My Kenzo

My Kenzo
Musim Keempat : Undangan Untuk Datang



Saldo di kartu ATM dichecknya kembali, Tio sama sekali tidak berbohong padanya. Wajahnya tersenyum, kembali melajukan mobilnya menuju rumahnya.


Dan drama palsu yang mulai dibuatnya. Menyusun skenario bagaikan sutradara. Tapi tahukah dia, andai jikapun Ferrell bodoh lebih memilih nama baiknya, dan dirinya berhasil menikah. Siapa yang akan dihadapinya berikutnya?


Tentu saja ibu mertua yang baik, menyayanginya, membuainya, memanjakannya, kemudian membuatnya merasa lebih baik mati daripada hidup, karena telah menghancurkan hidup putranya. Tapi, apa harus sampai Amel akan keluar dari tempatnya berada saat ini?


Entahlah, tapi satu yang pasti, dirinya mencoba memasuki keluarga yang mengerikan tanpa disadarinya. Tidak ada kehidupan bagaikan Cinderella seperti dalam imajinasinya. Dengan keluarga pangeran yang baik hati. Tidak seperti itu, keluarga Ferrell tidak akan mudah menerima orang untuk masuk dalam keluarga mereka. Kecuali dicintai oleh Ferrell dan memiliki standar kepribadian yang sesuai dengan mereka.


Hingga mobil mulai terparkir di rumahnya. Grisella akan memulai semuanya, menunduk dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya, lebih tepatnya obat tetes mata.


Hingga dirinya melewati pintu utama, disana Erlang telah duduk di sofa ruang tamu menunggu kepulangannya serta Ratna yang terlihat tersenyum, walaupun juga kecewa.


Tapi tidak apa, menurutnya, Erlang bergerak terlalu lambat untuk perjodohan putrinya. Tapi siapa sangka Grisella mendekati Ferrell lebih dulu, walaupun hasilnya harus menanggung malu, hamil diluar nikah. Satu yang pasti pewaris W&G Company ada di perut putrinya sekarang.


Pemilik W&G Company memiliki 5 orang anak angkat serta dua orang anak kandung bernama Ferrell dan Febria. Tentunya anak kandung laki-laki mereka yang memiliki kemungkinan terbesar akan mewarisi W&G Company nantinya, itulah informasi yang didapatkan Ratna setelah mencari garis keturunan keluarga itu melalui internet.


Grisella mulai duduk di hadapan ayahnya."Kamu menghubungi ibumu mengatakan kamu mengandung anak Ferrell, apa benar?"


Grisella mengangguk membenarkan, hanya itu yang harus dilakukannya saat ini.


"Apa benar Ferrell ayahnya?" tanya Erlang lagi, dengan mata menyelidik.


Tangan Grisella mengepal, menatap ke arah ayahnya. Sang ayah tidak percaya kebohongannya? Bagaimana ini...


Namun dengan cepat Ratna berpindah tempat duduk. Memeluk tubuh putrinya."Kamu menganggap putri kita berbohong!?"


"Tidak, aku hanya ingin memastikannya saja, bahwa itu anak dari cucu Damian. Karena sekali saja kamu berbohong ayah akan kesulitan menghadapinya," ucapnya mempertimbangkan pemilik W&G Company yang akan keluar nantinya, jika ini bocor ke publik.


"Ini anaknya aku hanya pernah tidur dengan Ferrell. Tapi dia tidak mau mengakuinya..." dusta Grisella, tertunduk mengepalkan tangannya, menganggap sang ayah akan mempercayainya.


Erlang menghela napas kasar."Ayah sendiri kesulitan untuk bicara dengan Damian tentang perjodohan. Bukan hanya kelurga kita, banyak dari keluarga kalangan pengusaha yang ingin putrinya di jodohkan dengan cucu Damian. Karena itulah, ayah hanya berkata akan berusaha saat kalian menginginkannya,"


"Tapi tiba-tiba dihamili oleh Ferrell? Kamu mengenalnya?" lanjutnya masih ragu akan keterangan putrinya. Tidak ingin salah bertindak nantinya.


"Kami bertemu diam-diam, pemilik warung kopi depan juga pernah melihat saat dia mengantarkan ku pulang jam 3 pagi..." jawaban darinya mengeluarkan keringat dingin terlihat gugup.


"Hanya dia yang pernah menidurimu?" tanya Erlang lagi.


Ratna mengepalkan tangannya, tidak terima dengan kata-kata suaminya."Erlang!! Kamu kira putrimu wanita murahan!? Dia bahkan menjadi ketua OSIS, peringkat satu umum karena belajar terus-menerus!!" bentaknya.


"Aku menyuruhmu mengawasi Grisella dengan baik. Tapi apa kamu melakukannya? Les balet, piano, bimbel, bahkan khursus bahasa Inggris, tidak satupun pernah dihadirinya satu tahun ini. Aku bekerja keras membayarnya, gurunya beberapa kali menelfon..." ucapnya menumpahkan segala yang dipendamnya.


Kesal? Tentu saja, tapi kembali lagi, Erlang yang harus pergi ke luar kota tidak dapat terus menerus mengawasi putrinya. Jika mengatakan tentang perbuatan putri tunggal mereka, hanya akan menyulut pertengkaran dengan Ratna.


"Grisella terlalu lelah, mungkin karena itu dia bolos sekali atau dua kali. Kamu dan gurunya yang terlalu membesar-besarkan!!" Ratna merangkul bahu putrinya mendekapnya erat.


"Aku bilang tidak pernah hadir," kata-kata penuh penekanan yang diucapkan Erlang.


"Lalu kenapa!? Apa hubungannya dengan Ferrell yang menghamili putri kita?" geramnya.


"Kartu kreditnya dipenuhi dengan tagihan di club'malam..." jawaban dari Erlang.


Grisella mengepalkan tangannya, tidak mengetahui jika selama ini ayahnya mengetahui kebiasaannya, hingga satu kebohongan digunakan untuk menutupi kebohongan lainnya."Kartu kreditku sempat dipakai Lily. Katanya jika aku tidak meminjamkannya maka persahabatan kami berakhir. Aku tidak pernah memasuki club'malam, Lily yang sering ke sana dengan menyuap security. Karena itu pertemanan kami berakhir,"


Ratna membelai rambut putrinya, menatap tajam pada Erlang."Kamu dengar sendiri kan!?"


Erlang menghela napas kasar."Aku akan membicarakan ini pada Damian untuk pernikahan kalian nantinya. Karena itu jangan mencoba membocorkannya pada media," ucapnya mulai bangkit berjalan meninggalkan ruang tamu, tidak ingin keluarga pemilik W&G Company yang tinggal di negara lain terlibat, sebelum semuanya jelas.


Karena itu...


"Ibu, aku tidak bisa terus begini, aku akan bicara di hadapan media. Anak ini butuh ayah, sedangkan ayahnya sendiri tidak mengakuinya. Kita sudah menunggu setahun untuk perjodohan tanpa hasil. Apa harus menunggu anakku lahir baru ayah akan menikahkanku dengan Ferrell?" ucap Grisella terisak, mendekap tubuh ibunya.


"Ceritakan pada ibu dulu, apa yang sebenarnya terjadi?" tanyanya.


"Kami menjalin hubungan dari beberapa minggu yang lalu. Tapi Ferrell menemuiku diam-diam, lalu beberapa kali berkencan, aku dengan dia..." Grisella tidak melanjutkan kata-katanya, menangis seakan trauma, tidak ingin ibunya bertanya lebih banyak lagi.


"Jadi apa rencanamu? Ayahmu akan marah jika kamu membocorkan ini pada media," tanyanya.


"Ibu, jika mengadakan wawancara terbuka, Ferrell tidak akan dapat mengelak..." pinta putrinya.


Ratna menghela napas kasar tidak menjawab. Takut pada suaminya, namun iba pada putrinya.


***


Sedangkan di tempat lain hari sudah mulai malam, seorang pria duduk ruangan kerjanya. Membaca beberapa berkas, perlahan membuka kacamata bacanya.


Suara ketukan pintu terdengar."Masuk..." ucapnya.


Seorang wanita cantik berpakaian sekretaris memasuki ruang kerjanya. Meletakkan beberapa dokumen, bagian kancing kemeja yang terbuka memperlihatkan 36 D-nya yang masih belum kendor juga.


"Saya permisi pak..." ucapnya mengigit bagian bawah bibirnya sendiri.


Kenzo menahan tawanya."Menjadi sekretaris?" tanyanya.


Amel berlalu berjalan menutup pintu, kemudian menguncinya. Kembali melangkah menepikan beberapa dokumen, kemudian duduk di atas meja kerja suaminya.


"Tidak merindukanku?" tanyanya, menarik dasi suaminya.


Kenzo mulai bangkit, mendekatkan wajahnya."Kita bertemu 24 jam sehari, mengerjakan semua pekerjaan bersama, tapi aku masih tetap merindukanmu..." jawaban darinya, menyesap leher Amel pelan.


Wanita itu menonggakkan kepalanya, menahan sensasi geli yang membuatnya bagaikan kehilangan pijakan."Kenapa kamu tidak bertambah tua, aku cemburu setiap ada karyawan wanita yang terlalu lama di ruanganmu,"


"Kenapa kamu juga tidak bertambah tua? Aku bahkan cemburu pada mahasiswa magang di kantor pusat," lidahnya tiba-tiba menjilat pelan telinga istrinya.


"A...aku..." napas Amel mulai memburu, merasa kancing kemejanya dibuka, pakaian dalam bagian atasnya disingkap. "Kenzo..." ucapnya manja.


"Aku ingin Ferrell segera menikah," gumamnya menjambak rambut suaminya pelan, seraya memejamkan matanya, menikmati hal yang dilakukan suaminya.


Kenzo tersenyum, menghentikan kegiatannya sejenak."Aku mempunyai firasat, akan ada kegaduhan besar saat pernikahannya nanti,"


Kembali sedikit membungkuk pada tubuh istrinya, melanjutkan kegiatannya.


Amel mengangguk menonggakkan kepalanya, jemarinya kembali berada pada celah-celah rambut Kenzo."Mungkin, dokter dingin itu tidak peka pada wanita dan tidak memiliki kekuasaan. Saat kehilangan kekasinya, dia akan panik, berbuat apapun...sssthhh..."


"Aku ingin, kamu yang memimpin atau aku?" tanyanya.


"Jangan banyak bicara!!" ucap Amel, mendekap tubuh suaminya, seakan memintanya untuk melanjutkan apapun yang akan dilakukannya.


Dan benar saja, beberapa helai pakaian terlempar tergeletak di lantai dalam ruang kerja, di salah satu villa milik mereka di negara lain.


Bersambung