
Otopsi, telah dilakukan penyebab kematiannya tikaman di bagian perut yang menembus organ dalamnya. Tanda-tanda pelecehan seksual ada di tubuhnya.
Keluarga Dewi tiada hentinya menangis saat pemakaman, tidak menyangka nasib putri tunggalnya yang ceria dan cerdas akan berakhir seperti ini.
Foto berukuran 10 R, bingkai yang terlihat indah, dengan bunga menghiasi di sekitar foto. Wajah gadis yang tersenyum dalam foto tersebut kini tidak ada di dunia ini lagi. Gadis ramah itu telah pergi, dengan banyak rasa sakit menjelang ajalnya.
Tubuh yang terbaring didalam peti tertutup tanah. Gama mengepalkan tangannya, meneteskan air mata tiada hentinya, jemari tangan Kenzo menggengamnya. Namun, itupun tidak dapat menghilangkan luka menganga di hatinya.
Kenangan dari semasa SMU hingga kini dirinya menjadi seorang dosen. Gadis yang menemaninya, sebelum dirinya dapat berdiri sendiri. Kini pergi, terkubur dalam tanah, rupa indah dengan hati yang baik itu benar-benar telah pergi.
***
Menuntut perusahaan? Sudah pernah dilakukannya. Menghabiskan biaya yang tidak sedikit. Saham waralaba dan toko-tokonya habis, yang tersisa hanya sebuah ruko, untuk menghidupi dirinya dan Kenzo.
Hasil persidangan? Tidak dapat menjerat pihak perusahaan maupun mencari pelaku sebenarnya. Dirinya hanya berusaha seorang diri, sedangkan almarhum Dewi dari keluarga kurang mampu dengan kedua orang tua yang buta huruf. Melawan sebuah perusahaan besar, serta sang pembunuh sesungguhnya, yang mungkin bersetatus tinggi. Dirinya tidak akan menang, saksi dari rekan-rekan kerja Dewi, semuanya berbohong membela perusahaan.
Mengorbankan nama almarhum rekan kerja mereka. Memberikan kesaksian palsu, bahwa Dewi dijemput oleh beberapa orang pria kenalannya. Dan bahkan atasannya sendiri bersaksi di persidangan, Dewi sering menjual dirinya.
Menjual diri? Berciuman dengan Gama pun masih terasa kaku, wanita yang tidak pernah memiliki hubungan dengan pria lain, dikatakan sebagai wanita penjaja tubuh?
Orang-orang tidak waras... Gama hanya dapat tertunduk mengepalkan tangannya. Air matanya mengalir tiada henti penuh rasa kemarahan dan kehilangan.
***
Ruangan kamar yang gelap, darah mengalir dari pergelangan tangannya yang teriris. Menatap setiap sudut rumahnya yang penuh kenangan, tidak ada setiap jengkal tanah yang tidak mereka pijak bersama. Kenangan indah dan rasa sakit yang sulit dihapusnya.
"Kak Gama!!" Kenzo yang panik segera menghubungi rumah sakit guna menyelamatkan nyawa pria yang tidak memiliki semangat hidup sama sekali, melihat darah mengalir dari pergelangan tangan pemuda itu.
Tidak perlu terlalu banyak perawatan dari rumah sakit, lukanya tidak dalam. Percobaan bunuh diri yang gagal, pemuda itu masih terdiam tanpa ekspresi menitikan air matanya dengan hanya Kenzo berada di sampingnya. Berada di kamarnya, sepulang dari rumah sakit.
"Kak... aku tau kak Dewi sudah pergi. Jadi tolong relakan..." Kenzo menitikan air matanya menatap pergelangan tangan Gama yang berbalut perban. Tidak dipungkiri rasa duka dan tertekan dalam diri Kenzo lebih besar sekarang. Mengetahui betapa menjijikkan dunia ini di usianya yang masih terlalu muda.
"Tidak bisa, mereka harus membayarnya," suara Gama bergetar belum dapat merelakan kematian Dewi. Terjerat dalam rasa bersalahnya membiarkan orang-orang keji itu lolos.
"Kakak..." Kenzo meninggikan intonasi suaranya, menggengam jemari tangan Gama lebih erat lagi.
"Aku tidak bisa membuat mereka membayarnya. Aku mengecewakan Dewi..." ucap Gama.
Kenzo mengepalkan tangannya, mungkin dirinya sembarang berucap. Namun, ini janji yang ingin dipegangnya,"Aku yang akan menghancurkan makhluk yang berpura-pura bermartabat sejenis mereka. Tolong tetap hidup, dan lihat aku. Aku akan menjadi Antagonis untukmu," janjinya.
Gama berusaha tersenyum dengan wajahnya yang pucat,"Belajar saja yang benar!! Bocah bodoh!! Carilah pacar!! Fikirkan dirimu sendiri dan hiduplah dengan tenang..." gurauannya untuk pertama kali setelah kematian Dewi.
Lega, itulah perasaan Kenzo saat ini, menatap orang baik itu dapat tersenyum. Gama sudah dapat melupakan semuanya...
Namun, apakah benar begitu? Tidak, pria itu mendaftarkan dirinya pada asuransi jiwa dengan jumlah yang besar. Diam-diam menggati nama kepemilikan rukonya atas nama Kenzo. Bahkan membuat buku tabungan atas nama remaja itu.
Sekitar satu tahun berlalu tepat pada peringatan kematian Dewi, rambu-rambu lalulintas terlihat mulai merah. Vespa kesayangannya bersih terawat, dengan memakai pakaian terbaiknya, Gama tersenyum. Melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.
Membiarkan sebuah truk melaju, menghempaskan tubuhnya. Helm yang bagaikan dengan sengaja tidak dikaitkannya, terlepas. Meninggalkan kepalanya membentur trotoar berlumuran darah, tubuh itu berbaring terlentang menatap ke arah langit, darah mengalir dari hidung dan telinganya.
Kenzo, sudah aku tinggalkan bekal hidup untuknya. Sekarang aku dapat menyusulmu, meminta maaf tidak dapat menuntut ketidak adilan atas kematianmu... Aku menyusulmu dengan cara ini, apakah kamu akan marah?...aku harap tidak, Tuhan tidak akan memberikan tempat di surga-Nya untuk orang yang bunuh diri.... Aku akan tinggal di neraka setelah berbicara denganmu, walaupun hanya sekali...
Mata itu terpejam penuh senyuman, meninggalkan raga tanpa jiwa...
***
Janji? Semua dipegang olehnya. Seorang remaja berusia 15 tahun, memegang payung hitam di tengah derasnya hujan. Seusai pemakaman seorang pria yang tidak memiliki keluarga sama seperti dirinya. Tidak ada yang menangisi kematian Gama kecuali Kenzo.
Wajahnya nampak terluka, lebih tepatnya babak belur. Seusai menerobos masuk ke dalam perusahaan tempat almarhum Dewi bekerja. Menuntut keadilan mewakili Gama yang saat itu telah terbujur kaku di kamar mayat, akibat kecelakaan lalulintas.
Seperti sudah diduga, tubuh kurus remaja itu dipukuli security yang berjaga.
Kini tubuh Gama telah dikuburkan, menyisakan Kenzo yang semakin memburuk saja gangguan kepribadiannya. Obat-obatan sering dikonsumsinya jika merasa tidak dapat menahan rasa duka dalam dirinya. Melukai diri sendiri juga sering dilakukannya. Hingga beberapa kali menemui psikiater.
***
Seluruh aset yang diwariskan Gama dicairkannya, pada usia 18 tahun. Memiliki ambisi dan tujuan hidup sebagai Antagonis, menghancurkan semua perusahaan tidak becus yang memperlakukan karyawannya dengan buruk.
Pemuda itu nekat berkuliah di Australia dengan mengandalkan uangnya yang sedikit. Melanggar visa belajarnya, bekerja sambilan di sebuah drive thru, pulang ke tempat tinggalnya yang berupa apartemen kecil larut malam.
Mungkin disanalah dirinya bertemu untuk pertama kalinya dengan Frans yang dibiayai kuliahnya oleh Bold Company. Dibiayai? Frans dulunya adalah orang kepercayaan Suki.
Namun, lambat laun Suki terlalu mengatur dan menekannya bagaikan boneka. Seorang anak yatim-piatu yang mendapatkan beasiswa darinya. Ditekan untuk menjadi calon pesuruh keluarga yang sempurna.
Bahkan pendidikan S1 tidak cukup, Frans diberangkatkan untuk mencari gelar Master. Untuk apa pesuruh yang terikat seumur hidupnya harus mengejar pendidikan yang tinggi?
Suki terlalu membanggakan dirinya di hadapan umum. Bagaikan orang yang dermawan dari luar. Sedangkan, Frans hanya dapat menunduk mengepalkan tangannya, meninggalkan sang ibu yang menderita alzheimer di panti jompo. Menolak? Dirinya sudah menolak, namun Suki selalu mengungkit hutang budinya.
Rasa terimakasih sudah mendapatkan beasiswa semenjak SMU hingga kuliah S1? Mungkin itulah penyebabnya, Frans bersedia pergi, walaupun hatinya menolak. Jika tau begini lebih baik tidak mendapatkan beasiswa sama sekali, namun dapat merawat ibunya yang telah renta dengan tangannya sendiri.
***
Kenzo dan Frans satu fakultas namun berbeda jurusan. Frans kerap mengalami pembullyan, karena dirinya yang tidak lancar berbahasa Inggris. Ditertawakan, merupakan hal yang biasa.
Tidak memperhatikan, mahasiswa yang juga duduk berjauhan dengannya, itulah Kenzo yang berusia lebih muda darinya, menempuh pendidikan mengejar gelar Bachelor (setara S1 di Indonesia).
Brak...
Makanan di nampan milik Frans dilempar ke lantai. Mereka melakukannya lagi, menertawakannya yang bingung bagaimana caranya bicara. Bingung bagaimana mengikuti perkuliahan, dirinya tinggal seorang diri hanya berbekalkan apartemen tanpa penerjemah. Atau orang yang dapat membantunya.
Hingga...
Kenzo memunguti sisa makanan Frans yang berada di lantai.
"Orang gila yang tidak tau seberapa berharganya makanan..." gerutu Kenzo, memunguti makanan kotor di lantai. Meletakkan dalam nampannya sendiri.
"Kamu dapat berbahasa Indonesia?" tanya Frans, bagaikan menemukan secercah harapan untuknya.
Kenzo memang berotak cerdas sudah lancar bahasa Inggris dari usia 14 tahun dalam ajaran almarhum Gama. Selain itu dirinya telah tinggal di Australia lebih dari setahun. Menatap ke arah Frans,"Kamu dari Indonesia?" tanyanya.
Mereka mulai saling mengenal, Kenzo mengajarkan bahasa Inggris pada Frans perlahan. Saling bercerita tentang hidup mereka dan cita-cita yang jauh berbeda.
"Aku ingin pulang dan menemui ibuku..." ucap Frans kala itu, tepat setelah bulan ketiga dirinya mengenal Kenzo.
"Pulang saja," Kenzo mengenyitkan keningnya.
"Aku tidak punya uang, makan tempat tinggal semuanya dibiayai. Tapi aku hanya dapat pulang ketika telah meraih gelar master saja..." Frans menghela napas kasar.
"Mudah, bekerja sambilan, tempatku bekerja memerlukan tambahan waiter," Kenzo memberikan penawaran.
Teman? Apakah ini yang disebut pertemanan? Tidak, Kenzo lebih menjaga jarak darinya mengingat Frans berasal dari Bold Company. Perusahaan yang membuatnya tidak memiliki orang tua.
Namun, entah kenapa Frans mengganggapnya sebagai sahabat. Satu-satunya orang yang peduli padanya di negeri asing.
Kenzo terlalu mudah depresi dan emosional membuatnya mengetahui gangguan kepribadian yang dihadapi pemuda itu.
Cita-cita yang terlalu tinggi. Menghancurkan perusahaan-perusahaan besar? Aneh, begitulah seorang Kenzo.
Bold Company dan QL Corporation (tempat almarhum Dewi bekerja) menjadi sasaran utamanya. Saat ditanya mengapa oleh Frans, pemuda itu hanya terdiam sesaat tanpa ekspresi, mengatakan mereka membunuh pegawai kecil.
Kata-kata yang tidak dimengerti seorang Frans. Hingga dalam setahun uang yang dikumpulkannya sudah cukup untuk menjenguk sang ibu. Setidaknya cukup untuk uang tiket ke Indonesia, kemudian kembali ke Australia, agar kepulangannya tidak diketahui Suki.
Meninggalkan Kenzo seorang diri di Australia, pemuda yang telah usai menempuh S1-nya di Australia. Berangkat berbeda jalur dengan Frans, menuju kantor pusat QL Corporation di luar negeri.
Merekrut orang-orang, menghancurkan perusahaan dari dalam dengan rencananya yang matang.
***
Frans yang kembali ke Indonesia menelan pil pahit kekecewaannya. Sang ibu, satu-satunya orang yang ingin dibahagiakannya telah meninggal, dimakamkan dua bulan yang lalu.
Suki tidak memberitahukan padanya sama sekali. Kecewa dan merasa bersalah? Tentu saja, gelar dan pendidikan tidak ada artinya dibandingkan dengan sang ibu. Hanya tangis yang tersisa dalam dirinya.
Frans kembali ke Australia, berpura-pura tidak mengetahui tentang kematian ibunya. Batinnya mulai membenarkan semua pemikiran aneh seorang Kenzo.
Hanya perusahaan sampah yang memeras pegawainya.
Hingga dua tahun berlalu...
Frans masih mengenyam pendidikannya di Australia. Guna mencari celah untuk lolos menjadi boneka seorang Suki.
Sebuah kabar dari majalah bisnis internasional. QL Corporation telah pailit, sahamnya dibeli dengan harga rendah. Berganti nama menjadi W&G Company. Imposter keji itu mulai bergerak.
Frans tersenyum membaca surat kabar, mencari cara menghubungi Kenzo untuk lepas dari jeratan Suki. Perlahan mulai mengkhianati pria tua itu, pria tua yang hingga tahun ke tiganya di Australia tidak mengabarkan kematian ibu kandung Frans.
Hal yang dilakukannya? Bersikap wajar selama beberapa tahun, sesuai intrupsi Kenzo. Pemuda yang kini tengah menangkap satu persatu pembunuh, serta atasan yang menjual tubuh Dewi. Membuat mereka merasakan penderitaan yang lebih buruk daripada terkena jeratan hukum.
Membalas perasaan sakit Gama dan Dewi... benar-benar berubah menjadi sosok Antagonis.
Hingga kembali membangun kekuatan untuk menaklukkan Bold Company sebagai sasaran terakhirnya. Menaklukkan beberapa perusahaan kecil yang tidak bermoral dengan menindas karyawannya. Menjadikan anak perusahaan W&G Company yang baru berdiri.
***
Hal yang terjadi setelahnya? Buruk, Kenzo dan Frans melancarkan rencananya.
Namun, Kenzo tertembak karena ulahnya sendiri. Melindungi Gilang menggunakan tubuhnya sebagai perisai. Melepaskan dendamnya pada Bold Company untuk Gilang sang adik. Kembali pergi menjauh, bersama Frans dalam keadaan terluka parah. Menghapus kenangan buruk mereka
Tidak memiliki tujuan hidup lagi, dendamnya sudah usai. Hingga Amel kembali muncul dalam hidupnya, bayi kecil yang diberinya nama telah tumbuh dewasa. Memberikannya harapan baru, serta tempat untuk pulang.
***
Malaysia, villa yang disewa Kenzo, saat ini...
"Jangan mati, jangan pernah sakit, jangan mencintai orang lain..." ucapnya menggengam jemari tangan Amel.
Kini Kenzo mengerti, kenapa Gama memutuskan mengakhiri hidupnya setelah setahun kematian Dewi. Hidup tanpa sahabat, dan keluarga, satu-satunya tempatnya untuk pulang adalah Dewi yang telah terkubur tenang di bawah tanah.
...Jika Amel sakit, rumahku untuk pulang akan mulai lapuk, saat itu aku akan berusaha menopangnya dengan tubuhku......
...Jika Amel mati, rumah ku untuk pulang akan hancur, aku akan hancur bersamanya. Mati mengikutinya......
...Jika Amel berakhir bersama orang lain, maka aku akan pergi meninggalkannya. Menutup mata, tidak sanggup melihat dunia ini lagi......
Kenzo...
Bersambung