My Kenzo

My Kenzo
Musim Keempat : Saling Mengagumi



🍀🍀🍀🍀 Just info, novel "Bukan Suamiku" sudah rilis.🍀🍀🍀🍀


Seorang pemuda kini tengah mencuci beberapa piring, membersihkan alat-alat masak yang kotor. Ini seharusnya pekerjaan Glory, namun gadis itu tidak dapat dihubungi.


Belum dapat meluluhkannya? Gin menyadari itu, jam kerjanya telah usai. Namun, dirinya kini menggatikan pekerjaan Glory, mengingat Glory yang terlanjur mengambil perkejaan sebagai delivery work (pekerja panggilan). Ini menjadi tanggung jawabnya.


Pemuda itu baru usai mengemasi barang-barangnya di loker pukul 11 malam, merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Perlahan berjalan, melewati area front office di hotel tempatnya kini bekerja, menuju tempat parkir bawah tanah.


Isakan tangis seorang terdengar samar-samar perlahan didekatinya, mencari sumber suara. Takut? Tentu saja mengingat hari ini malam Jumat Kliwon. Apa itu bukan manusia? Entahlah, namun yang pasti suara isakan yang terdengar semakin jelas saja.


Komat-kamit mulutnya membaca doa menurut agama dan kepercayaannya. Ini benar-benar menyeramkan, gosip tentang area tanah hotel merupakan bekas rumah sakit di zaman Belanda teringat di benaknya tiba-tiba. Menghampiri sudut yang kosong gelap dengan minim pencahayaan.


Memegang handphone kameranya dengan tangan gemetar, bersiap merekam penampakan makhluk astral. Lumayan, untuk membuat konten meningkatkan jumlah subscribe akun YouTube-nya.


Tapi ini benar-benar nyata semakin menyeramkan saja. Apa celaka yang akan didapatkannya? Entahlah...


Hingga sosok itu terlihat menunduk dengan rambut panjangnya."Gin..." panggilnya memeluknya erat berurai air mata.


Gin mengenyitkan keningnya, bukan konten atau celaka yang didapatnya. Namun rejeki yang sulit ditolak, jadi nikmati saja.


"Kenapa menagis lagi?" tanyanya pada Grace, mengelus punggungnya pelan. Membalas pelukannya.


"Gin... salah satu wanita yang pernah ditiduri Tio mengandung," Grace masih terisak, dalam keadaan emosional yang buruk. Tidak bisa melupakannya? 6 tahun bukan waktu yang singkat. Merindukannya kala salju turun di negara tempatnya menimba ilmu, hanya memikirkannya saja. Tapi kini...


Gin menghela napas kasar."Tenang dulu kita bicara pelan-pelan ya?" ucapnya tersenyum.


***


Mobil milik Grace menjadi tempat mereka bicara saat ini. Wanita yang masih menutup matanya, menyandarkan punggungnya pada kursi pengemudi, dengan Gin yang duduk di sampingnya.


"Kamu mengetahui tentang Grisella?" tanya Gin tertunduk berusaha untuk tetap tersenyum.


Grace mengangguk, masih menutup matanya, menghapus lelahnya."Mungkin karena terlalu mabuk, Tio melupakan hotel tempatku bekerja. Aku melihatnya sendiri mereka berciuman di tempat parkir dalam keadaan sama-sama setengah sadar,"


Gin tertawa kecil lirih."Grisella adalah mantan pacarku. Aku pernah meniduri sekali dulu..."


Wanita itu segera membuka matanya, berharap yang ada di fikirannya tidak benar."Apa itu anakmu?"


Gin menggeleng."Kami berpisah beberapa bulan yang lalu. Dia wanita pertama yang aku tiduri, walaupun baginya bukan aku yang pertama. Tapi dengan bodohnya entah hamil atau tidak, saat dia cukup umur aku akan bertanggung jawab, itulah janjiku saat itu,"


"Ada beberapa janji yang memang harus dilanggar. Mungkin saat hatinya mulai berubah untuk menyukai Tio," lanjutnya menghela napas.


"Kamu sudah melupakannya?" tanya Grace menatap Gin tertunduk, menggeleng.


"Bagaimanapun dia pernah mengisi hatiku. Jadi walaupun memasuki tempat sampah dalam hatiku dia tetap ada sebagai pembelajaran hidup dan pengalaman pahit. Ada cara tertentu untuk melupakan mantan..." ucapnya tertegun sejenak.


"Apa?" tanya Grace kembali antusias.


"Pukul kepalamu menggunakan batu hingga menderita amnesia. Jika tidak gegar otak, menghadap-Nya, maka seluruh ingatanmu sukses menghilang..." jawaban darinya, dengan cepat Grace yang kesal memukul kepala Gin menggunakan kotak tissue."Aku cuma bercanda!!"


"B*jinggan..." geramnya menatap ke arah lain.


Gin menghela napas kasar."Bagaimanapun masih mencintainya, bagaimanapun membencinya. Kita hanya dapat berpura-pura tidak melihat saat bertemu, atau menyapanya dengan memakai topeng seolah-olah hanya memiliki perasaan sebagai teman. Itulah mantan..."


Grace menoleh padanya, menatapnya dalam-dalam."Apa pegawai delivery work di bagian kitchen itu kekasihmu?" tanyanya tidak rela.


"Hasilnya, memuaskan... aku tidak perlu canggung mengatakan uang yang aku miliki tidak cukup untuk masuk ke cafe. Dia lebih menyukai bakso pinggir jalan. Seperti ibuku yang pandai menawar, setia dan tidak memandang harta. Satu kelebihan lainnya. Dia lucu..." lanjutnya tersenyum, menghela napas kasar.


"Kalian saling menyukai, lalu kenapa kamu menghela napas?" tanyanya menatap ada kejanggalan.


"Dia setia pada pacarnya, bukan padaku. Sekarang aku tau persis perasaan Datuk Maringgih, saat tau Siti Nurbaya tidak mencintainya..." jawabnya mengepalkan tangan, menghela napasnya berkali-kali.


"Kamu mencintainya?" Grace menatap curiga, melihat gerak-gerik Gin yang hanya terlihat kecewa tanpa ada perasaan sakit hati.


Dengan cepat Gin menggeleng, sesaat kemudian mengangguk."Kata-kata ibu dan bibiku ada benarnya, asalkan baik, cantik dan karakternya bagus. Cinta akan tumbuh seiring waktu. Sekarang cinta atau tidak itu tidak penting. Seperti berbelanja produk murah berkualitas tinggi di pasar, kita harus cepat sebelum orang lain berebut mengambilnya,"


Grace memijit pelipisnya sendiri."Coba kamu fikir, jika kamu berebut membeli produk murah berkualitas tanpa menyesuaikan dengan ukuran pakaianmu dulu. Membawanya pulang dengan gembira, setelah dipakai ternyata kesempitan..."


"Pakaian itu tidak akan berguna setelah kamu miliki. Hanya akan menjadi pajangan di lemari. Tapi jika kemu memilihnya pelan mencocokkan ukurannya dengan hatimu, walaupun produk murah kwalitas sedang akan terlihat bagus di tubuhmu," lanjutnya.


"Kenapa kamu tiba-tiba berkata begitu? Kamu menyukaiku? Cemburu? Tidak ingin hubunganku berhasil?" tanya Gin tertawa kecil, bergurau.


Grace mengepalkan tangannya, namun pemuda ini memang bagaikan benar-benar diinginkannya. Pelakor? Wanita murahan? Entahlah, dirinya sudah tidak peduli lagi...


"Aku menyukaimu, jangan menolakku..." ucapnya memejamkan matanya, ingin merasakan bibir pemuda di hadapannya.


Pemuda yang perlahan, ikut menutup matanya, menikmati segalanya...


Mungkin memang benar, kalau rejeki tidak akan kemana.


***


Sedangkan di tempat lain, Glory mulai bersikap lebih tenang. Mungkin benar kata-kata dari Vanya. Glory hanya seorang remaja biasa, berbeda dengan dirinya dan kakak-kakaknya.


Seorang remaja labil yang mudah ketakutan, mudah merasa terluka. Semakin keras menghadapinya, dia juga akan semakin keras kepala.


Namun, setelah hatinya luluh, semua kembali seperti sediakala. Benar-benar gadis lucu yang menggemaskan. Sepasang remaja dalam tempat tidur yang sama saling menatap.


"Kamu terlalu tampan, akan ada berapa pelakor nanti? Di tahun pernikahan keberapa aku akan diceraikan?" tanya Glory menatap mata Ferrell.


Ferrell menggeleng."Asalkan kamu mencintaiku dan tetap setia, berapa orang pelakor pun akan dibuai oleh ibuku, saat tidak waspada mereka akan dimangsa habis olehnya..." jawabnya tertawa kecil.


"Apa ibumu mengerikan?" Glory bertanya kembali, bagaikan kelinci putih yang gemetaran, akan berhadapan dengan pemangsa mengerikan.


Adegan mertua dari kalangan atas di drama FTV terbayang olehnya. Mertua keji, membawa seorang pelakor dari keluarga kaya untuk menyingkirkan menantunya yang miskin. Membuat kesalahpahaman, suami yang mulai berubah, berselingkuh dengan pelakor.


Tinggallah sang istri yang menenteng koper di tengah hujan lebat, meninggalkan rumah mewah. Kemudian lagu mulai terdengar, menyertai air matanya...'Ku menangis membayangkan...'


Begitulah imajinasi seorang Glory tentang keluarga kaya.


Ferrell menggeleng."Dia pahlawan, tapi juga penjahat keji..." jawabnya ambigu.


Pasangan yang saling mendekap tidak menyadari hal yang terjadi di lantai satu. Benar-benar sebuah kegaduhan di kediaman Damian, kala menerima telfon seluruh anggota keluarganya akan pulang.


Para pelayan membersihkan seluruh kamar, bahkan peralatan untuk bayi. Menghubungi dokter keluarga, hingga mengeluarkan lebih banyak lagi peralatan makan.


Masa tua yang sepi setelah kepergian putra tunggal mereka? Tidak, ini terlalu ramai, hari tua yang membahagiakan bagi pasangan renta. Melupakan sejenak seorang gadis perawan ada di tempat tidur cucu mereka. Akan ada pertumpahan darah atau tidak? Entahlah, tapi yang pasti tidak akan ada koin atau sisik emas yang bertebaran. Karena sekarang sudah lebih mudah, ada kartu kredit dan ATM, itulah pangeran pesugihan yang mengikuti perkembangan jaman.


Bersambung