut tubuhnya yang terpelanting dari tebing. Jatuh ke bawah, dasar laut. Bagaikan merelakan gulungan ombak memakan tubuhnya.


Amel berlari, menatap dari atas tebing..."Aaaghhh..." teriaknya histeris dalam tangisan.


"Amel!! Amel!! Amel!!" Kenzo mengguncang tubuh gadis yang tertidur dalam dekapannya.


Gadis itu membuka matanya, kemudian menangis, memeluk tubuh kekasihnya erat. Tidak mengatakan apapun, hanya tangisan yang tidak kunjung berhenti.


Bersambung