
Akhirnya tamu terakhir tiba setelah pesta usai. Mobil perusahaan milik Bold Company terparkir disana. Berjalan cepat, bersama Kristin yang tengah hamil.
"Apa kakak akan memaafkanku?" gumamnya kembali ragu untuk masuk.
"Yang terpenting minta maaf dulu, selepas akan dimaafkan atau tidak," ucap Kristin menarik tangan suaminya.
Dan benar saja, jadwal penerbangan yang tertunda membuat mereka sampai kala gedung sudah kosong. Yang tertinggal hanya Amel dan Frans disana. Menatap kehadiran dua orang terakhir yang baru datang.
Gilang tertunduk, sampai saat ini dirinya masih takut untuk berhadapan dengan Frans dan terlalu canggung untuk bertemu dengan Amel. Hingga, Kristin yang membuka pembicaraan.
"Amel, aku Kristin, Gilang ingin bertemu dengan Kenzo suamimu. Apa boleh?" tanyanya to the points.
"Ti... tidak jadi, aku pulang saja!!" ucap Gilang ingin melarikan diri.
"Tidak boleh!! Nanti malam sebelum tidur kamu mengeluh lagi karena tidak bisa minta maaf. Minta maaf sekarang!!" bentak Kristin, menarik leher jas suaminya.
Gilang mengepalkan tangannya, mengumpulkan keberaniannya menghapus rasa canggungnya,"Aku minta maaf!! Ijinkan aku bertemu dengan Kenzo. Untuk meminta maaf secara langsung padanya..." pintanya tertunduk.
Frans menghela napas kasar, menatap Gilang saat ini. "Jika bertemu dengannya, apa yang akan kamu lakukan?"
"A...aku akan berlutut, aku tau kesalahanku tidak termaafkan, membuat Amel harus membesarkan anak-anaknya sendiri sebagai orang tua tunggal. Tapi, aku tetap ingin mengakui kesalahanku, ini lebih baik daripada berpura-pura acuh," ucapnya sungguh-sungguh.
"Amel, Kenzo dimana?" tanya Frans.
"Kamar 257... dia sedang tidur. Karena semalaman mencari Steven," jawab Amel, memberikan kunci kamar suaminya pada Frans.
"Aku akan menunggunya bangun!!" Gilang mulai meraih kunci kamar, menarik tangan Frans sebagai saksi permintaan maafnya pada sang kakak. Tidak ingin dikejar perasaan bersalah lagi.
Sedang Kristin menghela napas mengelus perutnya yang membuncit. Menatap kepergian suaminya.
"Kapan bayinya akan lahir?" Amel memulai pembicaraan, mengusir rasa canggung.
"Sekitar satu minggu ini. Rencananya akan dioperasi. Letak bayinya sungsang," jawab Kristin mulai duduk, menghapus lelahnya.
"Normal atau sesar tidak apa-apa, yang penting sehat," Amel berjalan mengambil minuman hangat di ballroom yang belum dipindahkan. Memberikannya pada Kristin.
"Terimakasih," ucapnya tersenyum.
Amel mulai duduk, disampingnya,"Kalian pasangan serasi,"
"Tidak juga ada kalanya aku merasa dia seperti anak kecil yang menyelamatkanku," jawab Kristin meminum teh hangat.
"Kenapa anak kecil?" tanya Amel tidak mengerti.
"Dia kekanak-kanakan, tapi lambat laun aku semakin menyukai sifat kekanak-kanakan darinya," ucapnya tersenyum.
***
5 tahun lalu...
Semua berakhir indah ketika pesta pernikahan usai? Tidak, ini menjadi kebahagiaan bagi Kristin namun berbeda dengan kedua ibu sambungnya. Elvira itulah nama istri kedua dari Antoni, sedang istri ketiganya adalah Keyla.
Sementara Antoni tinggal dengan istri keduanya yang lebih muda di rumah besar, memiliki ART serta supir dan mobil. Memiliki seorang anak perempuan dari Elvira yang disekolahkan di sekolah elite.
Semakin sukses, maka Antoni semakin menatap ke atas. Menjual beberapa tokonya, mulai mendalami bisnis batubara. Saat itulah Keyla muncul, menjadi istri ketiganya.
Istri yang paling dimanjakan dan disayanginya. Mika benar-benar terlupakan, mati dalam keadaan sudah terlepas dari suaminya. Seseorang yang menemaninya kala susah telah kembali pada-Nya, kala surat putusan cerai sudah keluar dahulu.
Ada kalanya saat terapuh dalam hidupnya, saat mengetahui Keyla menyukai Gilang, suami Kristin. Mengharapkan untuk kembali padanya. Pria yang lebih muda dan tampan...
Antoni menenggak sebotol bir yang ada di tangannya. Tidak dapat menceraikan Keyla yang tengah mengandung anaknya, hingga tangan putih halus yang berwarna kontras dengan kulit sawo matangnya terulur.
"Aku mencintaimu..." kata cinta yang memuakkan dari bibir Keyla. Berbeda dengan beberapa bulan lalu saat Gilang datang bersama Kristin untuk meminta restu menikah.
Apa ini istri yang dimanjakannya? Entah, dirinya sudah muak,"Lepas!!" bentaknya.
Keyla melepaskan pelukannya, menatap ke arah suaminya yang mendiamkannya beberapa bulan ini. Sedangkan perutnya semakin membuncit, mengandung benih dari suaminya.
"Kamu bilang ingin anak dariku. Sekarang aku hamil memerlukan perhatian darimu..." ucap Keyla memegang lengan Antoni yang hendak pergi."Ka...kamu mau kemana?" tanyanya.
"Menghilangkan penat," hanya itulah kata-kata yang keluar dari mulutnya, mengambil kunci mobil melajukannya dalam kecepatan sedang.
Hari ini sama seperti hari sebelumnya, terasa menyesakkan. Pandangan matanya beralih sejenak, menatap seorang wanita menggedong anak balita, tangannya membawa termos air panas. "Mika?" gumamnya menghentikan mobil dengan cepat. Bagaikan melihat wajah almarhum istri pertamanya ketika masih muda.
Tapi sayangnya, langkahnya yang menuruni mobil terhenti, kala dirinya menyadari itu bukanlah Mika, dan anak kecil dalam gendongannya juga bukan Kristin yang kini telah menikah.
Wanita itu berhenti di pinggir jalan, meraih termos air panas kosong. Membantu suaminya yang berpakaian tidak layak, berjualan snack dan kopi keliling.
Antoni terdiam, air matanya mengalir menatap peluh sang ibu yang menggedong anak balitanya.
Mika juga mengalaminya, apa begitu berat, berjalan jauh? Sang wanita muda yang entah siapa, melintas di dekatnya, memakai sandal jepit tipis.
Almarhum Mika bahkan pernah bertahan selama tiga hari tidak memakai sandal. Hanya agar uang mereka cukup untuk membeli makanan. Istri pertama yang ditinggalkannya karena rupa keriput, istri pertama yang ditinggalkannya karena sakit-sakitan, punggung istri pertama yang dulu selalu kelelahan menggedong anaknya sambil membantunya berjualan, ditinggalkannya karena tidak dapat memuaskannya di ranjang.
Apa punggungnya dulu begitu lelah membantu dirinya berjualan? Entahlah, seorang istri yang menyuapi anaknya dengan makanan seadanya. Telah lelah, melihatnya mengikat tali pernikahan dengan wanita lain, telah lelah dilupakan olehnya. Hingga kini menghadap Yang Maha Kuasa mendahuluinya.
Antoni kembali memasuki mobilnya, itu memang bukan Mika. Namun mengingatkannya pada almarhum Mika yang telah lama pergi, setelah status mereka telah bercerai.
Mika telah terlepas darinya. Kini Antoni hanya seorang diri, bahkan Kristin yang selalu dipangkunya tidak ingin menganggapnya sebagai ayah lagi.
Tidak memiliki arah dan tujuan? Tidak, Antoni masih memiliki Elvira, istri keduanya. Serta Airin, anak Elvira.
Beberapa puluh menit perjalanan, mobil itu melaju menembus padatnya jalan perkotaan. Hingga pada akhirnya rumah yang dibelinya khursus untuk Elvira terlihat juga.
Rumah dengan pekarangan luas serta ART yang membukakan pintu untuknya. Perlahan dirinya masuk, berharap mendapatkan pelukan hangat, tapi hanya tinggal harapan baginya.
Airin yang dibiayainya untuk kuliah di luar negeri tiba-tiba ada di hadapannya."Ayah, aku minta uang..." ucapnya menadahkan tangan.
Bersambung