
Hidup nyaman? Itulah yang dialami Diah istri Virgo. Rumah megah yang tempati mereka, tidak ada yang kurang. Masih teringat di benaknya kala dirinya harus memuji Vanya setiap hari, mencari perhatiannya agar suaminya mendapatkan jabatan di perusahaan milik Damian.
Kini dirinya memiliki segalanya, apa salahnya menyombong? Begitulah pemikirannya bahkan setelah 7 tahun dendam dan rasa iri itu masih ada.
Pesan mulai dikirimkannya pada Vanya, tujuannya? Mengundang mereka di acara pertunangan putra tunggalnya. Membandingkan Dava yang hanya pecundang dengan Praba yang kini baru tiba dari menempuh pendidikan di Inggris.
Mengundang? Lebih tepatnya hanya ingin mempermalukannya...
'Kak besok acara pertunangan putraku, datanglah! Gaji kakak yang 7 tahun lalu aku tahan sekalian akan aku kembalikan,'
Isi pesan yang dikirimkannya, tidak banyak sekitar 1,5 juta rupiah gaji bekerja Vanya yang hanya sebulan, tidak dibayarkannya 7 tahun lalu.
Namun, bagi Damian dan Vanya 1,5 juta rupiah sangat berarti. Mereka tidak mungkin menolak untuk datang.
***
Damian mulai mengenakan pakaian terbaiknya, yang hanya setelah jas lama, telah sedikit berubah warna. Bersama dengan Vanya mengenakan pakaian sederhana, akibat gaunnya yang telah rusak serta kotor. Hadiah seadanya berupa kemeja murah di bungkus mereka.
Pasangan yang menghela napas kasar, sudah dua hari Kenzo tidak kembali. Apa dia kembali pada istrinya? Entahlah, mereka terlalu malu untuk bertanya. Selama 7 tahun membohongi seorang pemuda, bersikap seolah-olah mereka kedua orang tuanya. Memiliki Kenzo sebagai putra mereka selama 7 tahun, mungkin sudah cukup, menghibur mereka setelah kehilangan Dava.
Cklek...
Pintu telah dikunci, bersiap untuk berangkat, demi uang 1,5 juta rupiah yang memang merupakan hak Vanya yang ditahan Diah dahulu. Dua orang yang mulai melangkah, hingga sebuah mobil berhenti di depan gang rumah mereka. Menurunkan Chuky dan Anabelle, maaf salah, maksudnya dua malaikat nan manis.
Ferrell menatap foto di phoncellnya, foto yang sebelumnya diberikan Kenzo,"Mereka ya?" gumamnya, memperlihatkan pada Febria.
"Iya, memang nenek dan kakek..." jawabnya tersenyum, mengingat Wina yang terlalu sibuk dengan Sany hingga kedua anak itu mencari kebahagiaannya sendiri.
"Nenek!! Kakek!!" panggil Febria tersenyum, melambaikan tangannya.
Damian dan Vanya saling menoleh. Anak dari kalangan atas? Begitulah penampilan kedua anak itu, terdiam, membeku, bingung, ragu, tentang sepasang anak kembar yang terlihat semanis malaikat.
"Lama!!" Ferrell yang tidak sabaran, berjalan mendekati mereka. Membungkuk penuh sopan santun,"Perkenalkan, aku Ferrell cucu kalian dari papa Kenzo dan itu adikku Febria..."
"Kalian?" air mata Vanya tertahan, memiliki cucu? Bukankah ini impiannya?
Ferrell menghela napas kasar, dirinya terlalu lama tinggal di negara lain. Membungkuk 90 derajat, merupakan rasa hormat anak untuk orang tua dan guru di Jepang. Dirinya mulai mencerna segalanya. Apa caranya salah? Di negara ini, dengan mencium tangan, menunjukkan rasa hormat... dirinya baru ingat. Mungkin karena itu, kakek dan neneknya tidak bereaksi.
"Emmm... maaf, aku lupa karena terlalu lama tinggal di luar negeri... harus mencium tangan dulu kan?" gumamnya dengan jemari tangan kecilnya meraih tangan Vanya.
Belum sempat mencium tangannya, Vanya berlutut, memeluk tubuh kecilnya. Mensejajarkan tinggi mereka,"Tidak apa-apa, tidak perlu mencium tangan, membungkuk sudah cukup. Nenek mengerti..." ucapnya lirih, menangis bahagia.
"Nenek..." Ferrell tersenyum, membalas pelukannya.
Damian menghela napas kasar menatap betapa bahagianya istrinya, tidak menyadari jemari tangannya tiba-tiba digenggam."Kakek tidak mau menggedongku? Aku sering melihat foto seorang kakek menggedong cucunya..." Febria tersenyum, terlihat memelas.
"Cucu kakek!!" ucapnya mulai berjongkok, agar Febria bisa naik.
Tanpa ragu, anak yang sejatinya haus akan kasih sayang itu naik."Kita terbang!!" ucapnya penuh semangat berada di punggung Damian.
Damian tertawa, mengangkat tubuh Febria yang melekat di punggungnya.
Bukanlah hari tua yang sepi? Itulah yang terjadi, dua iblis, maaf salah... dua malaikat rupawan yang meramaikan masa tua mereka.
"Kakek dan nenek akan ke pesta, kalian mau ikut? Disana akan ada banyak makanan enak," tanya Vanya membelai rambut Ferrell.
"Pesta?" Ferrell mengenyitkan keningnya, melirik saudarinya Febria yang berada di punggung Damian. Mengamati penampilan nenek dan kakek mereka.
Tidak, tidak boleh begini... dua anak itu tersenyum...
***
Cemas? Begitulah Damian saat ini, dua orang anak yang mengambil setelan jas mahal. Harga yang tertera? 65 juta satu setelnya. Bagaimana mereka akan membayarnya nanti? Belum lagi Febria yang menarik sang penjaga butik, menunjuk gaun berwarna hitam, berpadu hiasan krem. Dipastikan harganya juga tidak murah.
"Sayang, pakaian yang nenek kenakan sudah cukup..." kata-kata Vanya terhenti, mata cucunya yang berkaca-kaca.
"Nenek tidak suka pilihanku?" tanyanya.
"Bukan begitu, nanti membayarnya..." kata-kata Vanya terpotong, Damian menepuk bahunya.
"Hanya mencoba saja, di kasir nanti kita kembalikan," ucapnya tidak tega menatap wajah cucu mereka.
Akhirnya dua orang itu menyerah, akan menahan malunya saat mengembalikan ke kasir nantinya.
Dua pakaian yang mereka coba, memang terlihat sesuai. Terkesan kembali ke masa 7 tahun yang lalu dimana perekonomian keluarga mereka belum jatuh.
Bukan orang tua yang gendut, tubuh Damian cukup proposional, walaupun kulitnya yang putih berubah sawo matang akibat bekerja sebagai kuli bangunan. Vanya? Wajahnya, memang tidak lagi muda, namun tidak pula banyak keriput.
"Ambil yang ini saja..." Ferrell berjalan menuju kasir."Tidak perlu diganti atau dibungkus. Kita rapikan rambut nenek dulu. Beli hadiah, baru berangkat..." ucapnya tersenyum, menyodorkan kartu debit pada kasir.
"Ferrell, kakek tidak jadi membelinya, jangan gunakan kartu ibumu..." ucap Damian berusaha menghentikannya.
Jujur? Tentu saja, Amel membebaskan ke 7 anaknya membantu di perusahaan. Asalkan tidak menggagu home schooling mereka, tidak membuat mereka terbebani.
Dan untuk Steven, Febria, serta Ferrell tidak boleh lebih dari 4 jam perhari, walaupun mereka ingin lebih, tetap tidak diperbolehkan mengingat umur mereka yang masih terlalu muda. Bayaran? Tentu saja, tidak sedikit mengingat kemampuan anak-anaknya yang memang diatas rata-rata.
"Aku akan menghubungi Amel nanti, minta maaf padanya..." Damian menghela napas kasar, belum sepenuhnya percaya kata-kata dua iblis, maaf salah lagi. Dua malaikat rupawan di hadapannya.
Tidak mencuri? Uang jajan? Mungkin iya, tidak mungkin rasanya dua orang anak itu membantu di perusahaan. Masih terlalu muda, begitulah anggapan Damian. Tapi memberi uang jajan ratusan juta pada anaknya? Seberapa kaya sebenarnya keluarga kedua anak ini?
Damian tidak menyadari dua orang anak ber IQ tinggi itu, pernah mengikuti ujian masuk perguruan tinggi ternama di Inggris. Dan hasilnya lolos, untuk menjadi mahasiswa, walaupun pada akhirnya Amel tidak mengijinkan mereka kuliah, tidak ingin tinggal jauh dengan anak-anaknya masih berusia 7 tahun.
***
Cantik? Terkesan ibu-ibu sosialita begitulah yang terlihat dari penampilan Vanya kini. Kemeja murah yang dibeli di pasar, dengan bungkus kertas kado murah. Diganti kedua anak itu dengan jam tangan rolex seharga 43 juta.
Damian hanya dapat menghela napasnya berkali-kali. 43 juta? Itu cukup untuk modal membuka warung. Bahkan istrinya juga bisa menjual kue basah di depan warung. Kini setelan pakaian puluhan juta melekat pada tubuh mereka. Ingin rasanya Damian menangis, bukan karena bahagia, menagis karena menyesal menghadiri pesta demi 1,5 juta. Malah menghabiskan uang kedua cucunya yang manis.
Uang yang mungkin dapat dipergunakan untuk pendidikan kedua anak itu nanti.
***
Pesta kalangan atas bagi Damian dan Vanya? Mungkin iya, pelayan yang menyajikan minuman sirup berbagai warna. Tamu yang hadir beberapa sosialita kelas menengah.
Tapi tidak dengan kedua anak itu, mereka mengenyitkan keningnya, menatap realita tidak sesuai ekspektasi. Dalam bayangan mereka, private party yang sering di hadiri ibu mereka, dengan gedung hotel yang disewa. Pebisnis kelas atas berkeliaran di sana.
Sovenir? Bahkan harga sovenir pestanya sering kali melebihi hadiah yang diberikan.
Tapi ini... sudahlah, anggap saja pengalaman hidup. Ayah kandung mereka bahkan pernah menjadi pemulung sampah ketika masih berusia 8 hingga 12 tahun. Hal yang pernah dikatakan Frans, kala mereka menanyakan tentang sosok Kenzo.
Sedangkan ibu mereka pernah menjadi mahasiswi miskin yang menakan ikan asin dan nasi, untuk menghemat uangnya. Pengalaman hidup yang pernah diceritakan Amel sendiri, tidak ingin anak-anaknya menjadi sosok yang angkuh.
"Ayo masuk..." Vanya menuntun cucu-cucunya.
Musik gitar akustik terdengar, group band lokal yang tidak begitu terkenal diundang. Hidangan katering berjejer di sana.
"Vanya?" Diah tersenyum, berjalan mendekati mereka bersama putranya Praba. Matanya menelisik, mengamati penampilan pasangan itu yang bahkan melebihinya.
Mereka pinjam uang dimana untuk beli baju? Atau jangan-jangan pesugihan... anggapan dalam hatinya masih tidak mau kalah.
"Ini siapa?" tanyanya tersenyum menyapa dua anak yang mereka gandeng. Dua anak yang pastinya diyakini akan membawa masalah dan aib baru untuk Damian.
"Perkenalkan, namaku Febria, dan ini kakakku Ferrell. Kami cucu kakek Damian dan nenek Vanya..." ucapnya tertunduk sopan, menyodorkan paperbag kecil, berisikan kado kotak hitam dengan pita diatasnya.
Tidak seperti Dava dahulu sebelum wajahnya berubah, yang urakan. Cucu? Seingatnya Dava belum menikah. Jadi ini cucu darimana...
"Apa ini anak dari Dava? Kapan Dava menikah? Atau anak di luar nikahnya dengan Kiki..." cibirnya mulai menghujat sembari tersenyum.
"Kiki?" Ferrell yang kesal, mendengar nama itu lagi. Nama yang membuat ibu mereka cemburu.
"Kiki pasti meninggalkan anaknya pada kalian, setelah keluarga kalian bangkrut. Lihat, dia saja sudah bahagia dengan Baron..." cibirnya kembali, dengan sengaja mengundang Kiki beserta kekasihnya. Dua orang yang berada jauh di seberang kolam renang, tidak mendengar kata-katanya.
Beberapa tamu yang berada di dekat sana mulai berbisik-bisik."Tidak seperti putraku Praba yang lulusan universitas ternama di Inggris. Dava yang bahkan cuma bisa jadi badut..." ucapnya tersenyum.
"Hadiah ini, isinya pasti hanya jam tangan KW murah, yang harganya hanya 35.000-an..." bentaknya melempar ke tanah.
Vanya menghela napas kasar, "Kita pulang ya? Maaf..." ucapnya tertunduk, merasa bersalah pada kedua cucunya.
Damian enggan berdebat, hendak mendekap Ferrell untuk segera pergi. Namun tanpa diduga, Ferrell menepisnya,"Universitas mana? Mau adu pengetahuan denganku?"
"Anak kecil, tau apa kamu..." kata-kata Praba disela.
"Ayahku meraih gelar bachelor di Australia dalam waktu 2 tahun. Itupun sambil bekerja... ingin menantang ayahku, dia akan memakanmu..." ucapnya penuh senyuman.
"Sudah kakak, jangan begitu, kita harus sedikit brutal sebelum pulang..." tanpa diduga Febria yang tersenyum, berlari cepat mendorong Diah ke dalam kolam.
"Anak iblis!! Sialan!!" bentaknya yang basah dengan riasan luntur, sedangkan Praba mulai membantu ibunya naik kembali.
Salah seorang tamu, memungut kotak jam tangan yang terjatuh. "Ini rolex asli, yang harganya puluhan juta," ucapnya yakin.
Ferrell mengambilnya dengan cepat, berucap dengan sopan,"Maaf paman, karena kami tidak disambut di pesta ini. Kami mau pulang, tidak ingin menambah kerugian kami dengan memberikan hadiah sedekah mahal untuk rakyat miskin..." ucapnya, seketika aura arogannya kambuh.
Memang begitu bukan? Orang yang baik pada mereka, mereka akan menghormatinya. Jika berbuat buruk, injak agar tidak dapat bangkit.
"Security!!" panggil Diah pada dua orang security yang berjaga di luar. Diah ingin menyeret keempat tamu yang mempermalukannya. Jam tangan itu diliriknya, merutuki dirinya yang tidak menerima jam tangan puluhan juta terlebih dahulu, malah melempar ke tanah.
"Kevin!!" panggil Ferrell sembari tersenyum. Pengawal keluarganya, yang memang mantan tentara bayaran tengah menunggu di dalam mobil, depan rumah. Mungkin ini saatnya Kevin merenggangkan otot-ototnya yang kaku setelah lama tidak berkelahi.
Bersambung