My Kenzo

My Kenzo
Musim Ketiga : Suami



Febria menghela napas kasar berusaha bersabar, setenang mungkin, melepaskan Fransisca yang terlalu lengket pada Ultraman-nya. "Maaf, bagaimana jika ini direkam oleh wartawan? Perusahaan farmasi kami baru saja berdiri. Tidak baik untuk image pimpinan kami," alasannya tidak ingin tubuh Steven disentuh lebih dari ini.


"Sekretaris kurang ajar!! Berani-beraninya kamu..." tangan Fransisca yang hendak menampar Febria dihentikan Steven.


"Jangan macam-macam padanya, jika tidak ingin kariermu hancur. Dia anak kandung pemilik W&G Company. Sedang belajar cara mengelola bisnis, memulai karirnya dari nol..." ucapnya tegas, berusaha tersenyum, menyembunyikan kemarahannya pada Fransisca. Bagaimanapun wanita ini umpan terbaiknya saat ini.


"Jadi kamu nona muda dari perusahaan W&G Company? Perkenalkan aku Fransisca, maaf atas prilaku burukku tadi. Bagaimana jika sebagai gantinya, aku traktir mentraktirmu minum malam ini?" ucapnya mengulurkan tangan penuh senyuman. Benar-benar perlakuan yang berubah, antara memperlakukan pegawai rendahan dan nona muda. Dua kata yang ada di benak Febria saat ini... Wanita serakah...


"Tidak apa-apa, namaku Febria, sekretaris Steven. Kejadian tadi karena Steven memilki banyak musuh, kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk melindungimu..." Febria menyambut uluran tangannya.


"Fransisca, maaf atas kejadian hari ini. Kamu sekarang adalah pacarku, gunakan ini untuk membeli keperluanmu," Steven tersenyum, memberikan salah satu black card miliknya.


Tersenyum? Tentu saja, hanya lewat beberapa kali chatting, sekali pertemuan foto profil dan kenyataan yang sama bukan pura-pura kaya atau memasang foto editan. Benar-benar berwajah rupawan, kini menjadi pacarnya, ditambah dengan royal. Tidak ada yang kurang darinya, jika begini langsung menikah menjadi nyonya Hudson pun Fransisca tidak akan menolak.


"Tidak usah..." ucapnya menelan ludah, berpura-pura tidak ingin, menjaga imagenya.


"Bawalah, beli apapun yang kamu inginkan," Steven bersikeras, menyodorkan black card-nya.


Bukan begitu caranya menghadapi wanita serakah... dasar Ultraman memang hanya ahli melawan monster... gumam Febria dalam hatinya kesal dengan drama seorang Fransisca.


"Dia tidak mau, jika begitu, lebih baik disimpan saja," ucap Febria menarik black card dari tangan sang wanita cantik berbody bak gitar spanyol yang terus ingin mengembalikan pada Steven.


"Tunggu!! A...aku akan menyimpannya!" ucapnya kembali merebut dari tangan Febria.


Febria sedikit melirik ke arah Steven yang menipiskan bibir menahan tawanya.


Gadis itu mengenyitkan keningnya, kesal,"Nona sebaiknya anda pulang. Saya sudah menghubungi pihak kepolisian, sebentar lagi akan sampai,"


"Steven, chatt aku nanti, aku mencintaimu..." ucapnya berjalan pergi, sungguh gembira rasanya mempunyai pacar bodoh, royal, tampan dan kaya.


Steven tidak membalas kata-katanya hanya tersenyum, menatap kepergian teman kencannya. Hingga pandangan matanya beralih pada Febria,"Kenapa kamu disini? Cemburu?" tanya Steven antusias.


"Tidak!! Siapa yang cemburu, lagipula dilihat dari sisi manapun aku lebih cantik!!" bentaknya, tidak terima.


"Ayo pergi, orang-orang Eden dan petugas kepolisian akan segera sampai mengurus mereka..." ucapnya berjalan diikuti Febria.


"Ini senjatamu," Febria berlari kecil mengimbangi langkah kaki Steven yang panjang, menyodorkan senjata api milik Steven.


"Terimakasih," Steven meraihnya, menyimpan di balik jas-nya.


"Apa kamu benar-benar tidak cemburu?" tanya Steven sampai di tempat parkir.


"Tidak!!" dustanya.


"Kunci mobilmu?" Steven menadahkan tangannya.


"Kenapa minta kunci mobilku!?" tanya Febria tidak mengerti namun tetap memberikan kunci mobilnya.


"Kita pergi sebentar, menghilangkan penat," jawabnya mengirim pesan pada Eden agar sekalian mengambil mobilnya yang terparkir.


***


Febria diam terpaku tidak tahu kemana tujuan mereka. Hingga pada akhirnya mobil berhenti di tepi pantai. Suara ombak terdengar, beberapa lampu kapal-kapal nelayan terlihat samar-samar terombang-ambing di tengah laut.


"Hanya ingin," jawaban dari mulut Steven yang mulai turun dari mobil.


Langkahnya diikuti oleh Febria. Duduk di atas pasir tidak mempedulikan pakaiannya yang kotor.


Febria ikut duduk di sampingnya, menatap ke arah wajahnya yang terkena terpaan angin laut,"Aku..." kata-katanya terpotong.


"Maaf 14 tahun yang lalu aku menghilang. Ingatan papa belum kembali, sedangkan ayah kandungku mengerahkan segala upayanya untuk mencariku. Aku tidak ingin kamu terluka, karena itu aku pergi," jelas Steven, dengan mata menatap kapal nelayan yang terlihat samar-samar.


Febria mulai dapat tersenyum, mengetahui alasan menghilangnya Steven yang sebenarnya. Hingga tubuhnya ditarik dalam pangkuan Steven di dekap olehnya."Aku mencintaimu, tidak pernah berubah," ucapnya.


Mata tajam itu menatap penuh kesungguhan, hingga hal yang aneh terjadi, Febria menatapnya lebih dalam. Mendekatkan bibirnya, dua pasang mata sayu itu mulai terpejam. Bibir mereka bertaut merasakan dinginnya udara pantai. Tangan Febria mengalung di lehernya.


Tidak mempedulikan ini pantai atau berapa banyak pasir di tubuh mereka. Merindukan? Kenapa bisa, mereka baru saja bertemu.


Hingga gerakan Febria menjadi semakin menuntut, melepaskan dasi dan kancing jas yang dipakai Steven. Bahkan hampir dapat melepaskan ikat pinggangnya.


"Jangan menggodaku," ucapnya kala tautan itu terjeda.


Bayangan Fransisca yang menggoda Steven masih terlintas dalam benak Febria. Bibir Febria kembali mendekat, melumpuhkannya dengan pangutan perlahan. Berusaha melepaskan ikat pinggang yang dikenakan Steven.


"Kenapa kamu seperti ini?" tanyanya dengan deru napas memburu.


"Dia cepat atau lambat akan menjeratmu untuk melakukan hal yang sama. Aku..." Febria mengepalkan tangannya, air matanya mengalir, membayangkan Fransisca yang akan menggoda Steven nantinya. Hingga berakhir pada pernikahan.


"Kamu apa? Kamu dapat menghentikannya, aku tidak akan menyentuhnya. Jadilah nyonya Hudson..." pintanya, menatap lekat wajah Febria.


"Aku..." kata-katanya terpotong.


"Aku akan memintamu pada mama. Tidak akan ada tamu, hanya mama, kita dan pendeta. Apa kamu bersedia menjadi nyonya Hudson?" tanyanya, menatap lekat padanya.


"Aku...aku mencintaimu," hanya itu yang terucap dengan mulut bergetar. Mengakui perasaannya, tidak peduli dengan mafia atau apapun. Perasaan dirinya tidak dapat menahannya lagi.


"Aku juga," Steven tersenyum, kembali menarik tengkuknya, saling menatap perlahan kedua bibir itu kembali menyatu. Lidah saling membelit, tidak mempedulikan apapun lagi.


Hanya sebuah perasaan berdebar yang nyata. Hingga tidak disadarinya air mata Steven mengalir. Dirinya benar-benar bahagia, gadis kecilnya memberinya kesempatan untuk menjadi seorang suami, atau mungkin seorang ayah nantinya, di sisa hidupnya yang mungkin tidak begitu panjang.


Aku ingin tetap hidup... gumamnya dalam hati masih menaut bibir Febria. Merasakan kehangatan disana, dirinya sudah bahagia. Hanya ingin tetap hidup, untuk menjaganya.


Jemari tangannya mengepal, tidak ingin meninggalkan kebahagiaan indah yang didapatkannya. Dadanya masih sering terasa sakit, operasi? Tanpa donor entah berapa lama dirinya dapat bertahan.


Mungkin dalam jangka waktu yang panjang, atau hanya sebentar ketika hari bahagianya Tuhan mungkin akan memanggilnya. Tapi satu yang pasti, dirinya tidak ingin penyakitnya diketahui oleh Eden, atau Febria. Menjalani hidup menyenangkan dan ceria, hidup yang akan berakhir cepat atau lambat.


"Jadilah nyonya Hudson. Aku akan melindungimu, tidak akan menyentuh Fransisca, hanya menjadikannya kekasih di depan publik hingga situasi terkendali,"


"Aku akan melindungimu, karena aku hanya dapat mencintaimu.." lanjutnya.


Maaf sudah egois menginginkan untuk memilikimu. Aku ingin menjadi seorang suami, dan ayah, itulah keinginanku...


Bersambung