My Kenzo

My Kenzo
Musim Ketiga : Menyembunyikan



Suara alunan musik klasik terdengar, tempatnya berada saat ini salah satu restauran berkelas. Steven tersenyum, meminum segelas Vodka yang hanya terisi seperempat gelas. Penampilan yang rapi, aroma parfum terkesan maskulin. Pakaian? Tentu saja terlihat jelas Steven berasal dari kalangan atas.


Dengan seorang wanita bergaun hitam dihadapannya. Cantik? Tentu saja, lekuk tubuh yang benar-benar indah. Lipstik berwarna merah menghiasi bibirnya, dengan anting indah memanjang. Mengiris daging steak memakannya perlahan.


"Jadi kamu membuka perusahaan farmasi?" tanyanya, penuh senyuman.


"Iya, rencananya juga akan ada pabrik senjata, masih mengurus ijin untuk bekerjasama dengan pemerintah," jawabnya, memakan sedikit kentang miliknya.


Fransisca tersenyum, tidak buncit seperti pengusaha-pengusaha tua yang selama ini menjadi batu pijakannya. Seusia dengannya berwajah rupawan, seakan tidak ada yang kurang. Benar-benar pria sempurna, bahkan mengelola usaha keluarganya sendiri.


"Aku dengar-dengar kamu memiliki hotel dan beberapa restauran? Jangan salah paham, aku hanya ingin bekerja sama denganmu, kebetulan profesi sampinganku travel blogger," ucapnya, yang sebenarnya benar-benar bahagia, menemukan pemuda impiannya. Calon suami ideal yang dapat membiayai hidupnya, serta meningkatkan status sosialnya.


"Ada beberapa hotel di negara lain, aku membelinya beberapa minggu lalu. Kalau restauran di sini hanya ada satu ..." jawabnya yang memang baru memulai restorasi bisnis ayahnya.


"Yes...jackpot!!" gumamnya dengan suara kecil.


"Kamu bilang apa?" Steven mengenyitkan keningnya.


"Bukan apa-apa," jawabnya tersenyum canggung.


Tak...tak...tak...


Sepasang sepatu wanita melangkah, dengan sebuah map yang dibawa sang pemilik. Matanya menelisik, mencari kemana kamera handphone semua orang mengarah. Dan benar saja si wanita cantik tanpa celah, tengah makan malam dengan Ultraman.


Febria mengenyitkan keningnya, mengamati buket bunga mawar merah yang ada di atas meja. Mungkin adalah pemberian Steven, ekting yang bagus. Piala Oscar untuknya, tersenyum tanpa dosa di hadapan wanita. Sungguh pria tangguh yang berani membuat seorang Febria murka.


Dengan langkah kaki cepat Febria berjalan mendatangi meja mereka."Tuan maaf aku mengganggu kencanmu, ada berkas yang harus ditandatangani, segera..." Febria menyodorkan map serta penanya.


Steven mengenyitkan keningnya curiga, kemudian tersenyum simpul, menatap kecemburuan dari gadis kecilnya. Pada akhirnya map itu dibuka olehnya dan benar saja isinya hanya kertas kosong. Tangannya bergerak dengan cepat menulis seolah-olah sedang tanda tangan, tanpa disadari Fransisca.


'Aku hanya dapat mencintaimu,' kalimat yang di tulis Steven, membuat Febria berusaha keras agar tidak tersenyum.


"Kamu ikuti aku! Siapa tau aku ada keperluan nanti," perintah Steven.


"Baik tuan..." jawabnya mulai berdiri di belakang Steven, memeluk map dengan tulisan yang membuat hatinya berbunga-bunga di dalamnya.


"Steven, aku tau kita baru pertama kali bertemu. Tapi aku merasa kita ada kecocokan. Jadi..." kata-kata Fransisca terpotong.


"Jadi, sebaiknya kita segera pacaran. Aku tidak ingin kamu direbut oleh pria lain," ucapnya tersenyum.


"Iya...itu yang aku maksud," tangan Fransisca bergerak cepat menggengam jemari tangan Steven.


Benar-benar agresif, sudah aku duga, cepat atau lambat orang ini akan menginginkan anak dari Ultraman milikku... geramnya masih setia berusaha tersenyum. Padahal ingin rasanya membalik meja di hadapannya.


Steven sedikit melirik ke arah Febria, menipiskan bibir menahan tawanya. Mengetahui bertambah cemburu gadis itu bertambah menggemaskan di matanya.


Ada firasat aneh dalam dirinya, kali ini ada yang mengawasinya entah siapa.


Beberapa orang pria berjas, duduk di meja belakang meja tempat Fransisca berada saat ini.


Baru saja, memasang umpan, sudah ada ikan yang terjerat... gumamnya dalam hati, tersenyum kembali memakai kentang di piringnya menggunakan garpu.


"Steven, kamu bilang menjadi penggemarku sejak lama, dari kapan? Apa karena bakat ektingku? Atau bakatku bernyanyi?" tanya Fransisca.


"Bakat menarimu..." jawaban dari mulut Steven, yang sebenarnya mengetahui Fransisca karena menjadi bintang film video dewasa yang sering di tonton Eden. Jadi yang membuat Steven tertarik menjadikannya pacar, adalah bakat menari di ranjang yang selalu disaksikan kakaknya.


"Begitu ya? Aku bahkan belajar koreografi dari guru ternama..." jawabnya tertawa.


Orang-orang yang ada di belakang Fransisca mulai merogoh area belakang jasnya satu persatu. Secara berurutan, tidak ingin Steven curiga.


Tiga orang pria lainnya, juga mengeluarkan senjata mengarah pada Steven. Febria mengetahui cepat atau lambat ini akan terjadi. Tapi kenapa harus sekarang.


Tangan Febria ditarik Steven turun, pertanda gadis itu hanya perlu bersembunyi di bawah meja. Dengan cepat Febria merangkak memasuki area bawah meja yang tertutup kain putih panjang.


"Ka ... kalian siapa?" ucap Fransisca gugup, ditarik mundur oleh orang bersenjata menjauhi Steven.


Steven tidak mendekat ke arah mereka, hanya mengeluarkan senjatanya api dari jasnya saja. Untuk apa mendekat? Wanita yang dicintainya sedang bersembunyi di bawah meja. Bukan orang yang mereka sandera saat ini.


"Dia wanita yang kamu cintai? Tidak disangka..." suara tawa dari mantan kelompok Dragon yang membawa senjata terdengar.


Steven menghela napas kasar,"Dia pacarku! Lepaskan dia!!" ucapnya dengan lantang, menodongkan senjata api ke arah mereka.


Orang-orang yang ada di area restauran berteriak meninggalkan tempat tersebut ketakutan. Beberapa pelayan hendak menghubungi petugas kepolisian, namun salah satu anggota kelompok tersebut mencegahnya.


"Steven, tunjukan pengorbananmu sedikit, jatuhkan senjatamu jika tidak pacarmu yang cantik ini akan mati..." ucapnya.


"Steven tolong aku..." pinta Fransisca lirih, menangis sesenggukan.


Steven tersenyum, menurunkan senjata apinya. Keselamatan Febria lebih penting. Tidak mungkin dirinya dapat bergerak tanpa memberikan senjata pada gadis yang dicintainya. Hingga senjata diturunkannya, di tendang ke arah bawah meja tanpa ada yang memperhatikan. Febria yang gemetar segera memungutnya.


"Tembak dia!!" perintah orang yang menyandra Fransiska.


Dor... dor...dor...


Suara tembakan terdengar dengan cepat Steven meraih belati ada di dalam setelan jas-nya. Melemparnya, tepat mengenai tangan orang yang menyandra Fransiska.


"Aaa...aaa..." teriaknya memekik, menjatuhkan senjatanya, bersamaan dengan Fransisca yang berlari ke tempat lebih aman.


Bergerak menghindari semua tembakan yang menyasar dirinya. Hingga berhasil mendekati tempat tiga dari empat orang pria berjas hitam. Orang-orang yang sebelumnya menyandera Fransisca.


Memegang kepala, mematahkan leher salah satu orang, merebut senjatanya.


Dor...dor...dor...


Kaki dan tangan menjadi sasaran tembaknya pada dua orang lainnya. Salah satu orang yang tertembak berusaha meraih senjatanya yang terjatuh. Steven tersenyum, menginjak tangannya yang berlumuran darah. Tangan yang hampir berhasil meraih senjatanya.


Senjata itu ditendangnya lebih jauh,"Sekarang kamu tau kenapa aku berhasil menjadi ketua Dark Wild?" tanyanya menyeringai.


Dor...dor ...dor...


Satu orang lainnya berusaha menembak Steven. Tapi sekali lagi, bawahan amatir yang baru belajar menembak akan kesulitan membidik.


Steven mengarahkan senjata yang direbut dari salah satu orang berjas...


Dor...


Satu tembakan dari Steven sang penembak jitu, tepat mengenai bahu satu orang lainnya.


Febria mengintip dari bawah meja, keadaan sudah kondusif. Lega tentu saja, matanya sedikit melirik ke arah Steven yang mengambil napkin di atas meja, mencabut belatinya dari tangan salah satu diantara orang bersenjata yang dilumpuhkannya.


Mengelap belatinya hingga mengkilap, kemudian kembali menyimpannya.


Febria mulai keluar dari tempat persembunyiannya. Hendak berjalan menghampiri Steven. Namun Fransisca berlari lebih dulu memeluk Steven dari belakang. "Sayang, aku takut..." ucapnya manja, menggosok-gosokan dua benda di punggung Steven.


"Wanita murahan ini..." geram Febria melangkah mendekat masih berusaha tersenyum.


Bersambung