My Kenzo

My Kenzo
Musim Keempat : Hal Kelam



"Siapa? Yang bisa mengalahkan pesona selebriti idolaku?" tanya Caca lebih antusias lagi.


Keempat orang itu memasang telinganya baik-baik termasuk Ferrell yang duduk seorang diri di belakang Glory. Ingin mengetahui anak sultan mana, atau putra mafia mana yang mengalahkan putra kandung seorang Kenzo.


Putra Sultan atau putra Mafia? Jelas saja, dirinya yang selalu memberikan uang jajan, akan ditolak mentah-mentah. Tentu saja orang yang disukai Glory bukanlah orang biasa.


Glory tertunduk, sedikit melirik kearah Ferrell yang menampakkan wajah standarnya. Kemudian melihat ke arah anak-anak lain, terlalu malu rasanya mengatakannya, bagaimana jika perasaannya tidak berbalas pada Ferrell dengan wujud Ken.


"Ada, jika dia mengatakan menyukaiku dan kami resmi pacaran aku akan memecahkan salah satu celenganku untuk mentraktir kalian..." ucapnya, menyelipkan anak rambutnya di belakang telinga.


Centil!! Pria mana yang kamu sukai, haruskah aku meminta bantuan kakak-kakakku untuk menyingkirkannya... gumamnya dalam hati, mulai mengeluarkan buku, membantingnya di atas meja dengan kencang.


"Ken, kamu marah karena aku murahan? Karena aku seperti melakukan pesugihan..." ucapnya, mendengar pemuda itu membanting buku dengan kencang.


"Aku tidak marah, kamu melakukannya untuk menabung biaya kuliah kan? Lanjutkan saja ..." saran tidak lazim darinya yang masih tersenyum.


Berhenti memberi uang jajan, berarti tidak dapat menikmati sensasi itu lagi. Sensasi berdebar yang membuatnya semakin gila untuk menginginkannya. Ferrell tidak rela gadis centilnya berhenti melakukan pesugihan.


Glory tertunduk, menganggap Ken benar-benar kecewa padanya. Berbalik tidak menatap wajah pemuda itu lagi, merasa benar-benar tidak memiliki harga diri."Aku akan berhenti," tidak sengaja menatap ke arah Budi yang duduk di depannya.


Budi menghela napas kasar, meraih sisir kecilnya, merapikan penampilannya."Glory, aku tau betapa baiknya diriku, betapa tampannya aku. Tapi maaf, perasaanmu padaku tidak dapat aku balas, karena aku diam-diam menyukai Grisella..."


Ira tertawa kencang,"Mana mungkin Glory menyukai tinta cumi-cumi sepertimu,"


"Coba kamu fikirkan baik-baik, Glory tidak pernah dekat dengan pria manapun selain aku. Sudah pasti dia menyukaiku," jawaban Budi tersenyum, memamerkan wajahnya.


"Kenapa ada perasaan tidak enak ya?" lanjutnya merasakan aura ganjil dari kursi paling belakang, tepat di belakang Glory.


Pemuda berkacamata yang duduk, membuka buku tulisnya menuliskan sesuatu. Sejenak pandangannya beralih menatap Budi, tersenyum miring, bagaikan psikopat yang mengancam untuk membunuh diam-diam.


"A...aku," Budi gelagapan, mengalihkan pandangannya ke arah lain. Tidak ingin menatap ke arah Ken lagi.


"Jadi ada yang bisa membantuku untuk bicara pada Ferrell atau menemukan solusi agar dapat berhenti melakukan pesugihan?" tanya Glory kembali.


"Biar aku saja, aku akan bicara padanya. Lagipula kita adalah teman, sudah seharusnya aku berkorban untukmu. Uang ini simpan saja, aku melakukannya dengan ikhlas," Caca menjawab, menggenggam erat jemari tangan Glory.


Glory menatapnya penuh haru, satu-satunya temannya yang rela berkorban demi dirinya. Hingga satu kalimat mematikan keluar dari mulut Ira.


"Jangan berekting, kemu melakukannya supaya bisa bertemu dengan Ferrell kan?" tanyanya.


"Aku ketahuan!!" pada akhirnya Caca tertawa kencang. Menertawakan niat busuknya, yang hanya ingin menemui pangeran pesugihan.


Ferrell mengenyitkan keningnya tersenyum, bocah ini sudah bagaikan kebutuhan pokok baginya. Bagaikan 4 sehat lima sempurna, yang memenuhi nutrisi otaknya. Ingin melepaskan diri dari seorang Ferrell? Tidak semudah itu.


***


Pagi yang berbeda dialami Grisella, wanita itu membuka matanya. Semalaman dirinya mabuk berat, tangan kekasihnya masih melingkar mendekapnya tanpa sehelai benangpun yang membatasi pelukan mereka yang tertutup selimut putih hotel.


Sisa beberapa alat pengaman teronggok di tempat sampah. Berapa kali pemuda yang masih memiliki status mahasiswa ini mengeluarkan benihnya? Entahlah, yang jelas dirinya telah mendaki nikmatnya surga dunia bersamanya.


Bukan hanya ini kekasihnya, masih ada satu kekasihnya yang lain. Memiliki dua handphone dengan fungsi yang berbeda. Banyak pria yang memuji kecantikannya, membuatnya sombong untuk dapat memilih sesuai keinginannya. Menduakan? Ini lebih dari itu, meladeni pesan singkat dan memberikan harapan palsu ketika bertemu untuk setiap pria yang mendekatinya.


"Terimakasih..." sang kekasih mengecup keningnya."Kamu yang tercantik,"


"Em..." Grisella mengangguk, tersenyum dengan pujian yang didapatkannya.


Tidak mengetahui, terkadang dirinya merasa mempermainkan pria, bebas memilih karena rupa dan kekayaannya. Namun, sejatinya pria itulah yang mempermainkannya.


"Mau aku pesankan makanan?" tanyanya lembut, bangkit menelfon layanan kamar. Grisella mengangguk, kemudian tersenyum.


Beberapa puluh menit berlalu, mereka telah memakai pakaian lengkap, menikmati sarapannya. Pesan dikirimkan Grisella pada ibunya, dirinya masih menginap sambil belajar di villa milik salah satu teman sekolahnya. Serta pada pacarnya yang lain, menanyakan sedang apa, apa merindukanku.


Sedangkan sang mahasiswa bernama Tio menghubungi temannya di balkon kamar hotel, tempat dirinya semalam mendaki nikmatnya surga dunia bersama sang remaja,"Rasanya lumayan, tapi sayangnya sudah tidak perawan. Kamu benar dia mudah didekati dan dipakai. Tinggal dirayu saja..."


Pria yang dihubungi di seberang sana tertawa,"Dia mengirimkan pesan padaku sedang apa? Apa merindukannya? Bocah ini, ingin mempermainkanku lebih banyak lagi..." cibirnya yang sudah terlanjur sakit hati pada Grisella yang juga menerima perasaan sahabatnya di belakangnya.


Tio dan Gin (kekasih Grisella lainnya) merupakan teman satu kampus. Gin yang terlebih dahulu menjadi kekasih Grisella. Menjalani hubungan sebagai kekasih 6 bulan lalu.


Tapi, manusia memang tidak pernah puas, terutama dengan pujian. Tio yang tidak mengetahui tentang kekasih sahabatnya yang masih dibawah umur. Menggoda gadis tercantik di club'malam itu, sang playboy yang sudah terbiasa mempermainkan wanita.


Hingga berhasil menjadikan Grisella sebagai kekasihnya. Namun api dalam sekam tidak dapat selamanya tersembunyi. Ada kalanya mereka menceritakan tentang kekasihnya masing-masing. Saat itulah Gin mengetahui dirinya telah di khianati, oleh seorang remaja SMU.


Mencintainya dengan tulus? Tentu saja, karena itulah perasaan sakit menjalar dalam dirinya. Masih mengikat dirinya sebagai kekasih Grisella, menyimpan semua dendam dalam hatinya, menunggu perasaan kasihnya padam, tidak pernah menyentuh wanita itu lagi, hanya pernah sekali menidurinya 5 bulan lalu. Membiarkan Tio yang playboy bermain dengannya hingga puas.


Hingga kini Gin terlalu lelah, bertanggung jawab karena pernah menidurinya, walaupun tidak mendapatkan keperawanannya? Tentu dirinya ingin menunggu Grisella cukup umur, untuk menikahinya. Tapi sekarang tidak lagi, mungkin akan masih ada pria selain Tio yang tidur dengannya. Karena itulah satu keputusan diambil Gin.


"Aku akan memutuskan hubungan dengannya, jika kamu menyukainya jaga dia baik-baik. Jika tidak, lepaskan dia sepertiku..." ucapnya menghela napas kasar, sudah cukup rasanya mengetahui segalanya.


"Kamu terlalu baik," cibirnya pada Gin.


"Tidak juga..." ucapnya dari seberang sana, mematikan panggilannya.


Mata Tio beralih menatap ke arah Grisella yang tengah membaca pesan dari seseorang. Namun, kesal rasanya, Grisella hanya tersenyum, membalas pesan dari Gin, seolah-olah tidak apa-apa jika Gin memutuskan hubungan dengannya.


Gin cukup rupawan, namun berasal dari keluarga biasa. Berbeda dengan Tio yang berasal dari keluarga pengusaha.


Hanya mempermainkan Grisella? Itulah yang dilakukannya tidak pernah menjalin hubungan yang serius dengan wanita. Secantik apapun wanita itu.


Grisella juga sama bukan? Remaja ini juga mempermainkannya, dengan penuh rasa sombong dan ingin tau, memilih pria yang pantas untuknya. Menyakiti pria-pria yang tulus seperti Gin.


Bersambung