
Hanya menguji itulah yang dilakukan Glen, mereka tidak saling bertemu saat persiapan acara pernikahan. Dipingit? Bukan karena itu, namun Glen masih takut jika sang adik memaksakan Brandon untuk melakukannya sebelum acara pernikahan terlaksana. Sungguh sulit, jika harus memiliki adik berotak super mesum.
Pesta dengan dekorasi putih yang indah. Hampir semua desainer ternama, dan selebriti yang pernah membuat pakaian di butik miliknya diundang olehnya. Tapi pernahkah kalian mendengar orang yang mengandalkan koneksi untuk masuk ke pesta berkelas? Itulah yang dilakukan seorang wanita saat ini.
Tujuannya hadir? Tentu saja untuk mendapatkan koneksi kembali ke bidang design. Marina mulai melangkah, usai perjodohannya gagal, di usir orang tuanya karena merusak reputasi di hadapan keluarga besar dan tetangga.
Gadis muda itu diliriknya, menjadi desainer, memiliki suami kalangan atas yang rupawan, memiliki keluarga kaya yang menyokongnya.
Kenapa tidak dirinya saja? Itu adalah hidup yang diimpikan olehnya. Tidak terasa setetes air matanya mengalir. Dimana letak kesalahannya? Sama sekali tidak ditemukan olehnya.
Amel yang baik hati benar-benar murka padanya, hingga dirinya sempat mendekam di penjara karena tuduhan plagiat. Pekerjaan sebagai desainer Bold Company dahulu membuatnya, harus mengerjakan semua desain dengan cepat, menuntut hasil yang baik.
Dirinya fikir dengan meniru satu saja karya desainer luar negeri tidak akan ketahuan. Namun nyatanya Amel membencinya hingga tidak membiarkan sedikitpun celah untuknya. Kenapa bisa wanita yang baik hati berubah sikap padanya? Dan apa kelebihan bocah (Nindy) itu hingga dapat meraih kehidupan yang lebih baik darinya.
"Kamu mempunyai undangan?" suara bariton seorang pria terdengar, menyodorkan segelas red wine padanya ditengah alunan suara musik buffett, pesta resepsi tersebut.
"Maaf...aku harus pergi," ucapnya mengepalkan tangannya, tertunduk malu. Berjalan sekitar dua langkah hingga kata-kata pemuda itu menghentikan langkahnya.
"Kamu sedang membandingkan hidupmu dengan hidup adikku?" tanyanya tersenyum, meminum red wine yang tadinya disodorkan pada Marina.
"Kamu tidak akan mempermalukanku?" Marina balik bertanya tidak mengerti dengan sikap Glen.
Glen menggeleng,"Mengusirmu, memanggil keamanan akan membuat adikku malu di hari bahagianya. Mau bicara denganku di tempat yang lebih tenang?" tanyanya, mulai menyadari sang adik yang berada di panggung menatap sinis padanya yang terlihat berbicara dengan Marina.
Marina tertegun diam, jemari tangannya tiba-tiba di tarik Glen pergi dari tempat perjamuan.
Kolam renang yang sepi menjadi tempat mereka berada saat ini. Ditemani dua buah gelas dan sebotol anggur merah yang tidak begitu mahal. Duduk terdiam sejenak menatap suasana malam taman hotel yang berada dekat dengan ballroom.
"Aku adalah ibu yang membuang Sany..." ucap Marina tersenyum, menenggak sedikit minuman di gelasnya.
"Aku tau..." hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Glen. Menghela napas kasar, melonggarkan dasinya, tidak nyaman rasanya mengenakan setelan jas.
"Lalu? Kamu tidak menghujatku sebagai ibu yang kejam?" tanyanya.
"Kamu ibu yang kejam, ibu yang buruk. Puas?" Glen masih saja tersenyum padanya.
"Aku melakukan segalanya untuk karier dan kehidupan yang lebih baik, bahkan menitipkan anakku. Keluarga? Aku berasal dari keturunan darah biru, ayah yang mendidikku dengan keras dan ibu yang memanjakanku. Tapi kenapa aku berakhir begini? Sedangkan bocah kecil (Nindy) yang tidak tau apa-apa malah hidup lebih bahagia dariku!? Sahabatku Amel orang yang paling baik bagiku, dia menghancurkan hidupku dengan tangannya sendiri..." racaunya mulai menangis.
Glen menghela napas kasar,"Kami bukan sepertimu yang kaya dari awal. Nindy tidak pernah ikut khursus, tapi dia belajar siang dan malam, tidak ada banyak kasih sayang padanya dari kecil hingga dewasa..."
"Aku dan Amel-lah yang menjaganya, berjuang sedikit demi sedikit. Hingga satu kesempatan datang padanya, saat Kenzo datang menolong keluarga kami. Membiayai kuliahnya, berusaha dengan tekun hingga lulus dengan cepat. Tidak ingin membebani calon kekasih Amel,"
"Jika kamu ada di posisi Nindy apa yang akan kamu lakukan? Merebut Kenzo dari Amel? Atau kuliah sambil bersenang-senang di luar negeri? Lagi pula tidak menggunakan uang-mu, sudah ada Kenzo yang membiayai. Itulah yang akan kamu lakukan jika ada di posisi Nindy kan...?" tanya Glen sudah dapat menebaknya.
"Aku..." kata-kata Marina dipotong, oleh satu kata dari mulut Glen.
"Maaf..."
"Maaf?" Marina mengenyitkan keningnya tidak mengerti, bukankah seharusnya dirinyalah yang minta maaf.
"Kamu berbuat buruk pada Amel, hingga dia juga membalas perlakuan burukmu. Suatu saat nanti kamu berniat membalasnya juga bukan? Ini akan menjadi dendam yang tiada habisnya. Karena itu aku mewakilinya untuk minta maaf..." Glen menghela napas sembari kembali tersenyum, menuangkan wine di gelasnya.
"Ini memang kesalahannya..." cibir Marina kembali, mengalihkan pandangannya.
"Belum mengerti juga? Amel tidak pernah dicintai satu pria pun. Tiba-tiba Kenzo datang padanya, menunjukkan kesungguhannya, mereka menikah hidup bahagia bagaikan di negeri dongeng. Tapi kamu tiba-tiba datang dengan alasan Sany, jika kamu jadi Amel, tentu melihat Sany pun kamu tidak akan sudi,"
"Mengingat ibu dari anak yang menyebabkan dirinya hamil tanpa suami. Suami yang bunuh diri, tau bagaimana rasanya hamil tanpa suami?" tanyanya, kembali mengisi gelas Marina.
Jemari tangan wanita itu gemetar, masih teringat jelas dalam benaknya kala mantan kekasihnya yang ternyata seorang penipu meninggalkannya dalam keadaan hamil. Setiap harinya dipenuhi dengan kecemasan tentang hidupnya, berharap suatu hari pria yang menghamilinya kembali untuk mengasihinya yang tengah mengandung. Mungkin yang dialami Amel lebih menyakitkan lagi, mengingat sahabatnya sudah menikah. Ditinggalkan oleh sang suami hanya karena kata-kata hujatan.
"Maaf..." akhirnya kata itu keluar dari mulut Marina. Menyadari hal-hal buruk yang akan dialami Amel karena kesalahannya.
Botol wine diraihnya, meminum teguk dami teguk langsung dari botolnya. Guna meringankan rasa bersalah yang tiba-tiba menyengat hatinya.
"Jika aku ingat-ingat lagi, sekarang aku menyadari orang yang membuat hidupku terpuruk. Bukan Sany, Amel, atau Nindy..." gumamnya, kembali minum langsung dari botolnya.
"Siapa?" Glen mengenyitkan keningnya.
"Diriku sendiri, andai saja aku tidak mencintai Andreas (ayah biologis Sany). Mungkin aku dapat belajar mencintai Gilang perlahan, atau menerima perjodohan keluargaku..." jawabnya tertunduk dalam keadaan mabuk berat.
"Bisa tolong temukan dia untukku!? Aku ingin memukul wajah Andreas sekali saja..." isakan mulai terdengar dari mulut Marina. Entah kenapa rasa sakit dalam memorinya kembali.
"Apa imbalannya untukku?" Glen tertawa kecil, meminum sisa wine yang ada di gelasnya.
"Aku tidak akan membenci Amel lagi, akan melepaskan semua ambisi untuk menjadi lebih baik ..." racaunya, dengan wajah memerah karena terlalu mabuk.
"Tidak ada untungnya untukku..." ucap Glen acuh.
"Baik hadiah tambahannya, tubuhku!! Kamu bisa menikahiku..." Marina tertawa lepas kemudian tertidur.
"Wanita bodoh..."
Bersambung