My Kenzo

My Kenzo
Musim Kedua : Kenyataan



Kesalahan ini harus berakhir, itulah keputusannya, berjalan menghampiri mobil wanita di hadapannya.


Hingga langkahnya terhenti di depan kaca mobil yang terbuka. Dava melepaskan jam tangan seharga ratusan ribu dolar yang dipakainya, serta dompet yang diberikan Amel.


Mengakhiri segalanya, sebelum logikanya kembali dilumpuhkan oleh wanita itu. Tidak boleh, dirinya tidak boleh meniduri istri orang lagi. Ini kesalahan, tidak ada perselingkuhan yang berakhir indah, hukum karma akan tetap berlaku.


"Aku minta maaf, aku mengembalikan semuanya. Tidak bisa ke villa lagi bersama kalian..." ucapnya menunduk, menyodorkan dompet dan jam tangan,"Pakaian ini akan aku kembalikan besok,"


Amel mengenyitkan keningnya, bingung bagaimana caranya untuk membujuk Kenzo agar terus terjerat dengannya. Hingga wanita itu mulai berpikir,"Aku bisa memberikanmu pekerjaan yang lebih layak..." bujuknya.


"Aku seorang laki-laki, bisa mencari pekerjaan sendiri," itulah kata-kata yang keluar dari mulut Dava.


"Bagaimana dengan biaya berobat ibumu?" tanya Amel kembali, berusaha setidaknya membawa suaminya ke dalam villa. Jika perlu mengurungnya hingga ingatannya kembali.


"Aku akan mendaftarkan ibuku pada asuransi kesehatan. Walaupun hanya kelas tiga ..." senyuman terlihat di wajah Dava


Sialan!! Kenapa kecerdasan Kenzo muncul disaat-saat seperti ini ... batin Amel merutuki segalanya.


Hingga jurus terakhir dikeluarkannya,"Apa kamu tidak mencintaiku?" tanyanya, memasang raut wajah seakan ingin menangis.


Hati Dava terasa sakit, batinnya ingin memeluk Amel mengatakan 'aku mencintaimu'. Tapi sekali lagi Dava mengepalkan tangannya, menahan semua perasaannya, melihat suasana yang kondusif, Amel tidak mungkin tiba-tiba menciumnya di pinggir jalan raya seperti ini dengan keberadaan Ferrell dan Febria.


"Maaf, lebih baik kembalilah pada suamimu. Uang 80 juta, aku akan berusaha mengembalikannya..." ucapnya menahan semua perasaannya.


Hingga Amel mengedipkan sebelah matanya, tanpa disadari Dava, memberikan petunjuk pada kedua anaknya.


"Paman, paman tidak ingin ke villa lagi..." Ferrell memeluknya erat.


Sementara mata Febria terlihat berkaca-kaca, menahan tangis, memegang jemari tangan Dava."Paman..." satu kata mematikan, dengan nada suara bergetar terdengar.


Hatinya benar-benar bagaikan tertancap ribuan pecahan beling. Ibu dan anak-anaknya itu benar-benar dapat mengubrak-abrik perasaan sang ayah yang tidak mengingat satu memory pun tentang mereka.


Ingin rasanya Dava menitikkan air matanya, namun semua berusaha ditahannya. Tiga orang yang baru beberapa kali ditemuinya, ternyata dapat membuatnya seperti ini.


Pemuda itu berjongkok, mengimbangi tinggi kedua orang anak."Febria, Ferrell, jika merindukan paman, kalian bisa mengunjungi taman bermain..." ucapnya, berusaha tersenyum, memeluk kedua orang anak yang terisak.


Amel mengenyitkan keningnya, ayah yang dapat menolak insting pada anak dan istrinya? Apalagi penyebabnya selain wanita lain,"Apa ini karena wanita yang bernama Kiki?" tanyanya masih duduk di kursi pengemudi.


"Bukan itu...tapi..." kata-kata Dava terhenti, dua anak yang ada di pelukannya mulai menatap sinis padanya. "Dengar, kalian salah paham, paman..."


"Ayo kita pulang, paman Hugo akan datang besok. Aku akan menghubunginya..." Ferrell menghapus air matanya, membukakan pintu penumpang bagian belakang pada Febria.


"Iya...aku juga merindukannya (Hugo)" ucap Febria kembali masuk sembari tersenyum.


"Ka... kalian," Dava terdengar gugup menatap perubahan raut wajah sang anak kembar yang cepat. Bagaikan membalik halaman buku."Febria... Ferrell..."


Amel masih menatap sinis padanya,"Jangan pernah datang ke villa lagi..." ucapnya yang memang sejatinya pencemburu.


Menyebalkan... Amel berusaha untuk tersenyum. Memasukan gigi mobilnya, setelah kedua anaknya naik. Menginjak pedal gasnya dalam-dalam.


Dava tertegun diam, terasa menyakitkan baginya. Itu istri orang lain, anak orang lain. Tapi kenapa dirinya merasa seolah-olah miliknya lah yang direbut. Air matanya tiba-tiba mengalir tanpa dapat ditahan atau disadarinya.


***


Hingga sore, dirinya tidak berselera makan setelah membersihkan tubuhnya. Dadanya terasa sesak, terkadang dipukul-pukul sendiri olehnya.


Membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, tanpa dapat memejamkan matanya sedikitpun. Tidak dipungkiri aroma tubuh itu dirindukan olehnya. Aneh, benar-benar aneh rasanya, ingin memeluk tubuh itu. Bukan karena napsu, tapi hanya ingin memilikinya, itu saja ...


Hingga samar-samar terdengar suara seseorang bertamu larut malam. Suara motor sport milik sepupunya yang berprofesi sebagai manager taman hiburan. Mengetuk pintu, dengan Damian yang membukakan.


Tidak peduli? Begitulah Dava, dirinya masih tidak habis fikir dengan perlakuan Romi padanya 7 tahun terakhir.


Pintu kamar Dava dari awal memang sedikit terbuka. Samar-samar percakapan mereka terdengar, menyebut seseorang yang bernama Kenzo. Perhatian Dava, mulai teralih...


***


Romi mengetuk pintu, mendatangi rumah itu saat larut malam, mencari waktu dimana penghuninya telah tidur. Tepatnya dirinya tidak ingin Dava mendengar pembicaraannya.


Dan benar saja, Damian yang membukakan pintu,"Romi? Ada apa malam-malam datang kemari?"


"Apa Dava sudah tidur?" tanya Romi, memperhatikan area sekitar ruang tamu.


"Sudah sepertinya, dia pulang tidak makan, langsung ke kamar sekitar 2 jam yang lalu..." Damian memberi jalan bagi Romi untuk masuk. Sedangkan Vanya berjalan cepat ke dapur membuatkan teh hangat untuk mereka.


Beberapa menit berlalu, tiga gelas teh hangat telah terhidang. Romi menghela napas kasar bingung bagaimana harus bertanya. Hingga...


"Paman, mengenal Kenzo?" tanyanya ambigu.


Damian terdiam, terlihat gugup,"Ha... hanya tau dari beberapa berita tentangnya. Pemilik W&G Company, bukan?"


Romi kembali menghela napas,"Apa benar Dava mengalami operasi rekonstruksi wajah? Karena terkena baling-baling kapal Ferry?"


"Iya, kamu tau sendiri kan? Dava..." kata-kata Vanya disela.


"Bibi, aku baru menyadarinya. Aku menjenguk Dava satu bulan setelah kecelakaannya. Kalian berpindah-pindah kota, berpindah-pindah rumah sakit, tanpa peduli akan biaya, apa karena tidak ingin ada yang menjenguk Dava?" tanyanya.


"Kami hanya mencari rumah sakit yang lebih baik saja. Agar operasi rekonstruksi wajahnya..." kata-kata Damian kembali disela.


"Satu bulan, mendapatkan hasil yang sempurna? Bahkan tanpa bekas sedikitpun?" tanya Romi kembali, jemari tangannya mengepal. Sejatinya dirinya enggan bertanya,"Aku ganti pertanyaannya, dimana kalian menguburkan Dava?"


Air mata Damian mengalir, terisak seakan baru saja menyaksikan penguburan jenazah putranya yang ditemukan dengan jazad tidak utuh,"Di kampung tempat Vanya berasal,"


"Jadi orang itu benar-benar bukan Dava?" tanya Romi, dengan mata memerah, hingga akhirnya tetes air mata itu mengalir juga.


"Tolong jangan katakan padanya, keluarganya ingin ingatannya kembali perlahan. Kami hanya tidak ingin hidup kesepian di masa tua kami..." ucap Damian lirih.


"Tapi keluarganya..." kata-kata Romi terpotong.


"Istrinya mendatangi kami... ingin menjadi menantu kami. Suaminya yatim-piatu dari sejak dilahirkan karena itu... karena itu..." Damian tertunduk tidak dapat melanjutkan kata-katanya di tengah air matanya yang terus mengalir.


"Siapa namanya, apa benar nama aslinya Kenzo?" tanya Romi kembali.


"Iya namanya Kenzo. Kami menemukannya terjatuh dari kapal kargo, saat mencari jenazah Dava yang sudah tidak utuh..."


Pemuda itu mendengar semuanya, dirinya bukan Dava? Tapi seseorang bernama Kenzo. Duduk di lantai, samping pintu yang terbuka.


Bersambung